Cerita Sex Goyangan Pantat Pembantu Montok

Bermula dari ditinggal istri kabur karena aku ketahuan
mencari daun muda, akhirnya Terjadilah Cerita ini, antara
gue dengan ningsih, pembantu baruku yang lugu..
Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi
pemerintahan di kota S, selain juga memiliki sebuah
usaha wiraswasta. Sebetulnya aku sudah menikah,
bahkan rasanya istriku tahu akan hobiku mencari daun-
daun muda untuk “obat awet muda”. Dan memang
pekerjaanku menunjang untuk itu, baik dari segi koneksi
maupun dari segi finansial. Namun semenjak istriku tahu
aku memiliki banyak sekali simpanan, suatu hari ia
meninggalkanku tanpa pamit. Biarlah, malah aku bisa
lebih bebas menyalurkan hasrat.
Karena pembantu yang lama keluar untuk kawin di
desanya, aku terpaksa mencari penggantinya di agen.
Bukan saja karena berbagai pekerjaan rumah
terbengkalai, juga rasanya kehilangan “obat stress”.
Salah seorang calon yang menarik perhatianku bernama
Ningsih, baru berusia (hampir) 16 tahun, berwajah cukup
manis, dengan lesung pipit. Matanya sedikit sayu dan
bibirnya kecil seksi. Seandainya kulitnya tidak sawo
matang (meskipun bersih dan mulus juga), dia sudah
mirip-mirip artis sinetron. Meskipun mungil, bodinya
padat, dan yang terpenting, dari sikapnya aku yakin
pengalaman gadis itu tidak sepolos wajahnya. Tanpa
banyak tanya, langsung dia kuterima.
Dan setelah beberapa hari, terbukti Ningsih memang
cukup cekatan mengurus rumah. Namun beberapa kali
pula aku memergokinya sedang sibuk di dapur dengan
mengenakan kaos ketat dan rok yang sangat mini. Tanpa
menyia-nyiakan kesempatan, aku mendekat dari
belakang dan kucubit paha gadis itu. Ningsih terpekik
kaget, namun setelah sadar majikannya yang berdiri di
belakangnya, ia hanya merengut manja dan disinilah awal
Cerita Dewasa Kami Dimulai.
Sore ini sepulang kerja aku kembali dibuat melotot
disuguhi pemandangan yang ‘menegangkan’ saat Ningsih
yang hanya berdaster tipis menungging sedang
mengepel lantai, pantatnya yang montok bergoyang kiri-
kanan. Tampak garis celana dalamnya membayang di
balik dasternya. Tidak tahan membiarkan pantat seseksi
itu, kutepuk pantat Ningsih keras-keras.
“Ngepel atau nyanyi dangdut sih? Goyangnya kok
merangsang sekali!” Ningsih terkikik geli mendengar
komentarku, dan kembali meneruskan pekerjaannya.
Dengan sengaja pantatnya malah digoyang semakin
keras.
Geli melihat tingkah Ningsih, kupegang pantat gadis itu
kuat-kuat untuk menahan goyangannya. Saat Ningsih
tertawa cekikikan, jempolku sengaja mengelus
selangkangan gadis itu, menghentikan tawanya. Karena
diam saja, perlahan kuelus paha Ningsih ke atas,
menyingkapkan ujung dasternya.”Eh… Ndoro… jangan..!”
cegah Ningsih lirih.
“Nggak pa-pa, nggak usah takut, Nduk..!”
“Jangan, Ndoro… malu… jangan sekarang..!”
Dengan tergesa Ningsih bangkit membereskan ember
dan kain pel, lalu bergegas menuju ke dapur.
Malam harinya lewat intercom aku memanggil Ningsih
untuk memijat punggungku yang pegal. Seharian penuh
bersidang memang membutuhkan stamina yang prima.
Agar tenagaku pulih untuk keperluan besok, tidak ada
salahnya memberi pengalaman pada orang baru.
Gadis itu muncul masih dengan daster merah tipisnya
sambil membawa minyak gosok. Ningsih duduk di atas
ranjang di sebelah tubuhku.
Sementara jemari lentik Ningsih memijati punggung,
kutanya, “Nduk, kamu sudah punya pacar belum..?”
“Disini belum Ndoro…” jawab gadis itu.
“Disini belum..? Berarti di luar sini sudah..?”
Sambil tertawa malu-malu gadis itu menjawab lagi, “Dulu
di desa saya pernah, tapi sudah saya putus.”
“Lho, kenapa..?”
“Habis mau enaknya saja dia.”
“Mau enaknya saja gimana..?” kejarku.
“Eh… itu, ya… maunya ngajak gituan terus, tapi kalau
diajak kawin nggak mau.”
Aku membalikkan badan agar dadaku juga turut dipijat.
“Gituan gimana? Memangnya kamu nggak suka..?”
Wajah Ningsih memerah, “Ya… itu… ngajak kelonan…
tidur telanjang bareng…”
“Kamu mau aja..?”
“Ih, enggak! Kalau cuma disuruh ngemut burungnya saja
sih nggak pa-pa. Mau sampai selesai juga boleh. Tapi
yang lain Ningsih nggak mau..!”
Aku tertawa, “Lha apa nggak belepotan..?”
“Ah, enggak. Yang penting Ningsih juga puas tapi tetep
perawan.”
Aku semakin terbahak, “Kalau kamu juga puas, terus
kenapa diputus..?”
“Abis lama-lama Ningsih kesel! Ningsih kalau diajak
macem-macem mau, tapi dia diajak kawin malah main
mata sama cewek lain! Untung Ningsih cuma kasih emut
aja, jadi sampai sekarang Ningsih masih perawan.”
“Main emut terus gitu apa kamu nggak pengin nyoba
yang beneran..?” godaku.
Wajah Ningsih kembali memerah, “Eh… katanya sakit ya
Ndoro..? Terus bisa hamil..?”
Kini Ningsih berlutut mengangkangi tubuhku sambil
menggosokkan minyak ke perutku. Saat gadis itu sedikit
membungkuk, dari balik dasternya yang longgar tampak
belahan buah dadanya yang montok alami tanpa
penopang apapun.
Sambil tanganku mengelus-elus kedua paha Ningsih yang
terkangkang, aku menggoda, “Kalau sama Ndoro, Ningsih
ngasih yang beneran atau cuma diemut..?”
Pipi Ningsih kini merah padam, “Mmm… memangnya
Ndoro mau sama Ningsih? Ningsih kan cuma pembantu?
Cuma pelayan?”
“Nah ini namanya juga melayani. Iya nggak?”
Ningsih hanya tersenyum malu.
“Aaah! Itu kan cuma jabatan. Yang penting kan
orangnya..!”
“Ehm.., kalau hamil gimana..?”
“Jangan takut Nduk, kalau cuma sekali nggak bakalan
hamil. Nanti Ndoro yang tanggung jawab..”
Meskipun sedikit ragu dan malu, Ningsih menuruti dan
menanggalkan dasternya.
Sambil meletakkan pantatnya di atas pahaku, gadis itu
dengan tersipu menyilangkan tangannya untuk menutupi
kemontokan kedua payudaranya. Untuk beberapa saat
aku memuaskan mata memandangi tubuh montok yang
nyaris telanjang, sementara Ningsih dengan jengah
membuang wajah. Dengan tidak sabaran kutarik
pinggang Ningsih yang meliuk mulus agar ia berbaring di
sisiku.
Seumur hidup mungkin baru sekali ini Ningsih merasakan
berbaring di atas kasur seempuk ini. Langsung saja
kusergap gadis itu, kuciumi bibirnya yang tersenyum
malu, pipinya yang lesung pipit, menggerayangi sekujur
tubuhnya dan meremas-remas kedua payudaranya yang
kenyal menggiurkan. Puting susunya yang kemerahan
terasa keras mengacung. Kedua payudara gadis itu tidak
terlalu besar, namun montok pas segenggaman tangan.
Dan kedua bukit itu berdiri tegak menantang, tidak
menggantung. Gadis desa ini memang sedang ranum-
ranumnya, siap untuk dipetik dan dinikmati.
“Mmmhh… Oh! Ahhh! Oh… Ndorooo… eh.. mmm…
burungnya… mau Ningsih emut dulu nggak..?” tanya
gadis itu diantara nafasnya yang terengah-engah.
“Lepas dulu celana dalam kamu Nduk, baru kamu boleh
emut.”
Tersipu Ningsih bangkit, lalu memelorotkan celana
dalamnya hingga kini gadis itu telanjang bulat. Perlahan
Ningsih berlutut di sisiku, meraih kejantananku dan
mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Sambil
menyibakkan rambutnya, gadis itu sedikit terbelalak
melihat besarnya kejantananku. Mungkin ia
membayangkan bagaimana benda berotot sebesar itu
dapat masuk di tubuhnya.
Aku segera merasakan sensasi yang luar biasa ketika
Ningsih mulai mengulum kejantananku, memainkan
lidahnya dan menghisap dengan mulut mungilnya sampai
pipinya ‘kempot’. Gadis ini ternyata pintar membuat
kejantananku cepat gagah.
“Ehm… srrrp… mmm… crup! Ahmm… mmm… mmmh..!
Nggolo (ndoro)..! Hangang keyas-keyas (jangan keras-
keras)..! Srrrp..!”
Gadis itu tergeliat dan memprotes ketika aku meraih
payudaranya yang montok dan meremasinya. Namun aku
tak perduli, bahkan tangan kananku kini mengelus
belahan pantat Ningsih yang bulat penuh, terus turun
sampai ke bibir kemaluannya yang masih jarang-jarang
rambutnya. Maklum, masih perawan.
Gadis itu tergelinjang tanpa berani bersuara ketika
jemariku menyibakkan bibir kemaluannya dan menelusup
dalam kemaluannya yang masih perawan. Merasa
kejantananku sudah cukup gagah, kusuruh Ningsih
mengambil pisau cukur di atas meja, lalu kembali ke atas
ranjang. Tersipu-sipu gadis perawan itu mengambil
bantal berusaha untuk menutupi ketelanjangannya.
Malu-malu gadis itu menuruti perintah majikannya
berbaring telentang menekuk lutut dan merenggangkan
pahanya, mempertontonkan rambut kemaluannya yang
hanya sedikit. Tanpa menggunakan foam, langsung
kucukur habis rambut di selangkangan gadis itu,
membuat Ningsih tergelinjang karena perih tanpa berani
menolak. Kini bibir kemaluan Ningsih mulus
kemerahmerahan seperti kemaluan seorang gadis yang
belum cukup umur, namun dengan payudara yang
kencang.
Dengan sigap aku menindih tubuh montok menggiurkan
yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun itu.
Tersipu-sipu Ningsih membuang wajah dan menutupi
payudaranya dengan telapak tangan. Namun segera
kutarik kedua tangan Ningsih ke atas kepalanya, lalu
menyibakkan paha gadis itu yang sudah mengangkang.
Pasrah Ningsih memejamkan mata menantikan saatnya
mempersembahkan keperawanannya.
Gadis itu menahan nafas dan menggigit bibir saat
jemariku mempermainkan bibir kemaluannya yang basah
terangsang. Perlahan kedua paha mulus Ningsih
terkangkang semakin lebar. Aku menyapukan ujung
kejantananku pada bibir kemaluan gadis itu, membuat
nafasnya semakin memburu. Perlahan tapi pasti,
kejantananku menerobos masuk ke dalam kehangatan
tubuh perawan Ningsih. Ketika selaput dara gadis manis
itu sedikit menghalangi, dengan perkasa kudorong terus,
sampai ujung kejantananku menyodok dasar liang
kemaluan Ningsih. Ternyata kemaluan gadis ini kecil dan
sangat dangkal masih perawan. Kejantananku hanya
dapat masuk seluruhnya dalam kehangatan
keperawanannya bila didorong cukup kuat sampai
menekan dasar kemaluannya. Itu pun segera terdesak
keluar lagi.
Ningsih terpekik sambil tergeliat merasakan pedih
menyengat di selangkangannya saat kurenggutkan
keperawanan yang selama ini telah dijaganya baik-baik.
Tapi gadis itu hanya berani meremas-remas bantal di
kepalanya sambil menggigit bibir menahan sakit. Air mata
gadis itu tak terasa menitik dari sudut mata,
mengaburkan pandangannya. Ningsih merintih kesakitan
ketika aku mulai bergerak menikmati kehangatan
kemaluannya yang serasa ‘megap-megap’ dijejali benda
sebesar itu. Namun rasa sakit dan pedih di
selangkangannya perlahan tertutup oleh sensasi geli-geli
nikmat yang luar biasa.
Tiap kali kejantananku menekan dasar kemaluannya,
gadis itu tergelinjang oleh ngilu bercampur nikmat yang
belum pernah dirasakannya. Kejantananku bagai
diremas-remas dalam liang kemaluan Ningsih yang begitu
‘peret’ dan legit. Dengan perkasa kudorong
kejantananku sampai masuk seluruhnya dalam
selangkangan gadis itu, membuat Ningsih tergelinjang-
gelinjang sambil merintih nikmat tiap kali dasar
kemaluannya disodok.
“Ahh… Ndoro..! Aa… ah..! Aaa… ahk..! Oooh..!
Ndorooo… Ningsih pengen… pih… pipiiis..!
Aaa… aahh..!”
Sensasi nikmat luar biasa membuat Ningsih dengan cepat
terorgasme.
“Tahan Nduk! Kamu nggak boleh pipis dulu..! Tunggu
Ndoro pipisin kamu, baru kamu boleh pipis..!”
Dengan patuh Ningsih mengencangkan otot
selangkangannya sekuat tenaga berusaha menahan pipis,
kepalanya menggeleng-geleng dengan mata terpejam,
membuat rambutnya berantakan, namun beberapa saat
kemudian…
“Nggak tahan Ndorooo..! Ngh…! Ngh…! Ngggh! Aaaiii…
iik..! Aaa… aaahk..!” Tanpa dapat ditahan-tahan, Ningsih
tergelinjang-gelinjang di bawah tindihanku sambil
memekik dengan nafas tersengal-sengal.
Payudaranya yang bulat dan kenyal berguncang menekan
dadaku saat gadis itu memeluk erat tubuh majikannya,
dan kemaluannya yang begitu rapat bergerak mencucup-
cucup.
Berpura-pura marah, aku menghentikan genjotannya dan
menarik kejantananku keluar dari tubuh Ningsih.
“Dibilang jangan pipis dulu kok bandel..! Awas kalau
berani pipis lagi..!” Tampak kejantananku bersimbah
cairan bening bercampur kemerahan, tanda gadis itu
betul-betul masih perawan. Gadis itu mengira majikannya
sudah selesai, memejamkan mata sambil tersenyum puas
dan mengatur nafasnya yang ‘senen-kamis’. Di pangkal
paha gadis itu tampak juga darah perawan menitik dari
bibir kemaluannya yang perlahan menutup.
Aku menarik pinggang Ningsih ke atas, lalu mendorong
sebuah bantal empuk ke bawah pantat Ningsih, membuat
tubuh telanjang gadis itu agak melengkung karena
pantatnya diganjal bantal. Tanpa basa-basi kembali
kutindih tubuh montok Ningsih, dan kembali
kutancapkan kejantananku dalam liang kemaluan gadis
itu. Dengan posisi pantat terganjal, klentit Ningsih yang
peka menjadi sedikit mendongak. Sehingga ketika aku
kembali melanjutkan tusukanku, gadis itu tergelinjang
dan terpekik merasakan sensasi yang bahkan lebih
nikmat lagi dari yang barusan.
“Mau terus apa brenti, Nduk..?” godaku.
“Aii… iih..! He.. eh..! Terus Ndorooo..! Enak..! Enak..!
Aahh… Aiii… iik..!”
Tubuh Ningsih yang montok menggiurkan tergelinjang-
gelinjang dengan nikmat dengan nafas tersengal-sengal
diantara pekikan-pekikan manjanya.
“Ooo… ohh..! Ndoroo.., Ningsih pengen pipis.. lagiii…
iih..!”
“Yang ini ditahan dulu..! Tahan Nduk..!”
“Aa.. aak..! Ampuuu… unnhh..! Ningsih nggak kuat…
Ndorooo..!”
Seiring pekikan manjanya, tubuh gadis itu tergeliat-geliat
di atas ranjang empuk.
Pekikan manja Ningsih semakin keras setiap kali tubuh
telanjangnya tergerinjal saat kusodok dasar liang
kegadisannya, membuat kedua pahanya tersentak
mengangkang semakin lebar, semakin mempermudah aku
menikmati tubuh perawannya. Dengan gemas sekuat
tenaga kuremas-remas kedua payudara Ningsih hingga
tampak berbekas kemerah-merahan. Begitu kuatnya
remasanku hingga cairan putih susu menitik keluar dari
putingnya yang kecoklatan.
“Ahhhk..! Aaa.. aah! Aduu.. uhh! Sakit Ndorooo..! Ningsih
mau pipiiiiss..!”
Dengan maksud menggoda gadis itu, aku menghentikan
sodokannya dan mencabut kejantanannya justru disaat
Ningsih mulai orgasme.
“Mau pipis Nduk..?” tanyaku pura-pura kesal.
“Oohh… Ndorooo… terusin dong..! Cuma ‘dikit, nggak
pa-pa kok..!” rengek gadis itu manja.
“Kamu itu nggak boleh pipis sebelum Ndoro pipisin
kamu, tahu..?” aku terus berpura-pura marah.
Tampak bibir kemaluan Ningsih yang gundul kini
kemerah-merahan dan bergerak berdenyut.
“Enggak! Enggak kok! Ningsih enggak berani Ndoro..!”
Ningsih memeluk dan berusaha menarik tubuhku agar
kembali menindih tubuhnya. Rasanya sebentar lagi gadis
itu mau pipis untuk ketiga kalinya.
“Kalau sampai pipis lagi, Ndoro bakal marah, lho Nduk..?”
kuremas kedua buah dada montok Ningsih.
“Engh… Enggak. Nggak berani.” Wajah gadis itu berkerut
menahan pipis.
“Awas kalau berani..!” kukeraskan cengkeraman
tangannya hingga payudara gadis itu seperti balon
melotot dan cairan putih susu kembali menetes dari
putingnya.
“Ahk! Aah..! Nggak berani, Ndoro..!”
Ningsih menggigit bibir menahan sakitnya remasan-
remasanku yang bukannya dilepas malah semakin kuat
dan cepat. Namun gadis itu segera merasakan
ganjarannya saat kejantananku kembali menghajar
kemaluannya. Tak ayal lagi, Ningsih kembali tergiur tanpa
ampun begitu dasar liang kemaluannya ditekan kuat.
“Ngh..! Ngh..! Nggghhh..! Ahk… Aaa… aahhh..!
Ndorooo… ampuuu… uun..!”
Tubuh montok gadis itu tergerinjal seiring pekikan
manjanya.
Begitu cepatnya Ningsih mencapai puncak membuat aku
semakin gemas menggeluti tubuh perawannya. Tanpa
ampun kucengkeram kedua bukit montok yang berdiri
menantang di hadapanku dan meremasinya dengan kuat,
meninggalkan bekas kemerahan di kulit payudara
Ningsih. Sementara genjotan demi genjotan kejantananku
menyodok kemaluan gadis itu yang hangat mencucup-
cucup menggiurkan, bagai memohon semburan puncak.
Gadis itu sendiri sudah tak tahu lagi mana atas mana
bawah, kenikmatan luar biasa tidak henti-hentinya
memancar dari selangkangannya. Rasanya seperti ingin
pipis tapi nikmat luar biasa membuat Ningsih tidak sadar
memekik-mekik manja. Kedua pahanya yang sehari-hari
biasanya disilangkan rapat-rapat, kini terkangkang lebar,
sementara liang kemaluannya tanpa dapat ditahan-tahan
berdenyut mencucup kejantananku yang begitu perkasa
menggagahinya. Sekujur tubuh gadis itu basah
bersimbah keringat.
“Hih! Rasain! Dibilang jangan pipis! Mau ngelawan ya..!”
Gemas kucengkeram kedua buah dada Ningsih erat-erat
sambil menghentakkan kejantananku sejauh mungkin
dalam kemaluan dangkal gadis itu.
Ningsih tergelinjang-gelinjang tidak berdaya tiap kali
dasar kemaluannya disodok. Pantat gadis itu yang
terganjal bantal empuk berulangkali tersentak naik
menahan nikmat.
“Oooh… Ndorooo..! Ahk..! Ampun..! Ampun Ndoroo..!
Sudah..! Ampuuu.. unn..!” Ningsih merintih memohon
ampun tidak sanggup lagi merasakan kegiuran yang tidak
kunjung reda.
Begitu lama majikannya menggagahinya, seolah tidak
akan pernah selesai. Tidak terasa air matanya kembali
berlinang membasahi pipinya. Kedua tangan gadis itu
menggapai-gapai tanpa daya, paha mulusnya tersentak
terkangkang tiap kali kemaluannya dijejali kejantananku,
nafasnya tersengal dan terputus-putus. Bagian dalam
tubuhnya terasa ngilu disodok tanpa henti. Putus asa
Ningsih merengek memohon ampun, majikannya bagai
tak kenal lelah terus menggagahi kegadisannya. Bagi
gadis itu seperti bertahun-tahun ia telah melayani
majikannya dengan pasrah.
Menyadari kini Ningsih sedang terorgasme
berkepanjangan, aku tarik paha Ningsih ke atas hingga
menyentuh payudaranya dan merapatkannya. Akibatnya
kemaluan gadis itu menjadi semakin sempit menjepit
kejantananku yang terus menghentak keluar masuk.
Ningsih berusaha kembali mengangkang, namun dengan
perkasa semakin kurapatkan kedua paha mulusnya. Mata
Ningsih yang bulat terbeliak dan berputar-putar,
sedangkan bibirnya merah merekah membentuk huruf ‘O’
tanpa ada suara yang keluar. Sensasi antara pedih dan
nikmat yang luar biasa di selangkangannya kini semakin
menjadi-jadi.
Aku semakin bersemangat menggenjotkan kejantananku
dalam hangatnya cengkeraman pangkal paha Ningsih,
membuat gadis itu terpekik-pekik nikmat dengan tubuh
terdorong menyentak ke atas tiap kali kemaluannya
disodok keras.
“Hih! Rasain! Rasain! Nih! Nih! Nihh..!” aku semakin geram
merasakan kemaluan Ningsih yang begitu sempit dan
dangkal seperti mencucup-cucup kejantananku.
“Ahh..! Ampuuu…uun… ampun… Ndoro! Aduh… sakiit…
ampuuu… un..!”
Begitu merasakan kenikmatan mulai memuncak, dengan
gemas kuremas kedua payudara Ningsih yang kemerah-
merahan berkilat bersimbah keringat dan cairan putih
dari putingnya, menumpukan seluruh berat tubuhku
pada tubuh gadis itu dengan kedua paha gadis itu
terjepit di antara tubuh kami, membuat tubuh Ningsih
melesak dalam empuknya ranjang.
Pekikan tertahan gadis itu, gelinjangan tubuhnya yang
padat telanjang dan ‘peret’-nya kemaluannya yang masih
perawan membuatku semakin hebat menggeluti gadis itu.
“Aduh! Aduu… uuhh… sakit Ndoro! Aaah… aaamm…
aaammpuuun… ampuuu… uun Ndoro..
Ningsih… pipiiii… iiis! Aaammm… puuun..!”
Dan akhirnya kuhujamkan kejantananku sedalam-
dalamnya memenuhi kemaluan Ningsih, membuat tubuh
telanjang gadis itu terlonjak dalam tindihanku, namun
tertahan oleh cengkeraman tanganku pada kedua buah
dada Ningsih yang halus mulus.
Tanpa dapat kutahan, kusemburkan sperma dalam
cucupan kemaluan Ningsih yang hangat menggiurkan
sambil dengan sekuat tenaga meremas-remas kedua
buah dada gadis itu, membuat Ningsih tergerinjal antara
sakit dan nikmat.
“Ahk! Auh..! Aaa… aauuhh! Oh… ampuuu…uun Ndoro!
Terus Ndoro..! Ampuuun! Amm… mmh..! Aaa… aaakh..!”
Dengan puas aku menjatuhkan tubuh di sisi tubuh
Ningsih yang sintal, membuat gadis itu turut terguling ke
samping, namun kemudian gadis itu memeluk tubuhku.
Sambil terisak-isak bahagia, Ningsih memeluk tubuhku
dan mengelus-elus punggungku.
Sambil mengatur nafas, aku berpikir untuk menaikkan
gaji Ningsih beberapa kali lipat, agar gadis itu betah
bekerja di sini, dan dapat melayaniku setiap saat. Dengan
tubuh yang masih gemetar dan lemas, Ningsih perlahan
turun dari ranjang dan mulai melompat-lompat di
samping ranjang.
Keheranan aku bertanya, “Ngapain kamu, Nduk..?”
“Katanya… biar nggak hamil harus lompat.. lompat,
Ndoro..” jawab gadis itu polos.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya, melihat
cairan kental meleleh dari pangkal paha gadis itu yang
mulus tanpa sehelai rambut pun.

0 Response to "Cerita Sex Goyangan Pantat Pembantu Montok"

Post a Comment

Total Pageviews

Arsip Blog

findeen