cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita
Dewasa Dina Istri Gelap Tahan Lama” dan foto hot
terbaru 2016
Cerita Dewasa Dina Istri Gelap Tahan Lama
Cerita ini sengaja aku paparkan buat teman-temanpenggemar cerita dewasa kususunya para pembaca
orisex.com, terutama bagi mereka yg suka
memanfaatkan internet sebagai alat komunikasi.
Banyak peristiwa yg bersejarah yg terlahir akibat
kenalan lewat e-mail, seperti yg telah kubuktikan.
Bermula ketika aku mendapat respon dari beberapa
wanita yg sempat membaca cerita cerita dewasaku, di
antaranya seorang mahasiswi di salah satu perguruan
tinggi di kota Makassar. Usianya kutaksir maksimal 28
tahun. Namanya Dina (samaran). Dia sangat tertarik dgn
ceritaku dan ingin kenalan dgnku lebih jauh, bahkan
kami sepakat lewat e-mail untuk saling tukar
pengalaman.
Sy masih ingat, waktu itu iseng-iseng membuka inbox
emailku siapa tau ada email yg masuk. Waktu itu
Tepatnya 4 Juni 2003, sebuah alamat email yg
bertuliskan @yahoo.au di ujungnya, kucoba klik dan
ternyata ia mengajakku kenalan.-cerita mahasiswi-
Akupun mencoba membalasnya sesuai janjiku pada
setiap cerita dewasa yg kukirim, meskipun kalimatnya
ala kadarnya yg penting tdk mengecewakan bagi
pengirimnya. Apalagi namanya menunjukkan nama
seorang wanita, sehingga pasti kuusahakan
menyapanya.
Cerita sex terbaru, Hanya dlm tempo 24 jam kemudian,
email itu kembali muncul lagi di kotak emailku dan
isinya menunjukkan ada keseriusan mau kenalan lebih
jauh dgnku. Akupun semakin menunjukkan keseriusan
mau kenalan denganya, apalagi setelah kuketahui kalau
ia tinggal tdk terlalu jauh jaraknya dari kota tempat
tinggalku. Kami hanya beda kota kabupaten, tp ada dlm
satu wilayah propinsi Sulsel.
Cerita mesum hot, Balas membalas email antara aku
dan Dina boleh dibilang cukup lancar. Bayangkan saja
sejak 4 Juni 2003 hingga saat ini, Dina tdk pernah alpa
mengirim email padaku dan tentu saja sebaliknya aku
tdk pernah alpa membalasnya secara otomatis pada
saat itu juga. Sampai-sampai kami membuat
kesepakatan untuk buka dan kirim email setiap hari
Senin, Rabu dan Jum’at (3x seminggu).
Cerita ngentot hot, Banyak pengalaman dan informasi
yg kami tukar. Mulai dari asal usul, pengalaman sex,
ciri-ciri dan keinginan sex kami masing-masing serta
jadwal pertemuan kami di kota makassar. Bahkan kami
saling menginformasikan mengenai alat sensitif kami
secara jujur, yg akhirnya sy kirimkan foto berkat
pengajaran dari Dina soal cara mengirim foto lewat
email, sebab saat itu sy masih awam dlm hal kirim
mengirim foto lewat email.
Tdk kurang dari 25 kali kami saling membalas email,
hingga sampai puncaknya pada tanggal 7 Oktober
2003, di mana kami betul-betul serius mau melakukan
pertemuan secara langsung dan sekaligus
memperaktekkan tentang pengalaman dan kebutuhan
sex kami masing-masing.
Sy tdk pernah yakin kalau perkenalan lewat email itu
bisa mempertemukan kami secara langsung, apalagi
jarak antara kota sy dgn kota tempat tinggal Dina
sekitar 200 km lebih. Namun kenyataan menunjukkan
bahwa janji dan keinginan sex kami bukan hanya isapan
jempol dan teori saja, melainkan kami betul-betul
berhasil bertemu muka, bahkan melakukan praktek
bersama di salah satu wisma di Makassar.
Bagi Dina mungkin tdk terlalu sulit menemukanku di
terminal setelah kami janjian ketemu di salah satu
tempat di kompleks terminal Panaikan sebab dia telah
menerima fotoku lebih dahulu yg kukirim lewat email.
Tp bagiku menemukan orang yg belum pernah kulihat
sebelumnya, apalagi ciri-cirinya tdk sempat
menjelaskan secara rinci di emailnya, tentu sangat
sulit, sebab selain aku belum banyak pengalaman di
kota Makassar, termasuk di terminal Panaikan, juga
terlalu banyak wanita muda yg berkeliaran, apalagi aku
belum yakin 100% atas janjinya mau menemuiku di
terminal itu. Tp aku tetap bertekad untuk ke Makassar
siapa tahu bisa jadi kenyataan, kalaupun ia permainkan
aku, kuanggap hal itu sebagai pengalaman buatku.
Jam 7.00 pagi sy sudah naik mobil dan berangkat
meninggalkan rumah tempat tinggalku menuju kota
makassar dgn alasan sama istriku bahwa ada urusan
bisnis penting selama sehari di Makassar agar ia
izinkan aku berangkat. Namun karena berbagai
hambatan diperjalanan, maka aku terlambat 1 jam tiba
di terminal sebagaimana rencana yg kusampaikan Dina
semula. Sebelum aku turun dari mobil tumpanganku,
aku tiba-tiba gemetar dan merasa takut kalau-kalau dia
lebih dahulu memperhaDinanku dan aku juga diliputi
rasa was-wasa jangan-jangan dia mau menjebakku dgn
membawa pasukannya atau teman laki-lakinya ke
terminal serta berbagai macam dugaan yg muncul
dibenakku.
Mataku mulai membelalak sejak mobil belok ke kanan
dan berhenti di depan loket pembayaran retribusi
hingga memasuki pelataran parkir. Aku turun dan
membayar sewa mobil sambil berusaha tersenyum
sendirian dgn perasaan tdk menentu kalau-kalau dia
telah memperhaDinanku. Akibat konsetrasiku mencari
seorang gadis muda yg sedang bingung mencari
seseorang, maka hampir aku kecolongan memberi uang
kepada orang lain yg tdk kukenal.
Untung saja orang itu tdk segera mengambil uang yg
kusodorkan itu, sebab ternyata yg kuserahkan sewa
mobilku bukan sopir mobil itu, melainkan orang lain yg
kebetulan mencari muatan buat mobilnya. Ini gara-gara
terlalu gembira mau ketemu dgn seorang gadis yg
belum tentu datang ke terminal itu, apalagi bodi dan
ciri-ciri pakaiannya belum jelas sama sekali. Kejadian
itu pasti tdk pernah terlupakan seumur hidupku.
Sekitar 20 m aku bolak balik dari pelataran paling
bawah ke pelataran paling atas di terminal itu, bahkan
hampir semua warung dan tempat duduk-duduk para
penumpang bis aku intip tanpa ada rasa segan,
meskipun aku tetap agak malu kalau-kalau ada
penumpang dari kotaku asalku yg mengenal dan
memperhaDinanku, yg bisa saja melaporkan sikapku itu
pada istriku nanti. Setelah capek keliling, akhirnya aku
putuskan untuk masuk wartel lalu menghubungi HV-
nya, sebab lewat emailku sebelumnya aku telah
berpesan agar tdk dimaDinan HV-nya hari itu.
“Halo, Dina yah? di mana kamu sekarang? aku ini ada
di terminal mencarimu sejak tadi” demikian kata sy
melalui telepon.
“Halo, betul ini Dina. Sy ada di kampus sekarang lagi
makan siang ama teman-teman di warung kampus nih.
Tunggu aja di situ yah, aku akan segera meluncur ke
sana, tp tepatnya kamu nunggu di mana yah?” itulah
jawaban Dina saat itu seolah menunjukkan
keseriusannya mau ketemu dgnku.
“Oke sayang, aku akan setia menunggumu di depan
wartel belakang pos pungutan retribusi masuk, sudah
ngga tahan nih mau ketemu dgnmu” demikian jawaban
singkat sy saat itu.
Hampir setiap mobil, terutama petek-petek dan taxi
kuamati isinya dan penumpang yg turun kalau-kalau ia
naik kendaraan itu, meskipun sesekali juga
kuperhaDinan motor yg lewat jangan sampai ia naik
motor. Hanya dlm waktu sekitar 20 menit kemudian,
aku tiba-tiba mendengar suara panggilan dari sebelah
kiri di mana aku duduk dgn sedikit tertahan, “Halo-
halo, eh-eh,” ternyata suara itu adalah berasal dari
seorang gadis muda yg sedang menjinjing tas
mahasiswa, yg nampaknya diarahkan padaku.
Akupun segera berbalik ke arahnya, namun ia segera
berjalan berputar di samping mobil yg ada di
belakangku. Walaupun sedikit ragu, tp keyakinanku
lebih besar mencurigai kalau wanita itu adalah Dina yg
sejak tadi aku tunggu, aku cari dan aku idam-idamkan
selama ini. Sambil mengikuti langkah kakinya, getaran
jantungku semakin dag dig dug, dan tiba-tiba ia
membalikkan wajahnya sehingga kami berhadap-
hadapan dan saling menatap sejenak di tengah-tengah
keramaian penumpang yg ada di terminal itu, hanya 30
cm jaraknya.
“Kamu Bondan khan” katanya dgn suara yg lembut.
“Yah, dan kamu Dina khan” aku balik bertanya dgn
mengarahkan telunjukku pada wajahnya sambil kami
tersenyum.
Entah apa yg bergejolak di pikirannya saat itu, tp yg
jelas aku rasanya ingin langsung memeluk tubuhnya,
untung segera kusadari kalau tempat ini dihuni oleh
banyak orang, yg tdk mustahil ada yg mengenal kami.
Tanpa banyak basa basi lagi, ia segera naik mobil
petek-petek dan akupun segera mengikutinya bagaikan
kerbau yg dicocok hidungnya. Di dlm mobil, kami
banyak membicarakan soal ketdkpercayaan kami atas
pertemuan ini, bahkan pengakuannya ia sedikit agak
kesal dan hampir putus asa menunggu sejak pukul
10.00 pagi tadi di terminal sesuai informasi yg telah
kusampaikan, namun aku berkali-kali minta maaf atas
keterlambatan tiba di terminal mobil yg kutumpangi
itu.
Dari 2x pindah petek-petek menuju wisma yg telah ia
janjikan dlm emailnya, kami tdk pernah kehabisan
bahan bicara, bahkan kami duduk sangat rapat,
sehingga anginpun sulit melewati perantaraan duduk
kami. Tubuh kami seolah melengket pakai lem tanpa
ada perasaan malu sedikit pun dari penumpang lainnya.
Dlm hati sy biar mereka memperhaDinan kami toh
mereka tdk mengenal kami. Kami bagaikan suami isteri
yg baru ketemu setelah sekian lamanya berpisah.
Betul-betul saling melepaskan kerinduan.
Sekitar 30 m dari wisma yg kami tuju, Dina tiba-tiba
menghenDinan mobil lalu turun dan akupun
mengikutinya. Maklum aku belum banyak kenal kota
Makassar. Meskipun aku tetap selalu berusaha untuk
membayar sewa petek-petek setiap turun, tp selalu
saja Dina mendahuluiku atau aku kalah cepat
membayarnya. Sebagai seorang pria, akupun merasa
berat dan malu, tp Dina nampaknya betul-betul mau
membukDinan janjinya untuk memberikan layanan
100% jika aku datang menemuinya di Makassar.
Rencana pertemuan kami di kota Makassar betul-betul
sudah sangat matang, sebab kami telah membeberkan
kelemahan dan keterbatasan kami masing-masing
lewat email, namun kami tetap saling berjanji akan
menerima apa adanya, yg penting tujuan kami hanya
satu yaitu saling memberi kepuasan sex sesuai
kemampuan dan pengalaman serta keinginan kami
masing-masing. Pekerjaan, keuangan dan penampilan,
bahkan usia, kami telah sepakat untuk tdk
mempersoalkannya.
Demikian seriusnya Dina mau menyenangkan diriku,
sehingga ia siap membantu membayar sewa kamar
wismanya dan siap memberikan tubuhnya sepenuh hati
buatku serta mengorbankan perasaannya demi
kebahagiaanku nanti. Bahkan kami telah janjian untuk
saling menjilati kemaluan dan mencukur bulunya
sebelum pertemuan, sampai-sampai ia
memberitahukan jadwal tamu bulanannya agar
kedatanganku nanti tdk bertepatan agar ia dapat
melayaniku 100%.
Sebelum kami masuk wisma tersebut, Dina
menyempatkan diri membeli aqua besar untuk
keperluan dlm kamar nanti. Entah buat minum atau apa
saja yg membutuhkan air. Setelah membayarnya, Dina
meminta aku membawa air itu dan apapaun rasanya
diperintahkan oleh Dina saat itu pasti kuturuti karena
keseriusannya melayaniku, padahal Dina adalah seorang
gadis muda, mulus, berkulit putih dan menggairahkan
bagiku, apalagi seorang mahasiswi. Sementara aku
termasuk sudah Setengah Baya yg berkulit hitam dan
keriput, punya istri dan 3 orang anak lagi. Siapa tdk
bahagia dan mangga berteman, apalagi bercinta dgn
wanita seperti Dina itu yg ikhlas berkorban untuk
kesenangan aku.
“Tik, apa wisma ini cukup aman buat kita? dan apa
selama ini ngga sering-sering dirazia oleh petugas?”
tanya sy pada Dina saat kami barengan masuk pintu
wisma itu sambil mengawasi di sekelilingnya.
“Ngga taulah, sebab baru satu kali aku ke sini sewaktu
pacarku membawaku dgn tujuan yg sama sampai aku
tahu tempat ini, dan itupun sudah lama” jawabnya
sambil menceritakan soal peristiwa persenggamaannya
dgn pacarnya tempo hari di wisma tersebut.
“Mudah-mudahan aja ngga terjadi apa yg kita
khawatirkan” katanya lebih lanjut.
Selesai kami lihat tarif dan kamar yg kosong pada
serlembar kertas di atas meja pelayanannya, Dinapun
membuka dompetnya dan aku usulkan untuk gabung
saja biar lebih ringan pembayarannya. Waktu itu, kami
hanya membayar Rp. 55.000 untuk 6 jam, sebab
nampaknya kamar lainnya penuh semua, dan kupikir 6
jam itu cukup lama buat kami yg tdk rencana menginap.
Bisa kami selesaikan beberapa ronde.
Tepat pada jam 2.00 siang, kami telah masuk di wisma
yg tdk perlu sy sebutkan namanya itu. Setelah kami
bayar, kami lalu naik ke lantai dua mengikuti petugas
wisma dan masuk ke sebuah kamar yg dilengkapi dgn
air minum, kamar kecil, TV color 14 inc dan sprinbad
yg cukup besar ukurannya. Setelah petugas keluar dari
kamar, tinggallah kami berdua dlm kamar. Dina
menutup dan mengunci rapat pintu kamarnya lalu
menutup semua gorden, lalu masuk sebentar ke kamar
kecil lalu berbaring di atas rosban dgn pakaian masih
lengkap.
Sedangkan aku terlebih juga lebih dahulu masuk kamar
kecil buat buang air, lalu ikut berbaring disamping
Dina. Sambil berbaring dgn pakaian masih lengkap,
kami bincang- bicang dan saling mengutarakan rasa
kerinduan kami selama ini. Tanpa aku sadar, tangan
kananku sudah memeluk tubuh Dina dan Dinapun
tampaknya tdk segan-segan lagi membalas pelukanku,
sehingga kami saling berpelukan dlm keadaan
berbaring menyamping.
“Aku sangat merindukanmu sayang, ingin sekali
memelukmu” ucapanku sedikit berbisik ketika wajah
kami sudah saling menyentuh sehingga napas kami
sudah saling beradu.
“Aku juga sangat rindu padamu suamiku, mari kita
lepaskan kerinduan kita” jawabnya sambil memasukkan
lidahnya dlm mulutku, sehingga kami saling mengisap,
saling bergumul dan memainkan lidah dlm mulut kami
masing-masing.
Cerita Sex 2016 Dina Istri Gelapku Yg Tahan Lama –
Permainan mulut dan lidah kami berlangsung semakin
rapat dan cukup lama, sampai kami merasa terengah-
engah akibat kecapean mengisap. Bahkan aku lupa
mandi sesuai kesepakatan kami semula ketika kami
saling berhadap-hadapan di tempat tidur itu. Demikian
serunya permainan mulut kami, sehingga tdk ingin
rasanya ada istirahat sejenak dan melewatkan
kesempatan sedetikpun dlm kamar itu mumpung masih
sempat.
Sambil bermain lidah, sy mencoba memasukkan tangan
kananku ke dlm baju kain Dina hingga masuk ke dlm
BH-nya yg ukurannya cukup sederhana. Sebagai
seorang gadis yg jam terbangnya dlm dunia sex masih
cukup terbatas bila dibanding dgn jam terbangku, tentu
ia tdk tahan lama dipermainkan buah dadanya, apalagi
sy remas-remas kedua buah dadanya dgn lembut dan
sesekali menindis-nindis putingnya yg mulai mengeras
dan menonjol itu.
Ia tdk mampu lagi sembunyikan kenikmatan yg ia
rasakan dan terasa ia mulai terangsang, yg sangat
kedengaran dari suaranya yg mengerang-erang kecil.
Utungnya tdk ada orang yg dekat dgn kamar itu, sebab
memang kamar itu berada dibagian paling depan dan
disudut wisma sehingga kami leluasa bersuara agak
keras sebagai tanda kenikmatan yg kami alami.
“Ngga mau mandi dulu Kak?” katanya mengingatkanku,
karena kebetulan aku keringatan akibat perjalanan jauh
dari daerah tadi.
“Nantilah, setelah kita bermain-main dulu, biar kita
lebih lama bercumbu rayu” jawabku sambil tetap
memainkan lidah ke dlm mulutnya dan meremas-remas
teteknya yg montok itu.
Namun karena ia nampaknya sudah sangat terangsang,
ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengeluarkan
lidahku dari dlm mulutnya lalu duduk sambil satu demi
satu ia buka kancing bajunya hingga terlepas dari
badannya. Aku hanya mampu menatap indahnya tubuh
seorang gadis mahasiswi. Mulus dan putih, namun
sedikit agak gemuk sebanding dgn gemuk tubuhku,
meskipun ia sedikit pendek dari ukuran badanku. Warna
kulit kami sangat kontras karena kulitnya putih
sementara kulitku agak hitam.
Setelah ia melepaskan baju kain yg dikenakannya, ia
lalu kembali berbaring. Akupun melepaskan baju lengan
panjang yg kukenakan seperti halnya pagawai kantoran
saja. Kami kembali berpelukan dan bergumul di atas
kasur yg empuk. Kali ini aku menindihnya meskipun ia
masih mengenakan BH warna putih, sementara aku
masih mengenakan baju dlm. Namun hal itu tdk sampai
bertahan lama, sebab aku tdk tahan lagi mau segera
melihat isi dlm BH-nya, sehingga aku lepaskan kaitnya
dari belakang lalu meremas-remas secara bebas dgn
kedua tanganku, bahkan segera kujilati dan mengisap-
isap putingnya yg agak bulat dan sedikit membesar.
Sehingga ia kegirangan seolah ingin teriak ketika aku
maju mundurkan mulutku pada putingnya, yg
kedengaran bunyinya akibat air liurku yg
membasahinya.
Tanpa aba-aba dari Dina, sypun segera merosot rok
panjang yg dikenakannya, lalu kugigit-gigit dan
kutusuk-tusuk kemaluannya dari luar celana dlmnya.
Dari luarnya menggambarkan kalau daging yg
terbungkus CD-nya itu sangat montok dan kenyal serta
sedikit mulai basah. Aku tak mampu lagi bertahan
menjilatinya dari luar, sehingga aku segera saja
menariknya keluar lewat kedua kakinya.
Ternyata dugaanku benar, di antara selangkangan Dina
terdapat seonggok daging yg cukup empuk dgn
tonjolan daging mungil antara kedua belahannya
Nampah warnanya agak kemerahan dan kulit
disekelilingnya juga berwarna putih seolah baru saja
dicukur bulu-bulunya sesuai permintaanku dlm emailku
sebelum pertemuan. Kini Dina dlm keadaan bugil penuh
sambil baring dgn merenggangkan kedua paha yg
menjepit daging empuk itu.
Tanpa aku tatap lama-lama, aku segera menjulurkan
lidahku menelusuri daging empuk yg terbelah dua itu.
Nampaknya aku tdk terlalu sulit masukkan lidah ke
lubang tengahnya itu, karena memang sudah beberapa
kali ditusuk dan dimasuki benda tumpul alias k0ntol
sebelum kami sebagaimana pengakuannya lebih dahulu
padaku lewat emailnya bahwa ia telah beberapa kali
berhubungan sex dgn pacarnya, namun tdk sampai
memuaskannya.
Semakin lama semakin kupercepat gocokan lidahku
kedalam memeknya sehingga mengeluarkan bunyi
seperti kucing yg menjilat air. Dina semakin histeris
dan menggerak-gerakkan pinggulnya serta dia
mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga
ujungnya bersentuhan dgn bahunya sambil tetap
merenggangkannya. Aku semakin leluasa memasukkan
lidahku lebih dlm dan memutar-mutarnya sehingga
terasa memek Dina semakin mengeluarkan cairan yg
membasahi seluruh dinding lubang memeknya.
“Aduh.. Kak.. enak sekali Kak.. terus Kak.. aahh.. uhh..
mm..” hanya suara itulah yg berulang-ulang keluar dari
mulut Dina ketika aku menggerak-gerakkan ujung
lidahku pada lubang memeknya.
“Kamu merasa enak sayang? Bagaimana sekarang? Sy
masukkan saja?” pertanyaan sy sambil kupermainkan
lidahku dlm lubangnya.
“Auh.. hee, ohh.. ehh.. mm..” Suara itu semakin
menaikkan rangsanganku sehingga akhirnya aku secara
berturut-turut membuka celanaku satu demi satu dgn
dibantu oleh Dina sampai tubuhku sudah telanjang
bulat.
Kini kami saling bugil dan aku sedikit mundur persis di
belakang pantatnya sambil berlutut dan mengarahkan
ujung k0ntolku pada memek Dina yg sudah basah dan
sedikit terbuka itu. Sebelum aku sempat menusukkan
ujung k0ntolku ke lubang memek Dina, Dina terlebih
dahulu meremas dan mengocok-gocok dgn tangannya
sehingga aku semakin tdk tahan lagi bermain-main di
luar.
Kini senti demi senti kudorong ke depan hingga ujung
kemaluanku pas tertuju pada lubang kemaluannya. Dina
hanya membantu dgn kedua tangannya membuka kedua
bibir memeknya itu, sehingga k0ntolku dapat
menembus lubang memeknya dgn mudah. Aku
mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga
ujungnya berada di atas kedua bahuku. Kurasakan
k0ntolku masuk menyelusup ke dlm memeknya Dina
tanpa suatu kesulitan yg berarti hingga seluruhnya
amblas. Dina semakin mengerang dan napasnya
terengah-engah bagaikan orang yg lari dgn
kencangnya. Suara dan napas kamipun saling
memburuh, sekujur tubuh kami dibasahi oleh keringat.
AC di kamar itu nampaknya tdk terasa pengaruhnya.
Dina menarik pinggulku dgn keras dan akupun menekan
k0ntolku ke dlm memeknya juga dgn keras sehingga
peraduan antara k0ntolku dgn memeknya semakin dlm
dan kencang. Genjotan k0ntolku semakin kupercepat
sampai-sampai peraduan paha kami menimbulkan suara
cukup besar. Kami sempat memperhaDinan gerakan-
gerakan kami itu di cermin besar yg ada di samping
tempat tidur, yg diselingi dgn suara TV 14 inch yg
sengaja kami keraskan suaranya agar tdk sampai orang
curiga atas perbuatan kami dlm kamar.
Keringat yg membasahi tubuh kami semakin
bercampur, sehingga terasa tubuh kami saling lengket.
Dina nampaknya tdk puas dgn posisi di bawah, iapun
segera mengeluarkan k0ntolku dari dlm memeknya lalu
merobah posisi. Ia dgn sigapnya mengangkangiku lalu
memasukkan kembali k0ntolku dlm memeknya lalu ia
dgn cepatnya menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke
kenan, ke bawah dan ke atas, sehingga aku semakin
sulit menahan lahar hangat yg tertampung dlm
k0ntolku. Bahkan ia menawarkan padaku untuk
membalikan tubuhnya membelakangi wajahku agar ia
dapat dgn jelas mengamati gerakan-gerakan kami
lewat cermin, namun aku menahannya agar tdk
mengeluarkan lagi k0ntolku dari dlm memeknya sebab
terasa aku sudah sangat mendesak ingin muncratkan
spermaku.
Mungkin pengaruh capek habis naik mobil dari jauh
barusan, sehingga aku betul-betul kecapean dan sulit
lagi mempertahankan gejolak sperma yg memaksa
ingin keluar. Tanpa seizin Dina, spermaku kutumpahkan
dlm memeknya meskipun aku masih terus memompa
memek Dina dari bawah dan mengikuti gerakan Dina
hingga betul-betul k0ntolku keluar dgn sendirinya
karena kehabisan cairan dan tenaga.
“Istirahat aja dulu Kak kalau capek, sy ngerti kok Kakak
ini terlalu capek habis naik kendaraan hampir seharian”
kata Dina dgn bijaksana sambil turun dari atasku lalu
berbaring di sampingku.
Ia nampaknya tdk kecewa dan cukup mengerti atas
keadaanku, sebab masih banyak kesempatan untuk
mengulangi permainan kami sebentar. Apalagi sebelum
kami melakukan semua itu, ia pernah berjanji akan
memuaskanku dan ia tdk bakal kecewa atas
keterbatasanku serta tdk terlalu menuntut untuk
dipuaskan jika aku tdk mampu.
Mendengar kata-kata Dina itu, aku merasa malu dan
tdk tau harus berbuat apa, sebab janji yg pernah
kuucapkan pada emailku untuk memuaskannya,
ternyata tdk mudah aku jadikan kenyataan. Entah, apa
aku yg terlalu lemah dan loyo atau Dina yg terlalu kuat
dan tdk mudah mencapai puncak kenikmatan seperti yg
pernah disampaikanku lewat email bahwa sudah
beberapa kali ia bersetubuh dgn pacarnya tp ia tdk
pernah merasakan puncak kenikmatan sex. Apalagi
usiaku jauh lebih tua di atas 10 tahun dari usianya,
sehingga seharusnya aku perlu obat penambah
kekuatan dan daya tahan untuk mengimbanginya.
Namun aku terlalu ceroboh dan kurang
memperhitungkannya, sehingga aku terpaksa KO lebih
awal sebelum ia ada tanda-tanda akan puas. Aku terlalu
mengandalkan pengalamanku yg mempunyai jam
terbang lebih banyak dari dia, apalagi selama ini hampir
semua wanita yg kusetubuhi merasa KO lebih dulu
karena kemampuanku dlm merangsang.
“Maaf yah sayang, aku terlalu capek dari daerah,
seharusnya istirahat lebih dulu sebelum kita berperang
di atas kasur ini” kata sy untuk memberi alasan agar ia
tdk putus harapan.
“Nga apa-apa kok Kak, sy khan tdk terlalu berharap dari
Kak untuk dipuaskan, sebab sy hanya mau melihat
Kakak puas dan bahagia bersamaku apalagi sy memang
tdk mudah mencapai kepuasan sex Kak” jawabnya dgn
sedikit tersenyum tanpa ada rasa kecewa sedikitpun
diwajahnya.
“Kakak janji, ronde kedua nanti, akan kuusahakan agar
Adik bisa juga merasakan nikmatnya sex. Sy malu dan
tdk mau dikatakan hanya mementingkan diri sendiri,
apalagi pasti akan membuat kenangan buruh dihati adik
sepanjang masa, kita istirahat sejenak aja dulu Dik”
begitulah ucapan sy pada Dina mencoba memberi
harapan yg besar.
Setelah aku ke kamar mandi membersihkan
kemaluanku, sy kembali berbaring disamping Dina dan
berusaha merayu, memeluk dan mencium bibir dan
keningnya serta mengelus-elus puting susunya. Tiba-
tiba aku teringat pada vitamin yg sengaja kubawa dari
daerah sebagai obat yg dapat mengembalikan kondisi
tubuh, khususnya bagi yg berusia lanjut. Aku bangkit
dari tempat tidurku, lalu menelannya 2 biji, lalu
kembali berpelukan dgn Dina di atas kasur empuk itu.
Ternyata tdk sia-sia, hanya dlm beberapa menit saja,
k0ntol sy mulai terasa mengeras kembali, apalagi
setelah dipegang-pegang oleh Dina.
“Yuk, kita mulai lagi” kataku sambil tersenyum pada
Dina.
“Apa Kakak sudah siap lagi? Istirahat aja dulu sebentar
Kak, waktu kita masih ada beberapa jam lagi di wisma
ini” katanya seolah tdk mau memaksa kemampuanku.
Sambil berkata begitu, Dina mulai meremas-remas
k0ntolku dan nampaknya ia juga sangat menginginkan
hal itu. Dina segera bangun dan kembali mengangkangi
tubuhku lalu mencoba memasukkan k0ntolku ke dlm
memeknya yg masih basah karena belum dicuci. Ia
sengaja sy minta agar lebih aktif dari aku, karena aku
masih agak kecapean. K0ntolku yg sudah mengeras
kembali itu tdk terlalu sulit dimasukkan sampai
seluruhnya amblas ke dlm lubang memeknya. Dinapun
mulai menggenjot terus dan kembali menimbulkan
bunyi khas, bahkan kali ini ia berbalik membelakangi
wajahku sehingga ia tertawa kecil melihat gerakannya
pada cermin di sudut kamar itu. Setelah ia puas
memandangi posisi kami, Dina lalu turun dan mencoba
nungging di depan sy. Sypun mengerti maksudnya.
Berkali-kali aku arahkan ujung k0ntolku pada
memeknya yg agak sedikit menganga dari belakang, tp
selalu saja mengenai lubang duburnya, sehingga ia
menegurku karena merasa kesakitan.
Mungkin Dina atau sy yg kurang cocok dgn posisi itu,
sehingga kami tdk jadi menerapkan posisi nungging itu,
melainkan Dina kuminta berbaring terlentang lalu aku
kembali menindihnya dan memasukkan k0ntolku dgn
mudah lalu menggenjotnya dgn lebih keras dan cepat.
Kali ini berlangsung agak lama daripada ronde pertama
tadi.
“Ngomong ya Kak jika kau mau muncrat supaya aku
tahu” katanya berbisik.
“Yah sayang, tp masih jauh rasanya” jawabku singkat.
Peluh kami mulai bercucuran dan basah sekali sekujur
tubuh kami. Walaupun aku telah berusaha menahan
spermaku untuk tdk terlalu cepat keluarnya, namun
tetap saja Dina belum ada tanda-tanda akan mencapai
puncaknya.
“Auh.. iihh.. eehh.. aahh.. uuhh..” itulah suara-suara yg
menyertai gerakan pinggul Dina ketika aku semakin
mempercepat gerakan pantatku menekan pnisku masuk
lebih dlm lagi.
Sementara aku tetap berusaha untuk tdk mengeluarkan
suara meskipun aku merasakan suatu kenikmatan yg
luar biasa dibanding aku bersetubuh dgn istriku.
“Bagaimana sayang, masih jauh? Aku sudah mulai mau
keluar nih, nga apa-apa khan sy keluarkan di dlm saja?”
kataku berterus terang.
“Silakan Kak, aku sudah makan obat pengaman, ngga
bakalan hamil kok, ibuku khan bidan, jadi mudah
kudapatkan obat seperti itu” katanya meyakinkanku.
Tdk seberapa lama kemudian, akupun muncrat dlm
memeknya dan kali ini Dina merasakannya dgn
denyutan k0ntolku. Aku tetap berusaha menahan
k0ntolku dlm memeknya, sehingga ia merasa hampir
mencapai puncaknya.
“Kak, kayaknya aku sudah mau keluar nihh, auhh, mm..
hh” Katanya sambil terengah-engah dan bersuara agak
keras.
“Bagaimana, sudah hampir sayang? Sy capek sekali
nih” kataku terus terang mengalah, sebab k0ntolku
sudah mulai loyo dan kehabisan tenaga sehingga sulit
sekali bertahan di dlm.
K0ntolku dgn sendirinya keluar dari dlm memek Dina,
sehingga kamipun berhenti bergoyang, nampun Dina
tetap tdk menunjukkan kekecewaan dan putus asa di
wajahnya.
“Aku telah merasa sedikit lebih puas dari ronde
pertama tadi atau mungkin tadi aku udah muncrat tp
aku ngga mengetahuinya” demikian katanya seolah
bahagia dan senang atas pertarungan kami di ronde
ke-2.
“Kita masih punya waktu sekitar 3 jam lagi di kamar ini
sayang, mudah-mudahan kita masih bisa lanjutkan ke
ronde yg ke 3, kita habiskan saja semua sisa-sisa
kemampuan kita di tempat ini, sebab kapan lagi kita
dapat kesempatan seperti ini” kataku penuh harap.
“Kalau sudah capek dan nga mampu lagi Kak, ngga
usah diteruskan dan dipaksakan, khan sudah sama-
sama kita merasakan suatu kenikmatan yg cukup, nanti
lain kali aja kita bisa lakukan, sy selalu siap kok kapan
aja Kakak mau asal beritahu lebih dulu” kata Dina dgn
santun dan penuh penghormatan serta kasih sayang
padaku, sehingga aku merasa tdk enak dan berat
padanya.
Kali ini, aku kembali ke kamar mandi membersihkan
k0ntol sy yg berlepotan dgn sperma, dan Dinapun
menyusul, lalu kami sama-sama mengenakan CD
kemudian berbaring sambil berpelukan, bermesraan,
bahkan aku berusaha terus merangsangnya, terutama
di bagian buah dadanya dgn mengisap-isap putingnya
dan meremas-remasnya serta mengecup pipinya. Kami
saling bercanda dan bersenda gurau layaknya suami
istri yg seolah tdk ada beban dan ketakutan sama-
sekali. Cukup lama kami bermain-main di atas tempat
tidur itu tanpa pakaian kecuali CD. Sesekali Dina
menyentuh k0ntolku dan meremas-remasnya dari luar
CD, sedang aku juga menyentuh dan mengelus-elus
memeknya.
“Kak, istirahat saja dan tidurlah, biar lebih segar
perasaannya, aku rasanya ngga capek dan nga ngantuk”
katanya merayuku berkali-kali agar aku berusaha tidur.
Tp aku selalu takut kalau-kalau ia meninggalkan aku
sendirian dlm kamar itu, sehingga mataku juga tdk mau
tertidur apalagi sulit lagi kami dapatkan kesempatan
emas seperti ini.
Entah pengaruh dari mana, tp yg jelas tiba-tiba
k0ntolku kembali tegang dan bergerak-gerak dlm CD-
ku, sehingga dirasakan pula oleh Dina yg sedang
berbaring di bagian bawah perutku. Mungkin akibat
vitamin yg kutelan tadi atau karena senda gurau kami
yg terlalu asyik. Dina tiba-tiba bangkit dan duduk di
sampingku sambil tertawa.
“Wah, ternyata bangun lagi Kak, apa Kakak masih siap
melanjutkannya untuk ronde yg terakhir sebelum kita
keluar dari wisma ini kak?” tanyanya dgn tersenyum
dan nampak ia gembira melihat reaksi itu.
“Boleh saja, tp isap dulu donk biar lebih keras dan
membesar lagi agar dapat bertahan lebih lama”
jawabku dan meminta ia lebih aktif.
“Ayolah, mari kita coba mulai” katanya terburu-buru
sambil membuka celana dlmku dlm keadaan aku tetap
terlentang. Hangat dan nikmat sekali.
“Ahh.. usst.. oohh.. aduhh.. eenakk sekali sayang..”
begitulah eranganku berkali-kali ketika Dina meraih
dan memasukkan k0ntolku ke dlm mulutnya lalu
menggocok-gocoknya dgn mulut.
Setelah aku merasa k0ntolku cukup keras dan
membesar lagi dlm mulut Dina, aku dgn segera bangkit
dari tidurku lalu menarik celana dlm Dina hingga keluar
semuanya. Kali ini aku tarik Dina berbarik sambil miring
sehingga kami berhadap-hadapan, lalu aku coba
mengangkat satu pahanya ke atas dan memasukkan
pahaku ke dlm selangkangannya, lalu menusukkan
k0ntolku ke lubang memeknya hingga amblas
seluruhnya.
Beberapa menit kami dlm posisi seperti ini sambil kami
menggerak- gerakkan pantat maju mundur, akupun
mengangkat Dina ke atasku sehingga ia menindihku
tanpa melepaskan k0ntolku dari kemaluannya.
Kali ini Dina dgn keras dan cepatnya menggoyangkan
pinggulnya maju mundur dan kiri kanan, bahkan ia
menarik kepalaku ke atas sehingga kami setengah
duduk lalu duduk dgn meletakkan kedua pahanya di
atas kedua pahaku, lalu pinggul kami bergerak seirama
seolah kami saling mendorong dan menarik. Kami tdk
mengubah lagi posisi hingga kami sama-sama
mencapai puncak kenikmatan, meskipun aku yakin jika
Dina belum mencapai kenikmatan sex 100%, tp ia
mengaku telah merasa puas merasakan kenikmatan sex
yg belum pernah ia alami sebelumnya.
Selesai membersihkan badan dan berpakaian lengkap,
kami saling mengecup dan ciuman sebagai tanda
terima kasih sekaligus perpisahan sementara karena
aku mau pulang ke daerah asalku. Kami berjanji akan
mengulangi lagi setiap ada kesempatan. Cerita sex,
cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa
“Cerita Dewasa Dina Istri Gelap Tahan Lama” dan foto
hot terbaru 2016
Tagged with: CERITA BOKEP CERITA DEWASA
CERITA ISTRI GELAP CERITA ISTRI SIMPANAN
CERITA LEPAS PERAWAN CERITA MESUM
CERITA MESUM PELAJAR CERITA NGENTOT
CERITA PANAS CERITA PERAWAN CERITA SEKS
CERITA SEX CERITA SEX 2016 CERITA SEX ABG
CERITA SEX BERGAMBAR CERITA SEX TERBARU
CEWEK SIMPANAN HOT MAHASISWI ISTRI SIMPANAN
NGENTOT ISTRI GELAP
0 Response to "Cerita Dewasa Dina Istri Gelap Tahan Lama"
Post a Comment