Cerita Sex Enaknya Skandal Sex Keluargaku

web dewasa yg berisikan cerita sex, cerita nyata,
cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex
Enaknya Jadi Tulang Punggung Keluarga” dan foto hot
terbaru 2016 – Coba kalian bayangkan aku seorang diri
harus memberi makan 10 orang di dlm rumahku. Itu
termasuk aku, istriku, ibuku, kakak perempuanku dan
suaminya serta kedua orang anaknya, adikku laki-laki
dan istrinya serta anak tunggalnya. Betapa kerja
kerasnya aku setiap hari agar semua yg di bawah atap
ini tdk mati kelaparan.
Cerita Sex Enaknya Jadi Tulang Punggung Keluarga
Suami kakak perempuanku sebenarnya pengusaha
mebel. Tp sekarang bangkrut habis-habisan dgn
meninggalkan utang ratusan juta. Sehingga kakak
perempuanku, Winda yg notabene adalah wanita rumah
tangga memohon kepadaku utk membantunya.
Cerita sex terbaru, Waktu itu segala harta bendanya,
rumah, mobil hingga, terus terang aja nih… kolor-kolor
yg ada pun turut disita, bisa dikatakan waktu para
penagih datang dan mengambil segalanya mereka
cuma menyisakan apa yg melekat di badan mereka.
Sementara itu adik laki-lakiku, Anton gak bisa menjaga
pekerjaan. Selalu saja dipecat. Akibatnya dia tdk
mampu kasih makan keluarganya. Dia pun datang
kepada diriku utk bantuan.
Cerita dewasa terbaru, Aku sih punya bisnis pengolahan
tinja. Yah dari hasil sisa mencretnya orang, aku olah
jadi energi gas dan aku ekspor ke luar negri, sehingga
aku punya penghasilan yg lumayan.
Waktu mereka datang kepadaku dan memintaku utk
membantu mereka. Aku selalu mengajukkan satu syarat
kepada mereka, yaitu, mereka harus mau melayani
kebutuhan seksualku. Karena aku memang memiliki
hasrat yg luar biasa besarnya. Sampai-sampai istriku
gak sanggup lagi melayaniku.
Karena alasan itulah, aku sampai suatu malam
memaksa ibuku sendiri utk melayani kebutuhnaku.
Mereka sih awalnya kaget habis-habisan mendengar
permintaanku. Bahkan kakak perempuanku mencaci
maki diriku, mengatakan aku bejat dan lain sebagainya.
Ibuku sampai menangis. Istriku sampai minta pisah
ranjang. Adikku….ah dia mah diam saja, mau gak
makan?
Akhirnya sekitar sebulan kemudian kami menggelar
pertemuan utk membahas hal ini. Waktu itu kami
semua berkumpul di rumahku
“Ya, sudah Erwin kami semua sudah berembuk dan
memutuskan utk menyetujui persyaratanmu, asal kamu
mau menerima kami semua,” ucap suami kakak
perempuanku.
“Iya kak, ok kami siap melayani kebutuhan kakak,”
tambah adikku.
“Apakah kalian yakin, itu termasuk juga anak-anak
kalian lho….”
Semuanya terdiam… Istriku adalah yg paling bermuram
durja di ruangan itu.
“Kenapa? Apakah kalian berubah pikiran?”
“Sebenarnya itu yg ingin kami bicarakan,” kata istri
adikku. Denis namanya.
“Apakah bisa kak Erwin biarkan anak-anak kami, biar
kami saja yg melayani kakak,” ucapnya sambil
membetulkan posisi kacamatanya yg sebenarnya tdk
kenapa-kenapa.
“Ah tdk bisa…harus termasuk keponakanku yg cantik-
cantik ini…”
Ruangan kembali jadi hening.
“Erwin, plis…mereka masih terlalu muda…,” pinta
kakak perempuanku.
“Kalau kak Ranti gak mau, gak apa-apa aku gak
keberatan. Tp yah jangan gantungkan nasib kalian sama
aku.”
Kak Winda mengepalkan tangan di atas pahanya dan
menggigiti bibir bawahnya mendengar jawabanku.
“Ya ok ok… yah… kami sekeluarga akan layani
kebutuhanmu yg satu itu,” tampak suami kak Ranti,
Farid sudah frustasi dan tdk mau berlarut-larut dlm
masalah ini.
“Bagiamana dgn mu Denis?”
Denis tampak bingung dan tak bisa mengambil
keputusan, alisnya mengernyit meminta suaminya alias
adikku, Roni utk mengambil keputusan. Adikku
memandangi istrinyat dan anak tunggalnya, jelas ada
keberatan yg sangat tergurat di wajahnya.
“Ya sudah….terserah kak Erwin….,” ucapnya lemah.
“OK, sekarang tinggal istriku dan ibu…apakah kalian
masih keberatan…?”
Mereka berdua saling pandang. Mereka tak kalah
gundahnya dgn yg lain.
“Erwin…masak kamu mau ibu ngelayanin kamu juga…
ibu kan sudah tua…”
Aku berdiri dari sofaku dan berjalan ke arahnya. Lalu
duduk disampingnya.
“Jangan khawatir ibu, Erwin gak akan mintah yg aneh-
aneh kok…,” ucapku seraya menyampirkan kain baju
pundaknya.
Kuciumi pundaknya dan perlahan merambat ke
lehernya. Ibu menggelinjang dan memiringkan
tubuhnya menjauh dariku, sementara kedua tangannya
menahan dadaku. Matanya yg sudah mulai terlihat
keriput di pinggirnya menatapku dgn perasaan gelisah
tak nyaman.
“Erwin! bisa gak nanti aja…jangan disini!” ucap istriku
agak kesal.
“O…ok…hmm…apakah itu artinya kamu sudah setuju,
sayang?”
“…Ah aku kan cuma istrimu bisa berbuat apa utk
nolak?” Jawabnya sambil berbalik memberikan
punggungnya.
Aku pun berpindah posisi ke samping istriku dan
memeluknya.
“Jangan marah donk sayang…kamu tetap yg paling aku
cintai…”
“Aku lagi gak mau dirayu, mas,” tukasnya ngambek.
Meskipun di BT-in aku tetap memeluknya mesra dari
belakang dan menempelkan hidungku ke punggungnya
dan menghirup tubuhnya.
Kemudian aku bangkit.
“Ok berarti semua setuju ya…”
“Ya..,” jawab mereka pelan.
Setelah itu dgn tak sabar aku memeluk kembali ibuku
dan kutempelkan pensiku ke paha ibuku dan kugesek-
gesekkan mencoba mencari kenikmatan.
“Oh ibu dah lama Erwin mau main sama ibu…”
Semua yg ada disitu langsung kaget mendengarnya.
“Aku tak dapat melihat atau mendengar ini semua,”
keluh istriku dan dia beranjak pergi.
Yg lain pun segera hendak pergi meninggalkan rungan
itu.
“Kak Winda , mau kemana…?” tanyaku dgn nada penuh
arti.
“Aku mau meninggalkan kalian berdua….tunggu dulu…
apakah kamu berpikir utk…oh tdk….”
Aku hanya memberikan senyuman di pinggir bibir.
“Oh tdk…kamu mau aku…dan ibu….”
Aku mengangguk-angguk kecil.
“kamu memang bejat sekali, Erwin…”
Kulihat yg lain-lain pada geleng-geleng kepala
mendengar permintaanku sambil melangkah pergi.
“Erwinn….ibu gak bisa…ibu gak pernah begituan..,”
rengek ibuku. Raut wajahnya merengut.
“Shhhtt….”
Ku sampirkan kedua kain di pundak ibuku, dress yg
lemas itu langsung jatuh memberikan tontonan
payudara yg menakjubkan. Ibu langsung menutupi
dadanya dgn kedua tangannya. Aku tersenyum melihat
reaksinya.
Lalu aku berdiri.
“Kak Winda, ayo buka reseleting celanaku.”
Kakak gw tampangnya BT. Dia emang orangnya agak
judes, paling gak suka kalau disuruh-suruh. Sukanya
merintah.
Waktu jarinya yg lentik itu menggapai tepi celana
pendekku. Langsung aja gw tarik tangannya hingga
tubuhnya doyong dan terhuyung, terjatuh ke sofa di
samping ibu. Secepat kilat gw tindih tubuhnya, gw
sibak roknya dan tangan gw nyelip di antara pahanya
dari belakang.
“Kyaa!! gak! GAK! Erwin bangsat kamu!”
Tp gw gak peduli, gw gosok-gosok kemaluannya dgn
cepat. Ibu langsung mencoba mencegahku..
“Erwiiiinnn…jangan gitu sama kakakmu….”
Kaki kakak meronta-ronta, menendang-nendang,
sambil tangannya mencoba menepis tanganku yg telah
melanggar perbatasannya.
Kesal karena mereka melawan terus, aku bangkit
berdiri.
“Baik…kalau kalian begini terus….aku akan…”
Aku diam…. lalu aku naik ke lantai atas dan aku masuk
ke sebuah kamar.
Gak berapa lama aku tarik keluar kedua keponakanku
Nina dan Desi yg masih duduk di bangku SD.
“Jangan…Win..Jangan Win…,” pinta suami kak Winda
mencoba menahan kedua anaknya.
“Apaan sih…tadi kalian sudah setuju!”
“Iya…tp….”
Aku tak peduli aku tarik keponakanku turun ke bawah.
“Masuk lo! Atau lo keluar dari rumah ini” perintah gw
ke adik ipar gw itu.
“Win..jangan…Win…”
Gw lihat yg lain pada ngintip dari kamar dari balik pintu
kamar mereka masing-masing. Tanpa banyak bicara gw
bawa turun kedua keponakan gw ke lantai bawah. Disitu
kakak gw nangis.
“Win…jangan anakku Win…”
Ibu pun berusaha membujukku, gak kalah histerisnya,
“Win jangan Nina dan Desi…. ibu aja… ayo sini ibu
turuti maumu….”
Kedua keponakan gw juga jadi ikut-ikutan mewek
manggil-manggil ibunya,
“Ibu…ibu…”
Gw cuek aja, dah nafsu mau nyicipi mereka berdua.
Tangan gw menyelinap masuk ke dlm rok mereka dan
masuk lagi ke dlm CD mereka, Uuhh..gw bisa
ngerasaain kemaluannya mereka yg mngil dan belm
berbulu. PInggul mereka bergerak maju mundur saata
tangan gw menekan dan menggosok daerah kewanitaan
mereka.
“Ibu hu..huu…hu…,” tangis keduanya.
Kakak gw tiba-tiba maju dgn cepat dan mendorong gw
sampai gw terjatuh ke belakang. Sementara ibu
mengambil keduanya dan memeluk mereka erat-erat.
“Kakak turutin semua mau lo, Win, hm..kamu mau apa?
mau oral?” tanya kakaku dgn mata berkaaca-kaca dan
menggosok-gosok kemaluan gw dari luar celana.
Waktu aku mau bangkit berdiri kakak mendorongku
lagi. Sementara itu ibu sudah menyuruh Nina dan Desi
naik lagi ke atas. Belum sempat aku bicara, kakak dan
ngeluarin k0ntol gw dan mengulum dgn cepat.
“Ahh! ahh…ahh!”
Terus ibu mendekati kami, dan menyuruh kakak utk
gantian. Kini wanita yg melahirkanku ini mengulum
batangku dgn sangat cepat, dan lebih piawai dari kakak.
“Kamu mau apa lagi, Win? Mau liat selangkangan
kakak?”
Belum menjawab, kakak sudah mengangkangi gw dan
mengangkat roknya. Sehingga bisa gw lihat CD mininya
yg seolah cuma memnutupi belahan memeknya saja.
Gw betot CDnya itu dan langsung copot. Gw masukin
jari tengahku ke lubangnya. “Errrwiiinn…..”
Tiba-tiba saja gw berontak, gw dorong kakak ke
samping sampai ia agak terjatuh.
“Ini bukan yg aku mau!”
Gw berdiri dan gw tarik ibu ke sofa, gw balikin
badannya hingga membelakangiku. Terus langsung gw
tusuk dari belakang kemaluannya dan gw entot dgn
gaya Doggy style. dgn gemas kuremas kedua dadannya.
Ibu pun mengadah. Entah keenakan atau kesakitan.
Soalnya gw gak pake pemanasan lagi.
“Kakak panggil Nina dan Desi ke bawah. Kalau gak mau,
ambil koper kalian dan keluar dari sini.”
Kakak tampak duduk lunglai di lantai, usahanya tdk
berhasil, ia terisak-isak.
“Cepetan!”
Kak Winda dgn langkah gontai naik ke lantai atas dan
menjemput kedua anaknya turun.
“Jangan lupa pakaikan seragam sekolah mereka!”
teriakku.
Beberapa lama kemudian Nina dan Desi turun lagi
sudah lengkap dgn seragam merah putih mereka dan
dasi. Kedua keponakanku keheranan saat melihat nenek
sudah telanjang dan lubangnya dimasukin k0ntol
“nenek diapain, bu?” tanya Nina.
Kakak tak dapat menjawab keduanya. Ia berjongkok dan
memeluk kedua anaknya.
Tahu-tahu ibu memekik,
“Ibu keluaar! aaah….”
Kucabut k0ntolku dari lubangnya dan ia jatuh terkulai
lemas di sofa. Aku pun turut rebahan di sofa itu dgn
k0ntolku sebesar pisang raja mengacung ke atas masih
menuntut utk dipuaskan.
“Ternyata ibu menikmati juga yah…buktinya klimaks,”
godaku.
Ibu tdk berkata apa-apa matanya hanya menatap ke
bawah.
“Nina! Desi! Kemari sayang…”
Kakak tetap merangkul keduanya, menahan mereka,
tdk mau melepaskan mereka. Aku bangkit dari sofa dan
menarik mereka berdua dgn paksa.
“Erwin…Erwin…plis…jangan…jangan anak-anakku….”
“Lepas! lepasin tangan kakak!”
Dgn lemas dan berat hati kakak membiarkanku
membawa keduanya ke duduk di sofa.Aku berada di
tengah, keduanya di sampingku.
Kupeluk kedua tubuh keponakan yg terasa ringan dan
kecil ini
“Nina….”
“Ya om?”
“Pegang k0ntol om yah….”
Nina memandang batangnku yg tegak menjulang, lalu
meringkuk menggeleng.
Kuangkat dagunya dan kutatap matanya.
“Gak apa-apa. Nina sekarang sudah gede, gak apa-apa
kalau pegang k0ntol om….”
Lalu ku kiss bibirnya yg mungil perlahan. Sambil
tanganku mengusap-usap dadanya dari luar baju
seragamnya dgn telapak tanganku.
Nafasnya perlahan mulai berat.
Kumasukkan tanganku ke dlm rok merahnya. Meraba
pahanya perlahan naik ke atas, hingga jariku
menyentuh kemaluannya dan kugosok-gosok tepat di
belahan bibir memeknya yg kecil dari luar CDnya.
Keponakan agak kaget dan mencoba menahan
tanganku. Alisnya mengernyit.
Pertama ia mencoba menarik tanganku menjauh, tp
lama-kelamaan ia hanya mengikuti saja kemana
tanganku bergerak.
“Ku jenjangi lehernya, perlahan naik hingga ke
telinganya.
“Ngghhh….om….”
Mungkin dia sudah terangsang tanpa kusuruh lagi, Nina
menggenggam batangku. Tp itu saja yg ia lakukan,
karena ia belum mengerti.
“Nina, kocok batang om ya…”
“Gimana caranya om?” Tanyanya pelan.
“Gini…”
Lalu kubimbing tangannya naik turun mengurut
k0ntolku. Uuh enak sekali rasanya saat jemari yg kecil-
kecil itu mengocok batangku. Aku jadi bergairah.
Aku mencoba membuka CD-nya Nina. Tp Nina
mencegahnya.
“Malu omm…,” ucapnya sambil menggeleng.
“Gak apa-apa sayang…”
Nina lalu mengangkat pantatnya agar aku bisa
meloloskan CDnya, tp hanya kuturunkan setengah
paha.
Kemudian aku berlaih ke Desi.
“Desi juga buka ya…kolornya kayak kak Nina.”
Desi masih polos, jadi ia mengangguk saja. Maka
kutarik CD-nya tp sama seperti Nina hanya setengah
turun. .
“Desi….masukin k0ntol om ke mulut ya….,” kataku
sambil memberikan contoh dgn jariku.
Ia tampak ragu sebentar, lalu ia lakukan juga. Batangku
yg besar, memaksanya harus membuka mulutnya lebar
dan akhirnya terbenamlah ujung batangku di dlm mulut
Desi yg mungil, walau hanya ujungnya. Sebab ada
tangan Nina yg sedang mengocokku.
“Ahhhh….,” lenguhku.
“Ibu…” panggilku.
“Apa lagi, Win?”
“Jilat memeknya Nina…”
Ibu mengernyit, “Erwiiinn….”
“Kakak juga, jilat itunya Desi….”
“Erwin…tega kamu…berbuat ini ke kakak…”
“Ayolah cepat….,” pintaku yg sedang dilanda
kenikmatan diservice oleh keponakanku.
Ibu dan kakak mengambil posisi berlutut di lantai dan
mulailah mereka menjilati kemaluan Nina dan Desi.
Gak berapa lama, bisa kulihat, mereka berdua
merasakan kenikmatan di daerah bawah perut mereka.
Kocokan Nina menjadi agak cepat dan menyentak,
sementara Desi, melenguh-lenguh tertahan.
Bisa kulihat dari posisiku, lidah ibu menyapu-nyapu
dgn cepat klitnya Nina, sementara kakak, lebih
menenggelamkan daging tak bertulangnya di dlm
kemaluan Desi dan bergerak-gerak disana.
Tdk berapa lama, mungkin karena Nina masih baru,
akhirnya ia mencapai klimaks. Tubuhnya mengejang
beberapa kali.
“Duh..apa yg terjadi om…”
“Itu namanya orgasme, Git…enak kan…”
Ibu tampak merasa bersalah dgn apa yg sudah ia
lakukan kepada cucunya.
“Kakak dan Desi, pelukan gih di sofa…,” perintahku.
“Pelukan gimana?”
“Kakak nyandar di ujunga sofa, sambil pelukan dgn
Desi…”
“Kamu memang mau apa…”
“Dah lakukan saja…jangan banyak tanya…”
Kakak menuruti peritnahku. Saat Desi berada di atas,
kutarik lepas CDnya, kusibak rok merahnya ke atas
pantat. Dapat kulihat pantat kecl dan gundukan yg
merekah di bawahnya. Kuelus-elus daerah kemaluan
Desi yg sudah terasa Jari tengahku, terasa tenggelam
di belahan memeknya. “Aahh…om…ahhh….”
Sebelum akhirnya kumasukkan jari itu ke lubangnya yg
segera menjepitnya dengna kuat.
“Ngghh ahahh…ahhh…”
Kakakku hanya memperhatikan raut wajah anaknya yg
meraskan nikmat dgn prihatin.
“Erwin…kamu gak akan…”
“Gak akan apa he?” tanyaku seraya mulai mengusap-
usapkan ujung pensiku ke kemaluan Desi.
“Erwin…kamu punya terlalu gedee…”
Saat kumulai memasukkan batangku ke dlm, Desi
menangis…Huu…hu…hu…
“Sakit om….”
“Tahan ya, Desi…”
“Cup..nak..cup..tahan dikit yah nak..ya…,” hibur
kakakku sambil mengelus rambut Desi yg panjang dan
terhias jepitan pita putih kupu2.
Benar-benar sulit masuk ke lubangnya Desi padahal
sudah becek, maklumlah.
Kukeluar masukkan sedikit demi sedikit menerobos
masuk.
“Huu..hu…udah om…sakit….”
Kupegang pinggang Desi, dan aku pun mulai
memompanya di depan ibunya. K0ntolku tiak bisa
masuk penuh.Paling hanya sepermpatnya saja.
“Sakit ibu…,” tangis Desi….Kakak cuma bisa turut
menangis bersama anaknya, “sabar yah nak….” Kakak
memeluk Desi di dadanya.
“Oh..oh..oh yah…ahh ahh…,” lenguhku keenakan.
Sekonyong-konyong Nina berjalan mendekati adiknya
dan berlutut, “Sakit yag dek? Kakak bantu yah.”
Desi hanya menatap kakaknya. Lalu Nina menjilat-jilat
leher adiknya dan menicumi telinganya. Aku rada heran
juga ia melakukan itu, mungkin itu yg tadi ia pelajari
dariku barusan.
Dan mungkin ia sebenarnya hanya ingin menolong
adiknya saja dan memang berhasil meski mata Desi
masih berkaca-kaca, ia tdk lagi menangis.Tp dia terus
melirik ke arah selangkanganku yg keluar masuk di
lubang adiknya.
“Om…,” panggil Nina.
“Apa sayang?”
Nina menghampiriku lalu menarik lenganku.
“Kemari om…”
Ia tarik berulang kali, sampai akhirnya k0ntolku lepas
dari kemaluan Mruni. Ia bawa aku ke sofa lainnya.
Kemudian dia duduk.
“Emang enak yah om diginiin?”
Nina mengocok batangku dan memasukkan ujungnya ke
mulutnya. Kedua bola matanya tampak
memperhatikanku dgn seksama.
“Uuuhh…yah…enak…”
Rupanya dia mengombinasikan apa yg dilakukan
adiknya dan dirinya tadi. Nina memang terkenal sebagai
anak yg pintar di sekolah. Ia memiliki kecepatan dlm
menangkap pelajaran.
Terus ia coba percepat gerakan tangannya.
“Ah…ah…ah.ah..ahh..ah…”
Terus ia pelanin lagi.
Tiba-tiba ia kocok batangnya dgn sangat cepat dan
sekuat tenaga.
“Aw..aw..awh..sakit, Nina…!”
“Maaf om, Nina gak tahu…”
“Ya.. gapapa..”
“Om…jilatin ininya Nina donk kayak nenek…enak om
tadi….”
Ternyata Nina ketagihan setelah merasakan kenimaktan
seks pertamanya.
“Om kasih yg lebih enak lagi yah.”
Nina melirik ke arah adiknya.
“Yg kayak Desi yah?”
“Iya..”
“Keliatannya sakit om.”
“Dikit, pertamanya aja…buktinya nenek suka tadi om
gituin. Sampe klimaks kayak yg tadi Nina rasain.”
“Ya udah Nina mau om…”
Kurebahkan keponakanku di atas sofa yg empuk.
Kulebarkan dan kugantungkan kedua kakiny di
pundakku. K0ntol pisang rajaku pun bersiap di ujung
gua senggamanya. Kugosok-gosok dulu lubang Nina yg
belahannya masih kecil itu , sampai mulai basah, baru
kutekan masuk dikit.
Nina langsung menutup mulutnya. Matanya memejam
saat kusodok perlahan, sedikit demi sedikit masuk ke
dlm lubagnnya yg luar biasa sempitnya. Sebentar saja
dapat kurasakan selaput daranya terkoyak oleh
batangku.
Air mata tampak berlinang dari samping kelopak
matanya.
Sebelum kemudian ia mulai mencengkram sofa, dan
berkata,
“Enak om…dah mulai enak…”
“Nina mau kalau om giniin tiap ari?”
“…mau om….”
Aku hanya tersyenyum dan membayangkan hari-hari
indahku menjadi tulang punggung keluarga ini. Cerita
sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita
dewasa “Cerita Sex Enaknya Jadi Tulang Punggung
Keluarga” dan foto hot terbaru

Tagged with: CERITA ABG MESUM CERITA ABG SANGE
CERITA BOKEP CERITA DEWASA CERITA LEPAS PERAWAN
CERITA MESUM CERITA MESUM PELAJAR
CERITA NGENTOT CERITA PANAS CERITA PERAWAN
CERITA SEKS CERITA SEX CERITA SEX 2016
CERITA SEX ABG CERITA SEX BERGAMBAR
CERITA SEX SEDARAH CERITA SEX TERBARU
CERITA TERBARU INCEST NGENTOT ADIK KAKAK
PRIA HYPERSEX PRIA MANIAK SEX SUAMI HYPERSEX

0 Response to "Cerita Sex Enaknya Skandal Sex Keluargaku"

Post a Comment

Total Pageviews

Arsip Blog

findeen