web dewasa yangg berisikan cerita sex, cerita
nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa
“Cerita Sex Berbagi Kenikmatan Dengan Keponakan”
terbaru hot 2016 – Aku, Beni, dan istriku, Via, memiliki
selisih usia sekitar 6 tahun. Kami berdua telah
menikah selama 5 tahun, dan telah dikaruniai 2 orang
anak yg sangat lucu. Aku bekerja sebagai karyawan
swasta, dan istriku hanyalah seorang ibu rumah tangga
biasa. Kehidupan kami biasa saja, bahkan terlalu biasa.
Awal perkenalan kami adalah ketika kami berdua sama-
sama tersesat dlm perjalanan wisata ke Yogjakarta.
Dan dari situ, aku merasakan indahnya jatuh cinta
kepada calon istriku di pandangan pertama. Karena tak
beberapa lama setelah pertemua kami, aku langsung
melamar dan menikahinya.
Cerita Sex Berbagi Kenikmatan Dengan Keponakan
Bagiku, Via adalah sosok wanita yg sangat cantik.
Wajahnya bulat, berambut hitam lurus, berkulit putih
bersih, berkaki panjang dan yg paling membuatku
semakin jatuh cinta adalah, senyum dan tatapan
matanya, yg mampu membuat dunia seolah berhenti
berputar.-sex threesome- Aku pikir, perbedaan usia
kami bukanlah sebuah kendala. Sehingga ketika ia
berulang tahun ke 18 tahun, sebuah pernikahan
sederhana langsung aku persembahkan padanya.
“Kita pasti bisa menghadiri acara si Ratu khan mas…?”
Tanya Via dgn senyum andalannya.
Cerita sex terbaru, Tanpa menjawab pertanyaannya, aku
hanya mengangguk sambil membalas senyum istriku.
“Kamu memang suami adek yg paling pengertian…”
girang istriku.
Dgn nada yg masih antusias karena kegiranganan, Via
langsung kembali meneruskan acara telephonnya dgn
kakaknya.
“Selama kamu senang, aku pun bisa senang dek…”
ucapku dlm hati.
Cerita dewasa terbaru, Andai saja aku bisa meramalkan
kejadian beberapa waktu kedepan, aku pasti tak akan
mengijinkan istriku pergi ke acara pernikahan itu.
Karena semenjak acara pernikahan itu, semua kisah
cinta dan pernikahan kami berubah 180 derajat.
Cerita mesum terbaru, Hari H pun telah mendekat.
Beberapa hari lagi, pernikahan yg semua akomodasi,
penginapan dan konsumsi sudah dipersiapkan oleh
keluarga Ratu dan Putra, akan segera dilaksanakan.
Dari kotaku berada, kami berangkat berempat. Aku,
istriku, Dwita (kakak iparku), dan Bagas (anak Dwita),
naik pesawat paling pagi menuju Semarang. Sengaja
kami tak mengajak kedua anak kami, karena kami pikir,
perjalanan kami ke Semarang cukup jauh, mau tak mau
kedua buah hatiku aku titipkannya ke kerabat terdekat.
Sebenarnya, aku dan Dwita sangatlah jarang bertemu,
sehingga utk mengakrabkan diri, istriku memintaku utk
bertukar tempat duduk dgn kakaknya. Aku duduk
bersebelahan dgn Dwita, sedangkhan Via duduk
bersebelahan dgn Bagas.
“Okelah… utk sementara ini aku agak menjauh dari
istriku…. Toh hanya beberapa hari ini saja…” batinku,
sambil mulai membuka percakapan dgn Dwita.
Selama perjalanan, perbincanganku dgn Dwita berjalan
cukup seru. Dwita orangnya cukup santai dan pandai
suka bercanda. Sifat mudah bergaul itu menurun
kepada Bagas, anaknya. Karena dari sepenglihatanku,
tak henti-hentinya istriku tertawa akan semua cerita yg
dibawakan keponakannya itu.
Pada awalnya, aku sama sekali tak memperhatikan
percakapan antara istriku dan keponakannya, karena
pada saat yg bersamaan, aku juga sedang seru
bercakap-cakap dgn Dwita. Namun ketika Dwita sudah
mulai mengantuk dan pada akhirnya tertidur, aku baru
sadar jika percakapan istriku dgn kekeponakannya agak
sedikit ‘menjurus’ ke hal-hal berbau mesum. Mereka
sepertinya sudah terbiasa membicarakan ke-mesum-an
diantara mereka, karena dari gaya bicaranya, mereka
terlihat begitu santai dan akrab.
Mungkin karena mereka sudah berteman baik sejak
kami menikah dan Bagas hanyalah seorang anak kecil
yg baru menginjak remaja, aku jadi mulai
menganggapnya lumrah. Waktu itu, Bagas masih
berusia sekitar 15 tahun, bertubuh tinggi kurusa
namun maskulin dan energik. Berkulit gelap dan
memiliki wajah mirip Dwita, tdk termasuk ganteng
memang. Sehingga perlahan, api cemburu mulai
menyala di dlm dadaku ketika mengawasi gerak-gerik
mereka.
Tak beberapa lama, kami tiba di Semarang dgn
selamat. Turun dari pesawat, kami langsung menuju ke
hotel sembari menyiapkan diri utk menghadiri acara
pernikahan yg akan diadakan di sore harinya. Acara
pernikahan Ratu dan putra pun berjalan dgn lancar, tak
ada kendala sedikitpun. Di penghujung acara, sebelum
para undangan akan berpamitan, ada sebuah
permintaan dari kedua orang tua mempelai yg meminta
kami semua supaya menghadiri acara informal
keesokan paginya.
Acara informal yg memiliki agenda utk saling mengenal
kedua keluarga secara lebih dekat. Dan karena acaranya
tak formal dan berlokasi di dekat pantai, kami diminta
utk mengenakan pakaian sesantai mungkin. Keesokan
harinya, acara informal itupun berlangsung dgn tak
kalah meriahnya dgn acara pernikahan. Ada berbagai
macam acara, mulai dari acara sambutan pagi, acara
makan-makan, acara karaoke, hingga acara permainan
yg harus dimainkan oleh semua orang, termasuk aku
dan istriku.
Pagi itu, Via terlihat begitu cantik dlm tanktop dan
celana jeans pendeknya. Dgn tinggi 165 cm, payudara
36C yg menggantung di depan dadanya terlihat begitu
menggoda. Selalu bergoyang kesana kemari setiap ia
bergerak. Ditambah lagi dgn sinaran panas matahari yg
menerpa kulit putihnya, membuat payudara itu terlihat
begitu ranum. Putih dgn rona merah. Satu lagi yg aku
banggakan dari sosok istriku adalah, keahliannya dlm
menggoda setiap lelaki. Memamerkan perut ramping
tanpa lemak dan pantat bulat yg hanya dibungkus dgn
celana jeans pendeknya, membuat hampir semua orang
tak ada yg percaya jika Via telah menikah dan memiliki
2 orang anak.
Tak beberapa lama, acara permainan pun dimulai. Utk
membuat semua hadirin yg hadir dlm acara informal itu
dapat ikut serta dlm permainan, presenter dgn
pintarnya membagi kami dlm beberapa kelompok. Tiba-
tiba aku sadar, jika mayoritas undangan yg datang utk
mengikuti permainan berusia cukup muda, dan entah
kenapa, aku mendadak merasa sudah terlalu tua utk
mengikuti semua permainan yg akan dilakukan.
Aku lebih memilih duduk di sudut taman, dan melihat
mereka ketika melakukan permainan-permainan
tersebut. Kami dan para undangan lainnya saling
tertawa melihat permainan yg mulai berjalan. Hingga
pada sebuah kesempatan, ada giliran satu permainan
yg mengharuskan aku dan istriku utk maju ke tengah.
Namun karena malu, aku hanya bisa menolak dan
tersenyum sambil berdada-dada ria.
“Ayo Ben… maju…. Ini hanya permainan…” teriak
beberapa undangan.
Berbeda dgnku, Via terlihat begitu antusias utk bisa
tampil. Dia berulang kali menarik-narik lenganku utk
mengajakku ketengah hadirin. Tp, karena aku
bersikeras menolak dan lebih memilih utk ingin
melewatkan kesempatan ikut permainan itu, akhirnya
Via pun menyerah.
“Supaya adil, apakah pak Beni mempersilakan ibu Via
supaya bisa bermain game dgn orang lain? “ Tanya
sang presenter tiba-tiba.
“Hmmm… boleh deh….” Jawabku singkat, saat itu aku
hanya ingin acara permainan ini cepat-cepat selesai
dan kami bisa segera kembali ke hotel.
“Pak Beni yakin…?” Tanya presenter itu lagi
“Game ini bakal melibatkan beberapa adegan gosok
menggosok kulit loohh… hehehe” tambahnya lagi,
seolah-olah menantang saya utk berpartisipasi.
Tp aku tetap pada pendirian awalku.
“Iya… bolehlah… “ jawabku lagi.
“Okelah kalo begitu… utk mempersingkat waktu… Ibu
Via mau memilih utk berpartner dgn siapa…? tanya
sang presenter sambil menyodorkan mic kearah Via.
“Bagas…. “ jawab singkat istriku.
“Oke Bagas…. Lelaki yg sangat beruntung, ayo segera
maju….” Tutup sang presenter sambil kembali
meneruskan acara permainan itu.
3 permainan akan dimainkan. Yg pertama adalah
permainan memindahkan buah apel yg hanya boleh
dibawa dgn cara meletakkannya diantara dahi peserta
lomba. Ada sedikit perasaan aneh ketika melihat Via
dan Bagas waktu menyelesaikan permainan. Mereka
begitu menikmatinya. Terlebih Karena permainan ini
mengharuskan kedua wajah peserta saling berdekatan,
sehingga jika dilihat dari jauh, wajah istriku dan Bagas
terlihat seperti sedang berciuman. Namun karena
pasangan istriku dan beberapa belas pasangan lainnya
berhasil, dan masuk ke dlm nominasi permainan
berikutnya, aku dapat meredam rasa aneh itu.
Lomba kedua adalah lomba gendong pasangan sambil
menyelesaikan beberapa macam perintah, seperti
joged, berlari, ataupun mengambil sebuah barang yg
disangkutkan diatas ranting pohon. Utk lomba kali ini,
rasa aneh yg ada di dlm dadaku, mulai berubah menjadi
api cemburu. Karena dlm permainan ini, Bagas harus
menggendong istriku diatas pundaknya. Sehingga meqi
istriku berada di tengkuk Bagas, payudara besar istriku
juga tak jarang bersandar di kepala belakang Bagas.
Dan lagi, beberapa kali aku melihat tangan Bagas
meraba-raba dan pantat istriku guna menjaga
keseimbangan. Tp karena aku lihat konteksnya
hanyalah sebatas sebuah permainan, aku bisa
menerimanya. Dan sekarang tiba di lomba ketiga.
Lomba dimana Via dan tiga pasangan lain berhasil
masuk nominasi finalis. Lomba ketiga adalah lomba
terakhir guna menentukan pemenang. Sang presenter
sedikit menjelaskan beberapa aturan permainan, dan
juga menjelaskan jika itu adalah lomba yg sedikit
‘berani’ dan banyak adegan mesumnya.
“Iya… tdk apa-apa….” jawabku singkat sambil
tersenyum, ketika presenter itu kembali bertanya
apakah aku merpersilakan istriku bermain dgn lelaki
lain.
“Lomba ketiga adalah lomba memindahkan koin dari
dahi peserta wanita kearah pusar…” ujar sang
presenter.
“Ah… itu mah lomba yg mudah…” batinku dlm hati
sambil mengambil nafas lega.
“Cuman… cara memindahkannya bukan dgn tangan”
tambah sang presenter “Melainkan dgn…… lidah”
“Wow wow wow… ini benar-benar lomba yg mesum…”
Pikirku. Tp aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, karena
selain aku sudah mengiyakan permintaan presenter,
aku juga malu jika harus merusak mood Via yg sebentar
lagi bisa saja menang.
“Pemenang lomba ini adalah makan malam romantic
dan sebuah iphone utk masing-masing peserta…”
teriak sang presenter sambil diikuti teriakan seru para
penonton.
4 buah meja, diletakkan berdekatan diantara para
peserta. Dan para peserta wanita diminta utk tidur
terletang. Sebuah koin kecil, diberikan panitia kepada
peserta pria supaya diletakkan pada dahi pasangan
wanitanya. Bagiku, itu adalah lomba yg sangat seksi.
Terlebih melihat tubuh istriku yg pagi itu hanya
terbalut dlm tanktop tipis dan celana pendek, semakin
membuat perlombaan terakhir ini terasa makin
menggairahkan. Saking menggairahkannya, aku bisa
melihat jika benda yg ada di selangkangan Bagas telah
membesar sejak awal perlombaan.
“Yaaak… siaaappp… mulai….” Aba-aba sang presenter
memulai permainan.
Pertandingan pun dimulai, dan Bagas perlahan
mendorong koin dgn lidahnya. Alih-alih merasa malu,
Via hanya bisa tertawa-tawa geli karena sekilas, Bagas
terlihat seperti sedang menjilat-jilati wajah dan leher
Via. Melihat tingkah mereka, aku benar-benar merasa
cemburu. Apalagi ketika koin itu telah bergulir ke arah
dada istriku dan masuk ke belahan dadanya. Via yg
merasa kegelian hanya bisa tertawa-tawa kecil sambil
sedikit melenguh seolah merasakan keenakan ketika
menerima jilatan lidah basah kekeponakannya itu.
Sejenak, Bagas menghentikan jilatan pada payudara
istriku dan menatapku tajam, seolah bertanya apakah ia
bisa melanjutkan.
“Ayo Gas… terusin jilatinnya… dorong terus… kita
pasti menang.. hihihi… ” ucap Via membuyarkan
tatapan tajam kami berdua.
Tdk ingin terdengar seperti orang tua yg tersiram api
cemburu, sehingga aku menganggukkan kepalaku,
mengijinkan Bagas meneruskan jilatannya pada
payudara istriku. Melihat persetujuanku, lidah Bagas
langsung bermanuver lincah pada belahan dada istriku.
Itu adalah pemandangan yg sangat seksi, pemandangan
yg membuatku sangat cemburu dan terangsang.
Apalagi ketika aku juga menyadari jika selain tonjolan
benda yg ada di selangkangan Bagas semakin
membesar, putting payudara istriku juga tinggi
menyembul, terlihat begitu nyata menembus kain tipis
tanktopnya. Via hanya bisa cekikikan sambil berusaha
mencoba menahan sensasi geli dari lidah Bagas yg
berkeliaran di sekujur kulit payudaranya. Hingga pada
akhirnya, Bagas berhasil menempatkan koin itu ke dlm
lubang pusar Via sehingga mereka ditetapkan menjadi
juara perlombaan di pagi hari itu.
Acara makan malam romantis buat pemenang game tadi
pagi, terasa begitu mewah. Kami disuguhi dgn berbagai
macam makanan, minuman, dan snack. Setelah makan
malam, kami berdua langsung dipijat, sauna, lalu
mandi. Hinga pada akhirnya, setelah semua sajian
hadiah pemenang telah semua kami nikmati, kami
kembali ke kamar dan bersiap utk tidur. Intinya, malam
itu kami benar-benar terpuaskan oleh sajian hotel.
Setibanya di dlm kamar, kami langsung bersantai di
ruang TV. Aku akui jika seharian itu aku benar-benar
horny dan anehnya, akupun bisa merasakan istriku
horny juga. Kami mulai minum bir, Via tdk minum tetapi
ia mengambil setengah gelas dan segera
menenggaknya habis.
“Sayang aku sange banget… ngewe yuk…” pintaku
sambil berbisik lirih di telingan Via.
Via tak menjawab permintaanku, dia hanya bisa tertawa
kecil sambil memegang dan mengurut selangkanganku
yg sudah menegang dari luar celana pendekku. Aku
kecup bibir tipisnya, mencoba menyalurkan nafsuku yg
sudah menggebu pada dirinya. Kuraba payudara dgn
putingnya yg sudah membesar, dan kuremas perlahan.
“Aku pengen nidurin kamu sampe pagi dek…” ucapku
lagi.
“Aku juga mas… pengen ngerasain sodokan tititmu….”
Jawab Via.
“Kamu udah bener-bener basah dek… pasti kamu
sange banget ya…?”
“Hhmmmpppghghhh…” desah Via mengiyakan.
“Nafsu menggebuku pasti bisa terlampiaskan malam
ini….” Ucapku lirih sambil perlahan mulai melucuti
jubah mandi Via.
Namun, ditengah pendakian kami berdua, tiba-tiba…
TOK TOK TOK ! terdengar suara ketukan dari pintu
kamar hotel.
“Tante Vii…. Tantee….” Itu suara Bagas.
“Sialan… ngapain lagi sih bocah itu… mengganggu
saja….” Umpatku
“Bukain aja dulu mas… siapa tahu ada yg penting…
ntar khan ngewenya bisa kita lanjutin lagi…” redam
istriku sambil merapikan jubah mandinya.
Ternyata tujuan Bagas mengganggu acara malam kami
hanyalah dikarenakan ingin berpamitan. Pesawat yg
mereka tumpangi, memiliki jadwal yg agak berbeda dgn
jadwal kami, sehingga ia ingin mengucapkan selamat
tinggal dan sedikit berbasa-basi.
“Masuk aja Gas… Tante Vi ada di kamar mandi…”
ujarku sambil mempersilakan bocah 15 tahun ini
masuk.
Dan setelah Bagas masuk ke kamar, aku langsung
menuju ke sudut kamar dan menonton TV yg ada di
ujung kaki tempat tidur. Aku duduk di kursi sofa yg ada
samping tempat tidur dan Bagas hanya duduk beberapa
meter dari tempatku duduk. Di ujung tempat tidur,
menghadap tepat ke arah TV. Tak beberapa lama, Via
keluar dari kamar mandi dan ikut duduk disamping
Bagas, nimbrung bersama.
Sambil menonton TV. kami mulai berbicara tentang apa
saja. Pada awalnya, pembicaraan kami terasa agak
canggung, oleh karena itu, aku iseng menawarkan bir
utk memperhangat suasana.
“Nggak Om… ntar mami Bagas tau… “
“Udah… sedikit aja Gas… udah gedhe ini… “ candaku.
“Sedikit aja kali ya…” ucapnya singkat sambil
mengambil gelas gelas bir yg aku sodorkan padanya.
Tiba-tiba, ketika sedang melihat Bagas dan istriku
bercakap-cakap dari belakang, aku teringat akan
kejadian tadi pagi dimana mereka lomba. kejadian
dimana selangkangan Bagas membesar dan putting
istriku mencuat. Aku yakin, jika pasti ada sesuatu yg
terjadi antara istri dan kekeponakanku ini.
“Hooaaahmmm….Cuaca hari ini membikin ngantuk
ya…?” ujarku dari belakang Bagas dan istriku duduk.
“Iya nih om… Sedikit bikin ngantuk…” Ucap Bagas yg
sedikit menengok ke arahku.
“Trus..trus.. gimana lanjutannya Gas…?” Tanya istriku
lagi.
“Iya Tan… Jadi setelah itu…bla la bla…..” lanjut Bagas
dan
“Sialan…“ Ternyata mereka sudah sama sekali tak
menggubris keberadaannku.
Hingga pada akhirnya, setelah 20-30 menit
pembicaraan yg (bagiku) sangat membosankan, aku
putuskan utk hanya mengawasi gerak-gerik mereka dgn
cara berpura-pura ketiduran. Walau aku hanya melihat
kedua manusia berlawanan jenis ini dari arah punggung
mereka, aku tahu jika situasi di kamar ini terasa agak
aneh, terlebih aku merasa agak terangsang ketika
mengawasi gerak tubuh mereka.
Berulang kali, Bagas melirik ke arahku yg berada jauh
di belakang tempatnya duduk. Dan beberapa kali juga ia
mengawasiku dari dekat, memastikan jika waktu itu aku
sudah benar-benar tertidur pulas di sofa. Alunan musik
yg lembut, ditambah sepoi angin yg masuk ke dlm
kamar kamar hotel, membuat suasana semakin mesra.
Dan entah darimana, kami tiba-tiba sadar jika suasana
diantara kami bertiga mulai memanas. Tiba-tiba Bagas
bertanya kepada Via mengenai hal yg sama sekali tak
pernah aku bayangkan.
“Tante Vi… apa boleh Bagas mencium bibir tante…?”
tanya remaja 15 tahun ini dgn malu-malu.
Butuh beberapa waktu bagi Via utk merespon
pertanyaan Bagas, tp pada akhirnya ia mengangguk dan
hanya berdiam diri. Pada awalnya, Via tdk menanggapi
permintaan aneh kekeponakannya ini.Istriku memilih
utk berdiam diri ketika menerima ciuman-ciuman
keponakannya.Tp, lama kelamaan, seolah ikut terbawa
suasana horny, istriku mulai membalas ciuman dan
kecupan Bagas. Selama beberapa menit, mereka
terlihat saling balas ciuman mesra. Saling jilat dan
kulum, seolah mereka adalah sepasang pengantin baru
yg sedang dilanda api asmara.
Menerima balasan yg positif dari istriku, Bagas pun
mulai melancarkan rayuan-rayuan mautnya.
“Kamu cantik Tante…”
“Tubuh tante wangi sekali…”
“Pasti Om Beni beruntung banget bisa menikahi
tante… “
“Andai saja tante belum menikah, Bagas bersedia kok
menikahi tante…”
Mendengar puji dan rayuan Bagas, keponakannya,
istriku sepertinya semakin bernafsu. Karena dari sofa
tempatku berpura-pura tidur, aku bisa melihat gerak-
gerik tubuhnya ketika sedang horny. Berulang kali,
jemari lentik istriku membelai rambut, wajah dan
lengan Bagas.
“Tante Vi… apa boleh Bagas memegang tetek
tante…?”
Mendengar pertanyaan keponakannya, istriku langsung
menghentikan ciuman mesranya dan buru-buru
menengok tajam ke arahku. Dan setelah beberapa saat,
begitu mengetahui jika waktu itu aku masih dlm kondisi
tertidur lelap, istriku mengangguk. Ia mengijinkan
keponakannya itu utk memegang payudaranya. Ini GILA.
Mereka sudah benar-benar gila. Mereka melakukan
perbuatan mesum tepat di depan diriku berada.
Tubuhku tiba-tiba bergetar. Aku harusnya marah pada
kekeponakanku yg telah menggoda istri orang. Aku
harusnya murka kepada istriku yg telah membiarkan
lelaki lain meraba tubuhnya. Namun, entah kenapa,
melihat perbuatan mesum mereka saat itu, aku hanya
diam saja dan menantikan apa yg akan terjadi
selanjutnya. Seiring dgn perbuatan cabul mereka,
timbul perasaan aneh, antara gairah, nafsu, canggung
dan cemburu.
“Sepertinya mereka tak akan berhenti sampai disini…”
ucapku dlm hati.
Dan benar saja, tak lama kemudian, Bagas kembali
bertanya pada istriku.
“Tante Vi… boleh nggak kalo Bagas pengen melihat
tubuh indah tante…” tanyanya polos sambil terus
mencium bibir dan meraba-raba payudara montok
istriku dari luar jubah tidurnya.
Mungkin karena istriku sudah terlalu horny, ia tak lagi
melihat ke arahku. Karena begitu Bagas selesai
bertanya, ia langsung berdiri dari posisi duduknya,
melepas jubah mandinya dan membiarkan jatuh ke
lantai. Melihat perbuatan mereka, aku yg pura-pura
tertidur di kursi santai, hanya bisa melenguh sambil
menarik nafas panjang.
“Mereka pasti sudah kesetanan…” batinku.
“Biar adil… kamu juga bugil donk Gas… Tante pengen
lihat gimana bentuk tititmu…” pinta istriku, sambil
usapan tangannya ke kepala Bagas.
“Titit? Titit tuh apaan ya tan…?”
“Titit… burung kamu….”
“HAHAHAHA…. maksud tante ******…? Titit mah punya
anak kecil tan….”
“I…iya… maksud tante juga itu… Tante kepingin lihat
kontolmu…”
Mendengar permintaan istriku, Bagas seolah
mendapatkan semangat baru. Dgn cepat, ia buru-buru
melepas kaos gombrong dan celana pendeknya.
Dan. Setelah Bagas melepas semua pakaiannya, aku
baru menyadari jika ada sesuatu yg janggal pada tubuh
remaja 15 tahun ini. Bagas memiliki sebuah organ yg
bisa membuat iri para pria. Bagas memiliki sebuah
benda yg bisa membuat wanita berteriak-teriak
keenakan. Bagas memiliki sesuatu yg bisa membuatnya
melumpuhkan banyak wanita. Yup. Bagas memiliki
ukuran k0ntol yg benar-benar panjang dan besar.
“Wooow…” pekik Via ketika ia tahu barang yg sudah
mengacung tegak di antara selangkangan
kekeponakannya.
“Woow kenapa tante..?” Tanya Bagas sok heran.
“Titit kamu besar sekali Gas….”
“Titit…?”
“Eh iya.. ****** kamu besar banget…”
“Ahh… biasa aja kok tante… ****** om Beni pasti jauh
lebih besar lagi…” ucap Bagas malu-malu.
Sekarang, mereka berdua telanjang di hadapanku. Istri
dan kekeponakanku telah tenggelam dlm lautan nafsu.
Lautan nafsu yg membutakan mata mereka, jika di dlm
ruangan itu, masih ada aku sebagai suami dan om.
Lautan nafsu yg sama sekali tak akan bisa dibendung
lagi utk mengguyur pantai kenikmatan yg akan segera
mereka capai bersama.
“Aku pengen jilat putting tante…” bisik Bagas pelan.
“Hooouuughh…” racau Via.
Mendengar jawaban tantenya yg sudah tak lagi konsen,
Bagas memberanikan diri utk membelai payudara Via
dgn kedua tangan dan dgn perlahan, ia mulai
mengangkat gumpalan daging yg menjuntai indah serta
mengisap payudara lezat tantenya secara bergantian.
“Oouughhh…. Pelan-pelan Gas…” desah istriku
keenakan.
Sepertinya, istriku sudah sangat terangsang. Karena
walau dari kejauhan, aku bisa melihat puting coklat
kemerahannya yg mulai menegak.
“Tetek tante besar banget…” puji Bagas sambil terus
menyeruput putting Via yg semakin mengeras.
“Oouuhh… Ssshhh…” desah istriku lagi sambil mulai
menggapai-gapai k0ntol kekeponakannya yg sudah
mengacung tinggi.
Mereka pun sepertinya telah melupakan diriku yg
masih berada di dlm kamar ini. mereka seolah sudah
tak peduli akan nafsu yg sudah meninggi.
“Oouugghh Gasss… enak banget…” desah istriku
setiap kali kekeponakannya menjilat dan mengulum
putting coklat mudanya.
“Tante… aku pengen njilat memek Tante… “ bisik
Bagas.
“Aku juga pengen ngejilatin kontolmu Gas…” balas Via
yg kemudian langsung mendekatkan wajahnya kearah
selangkangan kekeponakannya
Dgn jemari lentiknya, Via berusaha menggenggam
batang k0ntol Bagas. Namun sekeras apapun usahanya,
ujung-ujung jemarinya tak mampu saling bersentuhan.
Seperti menggenggam botol air mineral, jemari lentik
istriku tak mampu melingkarkan secara sempurna
jemari tangannya ke batang tebal keponakannya itu.
Digerakkannya jemari tangannya itu naik turun, sambil
sesekali istriku menjilat kepala k0ntolnya.
“Shhh….Enak banget tante…” Bagas meracau tak
jelas.
K0ntol remaja 15 tahun itu terlihat begitu
menyeramkan. Dgn ukuran yg kurang lazim utk anak-
anak seusianya, k0ntol itu seolah akan tak muat utk
masuk ke dlm mulut istriku. Karena setiap kali istriku
berusaha mengulum seluruh batang k0ntolnya ke dlm
mulutnya, hanya ujung k0ntolnya sajalah yg bisa
masuk. Aku iri. Aku benar-benar iri. Aku iri dgn apa yg
pemuda ini dapatkan dari kenikmatan mulut istriku. Aku
yg sudah menikahi istriku selama 5 tahun saja belum
pernah merasakan sekalipun nikmatnya oral seks
bersamanya. Sedangkan dia, hanyalah seorang
keponakan, bukan pacar atau teman bermain, sudah
bisa merasakan hisapan kuat mulut istriku.
“Aku sudah nggak tahan Gas… entotin tante Gas…
entotin tante sekarang…” pinta istriku yg kemudian
beranjak dari posisi jongkoknya dan meminta Bagas utk
merebahkan badannya.
“Aku pengen menaiki ****** panjangmu sayang…”
Segera saja, Bagas merebahkan badannya. Dan disusul
istriku yg kemudian merayap naik keatas tubuh
keponakannya. Namun, entah disengaja atau tdk, ada
sedikit hal janggal yg dilakukan istriku ketika ia
merangkak naik dan memposisikan batang k0ntol
Bagas di selangkangannya. Ketika batang k0ntol
keponakannya itu sudah menyentuh kulit meqinya,
istriku, dgn kedua mata bulatnya yg sudah sangat
bernafsu menatap tajam ke arahku.
“Apakah Via tahu jika selama ini aku mengawasi gerak-
gerik mereka…?” tanyaku dlm hati.
Istriku sepertinya sengaja memilih posisi bercintanya
dgn arah yg menghadap tepat ke arahku. Sehingga,
walau dlm kondisi cahaya kamar yg temaram, aku dapat
dgn jelas melihat raut muka hornynya secara langsung.
Wajahnya berwarna kemerahan, dgn putting payudara
yg sudah sangat tinggi mengacung. Melihat adegan-
adegan erotis yg dilakukan istriku, mau tak mau batang
k0ntolku yg masih dlm balutan jubah mandi ini, ikut
mengacung tinggi.
Dan seolah sadar akan apa yg dialami oleh suaminya,
tiba-tiba istriku menaikkan ujung-ujung bibirnya. Ia
tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seolah
meminta ijin kepadaku agar dapat menikmati batang
k0ntol keponakannya itu. Dan seperti anak kecil yg
terlena ketika melihat film kegemarannya, aku seperti
terhipnotis olehnya. Aku anggukkan kepalaku dan
membiarkan istriku mulai merasakan kenikmatan
bercinta dgn orang lain.
Kembali, setelah melihat respon positif dariku, ia
menegakkannya batang k0ntol panjang keponakannya
itu tepat ke arah lubang meqinya, dan perlahan-lahan,
istriku mulai jongkok dan menurunkan pinggulnya.
CLEEPP
“Ooouuuuggghhh….” desis istriku ketika kepala k0ntol
Bagas mulai membelah dan memasuki liang senggama
miliknya.
“Tante Vi… memek tante sempit bangeeet….”
“Bukan sempit Gas… ****** kamu yg terlalu besar…”
racau istriku sambil terus menjatuhkan seluruh
tubuhnya pada batang k0ntol Bagas yg mengacung
tegak.
Sepertinya istriku sudah terlalu horny, karena aku
benar-benar hafal jika ia ingin bercinta dgn posisi
woman on top, itu tandanya ia sudah tak mampu lagi
menahan hasratnya utk segera mendapatkan
orgasmenya. Sekilas, dari apa yg dilakukan istriku, aku
merasa dia mengalami kesulitan ketika mencoba
memaksakan k0ntol besar keponakannya itu utk bisa
masuk ke dlm meqi mungilnya. Karena batang k0ntol
Bagas yg berukuran ekstra itu terlihat membengkok
setiap kali meqi istriku mencoba menekan masuk
danmelahapnya. Dan setelah istriku beberapa kali
mencoba menaik-turunkan pinggulnya, gerakan
persenggamaan mereka mulai lancar.
“Ooouuugggghhh….” Desahan demi desahan mulai
memenuhi kamar tidur kami. “SSsshhh…..”
“CPAK… CPAK… CPAK… “ Suara tumbukan daging
pantat dan paha juga mulai berisik mengisi heningnya
malam.
Istriku dan keponakannya pasti sudah tenggelam dlm
kenikmatan perzinahannya yg menggebu-gebu. Istriku
dan keponakannya seolah merasa, jika malam itu adalah
malam terakhir utk dapat melakukan percintaan
mereka. Istriku dan keponakannya seolah lupa, jika di
dlm kamar itu masih ada aku yg mengawasi semua
gerak-gerik mereka. Bagas yg dlm posisi telentang,
dgn leluasa menggapai payudara besar istriku yg
berlompatan kesana kemari setiap kali pinggulnya naik
turun. Selangkangan istrikupun terlihat begitu
mengkilat akibat lendir birahinya yg banyak membanjir.
“Tante keluar Gas… tante pengen keluar….” Teriak
istriku yg tiba-tiba membenamkan kuku-kuku
panjangnya pada dada Bagas dgn brutal.
“Ooouuuuggghhhttt…. Aku keeluuuuaaaarrrrr….”Teriak
istriku sambil terus membanting-bantingkan pantat
bulatnya ke paha keponakannya. Mata istriku merem
melek merasakan sensasi gelombang orgasmenya.
Tubuh istriku meliuk-liuk dan melengkung bak busur
panah yg siap utk ditembakkan.
“Ia pasti sedang merasakan kenikmatan amat sangat…”
batinku dlm hati sambil tak henti-hentinya mengusap
batang k0ntolku yg sudah amat ngilu dari luar jubah
mandiku.
Nafas istriku terlihat begitu terengah-engah dan
kemudian ambruk menimpa tubuh kurus keponakannya.
“Sekarang giliranmu keluar Gas…” ujar istriku.
“Oke…” Tak perlu mengulang permintaan istriku,
Bagas segera membalik tubuh istriku yg masih tergolek
lemas diatas tubuhnya ke samping. “Sekarang giliran
Tante yg harus memuaskan Bagas…”
Dgn terburu-buru, Bagas meletakkan kedua kaki istriku
ke pundaknya dan mulai menghujamkan k0ntol
raksasanya ke meqi tantenya itu.
“Ouuugghhh…. Ouuugghhh…. Ouuugghhh…. Pelan-
pelan Gas… Ngiluuu…” erang istriku yg tanpa
persiapan sedikitpun langsung menerima tusukan
tajam di meqinya.
Masih dlm kondisi lemas, istriku hanya pasrah dan
hanya membiarkan remaja 15 tahun ini menganiaya
tubuhnya. Tubuh ramping istriku terlihat terombang-
ambing setiap kali keponakannya itu menghujamkan
batang k0ntol panjangnya dgn keras. Payudara bulat
istriku pun tak luput dari cengkeraman dan remasan
brutalnya. Aku yg melihat aksi brutal keponakan istriku,
mendadak merasa begitu emosi. Aku marah dan seolah
ingin menghajar keponakannya itu dari belakang.
Namun entah kenapa, ketika aku melihat wajah istriku,
ia menggeleng-gelengkan kepalanya utk tetap
membiarkan dirinya disiksa sedemikian rupa oleh
keponakannya. Melihatnya merasa pasrah dan
menerima perlakuan kasar keponakannya aku menjadi
tak tega utk merusak orgasme yg sedang mereka
bangun.
“Makasih mas….” Bisiknya lirih sambil tersenyum dan
menatap sayu kearahku.
“Aku sudah nggak tahan lagi… aku sudah tak mampu
lagi menahan birahi ini…” ucapku dlm hati sambil
mengeluarkan batang k0ntolku dari jubah mandiku.
Dan dgn tak kalah brutalnya, aku kocok daging kecil yg
tumbuh di selangkanganku cepat-cepat.
Setelah beberapa lama, mereka berganti posisi
bercinta. Sekarang, Bagas menurunkan kaki kiri istriku
dan tetap membiarkan kaki kanan istriku di pundaknya.
Kali ini, ia memompa batang k0ntolnya jauh lebih keras
daripada sebelumnya. Dan saking kerasnya, aku merasa
jika tempat tidur yg sedang mereka gunakan, akan
roboh. Setiap kali tusukan tajam yg diterima meqi
istriku dari batang panjang keponakannya, ia berteriak.
Keponakannya pun berteriak. Mereka berteriak-teriak
kesetanan, hingga pada akhirnya aku melihat tubuh
kurus Bagas mulai bergetar.
“Aku keluar Tante… Aku keluar…” teriak Bagas histeris
“Tante juga mau keluar Gas…” balas istriku.
Akupun yg masih dlm naungan kegelapan dari sudut
kamarpun seolah tak mau kalah cepat utk ikut
merasakan kenikmatan dlm pendakian orgasme yg
mereka lakukan. Melihat mereka yg ingin mencapai
puncak kenikmatan, akupun tak mampu menahan
gairahku lagi. Aku kocok batang k0ntol kecilku sekuat
tenaga. Dan dlm hitungan detik,
“Ooouuugggghhh…..Mmmmppphhh…..” Aku klimaks
dlm kocokan jemari tanganku sendiri.
4 gumpalan lendir berwarna putih keruh muncrat dari
mulut k0ntolku. Meloncat tinggi, dan mendarat di kaki
kiri istriku yg menjuntai ke arahku.
“Oooouuuuuggggghhhhttttt…….. Tanteeeeee…. Akuu
keluuuaaaarrrrrr” teriak Bagas sambil menghujamkan
k0ntol panjangnya dlm-dlm ke meqi istriku.
“SSShhhhhh…. Ooohhh my Gooooooodd…. Bagas…
Tante jugaaaa…..” sahut istriku histeris.
Mendadak, suasana kamar menjadi begitu hening.
Hanya terdengar suara acara TV dan hembusan deru
nafas kami bertiga. Kami bertiga, mencapai puncak
kenikmatan bersama-sama. Tak beberapa lama, Bagas
yg masih dlm posisi menindih istriku menggerakkan
pinggulnya lagi. Ia merasa begitu puas. Puas utk
menikmati kemontokan tubuh istriku. Puas utk
menikmati meqi legit istriku. Dan puas utk
memuntahkan seluruh lahar kenikmatannya dlm celah
kenikmatan istriku. Setelah selesai menggagahi istriku,
Bagas langsung mencabut batang panjangnya dan
menyodorkan batang itu ke mulut istriku.
“Tolong bersihin kontolku ya tante Viaku….hehehe…”
pinta kekeponakan kurang ajar itu sambil menepuk-
tepukkan daging berurat itu pada mulut dan pipi
istriku.
“HAP…” caplok Via dgn bersemangat.
Seumur pernikahan kami, tak sekalipun istriku mau utk
membersihkan k0ntolku setelah kami selesai bercinta.
Akan tetapi, dgn kekeponakannya ini, tanpa diminta dua
kali, Via bersedia membersihkan batang panjang
miliknya itu. Dan setelah batang k0ntol itu bersih,
kembali Via menjilat-jilat dan menawarkan ronde kedua
kepada Bagas.
“Bagas capek tante… kita udah ngewe lebih dari
sejam… “ tolak Bagas yg kemudian duduk di tepi
tempat tidur sambil memainkan payudara besar istriku.
“Ayolah Gas… sekali lagi…” pinta istriku sambil
mempercepat jilatan dan kuluman lidahnya pada k0ntol
remaja ini.
Berharap k0ntol lemas itu bisa menegang lagi dgn
cepat.
“Bagas pengen sih tante… Tp ****** Bagas masih
ngilu…” tolak Bagas
“Lagian Bagas khawatir om Beni bisa terbangun kalo
kita ngewe disini lagi…” tambahnya lagi sambil melirik
ke arahku.
Mereka berdua lalu melihat ke tempat dimana aku
tertidur dlm posisi duduk di sofa kamar.
“Kalo besok pagi gimana? Ketika mas Beni pergi
sarapan?” usul istriku.
“Hmmm… boleh deh Tante… Asal tante kasih kodenya
aja…”
“Nah… Gitu donk Gas… Tante makin sayang deh ama
kamu…”
“Bagas juga Tante… makin sayang ama tante…”
“Muuuaahhh…. Muuuaahhh…. Muuuaahhh….” Kecup
terakhir istriku dgn gemas pada batang panjang
kekeponakannya sebelum ia beranjak ke kamar mandi.
Bagas yg seolah masih belum sadar akan
keberuntungannya, hanya masih terdiam dlm posisi
berdirinya. Tak pernah disangka dlm seumur hidupnya,
ia bisa meniduri tante kesayangannya di usia sedini ini.
Sambil menatap istriku yg sedang membersihkan diri di
toilet kamar, Bagas mulai mengenakan pakaiannya satu
persatu.
“Tante… aku balik dulu ke kamar ya… Khawatir dicariin
mami….” Pamit Bagas begitu selesai mengenakan
seluruh pakaiannya.
“Iya sayang…” balas istriku sambil memeluk tubuh
kekeponakannya itu. “Satu kecupan lagi donk…”
tambah istriku lagi.
Mendengar permintaan istriku barusan, langsung saja
Bagas memonyongkan bibirnya.
“Yeee… siapa coba yg pengen ngecup kamu disitu…”
ucap istriku yg masih dlm keadaan telanjang bulat.
Ia buru-buru jongkok di depan selangkangan remaja 15
tahun itu dan memelorotkan celana kolornya sampai
sebatas paha, kemudian ia mengulum batang k0ntol
kekeponakannya dgn gemas.
“Ssssshh…. Dasar tante binal… ga ada puas-puasnya”
canda Bagas.
“Binal tp suka khaaaannnn…?” balas istriku.
“Udah ah… Ntar Bagas nggak balik-balik nih
ceritanya…” kata kekeponakanku sambil mengangkat
tubuh istriku yg masih jongkok dan memeluknya.
“Makasih ya Tante Vi….” Kata Bagas sambil mengecup
kening istriku.
“Makasih ya Om Beni…” tambahnya lagi sambil
menengok dan tersenyum ke arahku.
“Makasih ya mas, sudah ngebolehin adek datang ke
acara pernikahan Ratu dan Putra di sini… “
“Makasi ya mas sudah ngebiarin Bagas numpahin rasa
cintanya kepadaku…”
“Makasih ya mas, sudah ngijinin Bagas menikmati
tubuh istrimu ini… “
“Dan yg terakhir, makasih ya mas, sudah ikut
menikmati persetubuhan kami barusan….” Ucap Via,
istriku, sambil mengecupkan bibir tipisnya yg masih
berlumuran sperma Bagas ke keningku.
“Kamu memang suami adek yg paling adek sayang…”
Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum,
cerita dewasa “Cerita Sex Berbagi Kenikmatan Dengan
Keponakan” terbaru hot
..
Tagged with: CERITA ABG MESUM CERITA ABG SANGE
CERITA BOKEP CERITA DEWASA
CERITA DEWASA KELUARGA CERITA LEPAS PERAWAN
CERITA MESUM CERITA MESUM KELUARGA
CERITA MESUM PELAJAR CERITA NGENTOT
CERITA NGENTOT KELUARGA CERITA PANAS
CERITA PERAWAN CERITA SEKS CERITA SEX
CERITA SEX 2016 CERITA SEX ABG
CERITA SEX BERGAMBAR CERITA SEX KELUARGA
CERITA SEX TERBARU KEPONAKAN PEMUAS SEX
KISAH MESUM THREESOME SEX THREESOME HOT
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Cerita Sex Berbagi Kenikmatan Dengan Keponakan"
Post a Comment