3 Ronde Yang Luar Biasa

Aku
(sebut saja Aswin),
umur hanpir 40 tahun,
postur tubuh biasa
saja, seperti rata-rata
orang Indonesia, tinggi
168 cm, berat 58 kg,
wajah lumayan (kata
ibuku), kulit agak
kuning, seorang suami
dan bapak satu anak
kelas satu Sekolah
Dasar. Selamat
mengikuti
pengalamanku.
Cerita yang aku
paparkan berikut ini
terjadi hari Senin. Hari
itu aku berangkat
kerja naik bis kota
(kadang-kadang aku
bawa mobil sendiri).
Seperti hari Senin pada
umumnya bis kota
terasa sulit. Entah
karena armada bis
yang berkurang, atau
karena setiap Senin
orang jarang
membolos dan
berangkat serentak
pagi-pagi. Setelah
hampir satu jam
berlari ke sana ke
mari, akhirnya aku
mendapatkan bis.
Dengan nafas ngos-
ngosan dan mata
kesana kemari,
akhirnya aku
mendapat tempat
duduk di bangku dua
yang sudah terisi
seorang wanita.
Kuhempaskan pantat
dan kubuang nafas
pertanda kelegaanku
mendapatkan tempat
duduk, setelah
sebelumnya aku
menganggukkan
kepala pada teman
dudukku. Karena lalu
lintas macet dan aku
lupa tidak membawa
bacaan, untuk mengisi
waktu dari pada
bengong, aku ingin
menegur wanita di
sebelahku, tapi
keberanianku tidak
cukup dan
kesempatan belum
ada, karena dia lebih
banyak melihat ke luar
jendela atau sesekali
menunduk.
Tiba-tiba ia menoleh
ke arahku sambil
melirik jam tangannya.
"Mmacet sekali ya?"
katanya yang tentu
ditujukan kepadaku.
"Biasa Mbak, setiap
Senin begini. Mau
kemana?" sambutku
sekaligus membuka
percakapan.
"Oh ya. Saya dari
Cikampek, habis
bermalam di rumah
orang tua dan mau
pulang ke Pondok
Indah," jawabnya.
Belum sempat aku
buka mulut, ia sudah
melanjutkan
pembicaraan,
"Kerja dimana Mas?"
"Daerah Sudirman,"
jawabku.
Obrolan terus
berlanjut sambil
sesekali aku
perhatikan wajahnya.
Bibirnya tipis, pipinya
halus, dan rambutnya
berombak. Sedikit ke
bawah, dadanya
tampak menonjol,
kenyal menantang.
Aku menelan ludah.
Kuperhatikan jarinya
yang sedang
memegang tempat
duduk di depan kami,
lentik, bersih terawat
dan tidak ada yang
dibiarkan tumbuh
panjang. Dari
obrolannya keketahui
ia (sebut saja Mamah)
seorang wanita yang
kawin muda dengan
seorang duda beranak
tiga dimana anak
pertamanya umurnya
hanya dua tahun lebih
muda darinya. Masa
remajanya tidak
sempat pacaran.
Karena waktu masih
sekolah tidak boleh
pacaran, dan setelah
lulus dipaksa kawin
dengan seorang duda
oleh orang tuanya.
Sambil bercerita,
kadang berbisik ke
telingaku yang
otomatis dadanya
yang keras
meneyentuh lengan
kiriku dan di dadaku
terasa seer! Sesekali
ia memegangi
lenganku sambil terus
cerita tentang dirinya
dan keluarganya.
"Pacaran asyik ya
Mas?" tanyanya
sambil memandangiku
dan mempererat
genggaman ke
lenganku. Lalu, karena
genggaman dan
gesekan gunung
kembar di lengan
kiriku, otakku mulai
berpikiran jorok.
"Kepingin ya?"
jawabku berbisik
sambil mendekatkan
mulutku ke telinganya.
Ia tidak menjawab,
tapi mencubit pahaku.
Tanpa terasa bis
sudah memasuki
terminal Blok M,
berarti kantorku
sudah terlewatkan.
Kami turun. Aku
bawakan tasnya yang
berisi pakaian menuju
kafetaria untuk
minum dan
meneruskan obrolan
yang terputus. Kami
memesan teh botol
dan nasi goreng.
Kebetulan aku belum
sarapan dan lapar.
Sambil menikmati nasi
goreng hangat dan
telor matasapi,
akhirnya kami
sepakat mencari
hotel. Setelah
menelepon kantor
untuk minta cuti
sehari, kami
berangkat.
Sesampai di kamar
hotel, aku langsung
mengunci pintu dan
menutup rapat kain
horden jendela.
Kupastikan tak
terlihat siapapun. Lalu
kulepas sepatu dan
menghempaskan
badan di kasur yang
empuk. Kulihat si
Mamah tak tampak, ia
di kamar mandi.
Kupandangi langit-
langit kamar, dadaku
berdetak lebih
kencang, pikiranku
melayang jauh tak
karuan. Senang, takut
(kalau-kalau ada yang
lihat) terus berganti.
Tiba-tiba terdengar
suara tanda kamar
mandi dibuka. Mamah
keluar, sudah tanpa
blaser dan sepatunya.
Kini tampak di
hadapanku
pemandangan yang
menggetarkan jiwaku.
Hanya memakai baju
putih tipis tanpa
lengan. Tampak jelas
di dalamnya BH hitam
yang tak mampu
menampung isinya,
sehingga dua
gundukan besar dan
kenyal itu membentuk
lipatan di tengahnya.
Aku hanya bisa
memandangi, menarik
nafas serta menelan
ludah.
Mungkin ia tahu kalau
aku terpesona dengan
gunung gemburnya. Ia
lalu mendekat ke
ranjang, melatakkan
kedua tangannya ke
kasur, mendekatkan
mukanya ke mukaku,
"Mas.." katanya tanpa
melanjutkan kata-
katanya, ia
merebahkan badan di
bantal yang sudah
kusiapkan. Aku yang
sudah menahan nafsu
sejak tadi, langsung
mendekatkan bibirku
ke bibirnya. Kami larut
dalam lumat-lumatan
bibir dan lidah tanpa
henti. Kadang
berguling, sehingga
posisi kami bergantian
atas-bawah. Kudekap
erat dan kuelus
punggungnya terasa
halus dan harum.
Posisi ini kami
hentikan atas
inisiatifku, karena aku
tidak terbiasa ciuman
lama seperti ini tanpa
dilepas sekalipun.
Tampak ia nafsu
sekali. Aku melepas
bajuku, takut kusut
atau terkena lipstik.
Kini aku hanya
memakai CD. Ia
tampak bengong
memandangi CD-ku
yang menonjol. "Lepas
aja bajumu, nanti
kusut," kataku. "Malu
ah.." katanya. "Kan
nggak ada yang lihat.
Cuma kita berdua,"
kataku sambil meraih
kancing paling atas di
punggungnya. Dia
menutup dada dengan
kedua tangannya tapi
membiarkan aku
membuka semua
kancing. Kulempar
bajunya ke atas meja
di dekat ranjang. Kini
tinggal BH dan celana
panjang yang dia
kenakan. Karena malu,
akhirnya dia
mendekapku erat-
erat. Dadaku terasa
penuh dan empuk oleh
susunya, nafsuku naik
lagi satu tingkat,
"burung"-ku tambah
mengencang.
Dalam posisi begini,
aku cium dan jilati
leher dan bagian
kuping yang tepat di
depan bibirku. "Ach..
uh.." hanya itu yang
keluar dari mulutnya.
Mulai terangsang,
pikirku. Setelah puas
dengan leher dan
kuping kanannya,
kepalanya kuangkat
dan kupindahkan ke
dada kiriku. Kuulangi
gerakan jilat leher dan
pangkal kuping kirinya,
persis yang kulakukan
tadi. Kini erangannya
semakin sering dan
keras. "Mas.. Mas.. geli
Mas, enak Mas.."
Sambil membelai
rambutnya yang
sebahu dan harum,
kuteruskan elusanku
ke bawah, ke tali BH
hingga ke pantatnya
yang bahenol, naik-
turun.
Selanjutnya gerilyaku
pindah ke leher depan.
Kupandangi lipatan
dua gunung yang
menggumpal di
dadanya. Sengaja aku
belum melepas BH,
karena aku sangat
menikmati wanita
yang ber-BH hitam,
apalagi susunya besar
dan keras seperti ini.
Jilatanku kini sampai di
lipatan susu itu dan
lidahku menguas-
nguas di situ sambil
sesekali aku gigit
lembut. Kudengar ia
terus melenguh
keenakan. Kini
tanganku meraih tali
BH, saatnya kulepas,
ia mengeluh, "Mas..
jangan, aku malu,
soalnya susuku
kegedean," sambil
kedua tangannya
menahan BH yang
talinya sudah kelepas.
"Coba aku lihat
sayang.." Kataku
memindahkan kedua
tangannya sehingga
BH jatuh, dan mataku
terpana melihat susu
yang kencang dan
besar. "Mah.. susumu
bagus sekali, aku
sukaa banget," pujiku
sambil mengelus susu
besar menantang itu.
Putingnya hitam-
kemerahan, sudah
keras.
Kini aku bisa
memainkan gunung
kembar sesukaku.
Kujilat, kupilin
putingnya, kugigit, lalu
kugesek-gesek
dengan kumisku,
Mamah kelojotan,
merem melek, "Uh..
uh.. ahh.." Setelah puas
di daerah dada, kini
tanganku kuturunkan
di daerah
selangkangan,
sementara mulut
masih agresif di sana.
Kuusap perlahan dari
dengkul lalu naik.
Kuulangani beberapa
kali, Mamah terus
mengaduh sambil
membuka tutup
pahanya. Kadang
menjepit tangan
nakalku. Semua ini
kulakukan tahap demi
tahap dengan
perlahan.
Pertimbanganku, aku
akan kasih servis
yang tidak terburu-
buru, benar-benar
kunikmati dengan
tujuan agar Mamah
punya kesan berbeda
dengan yang pernah
dialaminya.
Kuplorotkan
celananya. Mamah
sudah telanjang bulat,
kedua pahanya
dirapatkan. Ekspresi
spontan karena malu.
Kupikir dia sama saja
denganku,
pengalaman pertama
dengan orang lain. Aku
semakin bernafsu.
Berarti di hadapanku
bukan perempuan
nakal apalagi
profesional. Kini jari
tengahku mulai
mengelus perlahan,
turun-naik di bibir
vaginanya. Perlahan
dan mengambang.
Kurasakan di sana
sudah mulai basah
meski belum becek
sekali. Ketika jari
tengahku mulai
masuk, Mamah
mengaduh, "Mas..
Mas.. geli.. enak..
terus..!" Kuraih tangan
Mamah ke arah
selangkanganku (ini
kulakukan karena dia
agak pasif. Mungkin
terbiasa dengan
suami hanya
melakukan apa yang
diperintahkan saja).
"Mas.. keras amat..
Gede amat?" katanya
dengan nada manja
setelah meraba
burungku. "Mas..
Mamah udah nggak
tahan nikh, masukin
ya..?" pintanya
setengah memaksa,
karena kini batangku
sudah dalam
genggamannya dan
dia menariknya ke
arah vagina. Aku
bangkit berdiri dengan
dengkul di kasur,
sementara Mamah
sudah dalam posisi
siap tembak,
terlentang dan
mengangkang.
Kupandangi susunya
keras tegak
menantang.
Ketika kurapatkan
"senjataku" ke
vaginanya, reflek
tangan kirinya
menangkap dan kedua
kakinya diangkat.
"Mas.. pelan-pelan ya.."
Sambil memejamkan
mata, dibimbingnya
burungku masuk ke
sarang kenikmatan
yang baru saja dikenal.
Meski sudah basah,
tidak juga langsung
bisa amblas masuk.
Terasa sempit.
Perlahan kumasukkan
ujungnya, lalu kutarik
lagi. Ini kuulangi hingga
empat kali baru bisa
masuk ujungnya.
"Sret.. sret.." Mamah
mengaduh, "Uh.. pelan
Mas.. sakit.." Kutarik
mundur sedikit lagi,
kumasukkan lebih
dalam, akhirnya..
"Bles.. bles.." barangku
masuk semua. Mamah
langsung mendekapku
erat-erat sambil
berbisik, "Mas.. enak,
Mas enak.. enak
sekali.. kamu sekarang
suamiku.." Begitu
berulang-ulang sambil
menggoyangkan
pinggul, tanpa
kumengerti apa
maksud kata "suami".
Mamah tiba-tiba
badannya mengejang,
kulihat matanya putih,
"Aduuh.. Mas.. aku..
enak.. keluaar.."
tangannya
mencengkeram
rambutku. Aku
hentikan sementara
tarik-tusukku dan
kurasakan pijatan
otot vaginanya
mengurut ujung
burungku, sementara
kuperhatikan Mamah
merasakan hal yang
sama, bahkan tampak
seperti orang
menggigil. Setelah
nafasnya tampak
tenang, kucabut
burungku dari
vaginanya, kuambil
celana dalamnya yang
ada di sisi ranjang,
kulap burungku, juga
bibir vaginanya. Lantas
kutancapkan lagi.
Kembali kuulangi
kenikmatan tusuk-
tarik, kadang aku
agak meninggikan
posisiku sehingga
burungku menggesek-
gesek dinding atas
vaginanya. Gesekan
seperti ini membuat
sensasi tersendiri
buat Mamah, mungkin
senggamanya selama
ini tak menyentuh
bagian ini. Setiap kali
gerakan ini kulakukan,
dia langsung teriak,
"Enak.. terus, enak
terus.. terus.." begitu
sambil tangannya
mencengkeram bantal
dan memejamkan
mata. "Aduuhm Mas..
Mamah keluar lagi
niikh.." teriaknya yang
kusambut dengan
mempercepat
kocokanku.
Tampak dia sangat
puas dan aku merasa
perkasa. Memang
begitu adanya. Karena
kalau di rumah,
dengan istri aku tidak
seperkasa ini, padahal
aku tidak pakai obat
atau jamu kuat.
Kurasakan ada
sesuatu yang luar
biasa. Kulirik jam
tanganku, hampir
satu jam aku lakukan
adegan ranjang ini.
Akhirnya aku
putuskan untuk terus
mempercepat
kocokanku agar ronde
satu ini segera
berakhir. Tekan, tarik,
posisi pantatku
kadang naik kadang
turun dengan tujuan
agar semua dinding
vaginanya tersentung
barangku yang masih
keras. Kepala penisku
terasa senut-senut,
"Mah.. aku mau keluar
nikh.." kataku.
"He.. eeh.. terus.. Mas,
aduuh.. gila.. Mamah
juga.. Mas.. terus..
terus.."
"Crot.. crot.." maniku
menyemprot
beberapa kali, terasa
penuh vaginanya
dengan maniku dan
cairannya. Kami akhiri
ronde pertama ini
dengan klimaks
bareng dan
kenikmatan yang
belum pernah
kurasakan. Satu
untukku dan tiga
untuk Mamah.
Setelah bersih-bersih
badan, istirahat
sebentar, minum kopi,
dan makan makanan
ringan sambil ngobrol
tentang keluarganya
lebih jauh. Mamah
semakin manja dan
tampak lebih rileks.
Merebahkan
kepalanya di
pundakku, dan tentu
saja gunung
kembarnya
menyentuh badanku
dan tangannya
mengusap-usap
pahaku akhirnya
burungku bangun lagi.
Kesempatan ini
dipergunakan dengan
Mamah. Dia
menurunkan
kepalanya, dari
dadaku, perut, dan
akhirnya burungku
yang sudah tegang
dijilatinya dengan
rakus. "Enak Mas.. asin
gimana gitu. Aku baru
sekali ini ngrasain
begini," katanya terus
terang. Tampak jelas
ia sangat bernafsu,
karena nafasnya
sudah tidak beraturan.
"Ah.." lenguhnya
sambil melepas
isapannya. Lalu
menegakkan badan,
berdiri dengan dengkul
sebagai tumpuan.
Tiba-tiba kepalaku
yang sedang
menyandar di sisi
ranjang direbahkan
hingga melitang, lalu
Mamah
mengangkangiku.
Posisi menjadi dia
persis di atas
badanku. Aku
terlentang dan dia
jongkok di atas
perutku. Burungku
tegak berdiri tepat di
bawah
selangkangannya.
Dengan memejamkan
mata, "Mas.. Mamah
gak tahaan.."
Digenggamnya
burungku dengan
tangan kirinya, lalu dia
menurunkan
pantatnya. Kini ujung
kemaluanku sudah
menyentuh bibir
vaginanya. Perlahan
dan akhirnya masuk.
Dengan posisi ini
kurasakan, benar-
benar kurasakan kalau
barang Mamah masih
sempit. Vagina terasa
penuh dan terasa
gesekan dindingnya.
Mungkin karena lendir
vaginanya tidak terlalu
banyak, aku makin
menikmati ronde
kedua ini. "Aduuh..
Mas, enak sekali Mas.
Aku nggak pernah
sepuas ini. Aduuh.. kita
suami istri kan?" lalu..
"Aduuh.. Mamah enak
Mas.. mau keluar nikh..
aduuh.." katanya
sambil meraih
tanganku diarahkan
ke susunya. Kuelus,
lalu kuremas dan
kuremas lagi semakin
cepat mengikuti,
gerakan naik turun
pantatnya yang
semakin cepat pula
menuju orgasme.
Akhirnya Mamah
menjerit lagi pertanda
klimaks telah dicapai.
Dengan posisi aku di
bawah, aku lebih
santai, jadi tidak
terpancing untuk
cepat klimaks.
Sedangkan Mamah
sebaliknya, dia leluasa
menggerakkan pantat
sesuai keinginannya.
Adegan aku di bawah
ini berlangsung kurang
lebih 30 menit. Dan
dalam waktu itu
Mamah sempat
klimaks dua kali.
Sebagai penutup,
setelah klimaks dua
kali dan tampak
kelelahan dengan
keringat sekujur
tubuhnya, lalu aku
rebahkan dia dengan
mencopot burungku.
Setelah kami masing-
masing melap
"barang", kumasukkan
senjataku ke liang
kenikmatannya.
Posisinya aku berdiri di
samping ranjang.
Pantatnya persis di
bibir ranjang dan
kedua kakinya di
pundakku. Aku sudah
siap memulai acara
penutupan ronde
kedua. Kumulai dengan
memasukkan
burungku secara
perlahan. "Uuh.." hanya
itu suara yang
kudengar. Kumaju-
mundurkan, cabut-
tekan, burungku.
Makin lama makin
cepat, lalu perlahan
lagi sambil aku ambil
nafas, lalu cepat lagi.
Begitu naik-turun,
diikuti suara Mamah,
"Hgh.. hgh.. " seirama
dengan pompaanku.
Setiap kali aku tekan
mulutnya berbunyi,
"Uhgh.." Lama-lama
kepala batanganku
terasa berdenyut.
"Mah.. aku mau keluar
nikh.."
"Yah.. pompa lagi..
cepat lagi.. Mamah
juga Mas.. Kita bareng
ya.. ya.. terus.." Dan
akhirnya jeritan..
"Aaauh.." menandai
klimaksnya, dan
kubalas dengan
genjotan penutup
yang lebih kuat
merapat di bibir
vagina, "Crot.. crott.."
Aku rebah di atas
badannya. Adegan
ronde ketiga ini
kuulangi sekali lagi.
Persis seperti ronde
kedua tadi.
Pembaca, ini adalah
pengalaman yang luar
biasa buat saya. Luar
biasa karena
sebelumnya aku tak
pernah merasakan
sensasi se-luar biasa
dan senikmat ini.
Setelah itu kami tidak
pernah bertemu lagi,
meski aku tahu
alamatnya. Kejadian ini
membuktikan, seperti
yang pernah kubaca,
bahwa selingkuh yang
paling nikmat dan
akan membawa
kesan mendalam
adalah yang dilakukan
sekali saja dengan
orang yang sama.
Jangan ulangi lagi
(dengan orang yang
sama), sensasinya
atau getarannya akan
berkurang. Aku
kadang merindukan
saat-saat seperti ini.
Selingkuh yang aman
seperti ini.

0 Response to "3 Ronde Yang Luar Biasa"

Post a Comment

Total Pageviews

Arsip Blog

findeen