Cerita Dewasa Hot Tante Sudah Sange Berat

Cerita Sex,
Cerita Dewasa, Cerita Mesum, Cerita Sex Terbaru,
Cerita Lesby, Cerita Gay, Cerita Pemerkosaan, Cerita
Sex Tante Girang, Cerita Ngentot Terbaru, Cerita
Ngentot ABG, Cerita Selingkuh, Cerita Sex Perawan”.
Kisahku dengan Tante Mira terus berlanjut dengan
gaya permainan cinta yang semakin seru karena baik
Tante Mira maupun aku saling mengeluarkan fantasi
masing-masing (akan saya ceritakan lain waktu), hingga
pada suatu saat Tante Mira mengenalkan salah satu
temannya yang kebetulan ketemu disebuah restoran
dimall daerah jakarta pusat. Sebut saja dia Tante
Yohana, dia juga wanita chinese yang berumur hampir
50, sebaya dengan Tante Mira hanya beda 1 atau 2
tahun saja yang sudah ditinggal suaminya karena
wanita lain. Postur tubuhnya juga tidak jauh dengan
Tante Mira, agak gemuk hanya saja Tante Yohana lebih
pendek dari Tante Mira dan wajahnya juga lebih
kelihatan tua karena tampak kerutan-kerutan
diwajahnya mungkin terlalu banyak pikiran.
Waktu itu dia sedang jalan sendirian akan makan dan
kebetulan ketemu dengan kami yang akhirnya dia
diajak bergabung oleh Tante Mira, dan aku dikenalkan
oleh Tante Mira kepadanya sebagai keponakan jauhnya.
Setelah makan kami melanjutkan perbincangan sambil
jalan melihat-lihat barang di toko-toko yang ada dimall
itu. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka berdua
secara bisik-bisik karena aku lihat lirikan Tante Yohana
yang melihat aku sambil senyum-senyum, dan setelah
itu dia sering mencuri-curi pandang melihatku. Setelah
lelah jalan-jalan dan hari mulai sore Tante Yohana
akhirnya pulang.
“Oke, Mir. Aku pulang dulu ya, hampir sore nih. Sampai
ketemu lagi Ferry” kata Tante Yohana sambil
tersenyum penuh arti kepadaku yang membuat aku
tambah bingung dan dia melenggang menuju carcall
untuk memanggil sopirnya.
Sepeninggal Tante Yohana kami menuju food court
untuk membeli minum dan istirahat.
“Fer, menurut kamu Tante Yo gimana?” tanye Tante
Mira padaku setelah membeli minum dan duduk
ditempat yang agak memojok dan meminum
minumannya.
“Mmm.. gimana apanya Tante?” jawabku bingung
mendengar pertanyaan Tante Mira sambil menyedot
minuman ringan yang aku pesan.
“Ah kamu ini, pura-pura nggak ngerti apa emang nggak
ngerti? Ya sifat orangnyalah, bodynyalah, facenyalah
dan lain-lainnyalah” jawab Tante Mira agak sewot.
“Oo, kalo sifatnya sih saya belum tau bener, kan baru
sekali ketemu, tapi keliatannya orangnya baik dan
ramah, terus kalo face dan bodinya mm.. biasa-biasa
aja tuh” jawabku sambil tersenyum.
“Emang kenapa Tante, kok Tante tanya gitu? Bikin aku
bingung aja. Terus tadi ngomongin apa sih? Kok pake
bisik-bisik terus Tante Yohana jadi aneh sikapnya”
tanyaku pada Tante Mira.
“Fer, kamu tahukan kalo Tante Yo itu sudah lama hidup
sendiri sejak pisah sama suaminya. Nah tadi waktu
Tante Yo lihat kamu dia langsung tertarik sama kamu,
dan dia nanyain tentang kamu terus ke Tante sebab dia
nggak percaya kalo kamu itu keponakan jauh Tante,
jadi Tante terpaksa cerita dech kedia siapa kamu
sebenernya. Kamu jangan marah ya, abis Tante Yo itu
suka maksa kalo keinginannya belum kesampaian”
jawab Tante Mira.
“Terus.. mm.. dia pengen sama kamu Fer.. gimana?
Kamu mau nggak?” tanya Tante Mira dengan wajah
serius.
“Wah gimana ya, repot juga nich kalo sampai dia
ngomong-ngomong ke orang lain, bisa tercemar nama
Tante. Kalo menurut Tante dia bisa jaga rahasia kita
dengan cara gitu ya sudah, saya akan layani dia”
jawabku serius juga.
“Tapi nanti kamu jangan lupain Tante ya kalo sudah
dekat sama dia” kata Tante Mira was-was.
“Ah Tante ini ada-ada saja, nggak mungkinlah saya lupa
sama Tante, sayakan kenal Tante dulu baru Tante Yo”
jawabku menghibur Tante Mira yang terlihat agak sedih
dari ekspresi mukanya.
“Yah.. sapa tahu kamu bisa dapet lebih dari Tante Yo
dan lupain Tante deh” katanya lagi sambil
menghembuskan nafas.
“Jangan kuatir Tante, saya bukan tipe orang yang
gampang ngelupain jasa baik orang kepada saya, jadi
Tante tenang saja” jawabku kemudian.
“Okelah kalo gitu nanti Tante hubungi Tante Yo, biar
dia nanti hubungi kamu” kata Tante Mira kemudian.
Setelah itu Tante Mira lebih banyak diam entah apa
yang ada dalam pikirannya dan tak lama kemudian
kamipun pulang.
Malamnya Tante Yo menghubungi aku lewat telepon.
“Hallo Ferry, ini Tante Yo masih ingatkan?” tanya Tante
Yo dari seberang.
“O iya masih, kan baru tadi siang ketemu, ada apa
Tante?” jawabku sambil bertanya.
“Tadi Tante Mira sudah cerita belum sama kamu
tentang Tante?” tanyanya lagi.
“Sudah sih, mm.. memang Tante serius?” tanyaku lagi
pada Tante Yo.
“Serius dong, gimana kamu okekan?” tanya Tante Yo
lagi.
“Kalo gitu oke dech” jawabku singkat.
Lalu kami bercakap-cakap sebentar dan kami akhirnya
kami janjian besok pagi dilobby hotel “XX” didaerah
jakarta barat dan dia akan datang lebih awal karena
akan check-in dulu, setelah itu teleponpun ditutup.
Keesokannya seperti biasa aku memakai baju rapi
seperti orang kerja supaya tidak terlalu menyolok dan
aku menunggu di lobby hotel tersebut karena aku juga
datang lebih awal, tak lama aku menunggu teleponku
berdering.
“Hallo Ferry, ini Tante Yo. Tante sudah ada diatas,
kamu langsung naik aja di kamar 888 oke? Tante
tunggu ya” kata Tante Yomemberitahukan kamarnya.
“Oke Tante saya segera kesana, saya juga sudah di
lobby” jawabku singkat dan menutup pembicaraan.
Setelah mematikan teleponku agar tidak diganggu, aku
naik lift menuju kamar Tante Yo. Sampai didepan pintu
kutekan bel dan Tante Yo membukakan pintu.
“Ayo masuk, udah daritadi Tante sampai dan langsung
check-in. O ya, kamu mau minum atau mau pesan
makan apa? tadi sih Tante sudah pesan makan dan
minum untuk dua orang, tapi kalau kamu mau pesan
yang lain pesan saja, jadi sekalian nanti diantarnya”
kata Tante Yo sambil mempersilahkan aku masuk dan
menutup pintu.
“Yah sudah kalau Tante sudah pesan, nggak usah pesan
lagi, nanti kebanyakan makanan malah bingung”
jawabku.
“Kok bingung kan buat gantiin tenaga kamu he he he”
jawab Tante Yo bercanda.
Kemudian Tante Yo duduk di sofa besar yang ada
didalam kamar itu dan aku duduk di sebelahnya, kami
berbincang-bincang sambil menonton TV lalu aku
mendekati Tante Yo dan memeluk pundaknya,
kemudian Tante Yo merebahkan kepalanya kepundakku,
kubelai rambutnya dan kukecup kening Tante Yo.
“Mmm.. kamu romantis ya Fer, pantes Mira suka sama
kamu. hh.. sudah lama Tante nggak merasakan suasana
romantis seperti ini” kata Tante Yo sambil
menghembuskan nafas.
“Ya sudahlah Tante, yang penting hari ini Tante akan
merasakan hangat dan romantisnya cinta, karena hari
ini aku milik Tante sepenuhnya” jawabku menghibur dia
sambil kukecup lagi keningnya.
Tante Yo menatapku sendu sambil tersenyum.
“Terima kasih sayang” kata Tante Yo.
Dan kutatap matanya yang sendu dalam-dalam lalu
kukecup bibirnya.
Kecupanku dibibirnya perlahan berubah menjadi ciuman
lembut yang dibalas Tante Yo dengan lembut juga,
sepertinya Tante Yo benar-benar ingin merasakan
nikmatnya berciuman yang sudah lama tidak
dirasakannya. Kami saling cium, saling kulum, dan
saling memainkan lidah kemulut pasangan kami.
Kugelitik lidah Tante Yo dengan lidahku dan kusapu
langit-langit mulutnya sambil kupeluk tubuhnya dan
kuraba wajah dan tengkuk serta lehernya dengan
tanganku yang lainnya.
“Ahh sayang, aku suka sekali ciuman kamu, mm..
ciuman kamu lebut dan merangsang, mm.. kamu
memang pintar berciuman, ahh.. ayo sayang beri Tante
yang lebih dari ini” kata Tante Yo disela-sela ciuman
kami dan berciuman lagi.
Tanganku mulai bergerak meremas kedua payudara
milik Tante Yo bergantian. Tapi aksi kami terganggu
oleh pelayan yang mengantar makanan yang dipesan
oleh Tante Yo. Setelah pelayan keluar dan Tante Yo
memberikan tip, tiba-tiba Tante Yo menabrak aku dan
mendorong aku hingga terjatuh diatas tempat tidur dan
dengan buas dia langsung memelorotkan celana dan
celana dalamku, hingga penisku yang masih tidur
terbebas dari sarangnya dan langsung diterkam
olehnya. Disedot, dikulum dan digigitnya penisku yang
mulai bangkit dengan napsu dan buas, dan kedua
tangannya tak henti-henti mengocok dan memainkan
kedua bolaku.
“Ahh Tante.. pelan-pelan Tante.. ahh.. enak sekali
Tante.. ohh” desahku menahan nikmat yang diberikan
oleh Tante Yo padaku.
Tanganku hanya bisa meremas rambut Tante Yo dan
seprei kasur yang sudah mulai berantakan, tak lama
kemudian kulepaskan kepala Tante Yo dari penisku,
kuangkat Tante Yo dan kurebahkan dikasur.
“Sekarang giliranku, Tante diam saja dan nikmati
permainan ini ya” kataku sambil mengecup bibir Tante
Yo dan mulai mencumbu Tante Yo sementara Tante Yo
hanya diam saja sambil menatapku dengan sendu.
Kumulai cumbuanku dengan menciumi bibirnya dan
perlahan turun kelehernya sambil kubuka kancing baju
Tante Yo satu persatu sambil terus turun kedadanya.
Setelah kancing bajunya terbukan semua, kuraih
pengait BH yang ada dibelakang dan kubuka sehingga
ikatan BHnya terbuka dan ku lepaskan BH Tante Yo
lewat kedua tangannya tanpa melepas baju Tante Yo,
setelah lepas langsung kuciumi kedua payudara Tante
Yo, kuciumi seluruhnya kecuali putingnya yang sudah
berdiri mengacung minta dikulum tapi tidak pernah
kukulum, setiap kali ciuman dan jilatanku sudah dekat
dengan putingnya ciuman dan jilatanku turun lagi
kepangkal payudaranya dan terus turun sampai ke
perut dan bermain-main dipusar sambil kujilati lubang
pusar Tante Yo lalu naik lagi terus berulangkali,
kusingkap rok yang dipakai oleh Tante Yo kemudian
tanganku mulai bekerja meraba-raba paha dan lutut
Tante Yo lalu mulai melepaskan celana dalam yang
dipakai oleh Tante Yo.
Ketika permainan mulutku mencapai perutnya kutarik
celana dalam Tante Yo, dan Tante Yo mengangkat
pantatnya sehingga celana dalamnya dengan mudah
lepas dari tempatnya. Kupelorotkan celana dalam Tante
Yo sampai sebatas lutut lalu ciumanku naik lagi kearah
payudaranya, dan ketika jilatanku mendekati puting
Tante Yo tangankupun mendekati vagina Tante Yo dan
ketika bibir dan lidahku mulai memainkan puting Tante
Yo tangan dan jari-jariku juga mulai bermain dibibir
vagina Tante Yo yang ternyata sudah basah. Ketika
kukulum puting Tante Yo yang sudah berdiri dari tadi
kumainkan juga kelentitnya dengan jari-jari tanganku
yang seketika itu juga membuat tubuh Tante Yo
melengkung keatas.
“Akhh.. Ferry.. kamu benar-benar gila sayang, kamu
kejam sekali mempermainkan Tante.. akhh.. ferry enak
sekali sayang.. akhh.. gila.. kamu bener-bener gila
sayang” teriak Tante Yo histeris sambil tangannya
meremas seprei dan rambut kepalaku bergantian.
Tak kuhiraukan teriakan Tante Yo dan aku terus
mengulum kedua puting dan menjilati kedua payudara
Tante Yo bergantian. Tak lama kemudian kurasakan
vagina Tante Yo bertambah basah dan tubuhnya mulai
bergetar keras yang disertai erangan-erangan, akhirnya
Tante Yo mendapatkan orgasme pertamanya.
Pada saat tubuhnya mulai tenang, kulepaskan
cumbuanku di payudaranya dan langsung kuangkat
kedua kakinya sehingga kepalaku dengan mudah
menuju kevaginanya dan langsung kujilat dan kukulum
serta kusedot-sedot vagina dan kelentit Tante Yo.
“Akhh.. ahh.. gila.. ini namanya penyiksaan
kenikmatan.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh..
aku nggak kuat lagi sayang.. ahh.. terus sedot yang
kuat sayang.. ahh.. tusuk dengan jarimu sayang.. ahh..
tusuk yang kuat.. ahh sayang.. Tante mau.. ahh.. mau
dapet lagi sayang.. ahh.. kamu benar-benar gila” teriak
Tante Yo histeris memohon, lalu tubuhnya mulai
bergetar lagi merasakan orgasme kedua yang datang
menghampirinya.
Kuturuti permintaanya dengan menusukan jariku dan
kumainkan jariku dengan menyentuhkan jariku
kedinding vaginanya yang berkedut-kedut sambil terus
bibir dan lidahku memainkan perannya dikelentit Tante
Yo. Tubuh Tante Yo bergetar keras dan pinggulnya
bergoyang-goyang mengikuti irama tusukan jariku
sambil tak henti-hentinya menjerit-jerit histeris sambil
kedua tangannya meremas dan menjambak-jambak
rambutku.
“Ahh.. Ferryy.. sayang.. ahh.. enak sayang.. ahh.. sodok
yang keras sayang.. ahh.. sedot itilku yang kuat.. ahh..
yang kuatt.. ” jerit histeris Tante Yo mengantar
orgasmenya yang kedua itu.
Dan ketika tubuh Tante Yo sudah hampir tenang lagi,
kuhentikan juga semua aktivitasku dan kulepas celana
dalam Tante Yo yang masih sebatas lulut sehingga
lepas semua, lalu kuatur posisiku dan kutusukkan
penisku kedalam lubang vagina Tante Yo.
“Okhh.. jangan dulu sayang.. jangan.. ahh.. stop
sayang.. stop.. biar Tante istirahat dulu” pinta Tante Yo
padaku, tapi aku tidak menghiraukan permintaanya
sambil terus kutusukan penisku sampai masuk
seluruhnya dan mulai kugoyang, kuputar dan kukocok
penisku dalam vagina Tante Yo.
Tak lama kemudian kuangkat tubuh Tante Yo hingga
posisi Tante Yo kini dalam pangkuanku, dan dalam
posisi Tante Yo sedang menaik turunkan pantat dan
menggoyangkan pinggulnya kulepas baju Tante Yo yang
masih melekat dan kulemparkan entah kemana lalu
kubuka pengait dan resleting rok Tante Yo dan kulepas
rok Tante Yo dari atas dan kulemparkan juga entah
kemana hingga kini tidak ada selembar benangpun yang
menempel ditubuh Tante Yo lalu akupun melepaskan
bajuku sendiri dan kulemparkan sembarangan. Setelah
melepaskan baju mulai kuputar-putar pantatku hingga
penisku lebih menggesek dinding vagina Tante Yo.
“Akhh.. sayang.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh..
kamu.. ahh.. kamu memang gila.. ohh.. penis kamu
benar-benar.. ahh.. kamu pintar sekali sayang.. pintar
dan gila.. ahh.. Tante mau.. ahh.. mau keluar lagi.. ahh..
Tante nggak kuat lagi sayang.. ahh” jerit Tante Yo
histeris dan tubuhnya mulai bergetar mendapat
orgasmenya yang ketiga, kurasakan cairan diliang
vagina Tante Yo bertambah banyak dan kurasakan juga
kedutan-kedutan dari dinding vagina Tante Yo.
Lalu kurebahkan tubuh Tante Yo dan terus kugenjot
penisku didalamnya yang sekali-kali kuputar-putar
pinggulku, tubuh Tante Yo tambah bergetar dengan
kencang, goyangan dan kocokan penisku juga tambah
kencang, lalu kumainkan tanganku dikelentitnya sambil
kurebahkan kepalaku kedadanya dan kusedot dan
kukulum dengan kuat juga kedua puting Tante Yo
bergantian dan kedutan-kedutan dinding vagina Tante
Yo juga bertambah kuat sehingga penisku merasakan
sensasi yang membuat aku merasakan sesuatu yang
akan segera meledak keluar.
“Akh.. Tante aku mau keluar Tante.. akhh.. aku keluar
Tante” kataku disela-sela kuluman mulutku diputingnya
sambil terus mengocok penisku dengan cepat dan kuat
dalam liang vagina Tante Yo.
“Ahh.. iya sayang.. ahh.. keluarkan saja.. ahh.. Tante
juga.. ahh.. sudah nggak kuat lagi.. ahh” teriak Tante
Yo dan memelukku dengan erat sambil tubuhnya terus
bergetar, kurasakan kuku-kukunya mencakar
punggungku.
Lalu meledaklah cairan kenikmatan yang kukeluarkan
dalam vagina Tante Yo yang sudah basah sehingga
bertambah basah lagi, ketika kenikmatanku meledak
dan tubuhku bergetar kenikmatan kukocok dengan
keras dan kuat penisku dalam vagina Tante Yo sehingga
ada cairan yang keluar dari dalam vagina Tante Yo yang
kurasakan dari tanganku yang basah karena masih
memainkan kelentit Tante Yo. Tubuh kami sama-sama
bergetar dengan kencang, keringat kami bersatu dan
seluruh ruangan dipenuhi oleh suara erangan dan
jeritan kenikmatan yang kami dapatkan pada saat
bersamaan.
Setelah tubuhku dan Tante Yo mulai tenang kembali,
kulepaskan penisku dari vaginanya yang sudah sangat
basah, lalu kubersihkan vagina yang penuh dengan
cairan kenikmatan kami berdua dengan sedotan dan
jilatanku, kujilati sampai bersih dan sayup-sayup
kudengan erangan pelan Tante Yo yang memejamkan
matanya merasakan kenikmatan yang baru saja dia
dapatkan. Setelah bersih kurebahkan tubuhku
disamping Tante Yo, lalu kupeluk dia dan kukecup pipi
Tante Yo.
“Ahh.. terima kasih sayang.. terima kasih daun
mudaku.. uhh.. rasanya tubuhku ringan sekali bagaikan
kapas yang masih terbang diawang-awang, ahh.. nikmat
sekali tadi kurasakan, kamu memang pintar sayang,
baru sekali ini kurasakan orgasme beruntun seperti
tadi, sampai lemas tubuh Tante” kata Tante Yo sambil
membuka matanya dan tersenyum padaku.
“Ah Tante Yo bisa aja.. aku juga tadi nikmat sekali,
kedutan dinding vagina Tante Yo membuat penisku
merasakan seperti diremas-remas, nikmat sekali”
balasku sambil kuusap keringat yang ada di keningnya
dan kukecup kening Tante Yo, lalu aku bangkit dan
menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang
penuh dengan keringat dan disusul oleh Tante Yo dan
kamipun saling membersihkan tubuh.
Selesai membersihkan tubuh dan dalam keadaan masih
bugil kami lalu menyantap makanan yang tadi dipesan
oleh Tante Yo sambil bercakap-cakap dan bercanda,
sedangkan tangan Tante Yo tidak pernah lepas dari
selangkanganku. Selesai makan kami melanjutkan
percakapan kami diatas tempat tidur sambil saling
memeluk hingga akhirnya kamipun tertidur untuk
memulihkan tenaga yang akan membuat pertarungan
berikutnya lebih seru lagi. Dan mulai sejak itu jadilah
aku daun muda kesayangan Tante Yohana dan Tante
Mira.

cerita dewasa tante dengan anak dibawah umur, cerita
seks tanteku, memek budak muda, ngentot memek
tante yg sempit

Tags:Cerita Ngentot Terbaru
· Cerita Sex 2016
· Cerita Sex Tante Girang
· memek basah
· Ngewe
· Tante Binal
· Tante Semok
· Tante Sexy

0 Response to "Cerita Dewasa Hot Tante Sudah Sange Berat"

Post a Comment

Total Pageviews

Arsip Blog

findeen