web dewasa yangg berisikan cerita sex, cerita
nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa
”Cerita Dewasa Hot Ujung Ujungnya Ngesex –
Perkenalkan Nama Saya Bryan,umur saya 22 Tahun, yg
tinggal di kota Medan Ortu ku tinggal di luar pulau
karena Papaku bekerja di sebuah perusahaan
pertambangan milik asing disana, sedangkan aku sejak
kecil memang sengaja dititipkan pada kakek-nenekku
di kampung dan entah apa alasannya, yg jelas bukan
karena mereka tdk mampu mengurusku atau soal
materi. Apa yg diberikan oleh kedua ortu ku meski
memang melalui kakek-nenek justru berlebih jika
dibandingkan dgn teman-teman sebayaku. -cerita sex
abg- Meski begitu prestasiku dlm bidang pendidikan
bisa dibilang cukup bagus, kenyataannya aku bisa
diterima di salah satu SLTP Negri favorit di daerahku.
Cerita Dewasa Hot Ujung Ujungnya Ngesex
Cerita sex terbaru , Kebetulan Kakek-nenekku menikah
beda agama. Kakekku yg berasal dari desa adalah
seorang muslim yg taat, sedangkan nenekku yg masih
keturunan ningrat-belanda memeluk agama Katolik.
Meski keduanya sayang kepadaku tp aku justru lebih
dekat dgn kakek, dan yg jadi masalah adalah
pengetahuan agamaku yg kurang karena aku beragama
katolik sesuai dgn papa-mamaku.
Tak pernah sekalipun kakek mengajarkan tentang
agamanya meskipun kami begitu dekat, sedangkan jika
aku harus dekat dan belajar dgn nenek …. hihihihihi yg
ada aku selalu di marahi dan dituntut untuk menjadi
anak yg baik dan patuh dlm segi apapun degan cara
nenek yg otoriter bagai kompeni itu.-cerita sex hot-
Karna itulah aku selalu berlindung dibalik kakek, atau
jika keadaan terdesak dan kakek pun merasa perlu
menyerahkan aku pada nenek, aku lebih memilih kabur
hingga kakek dan nenekku bahkan sampai bingung
bagaimana aku bisa mendapatkan pemahaman agama
yg baik, karena dlm semua mata pelajaran di sekolah,
pelajaran agama adalah mata pelajaran yg paling jeblok
dlm raporku. Suster Elin guru agamaku terkadang
hampir habis kesabaranya saat mengajarku dlm kelas.
Pengetahuan agama yg kurang ditambah sikap dan
perilaku yg badung membuat beliau bahkan pernah
datang ke rumah dan membahas soal kenakalan dan
prestasiku yg jeblok di sekolah.
Suster Elin Op. beliau adalah seorang suster yg
bertugas di paroki dan juga mengajar agama Katolik di
sekolahku. Selain bekal pengetahuan agama yg kurang
dari rumah, sebenarnya beliau Suster Elin ini adalah
salah faktor yg membuat nilaiku justru jeblok di
sekolah.
Cerita mesum terbaru, Bagaimana tdk, setiap beliau
megajar bukan soal pelajaran yg aku serap, aku justru
sering melamun soal beliau. Jika boleh aku gambarkan
disini, beliau berasal dari NTT, dgn cirikhas orang timur
berkulit sawo matang, posturnya bisa dibilang
proporsional setdknya menurutku, tubuhnya ramping
meski tdk terlalu tinggi, lekuknya samar tercetak
dibalik baju keagamaan dgn ukuran pas badan, belum
lagi kedua matanya yg bening namun tajam yg kadang
menemaniku dlm khayalan saat beElinni baik saat di
rumah atau di toilet sekolah.
Terlebih jika beliau sedang menulis di papan tulis,
tangan kanannya yg terangkat karena papan tulis yg
terlalu tinggi dan tangan kirinnya yg memegang buku
panduan membuatku seolah ingin memeluknya dari
belakang, meremas toketnya sambil menggesek-
gesekkan kontolku di pantatnya yg kencang. kadang
sesekali kupejamkan mata ketika sedang menikmatinya,
hingga pada suatu hari …
“PLAAAAKKKKK…”
Cerita ngentot terbaru, Mataku terbelalak ketika Suster
Elin sdh ada di hadapanku sambil memegang penggaris
kayu besar yg tadi dipukulkannya di mejaku.
“Hei kamu Bryan, coba kamu jelaskan tentang Nabi
Musa seperti yg suster ajarkan barusan? ” Suster Elin
menatapku tajam seketika itu pula aku tertunduk,
meski dgn diselingi gerakan menggaruk-garuk kepalaku
sendiri.
“Anu suster …emmmm… anu …”
“matih aku ….” gumamku dlm hati. Dgn jumlah murid
yg sedikit dan suasana yg begitu hening saat Suster
menantikan jawabanku, membuatku tak berkutik untuk
meminta bantuan bisikan dari teman di dlm kelas
agama.
Beberapa menit aku tak kunjung mengeluarkan kata-
kata untuk menjelaskan kembali pelajaran yg baru saja
diajarkan Suster Elin.
“Sdh sana, kamu keluar dan tunggu di luar kelas”.
Dgn langkah gontai dan tanpa pembelaan akupun
berjalan keluar dan duduk di depan pintu ruang agama
Katolik. Bel pelajara berbunyi, aku masih tetap berada
di depan pintu ruang agama dan menunggu apa yg akan
terjadi selanjutnya. Kudgn doapenutup pelajaran agama
sdh selesai dan tak berapa saat suster Elin keluar
ruangan. Beliat menatapku dari kejauhan, namun saat
melintasiku suster berlalu dgn sikap dingin tanpa
menyapaku.
“Suster … suster …” aku berjalan mengejar beliau,
namun Suster Elin tetap tak bergeming hingga saat aku
beranikan diri untuk menyenuh lengan tangan
kanannya. Seketika Suster Elin menghentikan
langkahnya di lorong sekolah.
“Suster, Bryan minta maaf …. “
“Iya …” Suster Elin hanya mengeluarkan sepatah kata
dgn raut wajah yg dingin dan kembali lagi melanjutkan
langkahnya.
“Maafin Bryan suster … ?” aku masih terus mengejar
dgn kata-kataku.
“Bryan janji akan bersikap baik di kelas dan
memperhatikan pelajaran, tp suster maafin Bryan ya
…? Kalau perlu berikan hukuman atas kesalahan Bryan
…. ” Kali ini aku berdiri menghadang Suster Elin
hingga beliau berhenti dan kedua bola matanya yg
indah menatapku kembali dgn tajam.
“Baik jika itu permintaanmu, suster minta kamu datang
ke Susteran jam 4 sore dan sekarang kembalilah ke
kelasmu.”
“Terima kasih suster…” aku menundukkan kepala dan
menggeser tubuhku untuk membirikan jalan.”
Waktu sdh menunjukkan pukul 3 sore, dan aku
bergegas mandi, Setelah berpakaian rapi akupun
menstater sedan Toy*ta hatchback yg dititipkan papaku
di rumah kakek sepaket dgn aku. Meski belum cukup
umur dan papaku juga jauh di luar pulau, tp aku sdh
terbilang mahir membawa mobil berkat Om Agus adik
bungsu dari mamaku yg masih kuliah dan tinggal di
rumah kakek dan nenek.
Ahkirnya aku pun sampai di depan gerbang susteran.
Setelah mobil kutepikan aku mngetuk intu pagar besi
yg tertutup rapat dan tak lama keluarlah Suster Elin.
“Eh kamu Bryan, silahkan masuk ,”
“Dianter siapa Bryan.. ?” Suster Elin bertanya sambil
bahasa tubuhnya seolah menanyakan siapa yg
menungguku di dlm mobil.
“Saya sendiri suster…”
“Kamu sendiriaan?? Nyetir mobil itu…???” diikuti dgn
tarikan nafas panjang dan gelengan kepala.
“Iya suster…. ” jawabku singkat dgn perasaan sedikit
bangga namun tetap menunjukan mimik cemas akan
reaksi suster Elin selanjutnya.
“Apa orang tua kamu mengijinkan?”
“Papa dan mama di luar pulau suster, Bryan dari kecil
…. bla … bla … ” ahkirnya sore itu suster Elin tahu
tentang keadaanku yg sebenarnya, bahkan raut
wajahnya yg biasanya datar pun kulihat berubah
menunjukan rasa trenyuh dgn keadaanku.
Kami berdua sdh duduk di sebuah bangku panjang
ruang tamu susteran sambil aku menceritakan kondisi
kehidupanku, dan perlahan suasana semakin mencair,
apalagi kondisi susteran saat itu sedang sepi, hanya
ada aku dan suster Elin.
Belakangan aku tahu juga bahwa tempat itu hanya
ditinggali oleh 3 orang suster diantaranya adalah
suster Dominika, suster Gema dan Suster Elin, mereka
punya kesibukannya masing-masing. Suster Dominika
yg seorang Kepala Sekolah SMA yayasan Katolik lebih
banyak menghabiskan waktu di sekolah selain
melakukan pelayanan gereja atau berkunjung ke
rumah-rumah umat di lingkungan paroki.
Suster Gema yg sdh berumur pun tak kalah sibuk
memberikan pelayanan gereja, pelayanan umat, dan
sering melakukan ziarah ke tempat-tempat yg
disucikan oleh umat Katolik baik di dlm maupun luar
kota karena diminta umat untuk menjadi pembimbing
rohani. Sedangkan suster Elin yg lebih banyak tinggal
di susteran bisa disebut masih baru di lingkungan
paroki kami. Tugas pokok suster Elin selain melayani
gereja adalah sebagai guru agama di sekolahku. Yah,
selain belum lama ditugaskan di paroki ini suster Elin
juga tdk memiliki sepeda motor seperti Suster
Dominika dlm beraktifitas,nhanya kegiatan yg benar
dirasa perlu saja yg bisa dihadiri olehnya sehingga
praktis beliau lebih banyak tinggal sendirian di
susteran.
“Kasihan kamu Bryan … kamu pasti sangat merindukan
orangtuamu ya …?” suster Elin mendekatkan dirinya
dgn posisi tubuh yg mengarah padaku sambil
mengusapkan tangannya di rambutku.
“eh… oh, iya suster ….” aku menjawab sekenanya
karena belaian tangan suster di kepalaku saat itu
membuat tubuhku tiba-tiba merinding seperti
tersengat listrik meski hanya hitungan detik.
Aku refleks melihat wajah suster Elin yg saat itu duduk
disampingku, ingin rasanya kudekatkan wajahku dan
mencium bibir tipisnya, arrrghhh ….
Suster Elin kemudian menarik tangannya dari kepalaku
dan merubah posisi duduknya sambil menghela nafas
panjang. Kepalanya menengadah keatas cukup lama
dan saat itu pula kulihat matanya berkaca-kaca.
“suster kenapa? apa perkataan Bryan ada yg salah…?
“Enggak kok Bryan, gak ada yg salah … ” Suster Elin
menjawab sambil menyeka air mata yg menetes di
sudut matanya dgn jari.
“Suster hanya …. ” suster Elin menghentikan kata-
katanya sambil menarik nafas dlm-dlm.
“Bryan minta maaf kalau Bryan salah, maaf sdh bikin
suster sedih dgn cerita Bryan…”
“Enggak Bryan, kamu gak salah …. Suster sedih karena
teringat orang tua di NTT ..” “Saat ini Ibu suster
sedang sakit parah dan dirawat di rumah sakit ….”
“owh … maaf suster, Bryan gak tahu …”
“Suster ingin sekali bisa pulang tp suster belum bisa
….”
“Sabar ya suster ….” entah kenapa aku tiba-tiba berani
meraih dan menggenggam tangan suster Elin.
“Yg penting sekarang kita doakan ibu suster agar
kondisinya semakin membaik, kita doakan juga
saudara-saudara disana agar senantiasa diberikan
ketabahan dan kekuatan dlm merawat ibu suster….”.
Ya …. sekali lagi anehnya aku bisa dgn luwes
melontarkan kata-kata untuk menenangkan hati suster
Elin saat itu.
Seketika itu pula suster Elin melepaskan tangannya
dari genggamanku dan memelukku dari samping dgn
erat.
“Terima kasih Bryan …. kamu baik sekali …. selama ini
suster sdh salah menilaimu …”
W.O.W … Jantungku serasa berhenti berdetak ketika
payudara suster Elin menempel di lenganku, meski
memang saat itu masih terhalang oleh baju yg kami
kenakan. Rasa empati yg ada dlm diriku berubah
drastis menjadi nafsu yg berkobar saat gundukan
kenyal yg samar tergambar dlm otakku, tonjolan bulat
berukuran sedang namun padat dan kencang itu lembut
menekan lengan kiriku. Dlm hitungan detik suster Elin
sdh melepaskan pelukannya saat aku masih berusaha
untuk menikmatinya.
“Maaf Bryan … ” suster Elin terbata-bata dan kembali
memperbaiki posisi duduknya.
“Tdk apa apa suster … ” meski sebenarnya aku sanga
bersedia memberikan tubuhku sebagai tempat
pelampiasan emosinya … huft …
Cerita sex hot, Kami berdua sama-sama terdiam, entah
apa yg ada di pikiran suster saat itu namun dlm
benakku hanyalah kelembutan payudaranya yg masih
saja terngiang.
“Sebaiknya sekarang kamu pulang Bryan …” suster Elin
memulai kembali pembiciraan kami.
“Lalu hukuman atas keslahan Bryan di kelas …?”
“hukuman? … emmm … tdk ada hukuman buat kamu
Bryan … suster hanya minta agar kamu lebih
konsentrasi dan bersungguh-sungguh dlm belajar …
dan sekarang suster ingin berdoa sendiri untuk
kesembuhan ibu …”
“Baik suster, kalau begitu Bryan pamit …”
“Terima kasih Bryan, berhati-hatilah di jalan …”
Aku menganggukkan kepala dan membalikan badan
menuju pintu keluar..
“Bryan … ” suster Elin berjalan mengikutiku keluar
“Tolong jgn ceritakan kejadian tadi pada siapapun.”
“Dan satu lagi, kapanpun kamu mau, kamu boleh
datang kesini….”
“Baik suster, Bryan pamit …”
Semenjak saat itu hubunganku dgn suster Elin semakin
membaik, di kemudian hari saat aku berpamitan pada
kakek nenek untuk berkunjung ke susteran, justru
nenek acapkali menitipkan makanan atau lauk pauk
untuk para suster disana. Memang hal ini tak lazim jika
dilakukan oleh remaja khususnya cowok seumuranku,
Aku tak peduli, berbagai alasan kugunakan agar aku
bisa selalu dekat dgn suster kesayanganku itu.
Mulai dari mendapatkan hukuman, pendlman imanku,
atau alasan memberikan pelayanan dan pengabdian
pada gereja, (gereja dlm arti luas). Begitu pula dgn
suster Elin, aku yakin beliau pasti melakukan hal yg
samai pada suster lainya, lingkungan atau umat yg
mungkin melihatku mondar-mandir di susteran itu.
Memang tak sering dan tak banyak yg bisa kulakukan
disana, misalnya seperti membersihkan halaman
susteran, menyapu dan mengepel lantai atau
berkonsultasi mengenai masalah keagamaan dan semua
itu kulakukan dgn tanpa terpaksa.
Hubungan yg aneh … tp entah kenapa masih saja
kujalani dan begitupun kurasakan dgn suster Elin.
Hubungan kami tak lagi seperti seorang murid kepada
gurunya atau seorang rohaniawan dgn umatnya. Kami
sdh seperti sahabat, bahkan seperti sepesang remaja
yg menyimpan perasaan satu sama lain, untukku
memang hal ini berlaku namun bagi suster Elin?
Apakah perasaanku ini juga sama dirasakannya?
Hingga pada suatu waktu;
“Bryan, anterin suster ke goa tritis yuk …?
“hmmm … boleh suster, memang ada acara apa
disana..?
“tdk ada acara khusus, suster hanya ingin ziarah dan
melakukan doa pribadi saja …”
Hari minggu ahkirnya kami sepakati untuk berangkat
ziarah. Rencananya memang sepulang dari misa di
gereja langsung bertolak ke tempat ziarah, namun
karena awal musim hujan yg membuat cuaca jadi
kurang bisa ditenukan … Terkadang hujan tiba-tiba
datang dan berhenti tanpa bisa dikehendaki, sama
seperti pada hari itu… Sedari pagi hujan mengguyur
kota kami, meskipun tdk terlalu lebat namun
berlangsung cukup lama. Kami bahkan sdh berencana
membatalkan tujuan saat itu, sekali lagi entah kenapa
sepertinya rasa yg menggebu membuat aku dan suster
Elin tetap berangkat kesana saat hujan mulai reda.
Toyota Starlet yg kukendarai sdh sampai di area parkir
goa tritis. Meski bigeti perjalanan belum selesai karena
memang untuk mencapai tempat itu harus dilanjutkan
dgn berjalan kaki melalui jalan setapak terjal dan naik
turun perbukitan.
DI perjalanan, aku bak seorang pangeran yg sedang
menikmati keindahan alam bersama seorang putri yg
cantik jelita saat itu. Betapa tdk, nanyian merdu suara
alam seolah mengiringi perjalanan kami melintasi jalan
bebatuan yg terjal dan licin di tempat itu. Sesekali aku
dgn sigap meraih tangan suster Elin yg kesulitan
melangkahkan kaki di bebatuan terjal atau tanjakan
curam, bahkan kami sempat beberapa kali terbawa
suasana hingga lupa melepaskan tangan. Nafsu birahi
yg biasanya memuncak saat membayangkan suster Elin
menemaniku beElinni, kini ditambahi dgn perasaan
aneh yg belum pernah aku rasakan. Detak jantung yg
bedegup semakin kencang dan nafasku pun tak
beraturan … Apakah ini yg dinamakan dgn cinta?
Sampai di goa tritis kulihat masih ada beberapa
pengunjung yg melakukan doa disana. Tak ketinggalan
kamipun berdoa bersama, meskipun kemudian suster
Elin mempersilahkan aku untuk menunggunya sebentar
karena beliau ingin memanjatkan doa-doa khususnya
secara pribadi.
Aku berjalan-jalan mengitari mulut goa sambil
menyalakan sebatang rokok sambil menunggu suster
Elin selesai dgn doanya. Suster Elin memang tahu
kalau aku merokok namun beliau tdk pernah lagi
memarahiku, hanya terkadang menasehatiku akan
bahaya rokok, atau soal uang pembelian rokok yg lebih
baik kutabung . Hubungan kami benar-benar sdh
sampai pada titik dimana kami bisa menerima
kekurangan masing-masing.
Hari sdh semakin sore dan rintik hujan sdh mulai turun,
aku bergegas memperingatkan suster Elin untuk
segera menyelesaikan doaya da turun dari bukit. Hanya
kami berdua yg basih ada di dlm goa dan kami
putuskan untuk segera pulang. Hujan yg semakin deras
memaksa kami harus berdekapan dibawah payung lipat
yg sdh disiapkan oleh suster Elin. Seharusnya aku bisa
menikmati ini, namun hujan yg semakin deras
memaksaku untuk lebih berkonsentrasi dgn jalanan yg
tdk bersahabat hingga kuputuskan untuk berteduh di
sebuah aula tak jauh dari goa itu. Suasana yg sunyi
ditambah hembusan angin yg kencang menerpa tubuh
kami yg sedikit basah terkena hujan, membuat kami
berdiri berhimpitan di teras aula itu.
“Sebaiknya kita berteduh sambil menunggu hujan
mereda …” aku mencoba memcah keheningan saat itu.
“Iya Bryan …brrr ….” Suster Elin mejawab dgn
menggigil dgn tangan yg disilangka seolah menciba
menghangatkan tubuhnya sendiri.
Secara refleks kutelusupkan tangan kananku diantara
punggung suster Elin dgn dinding aula yg dingin.
Kugenggam tangan kanannya dan kuelus perlahan
sembari berkata …
“Maaf suster, Bryana gak tega melihat suster
kedinginan….”
Suster Elin tdk merespon kata-kataku, hanya kulihat
mataya mengerling kepadaku. Suster Elin hanya
menatap kedepan, sesekali meringkuk menundukkan
kepala menaha dingin yg menerpa kami sore itu. Ingin
rasanya kudekatkan wajahku dan kukecup pipinya,
namun saat itu aku masih ragu-ragu. Hingga aku sdh
merasa tak kuasa mengungkapkan peasaanku
kepadanya… “
“Suster … Bryan sayang sama suster ….”
Suster Elin memalingkan wajahnya kearahku, namun
beliau hanya diam saat bertatapan dlm jarak yg sangat
dekat.
“Aku juga sayang sama Bryan ….”. Selang beberapa
saat suster Elin membuka bibirnya, meski saat itu ia
menundukan kepalanya saat mengungkapkan rasa
sayangnya kepadaku.
Bagai melayg diudara saat itu, entah hujan atau
gondoruwo penunggu bukit inipun seolah akan mampu
aku hadapi nanti, yg penting saat ini aku bisa berlama-
lama dgn kekasih hatiku ….
“Terima kasih suster …” aku mengusap lengan
kanannya dan sesekali kuremas lembut.
Kami berdua larut dlm suasa hening, jantungku
berdesir seolah sedang bermain trampolin di dlm
tubuhku. Sesekali kami salig bertatapan kemudian
memalingkan muka. Hingga kuberanikan diri
mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya. Suser
Elin tak menolak, namun ia hanya menundukkan
kepalanya. Aku semakin berani dan kubuah posisiku
hingga kami saling berhadapan. Suster Elin menatapku
dan kami kembali saling berciuman.
Kali ini suster Elin mencoba membalas ciuamku, bibir
kami saling berpagutan seolah ingin saling menunjukan
kedlman cinta kami satu-sama lain. Aku yg memang
sdh terbiasa bermain cinta dgn pacar-pacarku,
ditambah dgn referensi film biru yg sering kutonton,
membuatku tak puas dgn hal itu. Kontolku yg sdh
tegang saat kami saling berpelukan dibawah payung,
menjadi semakin besar dan mengeras mendesak suster
Elin. Kuusapkan tanganku di punggungnya sambil kami
tetap saling berpagutan, sesekali kuturunka hingga
mengenai pantatnya yg memang benar kencang seperti
bayanganku selama ini. Sampai hinga saat aku hendak
menyingkapka roknya, suster Elin melepaskan
ciumannya dan kemudian mendorongku agar menjauh.
“Jgn Bryan … kita sdh terlalu jauh …. Dan aku rasa
kita sdh sangat salah dan berdosa…”
Emosiku bergejolak saat itu, akal sehatku justru
semakin hilang saat kudengar kata-kata suster Elin itu.
“Tp suster … Bryan benar-benar sayang sama
suster…”
“aku tahu, dan aku juga sayang sama Bryan … tp …”
Aku berjalan mendekat dan kupeluk suster Elin ….
“Ijinka Bryan menunjukan rasa sayang Bryan, setdknya
untuk sekali ini saja …” entah setan apa yg merasukiku
sehingga kata-kata itu tiba-tiba kubisikan di telinga
suster Elin.
Mata kami kembali beradu seketika bibir kami pun juga
kembali berpagutan.
Kutarik tangan kanan suster Elin yg masih terasa ragu
menelusup kedlm celana jeansku, masih terasa susah
karena kami juga masih menikmati lidah kami yg juga
saling beradu. Dgn sigap kubuka kancing dan retsliting
celanaku hingga kontolku pun terbebas mengacung
meski masih dlm gengaman suster Elin. Kubimbing
tangannya untuk mengocok kontolku yg besar dan
panjang itu.
Aku masih berkonsentrasi dgn bibirnya, sesekali
kuremas payudaranya dari luar bajunya. Hingga saat
kocokan tangannya kurasakan semakin berirama,
kutekan kedua bahunya kebawah. Suster Elin
sepertinya sdh sedikit paham dgn maksudku. Ia sdh
dlm posisi berlutut dan dihadapannya sdh mengacung
kontolku yg tegak mengacung, kepalanya menengadah
dan kedoa bola matanya menatapku dlm-dlm.
Tanpa kata-kata seolah Ia tahu apa yg harus dikerjakan
saat kugerakkan pantatku perlahan hingga ujung
kontolku menyentuh bibirnya. Bibirnya yg tipis perlahan
terbuka seolah mempersilahkan kontolku merasakan
kehangatan mulutnya. Perlahan kepalanya mulai
bergerak maju-mundur dgn penuh perasaan,
“plop…flop… slrph…’’’
“terus suster … terus sayang …” aku meracau
sekenanya sementara sesekali kulihat suster
kesayanganku sdh mulai mahir memijaat kontol
besarku dgn mulutnya .
“Pelan sayang …” aku bahkan memintanya untuk
mengulum penisku perlahan, karena saat itu aku
merasa akan segera mencapai puncaknya.
“Creett … Creett …Creett … Creett …”
“Arggghhhhgh ..hueks … aaaahhhhhhhhh ….” suster
Elin terkejut dan seketka melepaskan kontolku keluar
dari mulutnya.
Spermaku pun berjauhan saat ia membuka mulutnya yg
kutembakan beberapa kali bahkan saat ia mencoba
melepaskan kontolku justru tembakan yg tersisa
mengenai pipinya.
“Bryan … kamu jahat …”
Aku mendekap tubuh kekasihku itu dan kukecup
keningnya, kamipun kembali berpelukan sambil
menunggu hujan reda di tengah hutan itu.Cerita sex,
cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa
”Cerita Dewasa Hot Ujung Ujungnya Ngesex
Tagged with: CERITA ABG MESUM CERITA ABG SANGE
CERITA BOKEP CERITA DEWASA CERITA DEWASA SUSTER
CERITA LEPAS PERAWAN CERITA MESUM
CERITA MESUM PELAJAR CERITA MESUM SUSTER
CERITA NGENTOT CERITA NGENTOT SUSTER
CERITA PANAS CERITA PERAWAN CERITA SEKS
CERITA SEX CERITA SEX 2016 CERITA SEX ABG
CERITA SEX BERGAMBAR CERITA SEX SUSTER
CERITA SEX TERBARU SUSTER HYPERSEX
SUSTER LESBIAN SUSTER MANIAK SEX
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Cerita Dewasa Pengalaman Nikmat Bersama Suster Cantik"
Post a Comment