web dewasa yangg berisikan cerita sex, cerita
nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa
”Cerita Sex: Tragedi dan Eksotisme Pulau Bali ” Terbaru
2016 – Cerita sex terbaru ini di angkat dari cerita nyata
tentu saja sdh dilakukan banyak improvement, tp tetep
saja penulis amatir seperti saya tdk bisa merangkai
kalimat menjadi cerita yg bagus, hanya berupa Narasi
amatiran tp inilah adanya.
Cerita Sex: Tragedi dan Eksotisme Pulau Bali
September 2009.
“Piiiiiii… Kapan mau mampir ke Jember… ???”, Tanya
pamanku didlm telepon.
“Belum tahu, Mungkin besok atau lusa aku akan
kembali ke Bali…” Jawabku dgn nada yg agak kesal.
“Yawdah, Yg penting jangan lupa mampir ke Jember
dulu ya !!!”, Pintanya kepadaku.
“Lihat nanti sajalah…”, Jawabku sekenanya.
Aku matikan hp ku. Sdh ke-3 kalinya dia menelpon
sejak Hari Lebaran.-cerita dewasa terbaru- Apa haknya
ingin menjodohkanku ?. Aku bukanlah anak ayam yg dia
temukan di pinggir jalan dan dgn gampangnya
mengurungku dgn ayam betina begitu saja. Yg benar
saja.
Cerita mesum terbaru, Aku memang tahu wanita itu.
Bening seperti kaca, Putih seperti kapur tulis. Tp Aku
masih tuli saat ini. Tak bisa mendengar perkataan
orang-orang. Hanya dentuman keras Musik Night Club
sajalah yg terdengar sampai di daun telingaku.
Belum hilang rasa kesalku, Handpone ku berdering-
dering lagi tak kunjung diam.
“Ahhh… Apa sih maunya nih orang ?”, Gumamku dlm
hati. Aku benar-benar benci manusia yg satu ini. Kalau
saja kita bukan dari gen yg sama, mungkin sdh kucocok
hidungnya biar tak meraung-raung sembarangan .
Dgn enggan kulihat lagi layar ponsel. Baguslah, bagus.
Nama Usro yg tertera pada layar ponsel kali ini.
Entahlah mau apa dia Menelponku pagi-pagi begini.
“Hallo Man, Tumben nih pagi-pagi gini dan
nelpon… ???”, Tanyaku kepadanya.
“Anu Man,… Kapan kamu mau balik ke Bali ??? ”, Dia
balik tanya kepadaku.
“Belum tahu man, Mungkin hari Sabtu..”, Jawabku
singkat.
“Aku pengen balik besok man, Gimana kalo kita
barengan ke Bali besok ???”, Tanpa basa-basi dia
meminta kepadaku.
“Oke..” Jawabku Singkat tanpa berpikir. Mungkin inilah
hasil dari kekesalanku kepada manusia itu.
“Oke, Kita bertemu besok di Bungurasih antara Jam 12
– Jam 1 Siang…” Lanjutnya.
“Oke..” Jawabku lagi tanpa pikir panjang.
Aku tdk tahu kenapa si Usro begitu terburu-buru
kembali ke Bali, mengingat dia tdk mempunyai
pekerjaan yg mengikat disana, dia disana adalah
seorang anak pantai yg kadang-kadang mengajari
surfing dan freelancer guide, sedangkan aku sendiri
memang harus masuk hari senin, aku bekerja disalah
satu perusahaan IT di Denpasar.
Hari Jum’at sekitar H+4 atau mungkin H+5 pasca
lebaran tahun 2009, aku tak ingat benar, Kita bertemu
di terminal Bungurasih Surabaya dan bis pun berangkat
sekitar jam 2 dari Surabaya.
“Kamu kok terburu-buru amat kembali ke Bali, kamu
kan bisa berlama-lama madura dan bisa kembali sama
teman-teman yg lain” ucapku di dlm bis yg baru saja
berangkat.
“Beberapa hari terakhir setelah aku pulang ke Madura.
RS (Inisial Asli) menelponku berkali-kali, kapan kembali
ke Bali ? sepi tdk ada aku disana katanya” Ujar usro yg
tampaknya ada sedikit yg mengganjal di hatinya,
“Ada yg aneh dgn telpon dini hari tadi. MS (Inisial Asli)
menelponku dgn nada tergopoh-gopoh, seperti
seorang dikejar setan aja,… aku khawatir terjadi
sesuatu disana” Lanjutnya lagi masih dgn rasa
khawatirnya.
Aku sendiri tdk begitu kenal dgn RS. Hanya saja pernah
bertemu sekali dgn RS pada hari H-4 sebelum lebaran
2009 waktu membicarakan rencana mudik ke Madura
dgn teman-teman yg lain. Pada akhirnya aku pulang
naik motor matic dgn Ari. Usro dan teman-teman yg
lain pulang naik mobil bersama. aku hanya melontarkan
satu kalimat saja waktu itu pada RS “O Namae Wa”,
karena memang cuman itu saja yg aku tahu. Aku hanya
bisa “Bahasa Inggris salah paham (Salah-salah tp masih
bisa dipahami)” saja sedikit.
Sabtu pukul 02.00 WITA kita tiba di Bali. Tanpa banyak
basa-basi kita pun langsung tidur di kos-kosan Usro di
daerah Kuta, Aku sendiri ngekos di Denpasar Selatan
tepatnya di Jalan Raya Sesetan. Tp aku lebih betah di
Kuta kalau hari libur kerja. Dan Memang aku sengaja
taruh motorku di kos-kosan Usro walaupun penghuni
kosannya pulang tp semuanya aman-aman saja.
Memang Bali Jauh lebih aman daripada Jawa. Keesokan
harinya kita bangun siang, kalau saja perut tdk unjuk
rasa mungkin kita akan terbangun sore hari. Setelah
mandi Usro pun mengajak makan di salah satu warung
yg tdk jauh dari tempat kos, belum beberapa menit kita
duduk diwarung itu tiba-tiba ada seorang wanita
bermata sipit dgn ditemani seorang laki-laki asli Bali
menyapa Usro dgn raut wajah cemas seperti mau
menitikkan air mata, aku tdk mengerti pembicaraan
wanita itu dgn bahasa Jepangnya yg diiringi nada
tergopoh-gopoh,
“Ro, Wanita ini siapa ? dan Laki-laki itu Siapa ?”,
Tanyaku memotong pembicaraan. Tentu saja aku
menggunakan bahasa madura supaya Pria Bali itu tdk
mengerti.
“Ini MS temannya RS, kalau Pria itu aku tdk kenal, dia
bukan Anak pantai, tp aku sering melihatnya nongkrong
di Jalan Legian” Jawab Usro singkat seraya
melanjutkan percakapannya lagi dangan wanita itu dgn
mimik yg mengisyaratkan ada sesuatu. Pantas saja aku
tdk mengenalnya, meskipun aku kerja tetap di
perusahaan IT, tp Sabtu Minggu aku jg Anak Pantai
Wannabe, otomatis saja aku banyak mengenal Anak-
anak pantai yg biasanya nongkrong dan minum
bersama.
Aku seperti orang goblok menoleh kanan kiri tdk tahu
apa yg terjadi, Aku memberanikan diri membuka
pembicaraan dgn Pria Bali itu,
“Ini ada apa Bli kok sepertinya ada yg gawat ?” tanyaku
penasaran,
“RS di culik” Jawabnya singkat,
“Hahhh ???, Kapan Bli ?” Tanyaku lagi dgn hentakan
degupan jantungku tiba-tiba terpacu
“deg deg deg… deg deg deg”.
“Jum’at Dini hari, Bli” Jawabnya singkat dgn
melanjutkan menceritakan kronologis kejadiannya, tp
aku sendiri tdk terlalu konsentrasi mendenngarkan
ceritanya, pikiranku sendiri melayg kemana-mana,
“Bagaimana kalau-kalau aku dan usro diminta menjadi
saksi ?, Kalau-kalau aku salah jawab aku jg bisa jadi
tersangka”, pikirku dlm hati.
Aku benar-benar takut karena seumur hidup aku belum
berurusan dgn polisi mengenai kriminal seperti itu.
Sebelum kita berpisah di warung itu kita sama-sama
berpesan untuk saling kontak kalau ada informasi
tentang RS. Ini sebuah kebetulan yg terlalu tdk masuk
diakal untuk sebuah cerita, tp aku berani bersumpah
kepada para pembaca sekalian aku tdk mengada-ada,
aku anggap ini mungkin adalah jalan tuhan untuk
memberitahukan kepada Usro bahwa RS sedang dlm
Musibah.
Hari itu kita tdk pergi ke Pantai, kita habiskan hari itu
di kos-kosan tanpa gairah, tdk banyak kita berbicara
waktu itu, mungkin kita berada pada dunia pikiran kita
masing-masing.
Minggu pagi kita pergi ke pantai seolah-olah tdk terjadi
apa-apa, Meskipun belum terlalu banyak anak-anak
pantai yg balik dari Jawa tp ada jg beberapa yg sdh
balik dan jg sdh mendengar kabar penculikan RS. Siang
sekitar pukul 14.00 usro meminjam motorku mau
pulang ke kos-kosan dulu sebentar mau buang air
besar katanya, sekitar pukul 15.00 ada beberapa orang
bergerombol memakai jaket kulit hitam, aku sendiri
sdh curiga kalau-kalau itu adalah intel polisi, tp aku
diam saja duduk-duduk di dekat pohon kelapa acuh tak
acuh, tiba-tiba para pria berjaket kulit hitam itu
menyebar dan bertanya kepada anak-anak pantai tak
jauh dari aku duduk,
“Ada yg bernama Usro disini?” Tanya salah satu pria
berjaket kulit hitam yg paling dekat dgnku.
“Ada pak, biasanya dia ada di sini, gak tahu kok dari
tadi saya gak melihatnya” jawab salah satu anak pantai
yg nongkrong disana,
Sekitar satu menit dari percakapan itu aku berdiri, dan
berjalan menuju arah utara, setelah sekiranya aman
dan jauh dari para pria berjaket kulit itu, akupun
langsung menelpon si usro dan kebetulan saja si usro
dgn cepat menganggat HPnya,
“Ro, gak usah balik ke pantai !!!” perintahku
“Ada apa ?” Tanya si usro singkat
“Ada Intel mencarimu” jawabku jg dgn singkat,
“Ok” sahut usro jg dgn singkat, dan segera saja
kututup HPku,
Tp benar-benar tak kusangka tdk sampai semenit aku
menutup telpon, tiba-tiba ada orang yg memukul
pundakku pelan dari belakang, spontan akupun sangat
terkejut,
“Suruh Usro kesini !!!” kata salah satu pria berjaket
kulit hitam itu sambil menggandengku dgn menaruh
tangannya di pundakku seperti penjahat saja aku ini,
“Iya pak, ada apa pak ?” tanyaku sambil pura-pura tdk
tahu,
“deg deg deg deg” bunyi jantungku kembali berdegup
kencang,
“Sdh suruh kesini saja, tdk ada apa-apa, usro hanya
akan dimintai keterangan saja atas penculikan RS”
jawabnya mencoba meyakinkanku.
Spontan aku coba menelponnya lagi dgn perasaan yg
masih tdk karuan itu, untung saja dia langsung
mengangkat telponku,
“Ro, Kamu kesini !!!” perintahku padanya,
“Ada apa lagi ???” Tanyanya bingung, aku yg
menyuruhnya jangan pergi kepantai sekarang malah
menyuruhnya datang,
“Salah satu intel telah menggandengku tampaknya ia
tahu aku dekat sama kamu” jawabku yg tdk bisa
menyembunyikan kegugupanku,
“Ok Tunggu sebentar” jawabnya seraya dgn cepat
menutup telponnya
Sekitar 5-10 menit saja akhirnya Usro muncul dari
jalan raya, memang kos-kosan Usro dan teman-teman
tdklah terlalu jauh dari pantai, Usro pun melangkah
menghampiri kami,
“Usro ???” Tanya seorang intel yg ada di sebelahku,
“Iya pak” Jawab Usro dgn singkat,
“Mari kita langsung ke kantor polsek saja” ucapnya
kepada Usro,
“Oiii Oiii, ini anaknya sdh datang” teriaknya sambil
melambai-lambaikan tangannya kepada teman-
temannya yg lain, aku tak ingat berapa jumlah intelnya
dgn persis waktu itu dgn kondisi pikiranku yg masih
belum terbiasa dgn kejadian seperti itu,
“Kamu ikut !!!” perintah intel tadi kepadaku,
“Loh buat apa pak ???” tanyaku yg semakin takut saja,
“Nanti biar pulangnya si Usro boncengan sama kamu”
jawabnya menjelaskan kepadaku,
“Iya pak, mari” ucapku menyutujui ajakannya itu,
“Kamu boncengan sama saya, biar usro sama
partnerku” kata salah satu intel kepadaku, akupun
mengiyakan saja permintaannya itu, aku dibonceng
salah satu intel tadi memakai motorku sedangkan Usro
dibonceng intel lainnya dgn berboncengan tiga, si usro
diapit di tengah-tengah dan sisanya menggunakan
mobil polisi, sepanjang perjalanan akupun jg ditanya-
tanya, apa profesiku, apa aku mengenal RS apa tdk,
kapan aku terakhir melihatnya dll, kujawab saja dgn
jujur sesuai dgn sepengetahuanku.
Setibanya dikantor polisi si Usro langsung di bawa ke
dlm kantor sedangkan aku disuruhnya mengunggu
didepan kantor tempat motor dan mobil di parkir,
awalnya ada beberapa yg masih menemaniku diluar dan
jg sempat ada intel yg baru saja datang bukan anggota
rombongan tadi berkulit hitam legam menyeramkan.
“Hehhh, Kamu siapa ???” Tanyanya sedikit
membentak,
“Anu pak, Anu… Saya mengantar Usro” Jawabku gugup
kaget dgn bentakan itu,
“Dia cuman mengantar Usro, Saksi Kasus Penculikan
RS” Jawab salah satu intel yg bersamaku, aku merasa
terbantu sekali dgn jawabannya.
Akhirnya satu persatu mereka meninggalkanku kulihat
jam sekitar jam 16.00 WITA waktu itu, entah berapa
batang rokok yg kuhabiskan dlm sekejap dan tak henti-
hentinya sambung-menyambung seperti asap kereta
api, sekitar jam 16.30 aku lihat ada salah satu anak
pantai yg masuk ke halaman parkiran dan langsung
masuk menuju kantor polsek, aku tdk mengenalnya, dia
tdk biasa nongkrong minum bersama kami hanya saja
aku pernah melihatnya beberapa kali.
Jam sdh menunjukkan pukul 17.00, entah pertanyaan
apa saja yg telah dilntarkan pada Usro hatiku masih
bertanya-tanya dgn sebatang rokok ditangan yg tak ada
matinya menemani kegelisahannku itu, ada seorang
wanita cantik putih alami seperti ciri khas wanita yg
hidup di dataran tinggi bukan putih dari hasil
perawatan, berbody sintal padat berisi tp tdk gemuk,
yg aku kira sedikit lebih tua dariku keluar dari kantor
polsek dgn wajah yg sepertinya tdk terlalu bahagia dgn
semacam tas dompet yg di gendongnya di pinggang
dan Trolly bag hitam tdk terlalu besar yg agak lusuh,
dia memakai kaos merah ketat dan celana ketat dgn
sandal kulit wanita model bertali tali tdk berhak tinggi,
penampilannya seksi tp tdk terlalu terlihat glamour
menurutku dan aku kira jg bukan dari kalangan
menengah keatas, kulihat dia menuju kejalan raya
mungkin saja dia mau mencari taksi, tp aku tdk terlalu
menghiraukannya waktu itu.
Detik demi detik menit demi menit Usropun belum
tampak ujung hidungnya, paikiranku masih sibuk dgn
dunianya sendiri tentang bagaimana nasib si Usro
didlm sana, kulihat wanita itu sesekali masuk ke
halaman parkir dan sesekali keluar ke tepi jalan raya
seperti seseorang menanti seseorang, tak terasa
sunsetpun sdh menjemput malam, gelappun sdh mulai
datang menghampiri, lampu-lampu sdh mulai
memancarkan cahanyanya sementara wanita itu masih
jg tetap saja mondar-mandir seolah-olah penantian itu
menjadi sebuah kebingungan, akupun tak peduli aku
masih sibuk dgn kegelisahannku sendiri, Akhirnya jam
19.00 Usro keluar dari kantor polisi menghampiriku yg
aku kira interogasiya sdh selesai,
“Pi, Kamu pulang duluan saja” ucapnya dgn mencoba
santai didepanku.
“Lohhh… bukannya sdh selesai ???” tanyaku
kebingungan.
“Belum, ini jg aku belum di mintai keterangan, aku
hanya dibiarkan duduk saja sendirian disana”, jawabnya
yg membuatku semakin bingung, terus terang aku
bingung dgn semua itu yg nantinya aku tahu bahwa itu
salah satu cara polisi untuk intervensi psikolologis
seorang tersangka.
“Ohhh iya, tadi aku lihat sepertinya ada anak pantai yg
masuk kekantor polisi, apa ada kaitannya dgn kasus
RS ???” tanyaku.
“Iya itu si Udin Pacarnya MS,… aku jg pertama kenal
RS dari dia,… dia sedang di mintai keterangan, nanti
aku pulang sama dia aja…” jawabnya sepotong-potong
seperti orang bingung, perlu diketahui bagi para
pembaca, bahwa Cinlok anak pantai ataupun Sex for fun
dgn cewek bule ataupun cewek Jepang sdh biasa
terjadi di Bali, meskipun aku tdk tahu pasti kenapa
mereka mau dgn anak-anak pantai yg menurutku jauh
lebih kere dari mereka.
“Ya sdh kalau begitu” Ucapanku mengakhiri percakapan
kita.
“Ya sdh aku mau masuk dulu” lanjutnya seraya
membalikkan badan melangkah menuju ke dlm kantor.
Kulihat wanita itu masih disana, masih dipinggir jalan
raya dgn tas trolley nya, dua jam sdh sejak keluar dari
kantor polisi, tp dia tetap saja belum beranjak dari
sana. kuberanikan diri saja mendekatinya siapa tahu
aku bisa membantu mengantarnya ke tempat orang yg
dia tunggu pikirku dlm hati.
“Mbak” sapaku dari belakangnya,
“Ohh iya mas, ada apa ?” jawabnya yg tampak sedikit
kaget dgn sapaanku.
“Saya lihat mbak keluar dari kantor polisi sejak jam 5
tadi, Apa mbak sedang menunggu seseorang ???”
Tanyaku dgn sopan.
“Ohh Nggak mas,.. nggakk” jawabnya singkat dgn
mencoba sok tenang, meskipun aku sendiri punya
intuisi ada Sesuatu yg tdk beres.
“Atau ada yg bisa saya bantu” Lunjutku lagi dgn sebuah
pertanyaan,
“Ohhh Nggak mas, saya ngak apa-apa kok” jawabnya
lagi yg menurutku sedikit tdk nyambung.
“Ohhh ya sdh kalu begitu” Lanjutku seraya
membalikkan badan hendak mengambil motorku dan
terus pulang, sebenarnya ada sesuatu yg aneh waktu
itu tp ya sdhlah aku sdh menawarkan bantuan toh dia
gak mau pikirku.
Tak sampai lima langkah aku berjalan tiba-tiba dia
memanggilku.
“Mas….” Ucapnya mencoba memanggilku.
“Iya mbak, ada apa ???” Tanyaku seraya membalikkan
badan dan melangkah kembali kearahnya.
“Hmmm… Anu mas… Anuuu” Ucapnya terpatah-patah
seperti ragu ingin mengutarakan sesuatu.
“Anu apa mbak ???” tanyaku lagi masih bingung dgn
sikapnya.
“Ahhh… aku tdk enak mas yg mau ngomong…”
jawabnya lirih seraya sedikit menundukkan kepalanya
kebawah seakan-akan tak berani menatapku.
“Loh kok pake gak enak segala, memangnya mbak mau
ngomong apa ???” Tanyaku yg masih bingung tak tahu
arah pembicaraan itu.
“Anuu mas, hmmm,… Sayaa… Saya butuh uang mas”
Jawabnya masih dgn nada lirih yg belum berani
menatap mataku secara langsung.
“Terus maksud mbak ???, Mbak mau minjam uang
begitu ??? ” Tanyaku yg masih belum jg tahu kemana
arah pembicaraan itu.
“Nggak Mas, Anuu mas… anuuu.. ” Jawabnya terpotong
tak berlanjut dgn nada ragu atau malu tdk berani
menatapku secara langsung,
“Ya… ?”, tanyaku bingung. 30 detik aku menanti sdh
sejak putusnya kalimat itu.
“Aku… Aku ingin menjual tubuhku… ” Jawabnya gugup.
Terlihat dari bibir merahnya yg bergetar.
Terus terang aku sedikit kaget, tp kekagetan ku itu
bukan karena ada seorang pelacur yg coba menjual
tubuhnya kepadaku, melainkan kalau benar ia pelacur
buat apa dia mangkal di depan kantor polsek dgn
membawa trolley bag segala ???. Tampaknya ada
sesuatu yg tdk beres dgn wanita ini, lagipula aku sdh
banyak mengenal pelacur didaerah kuta baik yg sering
mangkal-mangkal di dekat pantai ataupun di club-club
Legian, aku sdh sering membawa kenalan pria bule atau
arab kepada mereka yg tertarik dgn wanita indonesia
dgn komisi 10%-30% dari nilai transaksi.
“Maaf nih mbak, maksudnya mbak mau… hmmm jual
diri ???” Tanyaku terpatah-patah yg tak bisa mencari
bahasa lebih halus lagi takut menyinggung
perasaannya.
“Ohh.. Tuhan, Kenapa berakhir seperti ini…?” Lanjut
ucapnya tanpa mengindahkan pertanyaanku. Matanya
sedikit bergeming air mata menengadah menatap
kejam ke atas langit seakan-akan mengutuk takdir.
“Terus terang ada sesuatu yg janggal dgn permintaan
mbak” ucapku berusaha mengorek keterangan darinya.
“Maksud mas ???” tanyanya ikut bingung dgn
perkataanku dan sdh mulai mencoba menatapku.
“Begini mbak, Pertama kalau memang benar mbak
wanita malam buat apa mbak mangkal di depan
polsek ?, Yg kedua aku yakin mbak bukan wanita malam
dari daerah sini, karena sebagian besar aku kenal dgn
mereka, kalau mbak bisa bercerita apa yg terjadi
mungkin saya bisa membantu mbak…” Argumenku
mencoba meyakinkannya.
“Saya kecopetan, uangku di tas hilang semuanya…”
Jawabnya dgn wajah memelas.
“Trus kenapa mbak keluar dari kantor polisi ???”
Tanyaku mencoba mengorek keterangan lebih jauh lagi.
“Anu mas… saya mencoba melaporkan kejadian ini, tp
sepertinya mereka sibuk dgn kasus yg lebih besar
lainnya, saya hanya mau di kasih surat free pass bebas
ongkos kalau mau bersedia pulang ke kampung
halaman…” Jawabnya masih dgn wajah memelasnya.
“Terus ???” Tanyaku lagi,
“Ya aku Nggak mau lah mas, itu aja uang dapat nabung
sedikit demi sedikit dan hasil ngutang ke saudara
dikampung sebagian…” Jawabnya masih dgn wajah
memelasnya.
“Mbak kesini buat liburan atau ???” tanyaku yg
terpotong olehnya.
“Saya mencoba mengadu nasib mas..” Jawabnya
memotong pertanyaanku.
“Ya sdh begini saja mbak, kalau mbak punya sanak
saudara atau teman disini biar saya antar saja..” ucapku
mencoba membantunya, aku sendiri merasa kasihan
bagaimanapun jg aku anak rantau merasa senasib dan
seperjuangan denganya.
“Saya tdk punya kenalan ataupun saudara disini mas…”
Jawabnya masih terpatah tp jelas dan lugas.
“Waduhhhh… Lengkap sdh penderitaan wanita ini…”
gumamku dlm hati, aku jg bingung bagaimana cara
menolongnya, aku berpikir sejenak setelah itu
kutawarkan untuk menginap di kosanku dulu untuk
sementara.
“Begini saja mbak, saya jg bingung bagaimana cara
menolong mbak, tp kalau mbak mau, bagaimana kalau
mbak nginep di kos-kosanku dulu…” ucapku
menawarkan bantuan padanya, sejenak dia terdiam
seperti berpikir.
“Aku hanya bisa Bantu itu saja mbak, kalau mbak mau
mari… kalau tdk saya minta maaf tdk bisa membantu
apa-apa…” lanjutku lagi memecahkan keheningannya.
“Ya sdhlah mas daripada saya tidur dijalan…” jawabnya
seakan-akan telah pasrah menghadapi keadaan.
“Ya sdh, Saya coba telpon temanku dulu sebentar…”
kataku seraya menelpon si Abdel temen kosku.
Abdel adalah anak dari sepupu emakku, dia kerja
sebagai buruh kasar di perusahaan Ekspor ikan di
daerah Benoa, tentu saja jarak kos kami ke tempat
kerja abdel lumayan jauh. Aku sdh beberapa kali
menyarankan untuk pidah kos ke daerah yg lebih dekat
dgn tempat kerjanya itu tp dia menolaknya, Otomastis
dia pergi kerja pagi-pagi sekali setelah subuh dan
datang malam setelah aku pergi keluyuran sekitar jam
19.00 atau 20.00 WITA.
Meskipun satu kos hampir tdk ada percakapan antara
kami berdua, karena hanya aku menjumpainya ketika
dia sdh tertidur setelah aku pulang keluyuran antara
jam 12 malam atau jam 1 dini hari, itu sdh jadi
rutinitasku. Kadang-kadang jg dia jg tdk pulang ke kos-
kosan selama beberapa hari dan akupun jg begitu, tp
aku tahu dia sering membawa perempuan ke kos-kosan
kalau kalau aku lagi tdk pulang. Tak berlangsung lama
telponkupun diangkatnya.
“Halooo, del kamu ada di kos-kosan ???” Tanyaku
singkat.
“Nggak, aku sedang diluar, ada apa ???” Jawabnya dgn
memutar balikkan pertanyaan kepadaku.
“Aku lagi ada temen lagi liburan, dia mau nginep di
kos-kosan, kalau bisa kamu tidur di teman-temanmu
atau di saudara-saudara yg lain dulu, paling lama jg 3
hari” pintaku kepadanya sedikit berbohong,
sanak familiku bukan cuman si abdel saja tp banyak,
ada yeng bekerja tukang cukur, Jual sate dan Buruh
bersama si Abdel, jarak kontrakan dan kos-kosan
saudara-saudara yg lain tdk terlalu jauh hanya terpaut
antara 1 s/d 3 Km saja.
“Ok, aku ambil beberapa baju dulu buat kerja, telpon
saja aku kalau temanmu sdh pulang” jawabnya tanpa
keberatan sedikitpun,
aku sdh pernah beberapa kali membawa nginap teman
laki-laki yg sedang liburan di kos-kosanku demikian jg
si Abdel.
“Ok” Jawabku singkat seraya dia menutup HPnya
duluan,
“Loh mas,… Mas Nggak ngekos sendirian toh ? Aku
jadi ngerepotin mas…” tanyanya dgn nada sedikit
merasa tdk enak kepadaku,
“Sdh Nggak apa-apa, kita punya banyak saudara disini,
tanpa disuruhpun kadang-kadang dia tdk pulang selama
beberapa hari” Jawabku mencoba melegakan hatinya,
“Ohhh, ya sdh kalau begitu mas…” ucapnya dgn
merasa lebih tenang,
Kuambil motor dan segera kunyalakan, memang agak
menyusahkan menaruh trolley bagnya dimotorku,
akhirnya trolley bagnya aku taruh ditengah dipangku
dgn pahanya, otomatis dia duduk agak kebelakang dan
aku jg dapat dudukan jok sedikit, walaupun dgn posisi
tdk nyaman kujalankan motorku dgn pelan hanya dgn
kecepatan sekitar 40Km/Jam saja, hampir tdk ada
percakapan antara kita selama perjalanan, setelah
hampir sampai di kosanku kuajak dia makan dulu di
warung jawa karena aku yakin dia jg belum makan dari
tadi. Dia ikut-ikutan menu yg aku pilih yaitu Ikan Lele
penyet, sambil menanti makanan dihidangkan kubuka
lagi pertanyaan-pertanyaanku tentang darinya,
“Ngomong-ngomong mbak dari mana ???” tanyaku,
“Saya dari Blitar Mas,… Mas sendiri asli mana”,
Jawabnya dangan balik bertanya kepadaku,
“Sdhlah gak usah terlalu sopan, aku yakin umur kita tdk
terpaut jauh kataku,… aku dari Madura… Mbak nekat
sekali, cari kerja sebatang kara tanpa sanak saudara
disini” ucapku mencoba mengorek sedikit keterangan
darinya,
“Yah habis mau gimana mas, sdh kebutuhan ekonomi…
aku harus membiayai hidup ibu dan anakku serta biaya
sekolah adikku yg paling bungsu… sedangkan
dikampung tdk ada lapangan pekerjaan” katanya dgn
nada sedikit memelas,
“Loh,… ayah dan Suami mbak kemana???” lanjutku
lagi,
“kalau ayah sdh lama meninggal mas,.. kalau suami sdh
bercerai mas…” lanjutnya masih dgn nada memelas,
“Bukan maksud ingin mencampuri urusan mbak, tp
kalau boleh tahu kenapa mbak bercerai ???” tanyaku
lagi lebih jauh tentang suaminya,
“Biasalah mas, standard… faktor ekonomi dan
kekerasan rumah tangga” jawabnya lagi solah-olah
pintu bahagia sdh lama tdk dia masuki yg akhirnya
faktor ekonomi dan kekerasan rumah tangga menjadi
sebuah pembenaran atas sebuah perceraian.
“Ohhh,… Terus selama ini mbak kerja dimana ???”
lanjutku lagi,
“Kadang-kadang bantu ibu mas dirumah mijet, ibuku
tukang pijat, tp ya tdk terlalu banyak pasiennya mas,
namanya aja di kampung, tdk cukup buat menyambung
hidup mas… kita sering diberi bantuan keuangan dari
saudara ibu yg jadi TKW di Arab Saudi dan bantuan
beras dari saudara bapak dan ibu yg jadi petani di
kampung kalau lagi panen” jawabnya panjang lebar
menjelaskan kondisi keluarganya itu,
Palayan warung itu datang menghampiri kami untuk
mengantarkan makan maka kupersilahkan dia
menyantap makan malam itu. Sepintas kulirik
tampaknya dia sangat konsen sekali dgn makanannya
sehingga tak ada obrolan yg keluar dari mulutnya
akupun mencoba tdk mengganggunya sejenak, mungkin
saja dia jg tdk makan siang tadi.
Setelah sekitar 5-10 menit kita terdiam sibuk dgn
makanan kami, tiba-tiba dia memangil pelayan dan
mencoba membayar makanan kita,
“Mas,… Ini semuanya berapa ???” Tanyanya kepada
pelayan warung itu,
“Sdh biar saya saja mas” Sahutku sambil mengambil
dompet mengambil uang pecahan uang 50 Ribu, aku
sdh tahu harga dua porsi makanan dan minumannya tdk
sampai 30 Ribu,
“Mbak ini gimana sih ???, Katanya dompetnya hilang
tp kok malah coba-coba bayar makananku jg” kataku
meminta penjelasan kepadanya,
“Ada mas sedikit, sebelum berangkat aku memang
menaruh secukupnya di kantong celana buat ongkos
dan inilah sisanya,…” Jawabnya sambil membeberkan
sisa-sisa uangnya berupa 1 lembar pecahan 50 ribu, 2
lembar pecahan 10 ribu dan 4 lembar pecahan ribuan,
“Lah, terus uang yg hilang ditaruh dimana ???”
Tanyaku lagi,
“Di tas dompet ini mas…” Jawabnya singkat,
“Loh kok yg hilang cuman uangnya saja, gimana
ceritanya ??? kira-kira kecopetannya dimana ???”
tanyaku lagi,
“Yah gak tahulah mas, awalnya aku pikir pakai dompet
model begini malah lebih aman soalnya bisa aku
gendong ditaruh didepanku,… kalau kecopetannya sih
mungkin saja di bungurasih atau mungkin di atas kapal
soalnya aku sempat ketiduran mas…” Jawabnya dgn
wajah seperti ada sesuatu yg disesalkan.
Untung saja KTP nya jg tdk ikut hilang, dia sengaja
mengantongi di saku celananya dari awal supaya tdk
repot untuk pemeriksaan di Identitas di Gilimanuk. Dari
itu aku tahu kalau dia lebih tua dariku 2 tahun.
“Ya sdhlah mbak, yg lalu biar berlalu, dipikirpun
percuma tdk bisa membuat uang mbak kembali” ucapku
mencoba menenangkan hatinya,
“Ayo kita pulang ke kos-kosan dulu, biar mbak bisa
mandi dan istirahat” kataku seraya mengabil kembalian
uang dari pelayan warung itu,
“Kok anehya, dari tadi kita berbicara panjang lebar tp
belum saling mengenalkan nama masing-masing”
ucapnya tampaknya sdh mulai akrab dgnku, seraya
berdiri hendak keluar meninggalkan warung itu,
“Waduhhh iya aku lupa, Teman-teman memangilku
Napi,… Nama Kamu ???” Ucapku seraya bertanya balik,
“Namaku Lastri, Mas”, Jawabnya,
“Loh kamu kok masih panggil Mas, Las” Tanyaku sambil
menaiki motorku,
“Ahh gak tahu mas, aku lebih suka memanggil mas
kepada seorang laki-laki daripada memanggil namanya
langsung” jawabnya lagi,
“Ya sdhlah terserah kamu aja… yuk naik” jawabku
seraya menghidupkan motor dan pulang ke kos-kosan,
Hanya beberapa menit saja akhirnya kita tiba di kos-
kosanku yg memang hanya tinggal masuk gang-gang
kecil saja dari warung itu. Kubuka kamar kosku dan
kupersilahkan dia masuk dgn tata kamar agak
berantakan ala kos-kosan berpenghuni pria, kamarku
sekitar 3X4 Meter aku tdk tahu pasti dgn kamar mandi
didlm,
“Ya beginilah Las, Maklum kos-kosan cowok”, Ucapku
cengar-cengir,
“Ngakk apa-apa kok mas,… Omong-omong tadi
pintunya kok gak di kunci mas ???” Tanyanya heran,
“Disini Jauh lebih aman daripada di Jawa Las,
Jangankan kamar yg memang gak ada barang
berharganya, Motor yg ditaruh diluarpun gak ada yg
utak-atik” jawabku sambil menjelaskan perbedaan
antara Sikon antara di Bali dan Jawa,
“Satu lagi mas, kalau laki-laki membawa masuk wanita
emangnya nggak apa-apa ya mas, apa nggak ada
grebekan gitu mas ???”, Tanya lagi dgn lugu,
“Tadi Lastri lihat beberapa pasangan, di kamar kos
depan kan ??? Itu semua hanya sekedar pacaran dan
tinggal satu kamar kos,… disini, asalkan lastri punya
identitas yg jelas dan bukan teroris, semuanya akan
aman-aman saja…” Jawabku dgn menjelaskan kondisi
sosial disini,
“Waduhhh,… enak jg ya mas…” Ucapnya yg spontan
terlontar dari mulutnya,
“Enak gimana ??? Lastri suka yaaaa ???…” Tanyaku
dgn sedikit senyum menggoda,
“Ahhh Mas ini,… Maksud aku, enak mas disini tdk
saling mencampuri urusan orang lain seperti yg biasa
terjadi di Jawa” Jawabnya,
“Ya sdh Las, Kamu mandi dulu sana, aku mau keluar
sebentar mau beli camilan dulu di Circle-K,… Aku mau
beli Bir, Kamu mau nggak ???” tanyaku yg sebenarnya
hanya basa-basi saja,
“Ya… Bolehlah mas”, jawabnya sedikit memikir, aku
tdk tahu dia suka minum apa tdk tp yg pasti dia meng-
iyakan saja waktu itu.
Kugeber motor bututku ke Circle-K terdekat, tak jauh
dari Matahari Departement Store Denpasar Jalan Raya
Sesetan, Kupilih-pilih snack dan 4 botol bir kecil, tdk
berlama-lama lagi aku langsung pulang. Kumasuk
kekamar kos, kulihat dia masih belum keluar dari kamar
mandi, kutunggu saja dia sambil meminum sebotol bir
yg aku beli tadi.
Tak lama kemudian yg di tunggu-tunggu akhirnya
keluar jg dari kamar mandi, dia memakai kaos singlet
biru polos dgn BH yg melekat di dadanya dan bawahan
boxer tak terlalu ketat bermotifkan hello kitty berwarna
kuning, kulit yg putih mulus, tubuhnya yg sintal tp tdk
gemuk, Belahan payudara yg mencuat dan lumayan
besar standart perempuan yg pernah punya anak,
benar-benar pemandangan yg indah sekali, meskipun
aku yakin pakaian yg dipakainya bukan dari brand yg
ternama, tp aku mencoba menyembunyikan kekaguman
itu,
“Ehhh,… Mas sdh datang… maaf mas aku harus
berpakaian seperti ini, aku tdk terlalu banyak membawa
baju sehari-hari mas, lagian gak enak mas kalo aku
harus tidur pakai jeans” katanya kepadaku,
“Alaaah, santai aja kok… bali daerahnya panas, kamu
pasti gerah kalau tidur dgn pakaian yg tertutup… ayo
kita minum mumpung masih dingin” ajakku sambil
meyakinkannya, kabukakan satu botol bir dan
kusodorkan kepadanya, semerbak harum wangi surga
dunia memenuhi kamar kosku, betapa indahnya kamar
kos ini kalau ada seorang wanita didlmnya, pikirku dlm
hati.
Kemudian duduk di depanku yg hanya beralaskan
karpet hijau dan kasur diatasnya tanpa ranjang seraya
pelan menegak botol minumannya,
“Ahhhhh… ternyata enak jg ya mas, rasanya nggak jauh
dari Sprite ataupun Coca-cola” katanya seperti orang
yg belum pernah minum bir saja,
“Ya memang enak dong, apalagi diminum dlm keadaan
dingin seperti ini… memangnya kamu belum pernah
minum yaa ???” tanyaku, aku suka Bir Bintang
bukannya karena aku doyan mabuk ataupun kuat
minum-minuman beralkohol, tp dlm keadaan “Bloody
Cold” menurutku rasanya benar-benar mengalahkan
Coca-cola dan Sprite.
“Belum pernah… Kira-kira mabuk nggak ya mas…”
katanya penasaran,
“Kalau cuman 1-2 botol kecil, ya nggaklah Las…
malahan enak menghangatkan badan” jawabku
mencoba menenangkannya,
“Tp Nggak apa-apa jg sih mabuk sedikit-sedikit,
sekalian mengobati pusing… hehehe” Ucapnya sedikit
cengengesan,
“ini rokok !, Kalau kamu ingin merokok” ucapku seraya
menyalakan rokokku,
“Aku cuma merokok yg itu aja mas… hehehe”,
Ucapannya mulain nyeleneh, apa iya sdh mulai
mabuk ???, tp aku rasa tdk, mungkin dia hanya
mencoba lebih mengakrabkan diri saja kepadaku.
Kita terus ngobrol panjang lebar mengenai banyak hal,
bagaimana lebih detilnya dia yg kecopetan, bagaimana
kondisi keluarganya dikampung sampai pekerjaan apa
yg ia cari, Tak terasa jam di HP menunjukkan hampir
Pukul 12 Malam, kusuruh dia tidur untuk istirahat dari
hari yg begitu melelahkan fisik dan mental, Akupun jg
begitu. Awalnya ia tdk mau tidur di kasur karena
merasa tdk enak sdh merepotkanku, tp aku bilang
sama aja baik di kasur atau dikarpet, sama-sama
dibawah, dan dia jg paling-paling menginap hanya
beberapa hari saja.
Tak lama sejak kita membaringkan diri, kulihat dia sdh
tertidur dgn nyenyak mungkin benar-benar capek,
sesekali kulirik bongkahan paha putih mulusnya dan
belahan dadanya yg mencuat, walaupun lampu kamar
sdh kumatikan tp tetap saja kelihatan dari cahaya
lampu luar yg menerobos masuk kedlm kamar yg
semakin membuat gerah saja melihat pemandangan itu,
tp akhirnya aku berhasil tertidur jg.
Pagi hari jam enam terasa kamar sdh sedikit ramai,
bunyi benturan gelas dan sendok di iringi aroma kopi
makin membuatku tak bisa menutup mata untuk lama
lagi sehingga kuputuskan untuk bangun,
“Ehhh Mas sdh bangun… ini aku bikinkan kopi mas…”
ucapnya dgn senyumnya yg manis menghiasi indahnya
pagi itu, serasa aku sdh punya istri saja,
“Ngomong-ngomong, keberadaanku disini membuat
mas tersiksa ya ???” tanyanya dgn sedikit genit, aku
belum mengerti maksudnya, mungkin saja karena aku
baru bangun tidur,
“Maksudnya ???” Tanyaku singkat,
“Itu mas… aku lihat dari tadi itunya berdiri terus…
dipegang-pegang, diremas-remas sendiri… hihihi”
ucapnya dgn tertawa sedikit centil,
“Ahhh… itu sdh biasa… ada atau tdk ada lawannya,
kalau pagi yah memang begini Las… semua laki-laki
normal kan memang begitu, teruma bujangan” kataku
mencari alasan tentang kebiasaanku itu, aku
mempunyai kebiasaan seperti itu dipagi hari yg di alam
bawah sadar ku yg tdk bisa aku kontrol.
Tak lama kemudian aku mandi dan mencari sarapan
pagi yg dibungkus diwarung di pinggir jalan raya, kita
pun sarapan Nasi Pecel bersama, setelah Jam
menunjukkan Pukul 7 dan puas menikmati kopi yg lebih
nikmat dari biasanya, mungkin kerena disuguhi paha yg
mulus dan Payudara yg mencuat dari sangkarnya,
kuputuskan untuk berangkat kerja dulu,
“Aku berangkat kerja dulu, kamu boleh jalan-jalan atau
mencari informasi lowongan pekerjaan, tp ingat, jangan
sampai kesasar… ini kamu pegang dulu buat nanti
makan siang” ucapku seraya mnyodorkan uang 50
ribuan,
“Ahhh Sdh mas, Nggak usah… aku jg ada kok kalau
cuman sekedar buat makan” Jawabnya menolak uang
yg aku sodorkan mngkin dia merasa tdk enak.
Akhirnya aku berangkat kerja pagi itu, Usropun belum
memberi kabar bagaimana perkembangan kasus
penculikan RS. Pukul 5 sore setelah jam kantor selesai
kuputuskan segera pulang ke kos-kosan seakan-akan
aku punya tanggungan di belakang sana.
Sesampainya di kos-kosan dia bercerita kalau di
berputar-putar di daerah sesetan sambil mencari-cari
informasi tentang lowongan pekerjaan, dia tertarik
untuk mencoba kerja di café hiburan malam karena
peluang untuk kerja disana sangatlah besar dgn tanpa
mempunyai ijazah dan Skill yg tinggi menurut orang-
orang yg dia jumpai siang tadi, aku tdk mencoba untuk
mendukung ataupun melarangnya, itu semua terserah
dia, aku tdk mempunyai kewenangan untuk itu,
walaupun aku tahu seorang wanita yg bekerja di café
hiburan malam mempunyai makna konotasi yg negatif.
Malam sekitar jam 7 kuantarkan dia kesebuah café
hiburan malam di daerah sesetan yg masih tdk jauh
dari kos-kosanku, meskipun aku yakin belum ada
pengunjung tp paling tdk manager ataupun ownernya
pasti sdh standby, aku menunggu di parkiran saja, aku
tdk mau di ajak masuk, aku tdk terlalu suka dgn tempat
seperti itu, walaupun aku belum pernah sekalipun
masuk kedlm tp aku sdh bisa membayangkan seperti
apa didlm, aku yakin tdk jauh berbeda dgn café-café
dangdut di Jl. Jarak Surabaya disektar lokalisasi Dolly,
Banyak pengunjung-pengunjung yg rese, sok jago, sok
kaya, kontras sekali dgn club dan bar hiburan malam di
daerah legian yg penuh dgn bule-bule yg memang
datang untuk happy-happy, berpakaian santai seadanya,
benar-benar sangat menyenangkan.
Sekitar 30 menit dia didlm, yg akhirnya membawa
kabar bahwa ia bisa bekerja mulai besok, aku tak
berusaha mencoba untuk bertanya lebih lanjut
tengtang pekerjaanya itu, aku takut kalau-kalau aku
menyinggung perasaannya, karena bagaimanapun jg itu
sebuah pilihan hidup.
“Ya sdh baguslah kalau begitu,… Ayo sekarang kita
cari kos-kosan dulu buat kamu” Ucapku seraya basa-
basi memberikannya selamat,
“Tp mas… aku… tdk punya uang”, katanya sedikit
ragu,
“Sdhlah,… aku kasih kamu pinjaman uang dulu, buat
bayar uang muka kos dan sisanya buat uang persediaan
untuk kebutuhan sehari-hari…” ucapku mencoba
membuatnya tenang,
“Ahhh,… jangan mas… aku tdk enak mas… mas sdh
membantuku terlalu banyak” ujarnya merasa malu,
“Memangnya kamu punya solusi lain ???” Tanyaku
sedikit menyudutkannya, diapun terdiam sejenak tanpa
suara,
“Ahhh sdhlah… toh akhirnya kamu bakalan bayar jg kan
kalau sdh ada uang lebih???…. ya sdh ayo naik kita
cari kos-kosan dulu didaerah sini” ajakku memecah
keheningan dgn tanpa menunggu jawaban darinya,
akhirnya dia ikut naik motor dan langsung pergi
mencari kos-kosan yg tdk terlalu jauh dari termpat
kerjanya.
Tak sulit mencari kos-kosan disana selama uangnya
ada, tak lama kemudian kita sdh menemukan kos-
kosan yg cocok harganya dgn yg ia inginkan, dgn harga
250 ribu per bulan diluar bayaran listrik dan air dgn
kamar mandi didlm, sdh lumayan murah menurutku
walaupun kondisi bangunannya biasa-biasa saja tdk
terlalu bagus, kitapun sepakat untuk pindahan
keesokan hari sekalian dgn pembayarannya.
“Ahhhh… Akhirnya semuanya sdh selaesai…
Bagaimana kalau kita beli bir dulu buat merayakannya”
ucapku dgn senyum lega kepadanya,
“Iyaaa… Boleh mas… tp aku belum bisa nraktir mas”
ucapnya dgn semangat,
“Kamu kok bahas itu melulu sih… ya sdh ayo sekalian
aku ambil uang di ATM buat uang persediaanmu”
Jawabku dgn bergegas menaiki motor bututku, kitapun
meluncur untuk menganbil uang serta membeli 6 botol
bir kecil di Circle-K terdekat dan segera meluncur
pulang ke kos-kosan.
Setiba di kamar kos dia minta ijin untuk ganti baju dulu
di kamar mandi, gerah katanya, Bali memang sumuk
kalau malam, tak lama kemudian dia kembali lagi dgn
kostumnya tadi malam, kostum yag membuat aku
blingsatan tatkala melihatnya, paha putih, belahan dada
mencuat melengkapi kesengsaraanku. Satu jam sdh
kita minum sambil ngobrol ngalor-ngidul tiba-tiba dia
memujiku,
“Aku beruntung mas, kamu yg menemukanku di depan
kantor polisi itu… kalau tdk aku tdk tahu bagaimana
nasibku sekarang” Ucapnya dgn wajah seperti
memancarkan rasa terima kasih yg begitu besar
kepadaku,
“Ahhh sdhlah jangan di puji begitu, nanti kupingku bisa
mekar” ucapku sambil cengengesan,
“Tp benar, tampaknya mas memang pria baik-baik”
lanjutnya lagi memujiku,
“Baik gimana maksudnya ??? ini buktinya kita mabuk-
mabukan… hehehe” ucapku masih sambil
cengengesan, sementara 2 botol bir sdh berlalu kedlm
perutku, meskipun tdk benar-benar mabuk tp pikiran
sdh mulai enteng,
“Yahh gimana yaaa,… aku tdk menygka meskipun kita
sdh berdua dari kemarin dan mas sdh banyak
membantuku, tp aku tdk melihat gelagat mas untuk
mencoba menggodaku” Ucapnya dgn serius,
“Ahhh… aku tdk ingin sok alim, tp aku tdk tega
menari-nari di atas luka orang lain, bagaimanapun aku
jg anak rantau dan apa yg terjadi padamu bisa terjadi
kepadaku jg…” ucapku dgn nada serius jg,
“Mungkin aku kalah cantik dan seksi dgn teman-teman
wanita mas disini… hehehe” ucapnya dgn nada santai,
“Ahhh kata siapa ???, kamu ini cantik… Cuma aku tdk
bisa bahagia dlm derita orang lain” ucapku mengulang
perumpamaan di atas,
“Terus terang mas, sewaktu mas menawarkan untuk
menginap disini aku sdh siap dgn segala
konsekuensinya karena bagaimanapun mas adalah pria
yg baru aku kenal, bisa jadi aku diperkosa oleh mas tp
itu tak jadi masalah besar selama aku masih bisa
bertahan hidup,… itu sebuah keputusan yg sulit, tp
tetap aku putuskan daripada aku hanya pasrah dgn
keadaan” Ucapnya kembali dgn nada seriusnya,
“Itu sdh biasa, kamu tdk salah berpikiran seperti itu,
bagaimanapun aku laki-laki dan kamu perempuan”
jawabku membenarkan ucapannya,
“Tp untung saja, aku membuat keputusan yg benar,…
mas benar-benar sdh banyak membantuku” ucapnya
lagi, entah berapa kali kalimat itu diucapkannya
berulang-ulang,
“Aahhh sdhlah kamu Nggak usah mengulang-ulang itu
terus..” ucapku kepadanya, botol ketigapun sdh tinggal
separuh, munkin dia jg mulai merasa enteng
mengutarakan unek-uneknya,
“Tp maaf mas,… memangnya mas tdk terangsang
melihatku berpakaian seperti ini ??? meskipun aku tak
ada niat untuk itu, atau jangan-jangan mas memang
sdh terbiasa dgn wanita yg jauh lebih seksi dariku
ya ???” Tanyanya dgn panjang lebar,
“Ahh kata siapa aku tdk terangsang ???, dari kemaren
kepalaku cenat-cenut melihat paha mulusmu dan
belahan dadamu itu,” Jawabku sambil tersenyum,
“Ahhh masa mas ???, tp kok mas tdk mencoba
merayuku…” Tanyanya lagi dgn penasaran
“Ya itu,… sekali lagi aku katakan, aku tak ingin
menganbil kesempatan dlm kesempitan”, Jawabku yg
benar-benar jujur karena aku merasa iba kepadanya,
“Mas tdk mengambil kesempatan dlm kesempitan kok,
mas sdh banyak membantuku, kalaupun mas menjamah
tubuhku ini, rasanya tdk cukup untuk membayar
kebaikan mas, lagipula aku rasa mas tdk kaget toh
kemaren aku sempat menawarkan diri untuk menjual
tubuhku kepada mas,…” Ucapnya sedikit berani
mengeluarkan segala unek-uneknya,
aku sedikit terkejut mendengar ucapan tulusnya itu,
aku benar-benar tdk menygkanya, tp mungkin memang
itulah yg ada di hatinya yg paling dlm dan didukung
oleh pengaruh 3 botol bir, aku tak bergeming
mendengar ucapannya itu, pelan tp pasti posisi
duduknya berangsur-angsur mendekatiku, Aroma
alkohol yg terhempas dari bibirnya yg merah itupun
terasa tambah kencang menghempas wajahku dan, aku
benar-benar tak menygka bibir merahnya itu
ditempelnya di bibirku dlm dua kecupan pelan, matanya
begitu gagah berani menatap mataku tak seperti
sebelum-sebelumnya dan kedua tangannya tak kalah
lancangnya memegang pelan pipi-pipiku,
“aku tak punya cara lain untuk membalas kebaikan
mas,… mungkin hanya ini yg aku bisa berikan…”
ucapnya lirih dgn hembusan nafas yg menghempas
dinding pori-pori akal sehatku,
“Tpiii… aku hanya tak mau kamu merasa dirugikan
kelak nanti…” ucapku dgn sisa-sisa akal sehatku,
“Tdk ada yg dirugikan mas,… Mas kan sdh tahu kalau
aku bukan perawan, tak akan ada bedanya kalau aku
tidur dgn satu atau dua orang lelaki…”Jawabnya lagi
dgn nada yg masih lirih,
Akal sehatku benar-benar sdh mati, terbunuh dgn
tajamnya kalimat tulus yg menghunus-hunus kejam
otakku, kusosorkan bibirku ke bibirnya dgn menggila,
“Eittsss,… yg sabar dong… aku nggak akan pergi
kemana-mana kok…” ucapnya dgn senyum sedikit
mengejek seraya menempel kembali bibirnya dibibirku
dgn kecupan pelan, benar-benar sangat sensual.
Tanganku pun refleks dgn sendirinya tanpa ada yg
menyuruh mendarat dgn sempurna pada payudaranya
yg masih tertutup kaos singlet serta BH, Ahhh..
belahan itu, belahan dadanya itu yg benar-benar sdh
menghipnotisku, kuremas-remas Payudaranya dari luar,
rasanya benar-benar kenyal makin membuatku merasa
tdk tahan.
Perlahan kucoba untuk menyingkap kaos singletnya,
sementara dia melepaskan ciumannya untuk
mempermudah melepaskan kaos singletnya, setelah
kaos singletnya lepas dia kembali mendaratkan bibirnya
pada bibirku lagi, tanganku bergerilnya untuk mencoba
melepaskan pengait BH nya yg masih melekat, tanpa
melepaskan pergelutan bibir kami akhirnya BHnyapun
terlepas tanpa halangan yg berarti, Ohh.. Benar-benar
indah… Dua gunung kembar sdh terlepas dari
sarangnya menggelantung dgn bebas. Aku semakin tdk
bisa menahan gejolak rasa birahiku menyaksikan
pemandangan indah itu.
Aku mulai menggeserkan bibirku untuk menciumi
lehernya yg panjang dan putih itu sambil meremas-
remas lembut kedua payudaranya. Terasa putingnya
mulai mengeras di tanganku. Aku masih memilin-milin
lembut puting merah kecoklatannya itu, sambil lidahku
terus menjilati di sepanjang leher dan
dadanya.Akhirnya bibirkupun sampai ke atas putingnya.
Dgn segenap napas yg tersisa, langsung aku mengisap
puting payudara kanannya, sementara tanganku jg tdk
tinggal diam, meremas payudara yg lain, demikianlah
terus-menerus bergantian. Lastri yg semula hanya
memejamkan mata terdiam, mulai berdesis-desis
pelan, menikmati sesuatu yg mungkin sdh lama dia tdk
rasakan.
Aku menjilat-jilat puting kirinya dan Lastripun
mendesah lembut “Achh..” melepaskan kecupan bibir
kami, sementara tanganku yg lain tetap meremas-
remas mesra payudara kanannya. Lalu mulutkupun
berpindah ke sisi dada kanannya, dan aku menjilat
puting itu sambil tanganku menuju ke bawah di sela
perut dan pahanya.
“Achh.. Mas terus Mas..”, begitu desahannya.
Putingnya semakin mengeras dan menyembul di atas
payudaranya, seakan-akan menantang birahiku.
Aku belum merasa puas, mengisap dan menjilati
payudaranya, aku mulai bergerak turun, menjilati
perutnya, naik-turun. Desis Lastri terus semakin cepat,
sungguh hanya kenikmatan semata yg kini
dirasakannya.
Aku semakin tdk tahan, kepalaku terus bergeser
semakin ke bawah, aku berjongkok dan sekarang
bibirku telah menyentuh perutnya. Tetp setelah kucoba
untuk menggeser kepalaku lebih ke bawah lagi tiba-tiba
dia memegang kepalaku dan menghentikanku, “Ahh…
Maaf mas, Aku lepas kontrol, aku tadinya bermaksud
ingin memberikan mas kepuasan, bukan mas yg
memberikanku kepuasan” ujarnya dgn diselingi
hempasan nafasnya yg cepat.
“Ahh… Sama saja Las” ucapku singkat seraya mencoba
menggerakkan kepalaku kebawah lagi tp dia tetep
mencoba menghentikannku lagi.
“Ahh.. Jangan mas, lain kali saja.. Kali ini biar aku yg
melayani mas, mas nikmati saja…” Ucapnya sambil
mengangkat kepalaku keatas seraya mencoba
melepaskan kaosku,
“Ehhh… Memangnya ada lain kali ya ???” tanyaku
pura-pura bodoh,
“Idihhh Pura-pura bodoh lagi,… Kalau misalnya setelah
ini mas sdh bosan sama aku ya sdh gak apa-apa”,
Jawabnya pura-pura sewot,
“Ahh ya sdhlah toh aku jg yg enak” pikirku dlm hati,
kuangkat tanganku untuk mempermudah proses
membuka kaosku, lalu dgn lincahnya lidah Lastri yg
hangat mulai menelusuri tubuhku mulai dari leher
telinga dan sekarang aku yg sedikit demi sedikit
mendesah , apalagi dgn ganasnya Lastri menjilat-jilat
puting dadaku.
Dihisapnya pelan dan kadang digigit, akhirnya sampai
pada celana pendek yg masih menempel di tubuhku,
dibukanya perlahan kuangkat pantatku untuk
mempermudah melepaskan celana pendekku, kemudian
dia mengelus-ngelus k0ntolku yg masih terbungkus
dlm CDku,
“Ahhh… Bedebah… Kenapa gak dilepas saja sekalian
CDnya… Bikin aku tambah gemas saja dgn wanita ini”,
gumamku dlm hati, karena tdk tahan akhirnya kucoba
untuk melepaskan sendiri CDku, tp dia lagi-lagi
menghentikanku,
“Eittsss,… yg sabar dong… ini sdh jadi tugasku, tugas
mas sekarang diam dan menikmati saja,… Memang sdh
gak tahan yaaa ???… hihihihi”, ucapnya sambil
cengengesan,
Benar-benar bedebah aku benar-benar tersiksa dgn
perbuatannya itu, perlahan di membuka CDku kuangkat
pantatku lagi untuk memperlancar pelepasan benang
terakhir yg menempel di tubuhku, kemudian
mencuatlah senjata yg dari tadi sdh tegak berdiri dgn
gagahnya,
“Ehhh… Ternyata adikku sdh bisa berdiri sendiri…
hihihi”, celotehnya dgn cengengesan,
Ahh sial jg wanita ini menertawaiku, burung siapa yg
akan berdiri kalau sdh diperlakukan sedemikian rupa,
perlahan dia mendekatkan mulutnya ke k0ntolku yg
sdh tegak berdiri jantungku berdegub begitu kencang
berharap-harap cemas seakan-akan penantian puluhan
tahun akan segera terobati dlm hitungan detik, tp
hampir saja lidahnya menyentuh k0ntolku tiba-tiba
kembali dia memundurkan kepalanya sambil
cengengesan melihatku,
“Aduhhh Lastri,… Jangan gitu dong aku sdh tersiksa
nih,… kamu terus-terusan menggodaku dari tadi…”,
ucapku dgn nada memelas,
“Hihihihii… Makanya jadi laki-laki jangan sok jaim,
pake acara pura-pura gak doyan segala… Emang gaya
cuek mas yg kemaren mana sekarang ???…” tanyanya
sambil cengengesan,
“Bukan sok jaim Las… Tp…. hhhmmm”, Belum sempat
aku menuntaskan penjelasanku, kalimatku terpotong
bersamaan sentuhan lidahnya di ujung k0ntolku, ahhh
benar-benar sangat nyaman sekali,
“Tp apa ???, Tp Enak ??? ”, Ucapnya seraya
melanjutkan jilatan-jilatan diujung k0ntolku,
“Iya Ee..enak…” Jawabku dgn terbata-bata mengontrol
hembusan nafasku,
dia hanya cengengesan mendengar jawabanku yg sdh
tdk nyambung dgn kalimat yg pertama tadi, sementara
tangannya sdh mulai dgn lembut mengocok
kejantananku yg kian membengkak dan mengeras.
“Adduhh… Lassss….Hmmm”, Ceracau yg keluar dari
mulutku sdh tdk bisa aku kontrol lagi,
Tetp sepertinya Lastri tdk peduli, kini kejantananku
sdh berada di dlm mulutnya yg mungil, sementara jari-
jemarinya tetap mengelus-ngelus dadaku dan
menjentik-jentik puting dadaku, membuat seluruh
aliran darahku bergejolak menahan kenikmatan yg luar
biasa. Tangan kananku dgn gemas meremas pinggul
dan buah pantat Lastri yg kenyal yg masih terbungkus
boxer,
“Anjing… Kenapa boxernya belum lepas dari
tubuhnya”, gumamku dlm hati, aku lupa tdk membuka
boxernya tadi, aku terlalu larut dlm irama permainan
lastri.
Payudaranya jg terus aku elus dan putingnya aku pilin
lembut dgn tangan kiriku dari bawah, entah berapa
menit sdh hujaman-hujaman k0ntolku ke mulutnya
berlangsung, darahku sdh sampai ke ubun-ubun,
“Adduhh,… Suu…udah Las… Bisa-bisa aku keluar
sebelum melihat memekmu”, Ceracauku dgn nafas
terengah-engah,
“Tahan mas yaa… mungkin sedikit sakit”, Ucapnya
setelah melepaskan k0ntolku dari mulitnya, tiba-tiba
dia menekan uratku di sekitar selangkaan sebelah kiri,
entah aku tdk tahu apa yg mau dia perbuat,
“Auuuww,…” Sentakan yg keluar dari mulutku, benar-
benar sakit sekali, tp ada sesuatu yg aneh beriringan
dgn itu seakan-akan sperma yg sdh berada di ujung
k0ntol masuk kembali kedlm, mungkin sekarang aku
mulai sedikit mengerti apa yg sedang dia perbuat,
“Maaf… Mas yaa… Tampaknya mas kurang mempunyai
pertahanan melawan wanita… tp tenang mas nanti akan
saya sembuhkan… biar mas bisa membuat tepar
wanita-wanita diluar sana…” Ucapnya sambil
tersenyum menggoda,
tangannya masih memijit di tempat semula, benar saja
dlm keadan normal dlm artian tanpa pengaruh alkohol
ataupun obat kuat aku biasanya tdk bisa bertahan
terlalu lama, setelah melepaskan pijatannya dia
kembali meraih k0ntolku yg sedikit melemas karena
pijatannya tadi mengarahkan kemulutnya lagi, benar-
benar indah rasanya k0ntolku kembali tegak dgn
congkaknya dlm kondisi 100%,
“Ahhh… Kamu gak adil… Aku sdh kamu
mempermainkanku dari tadi… tp kamu masih
menyembunyikan hartamu itu…”,Ucapku dgn nafas yg
sulit sekali aku kontrol, dgn posisi k0ntolku masih dlm
kunyahan mulutnya itu,
“Ehhh… Tak kirain kemaren mas gak sudi melihat
punyaku… hehehe”, Ucapnya meledek aku lagi,
dia bangun dari posisinya yg sedikit tengkurap waktu
mempermainkan k0ntolku tadi, dia terus berdiri dan
membuka perlahan boxer yg masih menempel di
tubuhnya yg menutupi bagian yg paling berharganya
itu, aku tak sadar bahwa boxer sebelah bawah ternyata
basah memang aku tak bisa melihat tadi dgn posisinya
yg sedikit tengkurap, dia melenggak-lenggokkan
pantatnya sambil tersenyum menyeringai menggodaku,
aku benar-benar sdh tak sabar dibuatnya dia terus-
terusan menggodaku dari tadi,
“Ahhh… lama amat sih,” celotehku makin tak sabar
saja melihat tingkahnya,
“Sabar yah sayang… muuuaachhh”, begitulah yg keluar
dari mulutnya memonyongkan mulutnya seperti sun
jauh,
ditariknya sedikit demi sedikit sambil mengeyal-
geyolkan pantatnya menggoda, akhirnya benarng
terakhir itu terlepas, ahhh… benar-benar bedebah
rupanya dia tdk memakai CD, melainkan hanya boxer
saja, pantas saja tadi kulihat boxernya basah oleh
cairan memeknya, badanku rasanya gemetar dan bulu
kudukku rasanya berdiri setelah melihat memek yg
indah sedikit merekah tp tdk begitu menganga lebar di
selingi cairan dipinggirnya, bulu memeknya telah dia
potong sangat pendek tp tdk gundul plontos, benar-
benar indah,
entah kenapa aku bisa terkagum-kagum seperti tdk
pernah melihat memek saja meskipun sampai saat itu
Body wanita yg benar-benar ideal dimataku adalah si
Risa dlm Cerita “Tragedi Rumah Bordil”, tp perasaan
ini sama seperti waktu aku meniduri seorang janda
umur 30 tahunan beranak dua sewaktu awal-awal aku
masuk kuliah yg mungkin saja nanti aku ceritakan dlm
judul “Janda Kembang Salak” Sebelum kejadian dlm
Cerita “Kisah Si Tukang Ledeng dan Sepotong Pipa”,
Mungkin saja karena aku merasa ada sebuah
kepasrahan pada dirinya tanpa ada maksud dan tujuan
atas apa yg dia perbuat,
“Idiihh mas kok melihatnya begitu, seperti belum
pernah melihat wanita telanjang saja…”, Ucapnya genit
menggodaku,
“Entahlah… Lasss… kenapa aku bisa tertegun melihat
ketelanjanganmu itu…”Ujarku yg keluar begitu saja dari
mulutku tanpa terkontrol lagi oleh akal sehatku,
“Aduuhh… Mass… Gak usah ngegombal deh,… Mas
gak perlu menggombal untuk meniduriku…”,Ucapnya
lagi dgn tawa genit seraya merebahkan diri kekasur,
perlahan dia mulai mengangkangkan pahanya, sedikit
demi sedikit memeknya sedikit merekah seiring dgn
terbukanya selangkaannya, memeknya begitu indah tdk
bergelambir dan berwarna merah, tp kenapa aku
seperti perjaka goblok menganga melihat pemandangan
itu, aku harus sadar dari kekagumanku itu, “Sadarlah…
Ini bukan pertama kalinya aku melihat wanita
telanjang… aku sdh banyak meniduri wanita…”, Itulah
yg kucoba tanamkan dlm otakku untuk melawan
kekaguman dlm hatiku,
“Ayo mas monggo, mumpung lagi hangat… nanti
keburu dingin lho… hihihi…”,Ucapnya genit meledek
memecah keheninganku, perlahan aku menghamprinya,
kucoba mendaratkan jari-jemari lentikku,
selangkangannya ia belah lebar-lebar.
Memek merah merekah pun terlihat di depanku.
Lembab dan ranum seperti pepaya setengah matang.
Kuusap-usapkan jariku ke dinding memek itu, naik dan
turun. Sesekali, kututup lubang kemaluannya, dan
kubuka kembali. Lastri menaik-turunkan pantatnya.
“ooouuuggghhhh…” desisnya mantab.
Dgn menggunakan jari telunjuk dan jempol, kurekahkan
lubang itu dan memainkan jariku yg lain masuk ke dlm
kemaluan yg sdh basah dan berlendir. Kugosok
perlahan-lahan. Tangan Lastri menyergap tanganku dan
membimbingnya dgn kasar ke atas payudaranya lagi. Ia
ingin aku memainkan payudara dan kemaluannya
sekaligus.
Aku menjadi lebih bersemangat mendengar desahannya
yg tak ada tanda-tanda mereda itu. Ia mengangkang
lebar-lebar, membuka pintu kenikmatan untukku. Dan
aku mendaki ke atas memeknya. Kupegang k0ntolku
dan kuarahkan tepat di bibir memeknya.
Satu dorongan membuat k0ntolku yg keras menusuk
sebagian ke dlm memek yg lembut dan basah, diiringi
desahan kecil, memeknya seakan-akan seperti melawan
benda yg ingin memasukinya, lumayan sempit untuk
seorang yg pernah melahirkan, mungkin saja dia sidah
lumayan lama tdk tersentuh laki-laki. Di dlm, k0ntolku
merasakan hawa hangat yg lembab. Basah dan licin.
Kutarik pelan-pelan dan kumasukkan lagi dgn lembut.
Kepalaku Kuturunkan dan dgn lidah, kugoda puting
payudaranya sambil mengatur irama gerakan k0ntolku.
Lastri menggelinjang-gelinjang. Kedua tangannya
memeluk pundakku dan mulai mencakar-cakar. Kuciumi
payudaranya bergantian, kanan dan kiri. Sesekali
kutarik puting itu dgn mulutku. Lantas, kedua kakinya
menjepit pahaku, saling bertumpuk, dan
memudahkanku untuk mempercepat gesekan k0ntolku.
“Uuuuuh…. Enak, Lasss…” rintihku berkali-kali.
“Iya… Mas…” balasnya.
Suaranya yg lembut meluncur pelan di sela nafasnya.
“Auuuwww…” dia menjerit kecil.
Lalu aku menarik, mendorong, menarik lagi, mendorong
lagi. Aku merasakan kewanitaannya semakin basah.
Kewanitaannya yg sempit itu semakin menjepit
kejantananku. Dgn irama yg teratur aku menarik dan
mendorongkan tubuhku kearahnya, Lastri menyilangkan
kakinya di belakang buah pantatku, sehingga terasa
kejantananku terjepit disela-sela bibir kewanitaannya.
Makin dlm.. dan semakin dlm kejantananku masuk
kedlm liang kewanitaannya yg semakin membasah.
Kami sama mengerang-erang penuh kenikmatan, dan
peluh menetes dari lehernya, aku ciumi seluruh leher
dan belakang telinganya.
Lalu ketika irama kami semakin cepat Lastri berkata
“Ayo Mas.., lebih cepat Mas.. lebih dlm lagi..”. Aku
menggigit bibirku menahan rasa nikmat yg luar biasa,
kejantananku semakin cepat dan semakin dlm
menusuk-nusuk kewanitaannya, seluruh otot-otot
tubuhkuku menegang.
“Adduhh… Lass.. enak sekali..”, aku mengerang-
mengerang sambil terus kugigiti bibirku.Tak lama
kemudian, ketika irama kami semakin cepat tubuhnya
menegang sambil meremas rambut kepalaku dan
mendesah,
“Ougghh.. Mas, aku enak..sekali..”, Lastri menjepit
buah pantatku dgn menyilangkan rapat-rapat kakinya,
dan aku pun menahan napas sambil terus menusuk-
nusukkan kejantananku. Dinding-dinding kewanitaannya
terasa memijat-mijat kejantananku, sehingga
memberikan rasa nikmat yg luar biasa pada diriku.
Panasnya suhu bali ketika malam menjelang menambah
panasnya rungan kosku, tubuhku dan tubuhnya sdh
bermandikan keringat begitu hebat, aku semakin tdk
tahan, aku terlalu larut dgn nafsuku, aku tdk bisa
mengontrol iramaku, darahku sdh berada di ubun-ubun
dan sperma sepertinya sdh berada di ujung kenisku,
“Aduuhh Lasss… Maaf Lass… Sepertinya aku sdh tdk
tahan lagi”, Ceracauku mencoba memperlambat
iramaku,
“Gak apa-apa mas,.. aku melayani untuk memuaskanmu
mas… tp sebenarnya mas sdh puas apa masih ingin
berlama-lama ???” Tanyanya dgn hempasan nafas
kencang,
“Sebenarrnya aku masih ingin berlama-lama didlm
memekmu, rasanya belum puas aku memelukmu… tp
apa daya sepertinya k0ntolku tdk bisa berkompromi”,
jawabku, aku tambah memperlambat iramaku supaya
sebisa mungkin menahan desakan sperma yg ingin
keluar dari ujung k0ntolku,
“Sdh berhenti dulu mas kalau begitu,… sekarang mas
yg dibawah biar aku yg mengontrol irama permainan ini
sekarang…”ucapnya tiba-tiba menyuruhku berhenti,
aku berhenti sejenak dan mencabut k0ntolku didlm
viginanya yg basah itu pelan-pelan, dan sekarang aku
membaringkan tubuhku dikasur, dgn cepat dia bangun
dari posisi tidurnya kemudian duduk didepan
selangkaanku, dgn cepat dia menekan keras dgn
tangannya daerah antara buah zakar dgn anus, sperma
yg sdh ada berada di ujung k0ntol seakan-akan
tertahan dan mundur kembali, setelah itu dia mulai
memijat kembali didaerah selangkaan sebelah kiri lagi,
diteruskan dgn pijatan didaerah antara k0ntol pusar dia
memijat-mijat daerah itu kearah atas dan jg perut
bawah sebelah kiri dibawah pusar, pijatan itu tdk
berlangsung terlalu lama tp benar-benar seperti
mengembalikan kekondisiku semula sebelum bercinta
denganya,
“Gimana mas… oke ??? sdh bisa dimulai kembali ???”
tanyanya menyeringai genit menatapku,
“Iya lass… kondisiku seperti kembali ke awal sebelum
bercinta… kamu benar-benar bisa mempermainkan
pria sesukamu…”, jawabku,
“Siapa dulu dong… Lasstrii.. Makanya jangan macam-
macam sama aku… hihihi”, ujarnya dgn bangga disertai
tawa genit,
kemudian dia mulai mengocok-ngocok k0ntolku
kembali sebelum mengarahkan kembali keliang
memeknya, Lastri mulai menaiki tubuhku dan Perlahan
lahan ia menurunkan pantatnya. Kepala k0ntolku dijepit
dgn jarinya, dan digesek-gesekkan di mulut memeknya.
Terasa lembab, hangat dan berair. Dia mengarahkan
kejantananku agar masuk ke dlm memeknya. Lastri
merenggangkan kedua pahanya dan sedikit mengangkat
pantatnya. Kepala k0ntolku sdh mulai menyusup di
bibir memeknya. Kugesek-gesekkan di bibir dlmnya
sampai k0ntolku terasa keras sekali. Keadaan lubang
memeknya semakin basah. Lastri menurunkan lagi
pantatnya dan k0ntolku segera masuk ke dlm
memeknya.
“Ayolah Lastri, tekan lagi.. Masukin..” Lastri
menggoyangkan pantatnya dan kubalas dgn
mengencangkan otot perutku, dan “Blep”.
“Oucchhhh.. Masss.. Ouhh!” erangnya berteriak lirih.
Lastri perlahan bergerak naik turun. Aku
mengimbanginya dgn gerakan pinggulku. Pantatnya
dinaikkan hingga hanya kepala k0ntolku saja yg
menyusup di bibir memeknya dan dgn cepat pantatnya
diturunkan kembali sampai k0ntolku menyentuh
dinding rahimnya. Ia menciumku dgn liar kemudian
dikecupnya leherku dan bibirnya terus ke bawah
menggigit putingku.
Detik demi detik berlalu menit demi menit silih
berganti, Lastri kemudian berjongkok dan pantatnya
bergerak naik turun, memutar dan maju mundur seperti
joki yg sedang memacu kudanya. Payudaranya
bergoyang-goyang dan segera kuremas-remas. Aku
bergerak menaikkan tubuhku sehingga kini posisiku
duduk memangkunya. Payudaranya kupermainkan dgn
tangan dan mulutku. Tangannya memegang pahaku,
dadanya semakin tegak dan kepalanya mendongak. Tdk
ada bagian tubuh atasnya yg kulewatkan. Gerakan
pantatnya semakin dipercepat sampai tubuhnya seakan
meliuk-liuk.
Tabrakan antara paha dan pantat menimbulkan bunyi yg
begitu indah mengalahkan genre musik apapun “Plak..
plak..plak.. ”
“Gi..gimana mas ???… Masih bisa bertahan ???”,
tanyanya tergopoh-gopoh dgn ledakan-ledakan nafas di
dadanya,
“Bi..biiisa dong…A..aku kan perkasa..” Jawabku
sekenanya,
“I..iidihh… Sok jago kamu sekarang mas… Gak ingat
ya… tadi… merengek-rengek… mau keluar…”
lanjutnya lagi dgn sepatah-sepatah kata yg keluar dari
mulutnya,
“Taaa..han… Mass…Aku… Sebentar Lagi… Sampai”,
Lanjutnya terengah-engah,
Pantatnya menekan kuat sekali di atas pahaku. Dinding
memeknya berdenyut kuat menghisap k0ntolku. Aku
menahan tekanan pantatnya dgn menaikkan pinggulku.
Bibirnya menciumiku dgn pagutan-pagutan ganas dan
diakhiri dgn gigitan pada dadaku. Desiran yg sangat
kuat mengalir lewat lubang k0ntolku. Kupeluk tubuhnya
erat-erat dan kutekankan kepalanya di dadaku.
Napasnya bergemuruh kemudian disusul napas putus-
putus. Memek berkontraksi meremas-remas kejam
kemaluanku, itu yg membuatku jg sepertinya mulai tdk
tahan.
“Sssshhhh…Hummmphhh” Lastri hanya memekik kecil,
sambil menggigit bibir bawahnya, tarikan napasnya
panjang dia terkulai lemas di atas tubuhku,
dia sdh sampai pada pelabuhan ujung dunia yg
membawanya terbang ke awang-awang, dia tdk
mengungguku, padahal jg sdh hampir klimaks jg,
kubiarkan dia bernafas sebentar sebelum kugulingkan
tubuhnya lagi sampai aku bisa menindihnya, Aku mulai
menekan dan menghujam kembali sebelum memeknya
mulai mengering,
“Lass… Tahan sebentar yaa… Aku gak akan lama
kok…”, Pintaku takut mengganggu istirahatnya,
“Yaa… Gak… Apa-apa Mass… Cepat Mass..”, Dia
menjawabku dgn nafas yg belum benar-benar
terkontrol.
“Di dalem apa di luar Lass…” Ucapku singkat,
“Didalem gak apa-apa mas…” jawabnya pelan,
“Uuucch..!”, aku menggeram sambil menggenjot keras-
keras lima kali.
tdk lama kemudian..
“Aduuhh… Lasss,.. Aku keluarr.. Creeet… Creeeett..
Creeet…”, aku mengerang kenikmatan ketika aku
mengeluarkan lava panas dari kejantananku membasahi
seluruh lubang kewanitaannya yg telah basah kuyup.
“Aaachh..!… Huhuhuhu…” aku kembali mengerang,
menancapkan dlm-dlm kejantananku dan bertahan di
sana ketika lecutan-lecutan ejakulasi melanda seluruh
tubuhku.
Lastri mendekapku erat sekali, dan kepalakupun
terkulai di lehernya sambil menikmati bau keringatnya
yg merebak. Lima menit sdh kami saling terkulai, lalu
ketika debar jantung kami telah kembali normal, aku
menarik kejantananku dari kewanitaannya.
“Aduuhh… Las.. Enak sekali…”, ucapku dgn nafas
pajang yg kucoba untuk ku kontrol, dgn masih menindih
tubuhnya,
“Idiihhh… mas… udah tahu enak kenapa gak dicoba
dari kemaren…”, Ucapnya genit tangannya mecubit
lengan kiriku,
“Kan Kamu udah tahu alasannya las…”, Ucapku dgn
mulai mengeluarkun k0ntolku yg sdh melemas dari
memeknya, ku ambil CDku untuk membersihkan
sperma yg keluar dari kemaluannya itu karena aku
memang jarang pakai tissue,
“Alaahh… Mas saja yg peka terhadap wanita… padahal
sdh aku pancing dgn menggunakan pakaian seksi… kan
mas sdh banyak meniduri wanita ??? masa belum
ngerti jg ???…”, Tanyanya meledekku seraya berdiri
dan melangkah ke kamar mandi, dia sedikit lama di
kamar mandi untuk ukuran wanita yg hanya sekedar
mencuci kemaluannya saja, kemudian gantian aku yg
mencuci k0ntolku, setelah keluar dari kamar mandi dia
memintaku berbaring lagi,
“Ayo mas… berbaring !” perintahnya,
“Buat apa lasss ???… Ohhh… Tunggu lass… aku mau
istirahat dulu… baru kita lanjut lagi…” Jawabku
nyengir sok tahu,
“Emang yg mau minta lagi, siapa ???… ihhh… Mas ke
GRan deh.. Pijatan yg tadi belum selesai… Sekalian
ambil minyak kayu utih atau minyak tawon…” Ujarnya
meledekku, kita berdua masih telanjang bulat tanpa
menggunakan apa-apa.
“Aku gak punya minyak begituan lass…” ucapku
singkat,
“Lotion jg gak apa-apa…”, lanjutnya singkat, kuambil
saja Citra hand and body lotion milik Abdel, Abdel lebih
ganjen daripada aku masalah perawatan,
Akhirnya dia memijatku lagi di daerah yg tadi, di antara
perut dan k0ntol, perut bawah sebelah kiri, selangkaan
kiri, dan sekarang ditambah selangkaan kanan dan
telapak kaki sebelah dlm yg melengkung di dekat
tumit, yg lain tdk terlalu sakit tp diselangkaan kiri dan
telapak kaki ini yg benar-benar sakit, aku dipijat lama
kali ini sekitar satu jaman, setelah pijatannya selesai
k0ntolkupun mulai berdiri lagi tp,
“Sdh jangan dulu… Mas baru saja dipijat… Mas boleh
minta kapan saja besok ataupun lusa tp sekarang
mending istirahat dulu…”, ucapnya pelan
meyakinkanku.
Akhirnya kita tidur berpelukan, rasa capek dan mungkin
jg pengaruh alkohol membuat kita berdua benar-benar
terlelap, sampai akhirnya aku bangun kesiangan sekitar
jam 07.15 WITA, aku langsung bergegas mandi dan
membangunkannya sebelum berangkat kekantor, aku
bilang gak bisa mengantarnya dan membantu
mempersiapkan kos-kosan barunya dan menyuruh tdk
usah mengunci kosanku cukup menutupnya saja,
dia berpesan supaya sering main ke kos-kosannya, dia
bilang jangan khawatir dia akan menyuguhkan camilan
yg paling nikmat setiap aku main ke kos-kosannya
sambil nyengir genit, dan dia bilang aku harus di pijat
kembali seminggu lagi, rupanya ini adalah terpi pijat
tdk hanya cukup sekali, dan yg paling penting dia
berpesan untuk jangan tidur dgn wanita manapun
selama seminggu ini, karena menurutnya saat ini aku
masih dlm masa terapi, kalau memang kebelet dia
menyuruhku pergi ke kos-kosannya untuk tidur
denganya karena meskipun sama-sama tidur dgn
wanita dia bilang dia bisa mengontrol otot-otot
selangkaan dan perutku sementara kalau dgn wanita
lain belum tentu.
Setelah pulang kerja aku mampir di kos-kosannya yg
baru sebentar, rupanya dia sdh bersih-bersih, dia di
pinjami karpet dan bantal untuk sementara buat tidur
oleh tuan rumah kos-kosannya, setelah itu aku tdk
mengunjunginya lagi supaya dia jg bisa bergerak bebas
tdk terus-terusan merasa terawasi olehku sampai
jadwal pijatku tiba seminggu kemudian.
“Lohh kok mas baru kesini sekarang… kemaren-
kemaren kemana aja ???… “,Ujarnya sedikit sewot,
“Loh… Katanya jadwal pijatnya seminggu lagi… kan
sdh benar hari ini… memangnya kenapa ???” kataku
sedikit heran,
“Yah… Sekarang aku lagi merah mas…”, katanya
seperti menyesal,
“Trus, memangnya kenapa ???…”, lanjutku masih
heran,
“Yaaa… sedang gak bisa dipake lah mas…” lanjutnya,
“Oaalahh… ya gak masalah toh, aku kesini cuma
menepati jadwal pijatku saja kok… Lagian masa aku
main kesini harus diartikan minta jatah sih… aku kan jg
jadi gak enak kalo begitu”, kataku berdalih,
“Apanya yg gak enak mas ???… Mulai deh sok
jaimnya… Perasaan waktu itu mas merem melek
keenakan deh…huuuuu…”, Ucapnya disertai tawa
kecilnya,
“Tp Pantangannya gak dilanggar kan ???”, tanyanya
saeperti curiga,
“Ya gak lah lass… Lagian sapa lagi yg mau sama aku…”
jawabku tanpa dosa,
“Alahhh… laki-laki semuanya sama deh… sok pura-
pura suci… tp awas lho, aku tahu kalau mas bohong
apa tdk dari otot-otot dan urat-urat mas yg aku
pijat…” ancamnya dgn sok jutek,
kemudian mulailah prosesi pemijatannya, kali ini tdk
sesakit seperti sebelumnya dan kali ini dia sdh
memperbolehkan aku tidur dgn wanita setelah
seminggu dari pemijatan kali ini, dia hanya berpesan
untuk tdk terlalu sering saja dulu kalau tidur dgn
wanita lain paling cepat 4 hari sekali sampai dia bilang
terapinya benar-benar selesai.
*Edit :
Senin Sore Hari, tepat sebelum saya melakukan
hubungan seks dgn Lastri pada malam harinya. RS
ditemukan terbunuh di Kuta setelah menghilang
beberapa hari sejak penculikannya.
****************
Note : Ini kasus pembunuhan turis Jepang di Bali pada
tahun 2009. bisa dicari di Google. Terima kasih.
Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum,
cerita dewasa ”Cerita Sex: Tragedi dan Eksotisme Pulau
Bali ” Terbaru 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Cerita Sex Tragedi dan Eksotisme Pulau Dewata"
Post a Comment