web dewasa yangg berisikan cerita sex, cerita
nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa
Terbaru 2016 – Adikku Exa kubuat knock-out pada usia
16 tahun, tiga tahun dibawahku. Dia benar-benar sdh
tumbuh sebagai seorang gadis yg sempurna. Tubuhnya
yg semampai, tinggi 165 cm dgn ukuran vital
35-22-34. Ditunjang dgn kulitnya putih dan mulus,
wajahnya yg oval sangat cantik dan imut-imut. Benar-
benar tubuh yg sangat ideal buat seorang gadis,
bahkan seandainya dia mau jadi gadis model atau cover
majalah gadis, dia bisa menjadi Top Model.
Cerita Sex: Belajar Ngesex Dari Adik Kandungku
Pribadi Exa jg sangat baik sekali, supel, mudah bergaul,
murah senyum dan ramah. Bahkan hubungan kami
sebagai adik-kakak pun hampir tdk pernah ada
masalah.- cerita sex terbaru – Demikian jg diluar
lingkungan keluarga, adikku jg selalu jadi suporter
utamaku yg fanatik dalam aktivitas olah raga yg kuikuti.
Dia menganggapku bukan hanya sebagai kakak, tp jg
pahlawan dan type pemuda idamannya.
Cerita dewasa terbaru, Hubungan kami pun jadi
semakin rapat seiring dgn pertumbuhan kami. Kami
saling membantu dan mensupport aktivitas kami
masing-masing. Aku jg sangat bangga akan prestasi-
prestasi yg diraihnya. Aku benar-benar memberikan
segalanya buat Exa, perhatian dan kasih sayangku
kepada Exa bahkan lebih besar dari pada orang tua
kami. Dan kebetulan kedua orang tua kami terlalu sibuk
dgn pekerjaannya, hampir sepanjang hari mereka
tenggelam dalam kesibukan bisnisnya sehingga seolah-
olah kehabisan energy untuk mengurusi permasalahan
anak-anaknya.
Karena kedekatan kami maka Exa selalu mengadukan
semua permasalahannya kepadaku, mulai dari hal yg
paling rahasia sampai hal-hal yg paling sepele
sekalipun. Dan ketika Exa mulai menginjak remaja, aku
jadi semakin proactive dan protective terhadap
persoalan remajanya melebihi dari kakak-adik pada
umumnya.
Cerita mesum terbaruSalah satu permasalahan
khususnya adalah hubungannya dgn pacarnya saat ini.
Aku benar-benar memberikan perhatian secara khusus.
Aku selalu memonitor setiap kali dia melakukan
kencan. Adalah sangat mengherankan bahwa hubungan
kami berdua tetap terpelihara baik, karena Exa jg
sangat menghagai akan perhatianku.
Walaupun kebribadian Exa yg demikian mengagumkan,
tetapi dia begitu peka dan rentan perasaannya,
khususnya kalau menghadapi seorang pemuda,
sehingga kadang-kadang dia pulang kencan dgn mata
merah habis menangis. Akupun segera menghiburnya,
membantunya memecahkan permasalahannya ataupun
menerangkan bagaimana sikap dan perasaan seorang
pemuda dan jg memberikan tip-tip strategi untuk
melindungi kepentingannya secara bijaksana.
Salah satu permasalahan yg dihadapi Exa adalah
berhubungan dgn perkembangan sexuality. Banyak
permasalahan dan air matanya yg diberikan kepadaku
untuk masalah ini, dan akupun mencoba memecahkan
persoalannya secara bijaksana dan tuntas, langsung
kepokok permasalahannya. Aku kadang-kadang
menggunakan cerita tentang madu dan lebah.
Terkadang aku jg berusaha menerangkan dgn jelas
tentang isue hubungan sex yg pernah dia dengar dari
teman-teman wanitanya.
Dari diskusi-diskusi yg kami lakukan, aku dapat
mengambil kesimpulan bahwa Exa masih perawan. Tp
dari aroma kewanitaannya yg tercium olehku setiap kali
dia pulang kencan, meyakinkanku bahwa status
keperawanannya tdk akan bertahan terlalu lama. Dan
akupun sdh bersiap-siap untuk memberikan saran
kepadanya untuk memilih dan menggunakan pil anti
hamil secara berkala.
Aku berusaha mengantisipasi perkembangan ini dari
berbagai sisi. Satu sisi, perasaanku yg timbul secara
otomatis untuk melindunginya dari kurang
pengalamannya dalam memilih pemuda idamannya.
Disisi lain aku perlu mengantisipasi karena melihat
perkembangan sexualitynya yg begitu cepat, dan
sangat mengundang setiap lelaki, sehingga aku
khawatir dia akan mendapat banyak masalah. Disisi yg
lain lagi, aku harus mengakui bahwa aku sangat
cemburu. Aku jg memahami bahwa perasaanku ini
sangat salah. Tp aku tdk dapat menyembunyikan
perasaanku ini manakala setiapkali mencium aroma
kewanitaannya ketika Exa pulang kencan.
Sering kubayangkan bagaimana bentuk meki kecilnya,
aromanya, kelembutannya ataupun sampai dimana
kebasahannya. Dan setiap kali aku mencum aroma atau
membayang kan bagian tersebut, kurasakan
ketegangan dikemaluanku. Aku terkadang agak frustasi
menghadapi persoalanku yg satu ini. Dan akupun
menduga sedikit banyak Exa jg tahu tentang
perasaanku.
Jum’at malam, tdk seperti biasanya Exa pulang kencan
jam 9.00, biasanya jam 11.00 atau 11.30. Kebetulan
aku sedang dirumah sendiri karena orang tua kami
pergi week end. Aku sedang melihat TV ketika Exa
pulang. Biasanya Exa akan berhenti sebentar dan
mengucapkan hallo atau menceritakan sedikit tentang
acara kencannya. Tp malam itu dia setengah lari
menuju kamarnya tanpa berhenti sama sekali.
Akupun tercengang karena pemuda kencannya kali ini
adalah pemuda yg aku dukung, karena aku tahu cukup
baik tentang pemuda ini dan aku sangat mengharapkan
pemuda ini akan bersikap baik kepada Exa, bahkan
seandainya Exa harus kehilangan keperawanannya
sebaiknya pemuda seperti ini yg melakukannya. Tp yg
pasti malam ini Exa sepertinya mendapat masalah
serius.
Sesaat kemudian kudengar suara shower dihidupkan
dari kamar mandi, sehingga akupun perlu menunggu
beberapa saat memberikan kesempatan Exa untuk
menyelesaikan mandinya, berpakaian dan lain-lain.
Kemudian aku akan naik menemuinya sebagai seorang
kakak yg selalu siap melindunginya.
Beberapa saat setelah shower berhenti, akupun naik
kekamarnya. Kuketuk pintunya pelahan sambil berkata,
“Exa, boleh aku masuk?”
Kudengar Exa berkata,
“Bila kamu jg menginginkannya”.
Ketika pintu kubuka, kamar Exa tampak agak gelap,
hanya ada lampu duduk yg menyala. Exa sedang tiduran
di ranjangnya, selimutnya menutupi sampai leher. Sisa-
sisa air mata tampak diwajahnya.
“Adikku sayang, apa yg terjadi?” kataku lembut sambil
duduk disampingnya. Kuusap-usap rambutnya dan
kuciup pipinya dgn kasih sayang. “Kamu dapat masalah
dgn kencanmu malam ini?”
“Ya,” kata Exa pelan, tampak seperti mau nangis lagi.
“Masalah teman kencanmu?” tanyaku. Aku yakin
permasalahannya sekitar hubungan sex.
“Tdk, tdk ada masalah dgn Jimmy. Kamu memang
benar, dia benar-benar baik. Aku sangat menyukainya.”
Aku jadi agak bingung menebak apa yg terjadi,
“Lalu apa permasalahannya?” kataku sambil mengusap
air mata dipipinya dgn tissue.
Exa berusaha tersenyum sambil berbisik,
“Karena masalah Exa, itu saja.”
“Katakan lebih jelas, apa yg kau maksudkan dgn
masalah Exa.”
Air mata Exa sdh berhenti, dia kemudian duduk
diranjang, sepertinya dia akan menjelaskan sesuatu yg
serius. Akupun konsentrasi untuk mendengarkan
permasalahannya. Exa mengenakan pakaian tidur baby-
doll yg tipis tanpa bra, sehingga samar-samar dapat
kulihat bayangan putting payu daranya yg mencuat
menekan bajunya keluar. Aku berusaha menekan
perasaanku yg bergolak melihat pemandangan indah
tersebut. Akupun jadi bertanya-tanya, masalah apa yg
bisa terjadi pada gadis secantik Exa.
Exa tdk memperhatikan kegelisahannku, kemudian
menerangkan, “Aku sdh memutuskan untuk
melanjutkan hubungan lebih jauh dgn Jimmy, karena
dia memang pemuda yg baik. Aku sangat
menyukainya.”
Hatiku bergetar dan napasku semakin cepat. Aku takut
aku nggak mampu mendengarkan ceritanya lebih lanjut.
Berbagai macam pikiran saling bergolak di dadaku.
“Kita pergi ke danau Chisolm dan parkir disana. Kami
berciuman beberapa saat. Kuletakkan tanganku
dipahanya agar dia tahu aku menginginkan yg lebih jauh
lagi. Diapun kemudian menysupkan tangannya ke dalam
bajuku dan mengusap-usap pelan. Kurasakan dia sdh
siap, maka aku menyarankan untuk pindah ke jok
belakang. Kemudian kulepas celana dalamku. Melihat
itu diapun segera melepas sabuk dan celana
panjangnya. Dia meletakkan tangannya di celah pangkal
pahaku dan mengusap-usapnya.”
Batang kemaluan Viko lasung bergolak mendengar
cerita Exa. Pemuda itu langsung diliputi perasaan
cemburu dan sekaligus terangsang berat mendengar
cerita adiknya tentang hilangnya kegadisannya. Viko
membayangkan bagaimana Exa membuka pahanya
lebar-lebar, mekinya yg sdh basah siap menanti,
perasaan cemburu paling berat yg selama ini tdk
pernah dialami sebelumnya. Rasanya dia ingin
menggantikan posisi Jimmy, meraba bagian pangkal
paha Exa dan menjelajahi setiap sudut bagian itu.
Ketika Exa menghentikan ceritanya sambil nenarik
napas panjang, Viko yg tdk sabar,
“Terus apa yg terjadi selanjutnya?”
Sambil merendahkan suaranya Exa berkata, “Kemudian
keadaan berubah menjadi buruk.”
“Apa sakit sekali???” tanya Viko menduga kelanjutan
cerita Exa.
“Tdk, tdk sakit sama sekali, karena dia tdk
memasukkan anunya ke dalam milikku. Aku tdk
mengijinkannya.”
“Kamu tdk mengijinkan? Lalu apa yg terjadi
kemudian?”
“Sebenarnya dia sdh siap untuk memasukkan
‘anunya’… Kalian biasa menyebut ‘cock’? ketika dia
sdh akan memasukkan burungnya, aku segera menutup
pahaku sehingga dia tdk bisa melakukan itu.
Kelihatannya Jimmy benar-benar sdh tdk tahan,
kemudian dia menggosok-gosokkan burungnya ke
tubuhku, sebentar kemudian dia keluar. Makanya aku
cepat pulang dan mandi. Oh… Viko, aku telah
mengecewakannya! Aku yg memulai dan ketika menit-
menit terakhir aku sendiri yg membatalkannya. Akupun
minta Jimmy segera mengantarkanku pulang. Aku
benar-benar frustasi, kecewa dan menangis tentang
apa yg terjadi. Aku benar-benar bersalah!”
Perasaanku benar-benar lega. Aku tdk bisa memahami
atau menjelaskan sepenuhnya, yg jelas hatiku jadi
berbunga-bunga karena Exa tdk jadi kehilangan
kegadisannya. Akupun memahami perasaanku terlalu
egois tanpa melihat kenyataan bahwa bagaimanapun jg
aku tdk boleh berpikiran seperti itu. Aku seharusnya
mendukung dan membujuknya untuk melanjutkan
hubungannya, agar tdk sampai menjadi bencana buat
hubungannya.
“Exa sayang, hal itu memang tdk biasa terjadi pada
seorang gadis. Kegadisan memang harus diberikan
kepada orang yg tepat. Cobalah kamu usahakan untuk
memahami dirimu sendiri kenapa kamu harus
menolaknya?”
Exa menatapku dgn tajam, kemudian dia
menganggukkan kepala pelan-pelan.
“Kamu sdh mengerti?” tanyaku.
Exa menganggukkan kepalanya lebih tegas dan
berbisik,
“Ya, aku sdh tahu, tp tdk dapat mengatakannya
kepadamu.”
Viko sampai terperangah, untuk pertama kalinya Exa
menyembunyikan perasaan kepadanya. Pemuda itu
benar-benar tdk paham atas sikap adiknya ini. Sambil
membelai-belai pipinya dgn lembut, Viko berkata,
“Exa, aku sangat menghormati privasimu, tp ingatlah
aku Viko kakakmu, kita biasanya selalu tdk pernah
merahasiakan sesuatu. Apa kamu ingin kita saling
merahasiakan sesuatu?”
Exa pun mulai menangis lagi.
“Tdk,” isaknya,
“Aku tdk ingin merahasiakan.”
“Kalau begitu kau mau cerita kepadaku?” kata Viko.
Exa kemudian mengatur posisi duduknya dan sambil
menegakkan wajahnya dia pun berkata,
“OK kalau kamu memang ingin tahu, aku akan katakan
terus terang. Alasan aku menolak Jimmy adalah…
Alasannya adalah karena Jimmy bukan kamu.”
Viko benar-benar terkejut. Untuk beberapa saat
mereka berdua saling berpandangan tanpa
mengucapkan sesuatu… Pemuda itu benar-benar
terkejut dgn mendengar kata-kata Exa. Pemuda itu
seolah tdk percaya dgn apa yg baru saja didengarnya,
apakah dia tdk sedang bermimpi? Apakah ini hanya
pengaruh fantasinya terhadap adiknya selama ini? Rasa
cintanya yg selama ini dipendamnya? Dan
kecemburuannya? Apakah selama ini Exa jg memendam
perasaan yg sama kepadanya? Viko yakin bahwa Exa
benar-benar mengatakan sejujurnya apa yg
dipikirkannya.
“Exa, apa yg kau maksudkan… ?”
“Ya, kakakku yg baik. Memang itu yg aku maksudkan.
Maksudku aku tdk ingin memberikan keperawananku
kepada Jimmy. Aku bermaksud memberikannya kepada
seseorang yg benar-benar memperdulikan aku dan
lembut dan menjadikannya benar-benar sempurna. Aku
tdk ingin saat pertamaku berlangsung cepat tanpa
kesan, dilakukan di jok belakang mobil yg mungkin bisa
diintip anak-anak. Viko, sdh lama aku memimpikan saat
pertama kaliku adalah dgnmu, dgn orang yg paling aku
sayangi, kakakku yg manis Viko.”
Selesai mengatakan itu Exa langsung memeluk
lehernya erat-erat.
“Oh, Viko, kamu baru tahukan? Apa yg kau pikirkan
tentang aku sekarang!”
Viko mengelus-elus punggung Exa dgn penuh kasih
sayang. Kemudian membisikkan ditelinganya,
“Apa yg aku pikirkan adalah kau lebih jujur dari pada
aku, yg sebenarnya jg mempunya perasaan yg sama.”
Exa menarik tubuhnya dan memandang tajam wajahku.
“Maksudmu kamu jg punya perasaan yg sama dgnku?”
“Oh Tuhan, Exa, sekali lagi, aku sebenarnya sdh
mencoba untuk memendam dalam-dalam perasaanku tp
setiap kali selalu gagal. Masyarakat mengatakan hal itu
adalah dosa bila seorang kakak mencintai adiknya
sendiri, aku selalu ingin menjadi seorang kakak yg baik,
tp setiap kali kita membicarakan masalah sex, setiap
kali kamu pulang kencan, hatiku selalu gelisah dan
cemburu. Setiap kali kau menceritakan teman
kencanmu hatiku menjerit, aku ingin bahwa itu adalah
aku, aku ingin menggantikan posisi teman-teman
kencanmu. Karena anggapan taboo untuk hubungan
antara saudara maka aku selalu berusaha menekan
perasaanku.”
“Oh Viko, taboo itu adalah anggapan kuno sebelum ada
alat KB, yg bisa mencegah kehamilan. Anggapan itu
mungkin untuk mencegah agar kakak tdk memperkosa
adiknya, atau jg mungkin adik memaksa kakaknya.”
Exa berhenti sesaat kemudian meneruskan kata-
katanya setengah berbisik, “Aku tdk memaksamukan
Viko? Kamu tdk berbasa-basi untuk sekedar
menyenangkan diriku bukan?”
Kuraih tangan Exa kemudian kuletakkan diatas
kemaluanku.
“Rasakan dan katakan bagaimana menurut
pendapatmu.”
Tangan Exa mengusap-usap bagian menonjol di depan
celana jeanku. Karena saat itu aku sdh terangsang
maka batang kemaluankupun sedang tegang maximal.
Mata Exa pun melotot, diapun berkata,
“Oohhh Viko, punyamu keras, dan… Dan besar
sekali!!!. Apa ini semua karena aku??? Aku bisa
membuatmu begini???”
“Yeah, betul sekali. Melihat bayangan tubuhmu dibalik
bajumu yg tipis, sentuhan dadamu saat berpelukan
seperti ini dan membayangkan kalau kau nggak pakai
baju, membuatku jadi begini.”
“Kamu ingin melihat tubuhku telanjang kak?” bisik Exa
dgn suara lembut dan mesra.
“Oh, pasti Exa, aku sdh sejak lama memimpikan
meluhat tubuhmu tanpa ditutupi sehelai benangpun.”
“Well, aku jg demikian,” kata Exa.”Aku jg sdh lama
memimpikan melihat kamu telanjang, melihat ‘anumu’
yg sering menonjol keras di celanamu itu.”
“Apa lagi yg pernah kau angankan?” kataku penasaran.
“Aku memimpikan kita berdua telanjang bulat. Kau raba
seluruh tubuhku dari kepala sampai ujung kaki. Kau
menciumku seperti aku adalah pacarmu, bukan sebagai
adik. Kau menciumi seluruh tubuhku… Khususnya di
tempat-tempat yg sangat nikmat.”
Kemudian Exa berkata lagi dgn suara yg lebih pelan,
“Kemudian aku memimpikan kau bermain cinta dgnku,
dan… kau ambil keperawananku, tentunya itu akan
sangat nimat dan indah sekali.”
Exa kemudian memelukku erat sekali sambil
menempelkan seluruh tubuhnya,
“Viko, buatlah impianku ini menjadi kenyataan.”
Tanpa menjawab lagi pertanyaan Exa, kuangkat
wajahnya dan kucium bibirnya. Kucium seperti aku
mencium kekasihku, tdk seperti adikku. Bibir kami
saling terbuka dan lidah kami saling menyentuh dan
mengait. Tubuh Exa langsung bereaksi, nafasnya
berpacu dgn cepat. Tanpa melepaskan ciuman kami,
kini tubuhn Exa tidur terlentang dan menarik tubuhku
agar menindih tubuhnya. Seluruh permukaan tubuh
kami saling berhimpit, saling bergesek dan nafas
kamipun ikut berpacu.
Kuangkat bajunya ke atas dan buah dadanya yg kanan
kuremas-remas pelan, putting payu daranya yg
mencuat itu kupilin-pilin dan kuputar-putar. Kurasakan
puttingnya semakin keras dan tegang, mulut Exa
merintih dan mendesah, memanggil-manggil namaku.
“Ooohhh Viko, aaahhh… Viko, Viko… Enak sekali…
Nikmat Viko… Ohhh.”
Ciumanku kemudian menjelajahi seluruh wajahnya,
keningnya, matanya, pipinya, merambat ke telinganya
dan jg ke lehernya. Seluruh wajahnya sdh basah oleh
jilatanku. Bajunya kulepas melewati kepalanya sehingga
buah dadanya terbuka sama sekali. Sepasang bukit
indah yg sdh lama kuimpikan dan kubayangkan.
Memang sepasang bukit itu benar-benar sempurna,
jauh lebih indah dari yg aku bayangkan. Bulat, kencang
dan mencuat indah sekali. Puttingnya yg berwarna
merah muda tegang menantang dipuncaknya.
Ciumanku segera mendarat disana, merayapi
lembahnya dan seluruh cembungan sampai mencapai
puttingnya. Lidahku mengkait dan memutari putting
kecil itu dan kemudian kujepit dgn bibirku, kupilin-pilin
dan kuhisap-hisap. Kemudian ciumanku bergeser ke
bukit satunya kuciumi seperti tadi. Suara desahan dan
rintihan Exa semakin keras, tubuhnya menggeliat
setiap kali putting dadanya suhisap-hisap.
Sambil mengerjai sepasang bukit dadanya, tanganku jg
ikut bergerilya. Selimut yg menutupi bagian bawah
tubuh Exa sdh kucampakkan. Jari-jariku kususupkan ke
dalam celananya, bahkan langsung kebalik celana
dalamnya. Exa pun segera membuka pahanya lebar-
lebar mengundangku agar lebih mudah dan leluasa
menjelajagi bagian paling rahasia miliknya ini.
Akhirnya aku tdk tahan lagi, baju bawahnya dan celana
dalamnya pun aku lepas sama sekali melewati kakinya.
Seluruh kemulusan tubuh Exa pun akhirnya terpampang
nyata. Bagian segitiga dipangkal pahanya tampak
cembung dan ditumbuhi rabut pirang yg halus serta
terawat rapi. Ketika jari-jariku menelusuri celah-celah
dari bibir mekinya yg tebal, terasa hangat dan lembab.
Tangankupun basah oleh cairan lendir yg keluar dari
tempat paling rahasia Exa, dan aroma khas cairan
kewanitaan Exa tercium memenuhi ruangan.
Fantasiku dan impianku akan meki Exa sdh menjadi
kenyataan, aku benar-benar telah menjelajahi setiap
inchi tubuhnya sampai yg paling rahasia, dan kami
menikmati getaran percintaan setiap menitnya. Akupun
telah membuat fantasi dan impian Exa jadi kenyataan.
Aku telah meraba dan menjelajahi seluruh tubuhnya
dan menciuminya jg. Kini aku ingin memenuhi impianku
lebih lanjut lagi, melengkapinya secara tuntas.
Pinggul Exa sampai terangkat-angkat setiap kali jari-
jariku menelusuri lembah basah di celah-celah
mekinya. Terkadang Exa menjerit lirih saat citorisnya
kupilin-pilin. Sepertinya bagian itu adalah bagian paling
peka ditubuhnya yg sekaligus bisa memberikan
rangsangan paling sensasional. Aku jadi paling sering
bermain disana. Aku ingin memberikan Exa kenikmatan
yg paling sempurna, memanjakannya dan sekaligus
menyayginya dgn sepenuh hati.
“Exa,” bisikku, “Kamu benar-benar sangat cantik, aku
tdk pernah membayangkannya, kau gadis paling cantik
yg pernah kulihat.”
“Terima kasih atas pujianmu yg sangat manis ini,” kata
Exa,
“Tp ini cuman satu sisi saja. Aku sdh nggak pakai apa-
apa sedang kamu masih pakai pakaian lengkap. Kamu
sdh melihat seluruh bagian tubuhku tp aku tdk.
Sekarang saatnya kamu harus buka semua bajumu
Kak.”
Viko segera berdiri dan melepas semua pakaiannya,
kemudian berdiri telanjang bulat di depan Exa.
Tubuhnya yg tegap atletis dan batang kemaluannya
mengembang penuh dan tegak menantang, ujung
kemaluannya yg berbentuk seperti topi baja itu
mengkilat saking tegangnya. Mata Exa pun melotot
memandang bagian itu. Tangannya segera meraih dan
mendekapnya. Jari-jarinya tdk muat mencakup batang
kemaluan kakaknya itu.
“Ya Tuhan, Viko, luar biasa sekali punyamu ini, begitu
keras dan sangat besar. Aku jadi ragu-ragu apa bisa
muat dimasukkan kepunyaku?”
“Milik gadis bisa mengembang cukup besar sehingga
akan bisa menampungnya semua. Kau tahu kan baby jg
dilahirkan melalui lubang itu, dan baby tentunya jauh
lebih besar dari pada punyaku.”
“Ya, aku jg mengharapkan begitu,” kata Exa masih
khawatir,
“Tp ingat lho, orang melahirkan itu prosesnya lain, tdk
setiap saat punya wanita bisa mengembang seperti itu.
Kamu harus hati-hati ya… Aku agak takut.”
“Exa sayang, aku pasti akan hati-hati, aku tak ingin
membuatmu menderita, kau tahu pasti itu. ‘
“Ya aku sangat memahaminya,” kata Exa.
Viko kembali memeluk Exa, kini seluruh kulit tubuhnya
bersentuhan dan bergesekan secara langsung dgn
tubuh mulus Exa. Exa jg membuka pahanya lebar-lebar
dan melingkarkan kakinya kepinggul Viko. Batang
kemaluan Viko dijepit diantara belahan mekinya.
Seketika tubuh kedua remaja yg sedang dimabuk cinta
itu bergetar, perasaan sensasional yg sangat nikmat
mengalir kesekujur tubuhnya. Gesekan dan gerakan
kecil dari permukaan tubuh mereka sedah
menimbulkan perasaan nikmat luar biasa. Terutama
Exa, batang kemaluan kakaknya yg keras itu menekan
dan mengegesek celah-celah mekinya telah
menimbulkan kenikmatan yg begitu luar biasa. Gadis ini
hampir lupa diri dibuai kenikmatan. Tubuhnya seperti
melayg-layg diangkasa.
“Ohhh, Viko, Viko, aku nggak pernah merasakan yg
seperti ini sebelumnya. Setuhan tubuhmu memberikan
kenikmatan yg teramat luar biasa. Aku benar-benar tdk
pernah merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya.
Ini karena kamu yg melakukan Viko, kamu telah
membuat impianku terwujud, bahkan lebih dari yg aku
harapkan, dan rasanya aku benar-benar tergila-gila.”
Viko menggerakkan pinggulnya naik turun sambil
menekan batang k0ntolnya ke meki Exa, bibirnya
keduanya saling berciuman dgn hot sekali, sementara
tangan Viko meremas dan memainkan putting buah
dada Exa. Exa jg berusaha mengimbangi gerakan tubuh
Viko, digerakkan kekiri-kanan dan kadang diangkat-
angkat. Tubuh keduanya sdh dibanjiri keringat. Tiba-
tiba tubuh Exa menegang dan mengerang keras,
tangannya mencengkeram pundak Viko dan pahanyapun
menjepit pinggul Viko kuat-kuat.
“Ooohhh….. Aaahhh… Aku keluarrr, ohhh Viko aku
keluarrr… Aku keluaarrr.” Jerit Exa, “Ooohhh Viko…
Aaahhh!”
Viko masih meneruskan gerakannya, sambil pelan-pelan
menurunkan temponya sampai tubuh Exa lemas
terkulai. Pemuda itu sangat terharu, matanya sampai
berkaca-kaca menyaksikan adikknya mencapai orgasme
yg demikian dasyat. Dia sangat bersyukur bisa
memberikan kebahagiaan dan kenikmatan buat Exa.
Diciuminya seluruh wajah adiknya yg sangat dicintainya
dan disayanginya ini. Untuk beberapa saat Exa tdk
mampu berkata apa-apa, matanya tertutup rapat,
napasnya tersegal-segal dan seluruh tubuhnya terasa
lemas bagai tak bertulang lagi.
Sesaat kemudian Exa mulai sadar kembali.
“Aku tdk yakin ada orang lain yg bisa memberiku
kenikmatan seperti ini Viko,” katanya pelan,
“Benar-benar sangat luar biasa, aku benar-benar tdk
pernah merasakan sebelumnya, aku benar-benar
menyaygi dan mencintaimu Viko,” kata Exa sambil
menciumi wajah kakaknya dgn penuh kemesraan,
“Tp inikan baru permulaan saja bukan?” katanya
lembut, “Aku masih menantikan kelanjutannya.”
“Yeah, bagian pembukaan baru saja selesai,” kataku.
“Biarkan aku melihatnya dulu,” kata Exa. “Aku belum
pernah melihatnya dgn jelas,” katanya sambil
tersenyum. “Kenyataannya, Jimmy adalah laki-laki
pertama yg pernah kulihat ‘anunya’, tp dalam keadaan
gelap sehingga aku nggak bisa jelas melihatnya.
Sebelum milikku kau masuki punyamu ini, paling tdk
aku bisa melihat dulu seperti apa bentuknya,” katanya
Exa genit.
Exa kemudian menggeser tubuhnya kebawah, sisi
tubuhnya sebelah kiri tiduran diatas perutku sambil
menghadap kebawah, sehingga wajahnya hanya
beberapa cm dari batang k0ntolku yg tegak mengacung
langit. Tangannya kini menggenggam batang k0ntolku
dan menggerakkannya naik turun. Kepala topi bajaku yg
mengkilat itu jg dijilati dan kadang-kadang diciuminya
dgn mesra. Kini ganti Viko yg dibuat kelojotan
menikmati sensasi kenikmatan yg luar biasa.
“Oohhh… Exa, aaahhh,” desah Viko.
“Apa aku sdh melakukannya dgn benar?” tanya Exa.
“Tergantung,” jawabku pendek sambil meringis
menahan nikmat.
“Apa maksudmu?”
“Maksudku bila kamu ingin melihatku segera keluar
disana, kamu sdh melakukannya dgn benar.”
“Kamu sdh mau keluar?”
“Ya Tuhan, ya!, tp aku ingin dgn cara lain. Aku sdh
nggak tahan lagi menahannya, tp aku ingin
menumpahkannya didalam milikmu itu, aku ingin
merasakan kehangatan dan jepitan liang mekimu yg
kecil itu, dan nikmatnya keluar didalam mekimu.”
“Oh, Viko, aku jg!” kata Exa sambil menindih tubuhku.
Sepasang bukit dadanya yg padat mengusap dadaku,
pahanya dibuka dan menjepit kedua pahaku sehingga
batang kemaluanku bergesekan dgn ketat dgn belahan
mekinya. Kami berciuman dgn rakusnya, lidah kami
saling belit dan saling sentuh.
Tubuh Exa kembali bergetar dan mengejang, gadis ini
begitu cepatnya kembali mencapai orgasme. Kurasakan
cairan mekinya yg hangat mengalir kebawah
membasahi kantung kemihku.
“Exa aku tdk bisa lagi menahannya berlama-lama.”
“Aku jg Viko, aku segera ingin menikmati milikmu
sepenuhnya, ayo masukkan Viko.”
“Exa, ini mungkin agak sakit untuk pertama kali. Kamu
benar-benar sdh siap?”
“Ya tentu saja, aku wanita. Setiap wanita pasti tahu
tentang itu dan aku sdh siap. Meskipun itu sakit tp aku
yakin kamu akan memberikan yg paling baik buatku,
lebih baik daripada laki-laki lainnya. Katakan kepadaku
apa yg sebaiknya aku lakukan, bagaimana posisiku? Aku
terlentang kemudian kau melakukannya? Mungkin itu
paling baik buatmu?”
“Tdk, tetap posisi seperti ini saja. Ini adalah cara
terbaik buatmu untuk pertama kali,” kataku,
“Bertumpulah pada lututmu sehingga k0ntolku tepat
dibawah liang mekimu. Kemudian turunkan pelan-pelan
pinggulmu sampai kau merasa ujung k0ntolku masuk
ke liang mekimu. Bila merasa sakit stop dulu beberapa
saat sampai liangmu yg kecil itu mengembang
menyesuaikan diri, kemudian turunkan lagi agar masuk
lebih dalam. Begitu seterusnya sampai semua batang
k0ntolku masuk seutuhnya.”
Exa menciumku dgn mesra sambil berbisik, “Itulah yg
aku mau, aku ingin pertama kali dgnmu, kamu pemuda
yg baik, aku tahu kamu akan sangat memperhatikan aku
dan memberikan aku yg terbaik.”
Exa kemudian duduk bertumpu dgn lututnya, tangannya
meraih batang k0ntolku dan menempatkan ujungnya
tepat dimulut liang mekinya yg kecil itu. Dan sambil
saling bertatapan mata, Exa pelahan-lahan menurunkan
pinggulnya menduduki k0ntolku yg berdiri tegak.
Aku memandangi bola mata Exa tanpa berkedip. Kulihat
Exa konsentrasi sepenuhnya. Perasaan kami sangat
tegang menantikan saat-saat yg paling bersejarah buat
kami berdua. Kurasakan ujung k0ntolku mulai
menyeruak masuk ke liang meki Exa. Terasa sempit
menjepit, dan hangat. Exa menghentikan tekanannya
sambil menarik napas dalam-dalam, kemudian menekan
lagi kebawah. Kulihat alis mata Exa agak mengernyit
kesakitan, tp tetap menekan terus kebawah…
“Aahhh…” desah Exa ketika ujung topi bajaku melesak
masuk ke dalam liang kecil itu.
Untuk beberapa saat kembali Exa menghentikan
gerakannya. Wajahnya merah menahan sakit. Aku jg
merasa ngilu dan nikmat luar biasa ketika ujung
kemaluanku dijepit kuat-kuat.
“Sakit sayang, stop dulu jangan dipaksa,” kataku sambil
mengelus-elus bukit dadanya.
Exa menggelengkan kepala sambil senahan sakit, tp
bibirnya berusaha tersenyum. Kemudian menekan lagi
agak keras dan…
“Ohh..,” erang Exa ketika ujung kemaluanku terasa
membentur semacam penghalang disana.
“Stop dulu sayang, itu adalah selaput perawanmu,”
kataku, “Agak sakit disini.”
Exa cuman mengangguk kecil. Kulihat air matanya
mengambang disana. Beberapa kali Exa mengambil
napas dalam-dalam, kemudian menekan kuat-kuat…
“Aduhh… Ahhh, kak,” jerit Exa agak keras. Kurasakan
ujung kemaluanku melesak sampai separuhnya
menembus selaput keperawanannya.
Tubuh Exa roboh diatas dadaku. Samar-samar kudengar
isak tangisnya. Aku sangat terharu… Ya, hari ini aku
telah memecah keperawanan adikku sendiri. Aku nggak
bisa mengucapkan kata-kata, hanya kubelai-belai
rambutnya. Sesaat kemudian Exa mencium bibirku
sambil berbisik,
“Aku sdh berhasil kak.” Kulihat air matanya mengalir
dipipinya, tp wajahnya riang dan berbinar-binar.
Kamipun berpelukan dgn mesra.
“Ayo Exa, kita tuntaskan sekalian,” bisikku, “Sekarang
nggak usah ngotot, kita goyangkan saya pelan-pelan
sambil ditekan sedikit-sedik, nanti akan masuk
sendiri.”
Sesaat kemudian Exa menggerakkan pinggulnya pelan-
pelan sambil menekan. Aku jg merusaha mengimbangi
gerakannya sambil membelai-belai punggung dan
pinggulnya. Kembali keduanya tenggelam ke dalam
buaian kenikmatan lautan birahi.
Sedikit-demi sedikit batang kemaluan Viko menyeruak
masuk ke dalam liang meki Exa yg kecil itu. Tampaknya
Exa tdk mengalami kesakitan seperti tadi, meskipun
desahan dan rintihan masih keluar dari bibir Exa, tp
bukan karena sakit melainkan lebih banyak karena
kenikmatan yg dirasakannya. Akhirnya tanpa mereka
sadari seluruh batang kemaluan Viko tenggelam
sepenuhnya ke dalam liang meki Exa. Kini tubuh
mereka sepenuhnya saling berhimpit dan merapat. Tdk
ada lagi celah-celah ruang yg memisahkan tubuh
keduanya.
“Ohh…” desah Exa sambil menekan bukit dadanya
kedada Viko. Puttingnya yg sdh mengeras bagai kerikil
itu terasa menggaruk-garuk dada bidang kakaknya.
Bibir mereka saling menghisap sambil lidahnya saling
membelai. Exa kemudian berbisik ditelinga kakaknya,
“Viko, k0ntolmu sdh masuk semuanya. Begitu penuh
dan sesak, sepertinya nggak ada lagi ruang yg tersisa
disana, Oh Viko, memang sakit sekali tadi waktu masuk,
tp sekarang sepertinya nggak kurasakan lagi, enak
sekali Viko… Begitu nikmatnya.”
Untuk beberapa saat mereka terdiam tanpa berkata-
kata, hanya gerakan-gerakan kecil dari pinggul mereka.
Pikiran mereka berdua sepertinya sedang
dikonsentrasikan kebagian kemaluannya masing-
masing dimana perasaan nikmat yg tiada terkatakan
sedang mengalir ke seluruh tubuhnya. Kedua mata
mereka saling bertatapan, senyuman manis Exa yg
penuh rahasia menghiasi wajahnya yg imut dan cantik
sekali. Viko merasakan betapa ketatnya jepitan liang
meki Exa. Sehingga dgn sedikit gerakan saja sdh
menimbulkan perasaan rasa nikmat luar biasa.
Pinggul Exa mulai digerakkan pelahan-lahan turun
hampir. Viko pun mengiringinya dgn gerakan yg
seirama. Setiap kali batang k0ntol Viko tercabut naik
sekitar 2 inci, kemudian ditekan lagi ke dalam. Setiap
gerakannya menimbulkan sensasi luar biasa karena
ketatnya jepitan liang meki Exa pada k0ntol Viko dan jg
karena permukaan kuit bagian tersebut memang paling
sensitif. Cairan kewanitaan Exa keluar semakin banyak,
melumasi dinding liang meki itu sehingga mengurangi
rasa pedih akibat gesekan, sehingga beberapa saat
kemudian tdk ada lagi rasa pedih yg dirasakan Exa. Yg
ada hanyalah sensasi kenikmatan dan kenikmatan, yg
membakar seluruh tubuh mereka.
“Ohh Viko, aku hampir tdk bisa percaya bagaimana
nikmatnya ini! inikah surga?!” guman Exa.
“Ohh, Viko, aku tahu ini akan luar biasa, aku tahu kau
akan membuat keadaan ini menjadi luar biasa, tp
kenikmatan ini benar-benar jauh diatas yg aku
bayangkan,” kata Exa sambil meneruskan gerakannya.
Gerakan naik-turun tersebut makin lama semakin
panjang, sehingga kemudian hampir seluruh 7 inci
batang k0ntol Viko tercabut semua, dan kemudian
ditekan lagi hingga amblas kedasar liang meki Exa.
Nafas Exa semakin memburu, dan sepertinya mulai
agak tersegal-segal. Ini bukan hanya karena beratnya
aktivitas yg dia lakukan, tetapi karena dia semakin naik
mendekati puncak orgasmenya.
Dorongan gairah Exa yg semakin meningkat, dan tiba-
tiba terdengar suara ‘poop’ ketika k0ntol Viko tercabut
lepas.
“Ohhh, jangannn!” teriak Exa setengah menangis,
“Kembalikan cepaaat, kembalikan cepaaat, ooohhh
kembalikan kepadaku!”
Kudorong tubuh Exa terlentang, kupegang kedua
pahanya dan kubuka lebar-lebar sehingga liang mekinya
terpampang jelas dihadapanku. Hatiku berdesir melihat
betapa liang itu sdh terbuka sedikit, tdk merapat
seperti sebelumnya. Dan dari liang itu tampak memeleh
keluar darah segar bercampur cairan mekinya.
“Ohhh… Darah keperawanan adikku, aku telah
mengambil keperawanan adikku sendiri.” Bathinku.
Kutarik pinggul Exa sambil kumajukan pinggulku
sehingga batang kemaluanku yg tegang mengkilat
basah oleh cairan vagiva Exa bercampur darah
perawannya, menempel tepat di gerbang liang mekinya.
Pelahan kudorong k0ntolku masuk. Meskipun masih
cukup sulit karena sempitnya lubang itu, tp berkat
cairan mekinya yg licin itu k0ntolku bisa kumasukan
semua sampai terasa ujung batang k0ntolku menekan
kuat dasar liang meki itu. Exa merintih cukup nyaring
ketika batang k0ntolku bergesekan ketat dgn dinding
liang mekinya.
“Ohhh, ahhh, Viko! Terusss… Masukkan ooohhh, ya yaa
terusss!”
Aku hampir tdk percaya bahwa lubang kecil itu mampu
mengembang sedemikian rupa sehingga batang
k0ntolku bisa masuk semuanya. Kemudian kutarik lagi
k0ntolku pelahan-lahan sampai separuh bagian dan
kutekan kembali sampai amblas ke dasar liang meki itu,
demikian terus menerus kulakukan dgn tempo semakin
lama semakin cepat.
Rintihan dan erangan Exa semakin keras, tubuhnya
menggeliat geliat mengikuti gerakanku sambil
pinggulnya terangkat-angkat setiap kali k0ntolku
kutarik.
“Ohhh, yes, yes, ohhh, terus, terus… Aaahhh ooohhh.”
Kurasakan puncak orgasmeku sdh semakin dekat.
Pikiranku jg melayg-layg. Adikku, adikku tersayang Exa,
aku sedang ML dgn adikku sendiri, kuperawani adikku
yg selama ini kusayang-sayang.
“Ohhh apa yg sedang kulakukan?” bisik hatiku, tp
kenikmatan ini benar-benar teramat sangat luar biasa
sehingga aku tak mampu menolaknya… Aku benar-
benar tak bisa membayangkan kenikmatan yg seperti
ini…
Tiba-tiba aku dikejutkan dgn teriakan Exa yg nyaring
sambil tangannya mencengkeram punggungku.
Tubuhnya bergetar dan mengejang. Sepertinya Exa
telah mencapai orgasmenya kembali. Liang mekinya
berdenyut-denyut keras seperti meremas-remas
k0ntolku. Dan tiba-tiba k0ntolku seperti kontak ikut
terpengaruh sehingga batang k0ntolku ikut berdenyut-
denyut. Cepat-cepat kutarik keluar batang k0ntolku,
dan spermaku langsung menyembur keras keudara
berkali-kali, dan jatuh menimpa dada, perut, paha dan
bahkan jg berhamburan diatas kasur.
Mata Exa melotot menyaksikan semburan spermaku yg
begitu dasyat. Gadis itu sampai lupa tentang
orgasmenya.
“OHH, seperti itukah kalau pemuda orgasme???”
serunya.
Dia usap-usap cairan sperma yg ada didadanya,
diperhatikannya dgn seksama cairan putih kental dan
lengket itu.
Batang kemaluanku tetap keras dan kencang meskipun
telah orgasme, bahkan sepertinya hampir tdk berubah.
Sepertinya rangsangan kenikmatan yg kurasakan
membuat gairahku begitu tinggi sehingga belum
terpuaskan hanya dgn sekali orgasme.
Kembali kupasang k0ntolku digerbang liang meki Exa,
gairah Exa sepertinya jg tetap tinggi, mungkin setelah
melihatku orgasme adikku ini jadi semakin bergairah.
Langsung diraihnya leherku diciumi bibirku sambil
memelukku erat-erat. Segera kutindih tubuhnya dan
k0ntolku kembali amblas ke dalam liang meki Exa dan
paha Exa jg langsung melingkar dan menjepit pahaku.
Gairahku langsung memuncak kembali, kugerakkan
pinggulku naik-turun dgn bersemangat. Exa jg
menggerakkan pinggulnya kekiri-kekanan mengimbangi
gerakanku. Kembali kami berlomba dan saling memacu
gairah birahi kami. Napas kamipun ikut berpacu
semakin cepat.
Tanganku tak tinggal diam, kugeraygi kemulusan tubuh
Exa, buah dadanya kuremas-remas dan puttingnya
kupilin-pilin, membuat tubuh Exa menggeliat-geliah
semakin liar dan desahan serta rintihannya semakin
nyaring memenuhi ruangan.
Exa semakin bersemangat mengimbangi gerakanku.
Adikku sepertinya semakin lincah dan pandai
melakukan olah gerak seksual. Irama gerakannya
semakin padu dgn gerakanku. Pinggulnya kadang-
kadang bergerak kekiri-kekanan, tp kadang-kadang jg
berputar-putar atau diangkat-angkat yg pada akhirnya
menimbulkan perasaan nikmat yg semakin luar biasa.
Mulutnya tdk hanya mendesis-desis dan mengerang-
erang, tp jg diiringi tangisan dan jeritan-jeritan kecil
yg menimbulkan sensasi suara yg bisa membangkitkan
bulu roma. Kami terus berpacu dan berpacu dalam
alunan nafsu birahi. Kami benar-benar lupa dgn
keadaan sekeliling kami, melupakan siapa kami. Yg ada
hanyalah kenikmatan dan kasih sayang.
Irama gerakan kami semakin lama semakin cepat,
napas kami sdh berpacu seperti lokomotip dan keringat
kami sdh membanjiri sekujur tubuh kami. Sampai
akhirnya kembali Exa menjerit sambil menggigit
pundakku, tubuh dan kakinya mengejang dan menjepit
kuat-kuat.
“Ooohhh… Aaahhh Vikooo… Aku keluar lagi, ooohhh
aku keluar lagi.”
Segera kupercepat gerakanku, kurasakan k0ntolku jg
sdh berdenyut-denyut, aku ingin keluar bersamanya.
Dan satu menit kemudian, ketika denyutan-denyutan
liang meki Exa belum lagi hilang, batang kemaluanku
berdenyut kuat dan segera kutekan kuat-kuat kedasar
liang meki Exa dan spermakupun menyembur kuat
beberapa kali. Kembali Exa menjerit misteris
merasakan semburan spermaku didalam dasar liang
mekinya.
“Ooohhh, VIKO, OH VIKO, terus, terusss, ohhh, luar
biasa ooohhh, habiskan Viko, terus, terus ooohhh.”
Aku masih terus menggerakkan pinggulku naik-turun
sampai beberapa saat setetah semprotan spermaku
berhenti, kemudian tubuhku terkulai lepas diatas tubuh
Exa. Adikku Exa sepertinya jg sdh kehabisan tenaga.
Matanya tertutup rapat dgn napas masih tersegal-
segal. K0ntolku masih tertanam di meki Exa.
Beberapa saat kemudia mata Exa terbuka, dan kami
saling berpandangan tanpa berkata-kata.
Diapandangnya wajahku tajam-tajam. Dimata Exa aku
tetap seperti seorang pahlawan, tp sekarang ada lagi
bayangan lain, sesuatu yg baru yg tdk ada sebelumnya.
Aku menyadari bahwa tatapan mata Exa memancarkan
cinta kasih yg begitu mendalam, dan penuh kemesraan.
Hatiku berdesir melihat tatapan mata itu. Sorot mata yg
tdk pernah kulihat seumur hidupku. Akupun berbisik,
“Exa, benar-benar luar biasa, lebih dari yg pernah
kubayangkan.”
Exa menganguk sambil tersenyum manis sekali.
Diraihnya leherku dan kamipun berciuman dgn mesra
sekali. Tanpa melepaskan ciumannya, didorongnya
tubuhku kesamping, dan kini gantian Exa yg menindih
tubuhku. Pinggulnya digerakkan naik-turun sehingga
celah-celah mekinya menjepit dan mengesek batang
k0ntolku, membuat k0ntolku bangun lagi.
“Oh, Viko, Viko, kakakku, kekasihku. Terimakasih Viko.
Terimakasih. Aku yakin ini adalah saat yg paling
bersejarah dalam hidupku, paling manis dan paling
indah. Terimakasih, kau telah memberikan yg terbaik
buatku. Aku sangat menyaygimu Viko.”
Pinggul bergerak semakin cepat, saling bergesekan dan
saling menekan. K0ntolku sdh kembali tegang dan
membesar sepenuhnya. Exa menciumi wajahku sambil
berbisik,
“Viko, masih sangat banyak yg harus kau ajarkan
tentang sex. Akhir pekan ini semuanya untuk kita.
Maukan kau ajari aku lebih jauh tentang sex?”
Ya tentu saja aku tdk akan menolak permintaannya.
Kuhabiskan malam panjang ini diatas ranjang bersama
Exa. Kuceritakan semua yg aku ketahui tentang sex, tp
yg terutama adalah mempraktekannya bersama. Akupun
jg banyak belajar dari dia. Malam itu benar-benar
menjadi milik kami berdua. Cerita sex, cerita nyata,
cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa Terbaru
2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Cerita Sex Belajar Ngesex Dari Adik Kandungku"
Post a Comment