Cerita Sex Hot Ngentot Bersama Polwan Montok

web dewasa yg berisikan cerita sex, cerita nyata,
cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex
Hot Bersama Polwan Muda” dan foto hot terbaru 2016
Cerita Sex Hot Bersama Polwan Muda
Aku tak mengenakan helm karena aku terburu-buru
pergi ke tempat pacarku. Apesnya, aku dihadang sama
polisi. Polisi itu naik mobil, tiba-tiba dgn cepatnya
memotong jalanku, aku kaget hampir saja kutabrak
mobil polisi itu. Aku rem mendadak motorku, karena
terjadi hentakkan, jadi tubuhku hilang keseimbangan
lalu aku terjatuh dari motorku. Aku terguling-guling di
jalan. Tp syukurlah aku tdk apa-apa hanya lecet biasa.
Pada saat aku masih dlm keadaan telungkup, aku lihat
pintu mobil polisi itu terbuka. Tp anehnya, aku
sepertinya kok melihat kaki seorang wanita. Kakinya yg
putih bersih dan indah itu kini berada tepat di wajahku,
kutegakkan kepalaku.- cerita sex polwan – Betapa
terkejutnya aku, mataku seperti melihat “hutan
belantara” di antara kedua kaki yg jenjang itu. Setelah
kuperhatikan baik-baik, ternyata dia seorang polwan,
dan di dada kirinya tertulis namanya, ANA. Dia cantik
sekali dan ohh.., body-nya mantap sekali. Aku jadi
bengong, dan, “Plaaakkk..!” sebuah tamparan mendarat
di pipi kananku.
“Heiii, apa yg Kamu lihat..? Ayo sekarang serahkan
surat-suratmu mu cepaattt..!” bentaknya.
Cerita sex terbaru, Aku jadi kaget dan segera kuambil
dompet dari saku celanaku, lalu kuambil SIM dan STNK,
lalu kuserahkan padanya. Sementara dia melihat
suratku, aku pandangi lagi dia ohh.., betapa cantik
polwan ini.
Cerita mesum terbaru, Aku perkirakan umurnya paling
masih sekitar 25 tahun. Samar-samar di dlm mobil ada
polisi cewek satu lagi, dia seumur denganya tetapi
pangkatnya lebih rendah, kalau tdk salah sersan dua.
Kakinya putih tetapi tdk semulus polwan yg tadi. Lalu
tanpa kusadari, Letnan Ana mengambil sesuatu dari
dlm mobil, dia berjalan menuju hidung mobil, lalu dia
membungkukkan badannya untuk menulis sesuatu.
Pada posisi nungging, aku lihat lagi body-nya yg
waaaooowwww selangit deh… Tanpa kusadari, “tititku”
mengeras perlahan. Setelah itu dia tegakkan badannya,
terus berkata,
“Eee.. saudara Indra, Anda Kami tilang karena Anda tdk
memakai helm. Sidang akan dilaksanakan besok lusa.
Jangan lupa Anda harus hadir di persidangan besok.
Oke..?”
“Tp Bu, besok Sy tdk bisa hadir, soalnya pada hari itu
Sy harus mengantar pacar yg akan diwisuda. Jadi Sy
minta tolong sama Ibu, bagaimana dech baiknya agar
persoalan ini selesai..?” Lalu dia bilang,
“Do you have some money..?” -cerita hot-
“Aduh, maaf sekali Bu, Sy sama sekali tdk membawa
uang sepeser pun.” jawabku.
“Baiklah, kalau begitu SIM-mu Aku tahan dulu, tp nanti
malam Kamu harus pergi ke rumah Sy. Dan ingat..!
Kamu harus datang sendiri. Oke..? Ini alamatku. Jangan
lupa lho, Aku tunggu jam 7 malam.” Dia pergi sambil
mengerdipkan matanya kepadaku.
Aku terkejut, tetapi juga seneng banget, pokoknya
seneng dech. Aku sampai di rumahnya sekitar jam 7
dan langsung mengetuk pintu pagarnya yg sudah
terkunci. Tak lama kemudian, Ibu Ana muncul dari dlm
dan sudah tahu aku akan datang malam itu.
“Ayo Ndra.., masuk. Aku sudah lama nunggu lho,
sampai basah pantatku duduk terus dari tadi..”
sapanya.
“Aaahhhh.. Ibu bisa aja…” jawabku. -cerita mesum
polwan-
“Maaf.., pintunya sudah digembok, soalnya Aku tinggal
sendiri, jadi harus hati-hati.” sambutnya.
“Oh.., jadi Ibu belum menikah too..? Sayang lho..!
Wanita secantik Ibu ini belum menikah..” kataku
merayu.
“Aaaa.. Kamu ngerayu ya..?” tanyanya.
“Enggak kok Bu, Sy berkata begitu karena memang
kenyataannya begitu. Coba Ibu pikir, Ibu sudah mapan
hidupnya, cantik luar-dlm, dan sebagainya dech…”
jelasku.
“Ehh.. Aku cantik luar-dalam, apa maksud Kamu..?”
tanyanya lagi. -cerita hot 2016-
“Haduuhh.., gimana ya, malu Aku jadinya..?” jawabku.
“Kamu nggak perlu malu-malu mengatakannya, Kamu
ingin SIM Kamu kembali nggak..?” ancamnya.
”Eee.. sekarang gini aja, Kamu udah punya pacar
khan..? Sekarang Sy tanya, kenapa Kamu memilih dia
jadi pacar Kamu..?” tanyanya lagi.
“Eee.. jujur aja Bu, dia itu orangnya cantik, baik, setia
dan cinta sama Sy, that?s all..”
“Kalau seumpama Kamu disuruh milih antara Sy dan
pacar Kamu, Kamu pilih Sy atau pacar Kamu sekarang..?
Bandingkan aja dari segi fisik, Oke.. Sy atau Dia..?”
tanyanya memojokkanku.
“Eeee… Anu.. anu… eee..,” aku dibuat bingung tdk
karuan.
“Ayo.. jawab aja..! Kalau Kamu tdk jawab, SIM Kamu tdk
kukembalikan lho..!” ancamnya lagi.
“Waduhhh.., gimana ya..? Ehmmm.., baiklah, Sy akan
jawab sejujurnya. Sy tetap akan memilih pacar Sy
sekarang.” jawabku.
“Wow.., kalau begitu dia lebih cantik dan semok dong
dari Sy..?” jawabnya lirih.
“Eeee.. bukan begitu Bu, Sy memilih pacar Sy walaupun
Dia sebetulnya kalah cantik dari Ibu, dan segalanya
dech..!” jawabku.
“Ahh… yg benar, jadi Aku lebih cantik dan semok dari
Dia..?” tanyanya lagi.
“Jujur saja.., ya.. ya.. ya..” jawabku mantap.
“Ohhh..,Aku jadi tersanjung dan terpikat dgn
jawabanmu tadi..,” katanya girang,
“Wah.. jadi lupa Aku, Kamu nonton TV aja dulu di ruang
tengah, Aku mau ambil SIM Kamu di kamar.., Oke..?”
pintanya.
Cerita ngentot terbaru, Lalu aku menuju ke ruang
tengah, kuputar TV. Secara tdk sengaja, aku melihat
tumpukan VCD. Aku tertarik, lalu kulihat tumpukan VCD
itu, lalu, ohhh astaga, ternyata tumpukan VCD itu
semuanya film “XXX”, aku terkejut sekali melihat
tumpukan film “XXX” itu. Sebelum aku melihat satu-
persatu, terdengar bunyi pintu dibuka. Lalu, ohhh, aku
terkejut lagi, Ibu Ana keluar dari kamarnya hanya
menggenakan daster pink transparan, di balik
dasternya itu, bentuk buah dadanya terlihat jelas,
terlebih lagi putting susunya yg menyembul bak
gunung Semeru. Begitu ia keluar, mataku nyaris copot
karena melotot, melihat tubuh Ibu Ana. Dia
membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas.
“Kenapa..? Ayo duduk dulu..! Ini SIM Kamu.. Aku
kembalikan..” katanya.
Cerita sex hot, Wajahku memerah karena malu, karena
Ibu Ana tersenyum saat pandanganku terarah ke buah
dadanya.
“SIM Kamu, Aku kembalikan, tp Kamu harus menolong
Sy..!” Ibu Ana merapatkan duduknya di karpet ke
tubuhku, aku jadi panas dingin dibuatnya.
“Ndraa..?” tegurnya ditengah-tengah keheninganku.
“Ada apa Bu..?” tubuhku bergetar ketika tangan Ibu
Ana merangkulku, sementara tangannya yg lain
mengusap-usap daerah “XXX”-ku.
“Tolong Ibu Ana ya..? Dan janji, Kamu harus janji untuk
merahasiakan hal ini, kalau tdk aku DOR Kamu..!”
pintanya manja.
“Tp… Sy.., anu.., eee..”
“Kenapa..? Ooooo.. Kamu takut sama pacar Kamu
ya..?” katanya manja.
Wajahku langsung saja merah mendengar perkataan Ibu
Ana,
“Iya Bu…” kataku lagi.
“Sekarang Kamu pilih disidang atau pacar Kamu..?”
ancamnya.
Dia kemudian duduk di pangkuanku. Bibir kami berdua
kemudian saling berpagutan. Ibu Ana yg agresif karena
haus akan kehangatan dan aku yg menurut saja,
langsung bereaksi ketika tubuh hangat Ibu Ana
menekan ke dadaku. Aku bisa merasakan puting susu
Ibu Ana yg mengeras. Lidah Ibu Ana menjelajahi
mulutku, mencari lidahku untuk kemudian saling
berpagutan bagai ular. Setelah puas, Ibu Ana kemudian
berdiri di depanku yg dari tadi masih melongo, karena
tdk percaya pada apa yg sedang terjadi. Satu demi satu
pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yg polos
tanpa sehelai bnenangpun seakan akan menantang
untuk diberi kehangatan olehku.
“Lepaskan pakaiannmu Ndraaa..!”
Ibu Ana berkata sambil merebahkan dirinya di karpet.
Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi
tubuhnya.
“Ayooo.. cepat dong..! Aku udah nggak tahan nich..
ohhh..” Ibu Ana mendesah tdk sabar.
Aku kemudian berlutut di sampingnya. Aku bingung dan
tdk tahu apa yg harus dilakukan, karena malu.
“Ndraaaa.. letakkan tanganmu di dadaku, ayo ohhh..!”
pintanya lagi.
Dgn gemetar aku meletakkan tanganku di dada Ibu Ana
yg turun naik. Tanganku kemudian dibimbing untuk
meremas-remas buah dada Ibu Ana yg super montok
itu.
“Oohhh… enakk.., ohhh… remas pelan- pelan, rasakan
putingnya menegang..” desahnya.
Dgn semangat aku melakukan apa yg dia katakan.
Lama-lama aku jadi tdk tahan, lalu,
“Ibu.. boleh Sy hisap susu Ibu..?” Ibu Ana tersenyum
mendengar pertanyaanku, dia berkata sambil
menunduk,
“Boleh Sayang… lakukan apa yg Kamu suka..” Tubuh
Ana menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan
mulutku yg sekarang mulai garang itu di susunya.
“Oohhh… jilat terus Ndraaaa..! Ohhh…” desah Ibu Ana
sambil tangannya mendekap erat kepalaku ke buah
dadanya.
Aku lama-lama semakin buas menjilati puting buah
dadanya, mulutnya tanpa kusadari menimbulkan bunyi
yg nyaring. Hisapanku semakin keras, bahkan tanpa
kusadari, aku menggigit-gigit ringan putingnya yg
ohhh.
“Emmm… nakal Kamu…” Ibu Ana tersenyum
merasakan tingkahku yg semakin “Jozzz” itu. Lalu aku
duduk di antara kedua kaki Ibu Ana yg telah terbuka
lebar, sepertinya sudah siap tempur.
Ibu Ana kemudian menyandarkan punggungnya pada
dinding di belakangya.
“Ayo, sekarang Kamu rasakan meqi ku..!” ia
membimbing telunjukku memasuki liang senggamanya.
“Hangat, lembab, sempit sekali Bu…” kataku sambil
mengucek kedalaman lubang kemaluanya.
“Sekarang jilat ‘k0ntol kecil’-ku..!” katanya.
Perlahan-lahan lidahku mulai menjilat klitoris yg mulai
menyembul tinggi sekali itu.
“Terus.. ooohhh.. ya.. jilat.. jilat. Terus.. ohhh…” Ibu
Ana menggerinjal-gerinjal keenakan ketika klitorisnya
dijilat oleh mulutku yg mulai asyik dgn tugasnya.
“Gimana.., enak ya Bu..?” aku tersenyum sambil terus
menjilat.
“Oohh.. Ndraaaa…” tubuh Ibu Ana telah basah oleh
peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara
bibirnya merintih-rintih keenakan.
Lidahku semakin berani mempermainkan klitoris Ibu
Ana yg makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yg
semakin memburu pertanda pertahanannya akan
segera jebol. Dan aku akan unggul 1-0, ee… emangnya
main bola. Lalu,
“Oooaaahhh… Ndraaaa..!” Tangan Ibu Ana
mencengkeram pundakku yg kokoh bagaikan tembok
raksasa di China, sementara tubuhnya menegang dan
otot- otot kewanitaannya mulai menegang, dan
muncratlah ‘lahar’Ibu Ana di mulutku.
Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yg
telah kuberikan.
Hmmm… Kamu sungguh lihai Ndraaaa… Sekarang coba
gantian Kamu yg berbaring…” katanya. Aku menurut
saja. Batang kejantananku segera menegang ketika
merasakan tangan lembut Ibu Ana yg mulai
mempermainkan senjata keperkasaanku.
“Wah.. wahh… besar sekali. Oh my god… Ohhh…”
tangan Ibu Ana segera mengusap-usap batang
keperkasaanku yg telah mengeras tersebut.
Segera saja benda besar dan panjang itu mulai
berdenyut-denyut dan dimasukkan ke mulut Ibu Ana.
Dia segera menjilati batang kemaluanku itu dgn penuh
semangat. Kepala kejantananku itu dihisapnya keras-
keras hingga aku jadi merintih keenakan.
“Ahhh… enakkeee.. rekkk..!” aku tanpa sadar
menyodokkan pinggulku untuk semakin menekan
senjata keperkasaanku agar makin ke dlm mulut Ibu
Ana yg telah penuh oleh batang kejantananku.
Gerakanku makin cepat seiring semakin kerasnya
hisapan Ibu Ana.
“Ooohhh Bu.. oohhh.. mulut Ibu memang sakti.. ohhh..
I?m coming… ohhh…” Muncratlah laharku di dlm
mulut Ibu Ana yg segera menjilati cairan itu hingga
tuntas.. tas.. tas.. plass.
“Hmmmm… agak asin rasanya Ndra punyamu.., tp enak
kok…” Ibu Ana masih tetap menjilati kemaluanku yg
masih tegak bagaikan tugu Monas di Jakarta, menara
Piza di Italy, menara Eiffel di Paris.
“Sebentar ya.., Aku mau minum dulu..” katanya setelah
selesai menjilati batang kejantananku.
Ketika Ibu Ana sedang membelakangiku sambil
menenggak air putih dari kulkas. Aku melihat body yg
wuih dan itu ohhh, pantat yg bulat. Aku memang suka
pantat yg bulat dan menantang. Aku tdk tahan cuma
melihat dari jauh, lalu aku berdiri dan berjalan
menghampirinya, lalu mendekapnya dari belakang.
“Ndraaaa.. jangan nakal dong, biar Ibu minum dulu..!”
katanya manja.
“Aku tdk tahan melihat pantat ibu yg menantang itu.”
kataku tak sabaran.
“Kamu suka pantatku, kalau gitu Kamu tentu mau kalau
nanti pantatku mendapat giliran untuk Kamu obok-
obok, bagaimana Ndra..? Mau ngobok- ngobok pantat
Ibu..?” tanyanya. Aku terima tantangannya.
“Ohhh.., memang benar- benar mantaapppp…” aku
berkata sambil mengelus-elus pantat Ibu Ana.
Lalu aku jongkok agar dapat jelas melihat, kusentuh
lembut pantat itu dgn tanganku. Terus kucium, kuelus
lagi, kucium lagi terus kujilat, lalu kubuka belahan
pantat itu. Ohhh.., terhampar pemandangan indah dgn
bau yg khas, lubang yg sempit, lebih sempit dari yg di
depan dan sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu yg lumayan
lebat. Lalu kujulurkan jari telunjukku ke lubang yg
sempit itu.
Waktu aku coba memasukkan jariku ke lubang itu,
terdengar jeritan kecil Ibu Ana.
“Ndra.., jangan keras-keras ya, nanti sakit.. lho…” Lalu
aku mulai memasukkan step by step.
Waktu jariku menembus lubang itu sepertinya tanganku
mau disedot masuk ke dlm.
“Lubang Ibu nakal juga ya, masa jariku mau dimakan
juga..?”
“Akhhh… Kamu nakal dech.., ohhh Ndra.. coba
sekarang Kamu jilat ya..?” pintanya.
Lalu kutarik jariku dari dlm lubang itu, lalu aku mulai
menjilati lubang itu ehhmm.., lumayan juga rasanya,
asin-asin gurih. Sementara itu, Ibu Ana terdengar
merintih keenakan. Lama-lama aku tdk sabar, dan terus
kuberdiri dan tanpa basa-basi, aku langsung
membalikkan badannya. Terus kulahap gundukan-
gundukan daging di dada Ibu Ana dgn nikmat.
Sementara itu, Ibu Ana mulai mendesah-desah dan
menggelinjang. Kepalanya mendongak ke atas dan
matanya terpejam. Goyangan- goyangan lidahku yg
terus menjilati puting susu Ibu Ana yg tinggi dan lancip
begitu bertubi-tubi tanpa henti. Ibu Ana menggerinjal-
gerinjal dgn keras.
“Aaaaggghhhh… oooohhh… ooooohhh…” desahan-
desahan kenikmatan semakin banyak bermunculan dari
mulut Ibu Ana.
Geliat- geliatan tubuhnya semakin menjadi-jadi karena
merasa sensasi yg luar biasa akibat sentuhan-sentuhan
mulut dan lidahku pada ujung syaraf sensitif di buah
dadanya. Urat-urat membiru pun mulai menghiasi dgn
jelas seluruh permukaan buah dada yg super montok
itu. Masih dgn mulutku yg tetap berpetualang di dada
Ibu Ana yg juga masih menggelinjang, aku membopong
Ibu Ana ke kamar. Kujatuhkan tubuh Ibu Ana di atas
kasur spring bed yg sangat empuk.
Saking keras jatuhnya, tubuhnya yg aduhai itu sempat
terlontar-lontar sedikit sebelum akhirnya tergolek
pasrah di atas ranjang itu. Setelah itu, Ibu Ana
tetelentang di kasur dgn kaki-kakinya yg jenjang
terjulur ke lantai. Tubuh bugilnya yg putih dan mulus
beserta buah dada yg montok dgn puting susu nan
tinggi yg teronggok kokoh di dadanya, memang sebuah
pemandangan yg amat menawan hati. Lalu aku berlutut
di lantai menghadap selangkangan Ibu Ana.
Kurenggangkan kedua kakinya yg menjejak di lantai.
Dgn begitu aku dapat memandang langsung ke arah
selangkangannya itu. Bulu-bulu kemaluan yg tumbuh di
padang rumput tipis yg menghiasi wilayah sensitif itu
begitu menggelora nafsu birahiku. Aromanya yg segar
dan harum membuat nafsuku itu kian meninggi.
Kudekatkan mulutku ke bibir meqinya dan kujulurkan
lidahku untuk mencicipi lezatnya lubang itu. Tubuh Ibu
Ana terlonjak keras ketika kucucukkan lidahku ke dlm
liang senggamanya. Kukorek-korek seluruh permukaan
lorong yg gelap itu. Begitu hebat rangsangan yg kubuat
pada dinding lorong kenikmatan tersebut, membuat air
bah segera datang membanjirinya.
“Aaaagghhhhhh… oooooohhh… aaahhh…” terdengar
rintihan Ibu Ana dari mulutnya yg megap-megap
setengah membuka.
Kemudian aku berdiri. Dgn tangan bertumpu ke atas
kasur, kucoba mengarahkan ujung K0ntolku ke lubang
meqi yg lumayan sempit yg tampak licin dan basah
milik Ibu Ana. Berhasil. Perlahan-lahan kuhujamkan
batang kemaluanku ke dlm liang senggama itu. Tubuh
Ibu Ana berkejat- kejat dibuatnya merasakan nikmat
penetrasi yg sedang kulakukan saat ini.
“Oooohhhh… uuuuccchhh…” tak ayal jeritan- jeritan
mengalir dari mulutnya.
Akhirnya batang keperkasaanku amblas semua ke dlm
liang gelap yg berdenyut-denyut milik Ibu Ana diiringi
dgn jeritannya. Kenikmatan ini kian bertambah
menjadi- jadi setelah aku melakukan penetrasi lebih
dlm dan intensif lagi. Gerakan memompa dari batang
kejantananku di dlm kemaluan Ibu Ana semakin
kupercepat.
Terdengar suara kecipak-kecipak dan lenguhan kami
berdua karena terlalu asyiknya kami bersenggama.
Seiring dgn tangan yg kembali meremas- remas
perbukitan indah yg menjulang tinggi di dada Ibu Ana,
batang kejantananku terus melakukan serangan-
serangan yg tanpa henti di dlm lubang senggamanya yg
bertambah kencang denyutan-denyutannya. Meqi
memerah yg terus berdenyut-denyut dan amat licin
akibat begitu membanjirnya cairan- cairan kenikmatan
yg keluar dari dalamnya, terasa menjepit bnatang
kejantananku.
Demikian sempitnya ruang gerak K0ntolku di dlm
lorong gelap itu, menjadikan gesekan-gesekan yg
terjadi begitu mengasyikkan. Ini merupakan sensasi
sendiri bagiku yg merasakan batang keperkasaanku
seperti merasa diurut-urut oleh seluruh permukaan
dinding meqinya. Mulutku pun tak henti-hentinya
menyuarakan desahan-desahan kenikmatan tanpa bisa
dihalangi lagi.
“Oouuugghhhhh… Ndraaaa… mmmpphhhh…” Ibu Ana
mengerang-ngerang tdk karuan, sementara tubuhnya
juga melonjak-lonjak dgn keras.
Sekuat tenaga kuhujam-hujam K0ntolku dgn lebih
ganas lagi ke dlm liang senggamanya. Rasanya hampir
habis tenaga dan nafasku dibuatnya. Tetapi nafsu birahi
yg begitu menggelora tampaknya membuatku lupa pada
kelelahanku itu. Ini dibuktikan dgn sodokan
kejantananku yg berusaha menusuk sedalam-dalamnya.
Bahkan berkali-kali ujung batang kejantananku sampai
menyentuh pangkal liang tersebut, membuat Ibu Ana
menjerit keenakan.
“Ndraaaa… Ndraaaa… Aku… mau… keluar…” Ibu Ana
melenguh kencang.
Ia merasakan sudah tdk bisa menahan klimaksnya lagi.
Akan tetapi, aku belum merasakan klimaks sedikit pun.
Langsung kutambah kecepatan genjotan-genjotan
batang kejantananku di dlm liang senggamanya. Begitu
buasnya sodokan-sodokanku itu, membuat tubuh Ibu
Ana bergoyang-goyang hebat, dia merintih…
merintih… dan merintih.
Akhirnya saat yg diharapkan itu tercapai. Aku melenguh
panjang merasakan spermaku muncrat, menyusul Ibu
Ana yg sudah terlebih dahulu memperoleh orgasmenya.
Begitu nikmatnya orgasme yg kurasakan itu sehingga
membuat laharku bagaikan air bah menerjang masuk ke
dlm liang senggama Ibu Ana. Kami berdua mengejang
kencang saat titik-titik puncak itu tercapai. Tp kenapa
batang kejantananku tdk mau istirahat, dan masih
terlihat perkasa. Dgn segera aku berlutut di atas
ranjang. Kuminta Ibu Ana untuk berlutut juga
membelakangiku dgn tangan bertumpu di kasur, jadi
dlm posisi doggy style.
Kemudian Ana kudorong sedikit ke depan, sehingga
pantatnya agak naik ke atas, yg lebih memudahkan
batang kejantananku untuk melakukan penetrasi ke
dlm lubang senggamanya. Setelah itu langsung
kusodok kemaluan yg sekarang sudah terlihat agak
merekah itu dgn batang keperkasaanku dari belakang.
Tubuh Ibu Ana terhenyak hingga hampir terjungkal ke
depan akibat kerasnya sodokanku itu, sementara
mulutnya menjerit keenakan. Dlm sekejap, senjata-ku
itu seluruhnya ditelan oleh meqi itu dan langsung
menjepitnya.
Jepitan meqi Ibu Ana yg berdenyut-denyut menambah
gairah birahiku yg memang sudah menggelora. Dgn
cepat, kutarik kejantananku sampai hampir keluar dari
dlm liang senggamanya, lalu kutusukkan kembali dgn
cepat. Kemudian kutarik dan kusodok lagi, seterusnya
berulang- ulang tanpa henti. Doronganku yg keras
ditambah dgn sensasi kenikmatan yg luar biasa
membuat Ibu Ana beberapa kali nyaris terjerembab.
Namun itu tdk menjadi masalah sama sekali. Bahkan
sebaliknya, membuat permainan kami berdua menjadi
kian panas. Lalu,
“Ooocchh… uh… uh… uh…” nafasku terengah-engah.
Kurasakan sekujur tubuhku mulai kehabisan tenaga.
Tenagaku sudah begitu terkuras, tetapi aku belum mau
berputus asa. Kucoba mengeluarkan sisa-sisa tenaga
yg masih ada semampuku. Dgn sedikit mengejang,
kugenjot batang kejantananku kembali ke dlm luabng
kenikmatannya sekuat-kuatnya. Ibu Ana pun tdk mau
kalah, dia maju-mundurkan tubuhnya dgn ganasnya.
Akhirnya, Ibu Ana melenguh panjang, muncratlah lahar-
nya, disusul beberapa detik kemudian oleh kemaluanku.
Lalu secepat kilat kukeluarkan K0ntolku dari dlm
lubang kenikmatan Ibu Ana dan langsung jatuh terkapar
di kasur. Lalu, Ibu Ana langsung meraih batang
kejantananku itu dan dimasukkan ke dlm mulutnya. Ibu
Ana mengocok k0ntolku itu di dlm mulutnya yg
memang agak kecil.
Namun Ibu Ana berhasil melumat batang
keperkasaanku dgn nikmatnya. Gesekan-gesekan yg
terjadi antara kulit kemaluanku yg sensitif dgn mulut
Ibu Ana yg basah dan licin ditambah dgn gigitan-
gigitan kecil yg dilakukan oleh giginya yg putih karena
pakai “Smile-Up Man”, membuat aku tdk dapat
menahan diri lagi. Muncratan-muncratan lahar
kenikmatan yg keluar begitu banyaknya dari batang
keperkasaanku langsung ditelan seluruhnya, hampir
tanpa sisa oleh Ibu Ana. Sebagian meleleh keluar dari
mulutnya dan jatuh membasahi kasur. Belum puas
sampai disitu, ia masih menjilati sekujur batang
kejantananku sampai bersih total seperti sediakala.
Bukan main! Lalu kami berdua tergeltak di atas tempat
tidur dgn tubuh telanjang yg dibasahi oleh keringat dan
lahar kami. Kemudian aku tertidur. Tiba-tiba,
“Aaauuuwww..,” kepalaku sakit sekali, terus aku
terbangun tetapi samar-samar aku melihat tiga orang
sudah berada di sekelilingku. Semuanya memakai
seragam putih-putih. Satu cowok dan dua cewek.
Setelah itu penglihatanku mulai jelas, dan benar
dugaanku, aku sekarang berada di rumah sakit. Tp
bagaimana bisa..? Terus apa yg kulakukan tadi itu
gimana..? Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita
mesum, cerita dewasa “Cerita Sex Hot Bersama Polwan
Muda” dan foto hot terbaru

Tagged with: CERITA ABG MESUM CERITA ABG SANGE
CERITA BOKEP CERITA DEWASA CERITA LEPAS PERAWAN
CERITA MESUM CERITA MESUM PELAJAR
CERITA NGENTOT CERITA PANAS CERITA PERAWAN
CERITA SEKS CERITA SEX CERITA SEX 2016
CERITA SEX ABG CERITA SEX BERGAMBAR
CERITA SEX POLWAN CERITA SEX TERBARU
NGENTOT POLISI WANITA PEMUAS NAFSU POLWAN
POLAN SEKSI HORNY POLISI CEWEK ORAL
POLWAN BISPAK POLWAN MANIAK SEX

0 Response to "Cerita Sex Hot Ngentot Bersama Polwan Montok"

Post a Comment

Total Pageviews

Arsip Blog

findeen