Aku lihat keluargaku dan
keluarga Kokoku sangat
bahagia dengan lahirnya
cucu pertama mereka,
apalagi karena bayi
pertamaku ini adalah
laki-laki yang punya arti
penting dalam tradisi
chinese. Walaupun aku
masih merasa letih
akibat dari proses
melahirkan yang
panjang, aku bersyukur
bisa tetap melahirkan
dengan proses alami.
Tetapi bagaimanapun
kebahagiaanku terasa
belum lengkap karena
ayah biologis dari
anakku tidak bisa
mendampingi aku saat
aku mempertaruhkan
nyawa melahirkannya
ke dunia.
Ya memang betul, anak
yang baru saja
kulahirkan bukanlah
berasal dari benih koko
atau suamiku sendiri
tapi dari benih mas
Yanto, seorang pria
pribumi yang
merupakan partner
bisnis Koko dan sudah
berkeluarga.
Aku sempat khawatir
apakah anakku nantinya
akan lebih mirip bapak
biologisnya dibadingkan
dengan ibunya, karena
kalau hal ini terjadi maka
perselingkuhanku akan
langsung ketahuan. Tapi
ketakutanku ternyata
tidak beralasan karena
mata anakku tetap sipit
dan berkulit putih
walaupun beberapa
bagian wajahnya lebih
mirip mas Yanto dari
pada Koko. Aku
berharap akan bertemu
mas Yanto nanti di jam
besuk untuk
memperlihatkan
kepadanya bahwa anak
biologisnya itu sehat-
sehat saja.
Dalam kegembiraannya
Koko dan mertua
perempuanku
mengatakan bahwa
mereka berharap aku
melahirkan 2 sampai 3
anak lagi agar rumah
tidak sepi katanya. Aku
hanya tersenyum kecut
karena aku tidak begitu
yakin apakah mas Yanto
masih mau
menghamiliku lagi ?
Bahkan aku juga tidak
tahu apakah aku masih
punya kesempatan
untuk bercinta dengan
mas Yanto lagi.
Namaku Syeni, umurku
saat itu 29 tahun, aku
keturunan Chinese yang
masih totok dan aku
sekarang jadi ibu rumah
tangga yang sehari-hari
bertugas merawat
kedua mertuaku karena
suamiku yang umurnya
jauh lebih tua dariku
masih serumah dengan
orang tuanya. Aku baru
menikah satu tahunan
dengan Koko dari
perjodohan antar
keluarga. Sebenarnya
bukan aku tidak mampu
mencari pacar sendiri
untuk jadi suamiku
tetapi kebanyakan
pacarku tidak sesuai
dengan selera orang
tuaku yang cukup kolot
sehingga akhirnya aku
“terlambat kawin”.
Menurut orang-orang
wajahku sangat khas
oriental dengan kulit
yang putih bersih,
rambutku hitam lurus
panjang sampai
melewati bahu.
Walaupun badanku
tidak bisa dibilang
langsing, tapi juga tidak
bisa dibilang gemuk
karena tidak ada lipatan-
lipatan lemak pada
tubuhku.
Keistimewaanku adalah
ukuran dadaku yang
ekstra besar tapi padat
demikian juga dengan
pinggulku dan bulatan
pantatku yang agak
besar. Bila koko sudah
memintaku berpakaian
yang seksi, maka sangat
sulit melarang laki-laki
untuk tidak melihatku
dengan pikiran jorok
mereka.
Sebelum menikah,
pergaulanku cukup
bebas dalam artian aku
selalu tidur dengan
pacar-pacarku sejak
masih di SMA. Tidak
kurang dari lima orang
cowok pernah meniduri
aku, masing-masing
antara satu sampai dua
tahunan lama
berhubungannya. Tentu
saja tidak banyak yang
tahu reputasiku kecuali
bekas cowok-cowokku
itu sendiri karena orang
lain tahunya aku adalah
gadis yang baik dan
aktivis gereja. Malahan
dari lima orang cowok
yang pernah meniduri
aku, tiga diantaranya
justru aku yang
merenggut keperjakaan
mereka.
Menikah dengan Kokoku
sekarang seolah-olah
hukuman bagi
pergaulan bebasku
sebelumnya, ruang
gerakku menjadi sangat
terbatas karena hampir
tidak bisa keluar rumah
kecuali untuk belanja
atau ke gereja. Belanja
keperluan keluarga
sudah terlalu melelahkan
bagi mertuaku,
sehingga aku bisa pergi
sendiri karena koko juga
tidak mau mengantar.
Kalau ke gereja apalagi,
Kokoku dan keluarganya
sangat paranoid dengan
gereja terutama
pendeta-pendetanya tapi
untungnya mereka tidak
melarangku untuk ikut
aktivitas gereja terutama
yang tidak harus keluar
sumbangan.
Setelah setahun
menikah, aku belum
memperlihatkan tanda-
tanda akan hamil
padahal kedua mertuaku
terus-terusan bertanya
karena menganggap
kesempatan untuk
anaknya sudah semakin
sempit. Aku menjadi
cukup stress
memikirkannya karena
kalau diperiksa ke dokter
semuanya baik-baik
saja. Apakah ini karena
dulu aku pernah
menggugurkan
kandunganku sampai
lima kali ? Tentu saja aku
tidak pernah bisa
menceritakan hal ini ke
dokter kandunganku.
Malah aku bersyukur
dokterku tidak bisa
menemukan bekas-
bekas aborsi yang
pernah aku lakukan.
Dari setiap hubungan
dengan kelima orang
pacarku, masing-
masing pernah
membuatku hamil.
Nafsu berahiku yang
sangat besar sering
membuatku lupa
tempat dan waktu untuk
minta segera disetubuhi
kepada pacar-pacarku.
Akibatnya ada beberapa
persetubuhan yang
memaksa pacarku
melepaskan spermanya
di dalam tanpa memakai
pengaman. Tentu saja
hanya aku sendiri yang
tahu berapa kali aku
pernah melakukan
aborsi, bahkan sebagian
besar cowokku tidak
tahu bahwa mereka
telah membuatku hamil
karena aku keburu
memutuskan hubungan
dengan mereka. Hanya
pada kehamilan pertama
saja yang diketahui
cowokku karena saat itu
juga aku sendiri panik
dan terjebak dalam
kebingungan yang
berlarut-larut sampai
usia kandunganku
hampir tiga bulan
sebelum akhirnya bisa
digugurkan.
Aku kenal dengan mas
Yanto karena
diperkenalkan oleh
Kokoku sebelum kami
menikah. Mas Yanto
merupakan partner
bisnis Kokoku sejak
lama, mereka
mendirikan perusahaan
sama-sama yang terus
berjalan sampai
sekarang. Sejak pertama
kali bertemu aku punya
perasaan aneh tentang
mas Yanto, bukan
perasaan buruk malah
sebaliknya yaitu aku
tertarik kepada mas
Yanto sebagai wanita
terhadap pria. Kenapa
aku bilang aneh karena
aku biasanya tidak
pernah tertarik kepada
pria beristri dan aku
juga sebenarnya tidak
pernah tertarik pada pria
pribumi.
Umur mas Yanto lebih
tua dari koko, sangat
ramah dan penuh
perhatian, selalu
mendengar lawan
bicaranya tanpa pernah
meremehkannya
walaupun ternyata dia
lebih benar. Hal ini
sangat berbeda dengan
kokoku yang tidak
pernah menanggapiku
kalau pendapatku sudah
dianggapnya salah.
Secara fisik walaupun
sudah umur 40an, mas
Yanto juga terlihat seksi
dengan bulu-bulu
tangannya yang lebat.
Sedangkan kumis dan
jenggotnya yang lebat
tapi beruban
menunjukkan
kematangannya dengan
asam garam kehidupan.
Tekanan mertua dan
suami ditambah rahasia
masa lalu yang tidak
bisa aku ceritakan pada
siapapun membuat aku
sering sakit-sakitan
sampai akhirnya aku
bisa berkomunikasi
dengan mas Yanto.
Awalnya sederhana
saja, aku memang
sengaja mencari dan
meng-add akun mas
Yanto di FBku. Rasa
ketertarikanku pada mas
Yanto membuatku nekat
ingin lebih mengenal dia
dan berusaha bisa
berkomunikasi.
Ternyata mas Yanto
sama sekali tidak
keberatan
berkomunikasi
denganku dengan
catatan jangan sampai
diketahui oleh kokoku
karena dia tahu persis
adat buruknya. Oleh
karena itu kami hanya
menggunakan identitas
asli saat menggunakan
akun fesbuk tetapi untuk
chatting masing-masing
sudah punya nama
samaran lain
Awalnya aku hanya
berkomunikasi untuk
berbasa basi saja atau
bertanya-tanya seputar
pekerjaan kokoku
supaya aku bisa lebih
mengerti dia. Kokoku
benar-benar terlalu
malas untuk
menerangkan
pekerjaannya sendiri
kepadaku karena aku
Cuma lulusan SMA
dibandingkan dia yang
lulusan S1 perguruan
tinggi ternama dan S2
dari luar negeri. Tapi
lama kelamaan aku
mulai berani curhat ke
mas Yanto, tentu saja
awalnya hanya untuk
hal-hal sepele tapi lama
kelamaan karena
jawaban-jawaban dari
mas Yanto begitu
menyejukkan aku mulai
memasuki daerah
pribadi. Seperti
keluhanku saat
bersetubuh dengan
koko sampai kepada
kehidupan seksku di
masa lalu. Sebenarnya
sih aku “terjebak” oleh
kecerdikan mas Yanto
yang mulai melihat
bahwa pengalaman
seksku lebih baik dari
pada kokoku. Tapi
karena dia tidak pernah
menghakimi sama sekali
perbuatanku, maka aku
malah merasa benar-
benar telah menemukan
teman curhatku. Tentu
saja aku belum berterus
terang bahwa aku
pernah melakukan
aborsi, bahkan sampai
lima kali, karena aku
belum berani menebak
reaksinya terhadap hal
yang satu ini.
Chatting di internet
memang
memungkinkan orang
untuk melewati batas-
batas yang hampir tidak
mungkin dilakukan di
dunia nyata oleh orang-
orang yang sebenarnya
saling asing sama sekali.
Awalnya aku yang
mencoba
memancingnya untuk
“menaikkan status”
menjadi berpacaran di
dunia maya karena toh
sekarang kami sudah
menggunakan nama
samaran masing-
masing. Ternyata mas
Yanto bersedia saja
selama kami
menambah beberapa
kode “pengaman” untuk
mencegah akun
masing-masing
diterobos orang lain.
Jadilah kami mulai
berpacaran di dunia
maya, seperti pacaranku
sebelumnya aku merasa
bebas untuk
“berhubungan seks”
dengan pacarku
termasuk yang di dunia
maya kali ini. Apabila
aku belum orgasme
setelah disetubuhi koko,
aku minta mas Yanto
untuk memuaskanku
sampai orgasme melalui
persetubuhan ala
chatting. Apabila mas
Yanto bilang “aku remas
remas payudaramu”,
maka aku meremas-
remas payudaraku
dengan membayangkan
mas Yanto yang
melakukannya. Biasanya
hanya sampai
mengelus-elus vaginaku
saja oleh chattingannya
mas Yanto, aku sudah
bisa orgasme.
Aku benar-benar mulai
tergila-gila dengan mas
Yanto dan benar-benar
mulai menganggap
bahwa aku ini adalah
pacar gelapnya dia.
Untuk semakin
memudahkan
komunikasi kami, mas
Yanto lalu
mengajarkanku untuk
memanfaatkan webcam
dari netbookku sehingga
sekarang kami bisa
saling melihat satu
dengan lainnya. Tanpa
malu-malu aku sering
tampil di depan
webcam mulai dari
berpakaian seksi,
berpakaian minim,
bertelanjang bulat
sampai beronani. Tentu
saja hal itu hanya bisa
aku lakukan saat koko
sedang tidak ada di
rumah, sedangkan
mertuaku tidak mungkin
bisa memergokiku
karena kamarku ada di
lantai 2.
Bercumbu di dunia
maya lama kelamaan
mulai tidak cukup
buatku, aku mulai
menginginkan bercinta
sungguhan dengan mas
Yanto. Saat aku
sampaikan keinginanku
ini, ternyata mas Yanto
pun punya keinginan
yang sama. Walaupun
begitu ternyata sangat
sulit menemukan waktu
yang pas untuk
bertemu karena mas
Yanto ingin
persetubuhan yang
pertama harus penuh
kesan bukan
persetubuhan singkat di
mobil misalnya. Hal ini
membuatku hampir
menjadi putus asa
karena waktu yang
tersedia bagiku amat
terbatas yaitu saat aku
ke pasar atau ke gereja.
Tapi akhirnya
kesempatan itu datang
juga, karena suatu hal
Koko tidak bisa pergi ke
Singapura untuk
membeli obat buat
mertuaku sehingga dia
memintaku yang pergi
ke sana. Kesempatan ini
tidak aku sia-siakan, aku
sekalian membujuk
Koko untuk
membiarkan aku
berobat menyuburkan
kandunganku di
Singapura, terserah itu
dilakukan di rumah sakit
atau ke shinshe yang
ada di sana. Dasar kalau
sudah hoki, ternyata
mertuaku sangat
mendukung bahkan ikut
mencarikan informasi
mengenai klinik yang
bisa aku datangi.
Akhirnya aku dapat ijin
untuk pergi ke
Singapura selama lima
hari karena memang
perawatannya sendiri
memerlukan proses
pengambilan sampel
sebelum dan saat
memasuki masa
suburku.
Aku mengatur jadwal
kepergianku bersama-
sama dengan mas
Yanto, tentu saja tanpa
sepengetahuan Koko.
Kami akan menginap di
hotel yang sama tetapi
berbeda kamar, mas
Yanto sendiri
menyiapkan dua kamar
untuk berjaga-jaga dari
semua kemungkinan.
Penerbangan kami
tadinya akan dibuat
berbeda, tetapi mas
Yanto khawatir kalau
ada sesuatu menimpaku
karena aku tidak pernah
benar-benar pergi
sendiri ke luar negeri
sehingga akhirnya kami
menggunakan
penerbangan yang
sama.
Pada hari H
sesampainya di bandara
aku segera bergegas ke
business lounge seperti
yang diminta mas Yanto
karena dia sudah
menunggu di sana.
Setelah cipika cipiki kami
mencoba mengobrol,
ternyata semua jadi
kikuk lagi tidak selancar
waktu ngobrol chatting
di internet tapi akhirnya
mas Yanto berhasil
mencairkan suasana
dengan gurauan-
gurauannya. Walaupun
kami berusaha bersikap
sewajar mungkin tapi
tidak bisa dipungkiri
tetap terlihat ada
suasana kemesraan di
antara kami. Sebagian
orang di sana sering
melirik kami dengan
pandangan heran
karena melihat
pasangan pribumi sawo
matang berbaju kasual
dengan Chinese putih
yang sangat sipit yang
berbaju seksi.
Akhirnya waktu untuk
boarding tiba, sebelum
kami berjalan ke
boarding lounge mas
Yanto tiba-tiba berbisik
padaku untuk melepas
celana dalamku di toilet
business lounge
sebelum naik pesawat.
Mukaku sampai merah
merona karena jengah
mendengarnya dan
sempat protes karena
aku sudah memakai rok
mini yang tinggal 1/3
paha kalau sedang
duduk tapi mas Yanto
keukeuh pada
permintaannya.
Walaupun aku tidak
mengerti tujuannya
tetapi aku turuti juga
kemauan mas Yanto
yang menungguku
melepas celana dalamku
di luar pintu toilet
dengan senyuman
nakal.
Entah bagaimana
caranya mas Yanto bisa
mengatur kami duduk
berdampingan di
pesawat padahal waktu
check-in kami terpisah
dan kami duduk di baris
yang memang hanya
ada dua kursi saja. Aku
kembali terheran-heran
saat mas Yanto
mengambil selimut
yang tersedia di bagasi
cabin dan memakainya
untuk menutupi pahaku
yang hanya tertutup rok
mini. Pikirku mungkin
mas Yanto tidak terbiasa
berjalan dengan wanita
yang berpakaian seksi
karena istri dan anak
perempuan mas Yanto
sehari-harinya pakai
jilbab. Hal itu berbeda
dengan Kokoku yang
selalu menginginkan aku
berpakaian seseksi
mungkin, apalagi karena
payudaraku sangat
besar dan bulat
membuat dia selalu
membelikan aku baju-
baju yang membuat
kelebihan ukuran
dadaku semakin terlihat.
Di dalam pesawat aku
mulai berani
bergelendotan manja
dengan mas Yanto yang
membalasnya dengan
kecupan-kecupan kecil
di pipi dan bibirku.
Jantungku mulai
berdebar kencang
membayangkan apa
yang akan kami lakukan
selama beberapa malam
ke depan tanpa
gangguan siapapun.
Setelah pesawat take-off
tangan mas Yanto mulai
masuk kebalik selimut
yang menutup pahaku.
Sekarang aku jadi
mengerti tujuan mas
Yanto menyuruhku
membuka celana dalam
dan kemudian
menutupinya dengan
selimut. Tanpa kusadari
kulit wajahku kembali
merah merona dan
nafasku mulai
memburu, padahal
tangan mas Yanto baru
memijat-mijat pahaku
saja.
“Hhhhhhhh ….” Aku
mendesah pelan sekali
saat tangan mas Yanto
mulai mengusap-usah
pangkal pahaku. Secara
naluriah aku membuka
pahaku selebar yang
memungkinkan di kursi
pesawat dan merubah
posisi dudukku agak
sedikit melorot pada
sandaran kursi supaya
seluruh bagian vaginaku
lebih mudah dijangkau.
“Ahhhh …
mmmassshhhhh….”
Aku mendesah tertahan
sambil memeluk tangan
mas Yanto ketika
kelentitku mulai diusap-
usap jari tangannya dan
mebuat cairan vaginaku
mulai membasahi
lubang senggamaku.
“Masukin massh…
ohhh…masukiiiinnnn …
aja…massshhhh…”
Erangku karena sudah
tidak tahan lagi kalau
jari-jari mas Yanto
hanya menggesek di
luar lubang
senggamaku saja.
CLEEPPP ….. kurasakan
salah satu jari mas
Yanto sudah masuk ke
dalam liang
senggamaku
Srrtt..srrttt ….srrrtt …
dengan cepat jari itu
keluar masuk liang
senggamaku di balik
selimut.
“A…a…a….a…” aku
berusaha bertahan
sekuat tenaga supaya
tidak mengeluarkan
jeritan kenikmatanku
hingga akhirnya tanpa
sadar aku menggigit-
gigit lengan mas Yanto
yang dari tadi sudah aku
peluk.
“Ooohhh Tuhaann
….oohh Tuhann …
nikmat sekali…ohhhh …”
Gumamku saat
kurasakan orgasmeku
hampir tiba.
“Oucccchhhhhhhh…..masss….ahhhhhh….”
Tanpa sadar aku
menggeliat di kursi saat
orgasmeku datang dan
membuat selimutnya
melorot walapun mas
Yanto masih sempat
menariknya kembali.
“Aduuuh enak sekali
mas … terima kasih ya
…” Kataku sambil
membantu mas Yanto
membersihkan jari-jari
tangannya yang
belepotan oleh cairan
vaginaku sampai ke
punggung dan telapak
tangannya.
Aku juga sempat
mencubit mas Yanto
karena cemburu ketika
seorang pramugari
mencoba bermain mata
dengannya sambil
memasukkan jarinya
kedalam bibirnya
walaupun mas Yanto
hanya menanggapinya
dengan senyum ramah
biasa. Mungkin
pramugari itu bisa
menduga apa yang
dilakukan mas Yanto
kepadaku dari balik
selimut yang
menutupiku.
Fantasiku mulai
melayang ke mana-
mana, bayangkan saja
dalam waktu kurang
dari 5 menit dan hanya
dengan jari tangannya
saja mas Yanto bisa
membuatku orgasme.
Padahal selama ini setiap
cowok yang sudah
meniduri aku jarang
sekali yang bisa
membuatku orgasme.
Aku jadi makin tidak
sabar ingin segera
berhubungan badan
dengan mas Yanto, kata
beberapa temanku penis
orang pribumi rasanya
lain dan gaya mereka
bercinta juga berbeda.
Dari pengalamanku
berhubungan badan
dengan Koko maupun
kelima pacarku yang
semuanya Chinese,
semua rasanya sama
saja kalau sudah di
dalam liang
senggamaku walaupun
ukuran penisnya beda-
beda.
Beberapa menit
kemudian pesawat
sudah mendarat di
Changi Airport dan
kembali saat kami jalan
berdua menuju imigrasi
orang-orang sering
memandang kami
dengan pandangan
ganjil atau senyum
nakal. Waktu aku tanya
ke mas Yanto apakah
dia melihat seperti yang
aku lihat atau itu hanya
perasaanku saja karena
pertama kalinya kami
bepergian bersama. Mas
Yanto menjawab bahwa
dia juga melihat apa
yang aku lihat,
menurutnya selain
perbedaan ras
penampilan kami
memang jauh berbeda.
Mas Yanto
berpenampilan dewasa
dan kalem, sedangkan
aku terlihat seksi dan
nakal karena mungkin
sudah dibiasakan oleh
Kokoku.
Saran dari mas Yanto
adalah aku merubah
sedikit penampilanku
agar kami tidak jadi
terlalu mencolok.
Walaupun tidak
dikatakannya langsung,
aku juga mengerti
bahwa dia tidak ingin
aku dianggap sebagai
wanita bayaran yang
mendampingi
pengusaha atau pejabat
pribumi yang sedang
berlibur.
Tanpa terasa kami
sudah sampai di hotel
Grand Hyatt di Scotts
Road yang biasa di pakai
Koko kalau dia ke
Singapore. Kamar-
kamar kami selain
berbeda juga berada di
tower yang terpisah
dengan lift sendiri-
sendiri. Mas Yanto
sudah
memperhitungkan
semuanya dengan
cukup teliti karena dia
tahu betul sifat Kokoku.
Mas Yanto juga sudah
membeli SIM Card lokal
untuk kami pakai
berkomunikasi satu
sama lain selama di
Singapore.
Begitu sampai ke kamar
aku mulai gelisah karena
sangat kangen dengan
mas Yanto, apalagi
dengan kejadian di
pesawat tadi. Tapi mas
Yanto pesan bahwa aku
jangan mengontak dia
tapi harus menunggu
dia yang mengontak
aku karena dia belum
mempersiapkan HPku
untuk diisi nomor lokal
tadi.
Ting…toooooong …
tiba-tiba bel kamarku
berbunyi
Ternyata mas Yanto
yang ada di luar pintu.
Aku segera
membukakan pintu
untuknya dan
menyambutnya dengan
gembira karena benar-
benar tidak menyangka
mas Yanto akan ke
kamarku secepat ini.
Hhhhhhmmmmmpppphhhh
…. Aku langsung
mencium bibirnya
dengan penuh rasa
rindu sampai lupa
menutup pintu
kamarku.
“Kok lama sekali
datangnya .... ?” Kataku
manja setelah kami
selesai berciuman,
padahal aku sendiri baru
saja meletakkan koper
dan bersih-bersih sedikit
tapi belum sempat ganti
baju.
“Saya tadi harus cari
tahu dulu siapa pemilik
benda ini …” jawab mas
Yanto sambil
memperlihatkan celana
dalam hitam transparan
yaitu celana dalam yang
aku copot di
Cengkareng. Rupanya
mas Yanto berhasil
mencomotnya dari
tasku tanpa aku ketahui.
“Aduuuuh kok jadi ada
di sana sih ?” Mukaku
langsung berubah
merah karena malu.
Waktu aku berhasil
merebutnya malahan
mas Yanto kembali
memelukku dengan
satu tangannya
sedangkan tangan yang
lain langsung merogoh
masuk kedalam rok
miniku yang tentu saja
masih belum memakai
celana dalam lagi. Aku
segera melepas rok
miniku itu sehingga
sekarang bagian
bawahku sudah
telanjang. Mas Yanto
langsung meresponnya
dengan melepaskan
celana yang dipakainya
dan kemudian celana
dalamnya.
“Iiiiiihhhhhhhh …. !!!”
Spontan aku berteriak
kaget waktu melihat
penis mas Yanto yang
sudah mengacung ke
arahku.
Penis mas Yanto
ukurannya biasa-biasa
saja, tapi yang sangat
berbeda adalah
warnanya yang hitam
kemerahan dan
bentuknya yang pipih
bukan bulat. Di sekeliling
penisnya terlihat banyak
urat-urat pembuluh
darah yang
menggelembung
sehingga penis itu
seperti batang pohon
yang dililit oleh akar-akar
bahar disekelilingnya.
Aku merasakan liang
senggama di vaginaku
berkontraksi dan mulai
lembab karena bentuk
penis Yanto yang
sebenarnya agak
menyeramkan bagiku
tetapi mulai
membangkitkan gairah
berahiku dengan
seketika.
“Kenapa sayang ?”
Tanya mas Yanto
keheranan.
“Aku belum pernah lihat
penisnya pri … eh …
seperti ini” Jawabku
kagok
“Maksudnya belum
pernah liat penis orang
pribumi ya ?” Canda
mas Yanto
“Mau cicipin sekarang ?”
“Mauuuuu ….” Kataku
manja sambil mencium
mas Yanto, sedangkan
tangan kananku
memegang penisnya.
Vaginaku semakin
lembab oleh cairan dan
mulai terasa berdenyut-
denyut karena aku
terangsang sendiri saat
menggenggam penis
mas Yanto. Ketika
menggenggam
penisnya yang pipih,
aku seperti sedang
memegang ikan lele
yang besar yang
berontak ingin lepas.
“Masukkin langsung aja
masss …. Aku udah ga
tahan pengen diijut”
kataku memakai istilah
dalam bahasa sunda
jalanan untuk
bersetubuh.
Tanpa menunggu lagi
mas Yanto langsung
mendorong tubuhku ke
dinding kamar hotel,
kemudian dengan
menekuk kedua lututnya
penisnya mulai
diarahkan vaginaku
untuk mencari lubang
senggamanya. Kepala
penis mas Yanto aku
pegang dengan jari-
jariku untuk
membantunya
mencapai liang
senggamaku. Terus
terang aku belum
pernah bersetubuh
sambil berdiri dengan
cowok-cowokku
sebelumnya, apalagi
dengan Kokoku.
“Aaaaahhhhhh ……” Aku
mendesah saat kepala
penisnya masuk
kedalam liang
senggamaku, mas
Yanto tidak langsung
memasukkan seluruh
batangnya tapi
memutar-mutar dulu
kepala penisnya seolah-
olah ingin mengenali
situasinya dulu.
BLESSSSSSSS ……
Pelan-pelan batang
penis mas Yanto masuk
ke dalam liangku sampai
masuk seluruhnya
dengan mulus karena
vaginaku benar-benar
sudah siap menerima
tamu.
“Adddddaaaawwwwwwww
…..auhhhhhh…
aaaahhhhhh ….” Aku
mengerang kenikmatan.
Sambil tangannya
menyangga kedua
pantatku, mas Yanto
meluruskan kembali
kakinya yang tadi
ditekuk sehingga
otomatis aku terangkat
ke atas seperti melayang
dan terasa nikmat sekali.
Kemudian aku diminta
untuk melingkarkan kaki
di pinggulnya
sedangkan tanganku
memeluk lehernya.
Mas Yanto mulai
memompa penisnya
keluar masuk vaginaku
dengan gerakan pelan
sambil sedikit menekan
sehingga aku merasa
sedang dipaku di
dinding dengan penis
sebagai pasaknya.
Cairan vaginaku
mengalir dengan
derasnya sampai keluar
dan membasahi bulu
kemaluan kami berdua.
“Ahhh ….ahhhh …
hehhhh…hehhhh…
ahhhh…ahhh” aku terus
mengeluarkan desah
nikmat mengikuti irama
gerakan penisnya
dengan mata sipitku
yang terpejam.
Pakaian bagian atasku
yang masih lengkap
dengan BH karena
belum kulepas mulai
kusut dan basah oleh
keringat, pakaian mas
Yanto juga sudah mulai
acak-acakan. Posisi
bersetubuh kami
memang hanya
melekatkan tubuh pada
bagian pinggul kebawah
sehingga tidak terlalu
mengganggu.
“Aduuuhhhh massshh
… enak sekali ….ahhhh
….enak terusshhh…
shhhh…” Aku mulai
meracau bersamaan
denga semakin
memuncaknya rasa
nikmatku.
“Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh
………
masssssssss…….akuuuu…
dappppaaaaaaaattt” aku
menjerit saat
orgasmeku meledak
dengan tiba-tiba.
Kaki dan tanganku
langsung menjepit
tubuh mas Yanto
dengan kencang,
mukaku terasa
memerah dan mata
sipitku tiba-tiba melotot
saat mencapai puncak
kenikmatanku dari penis
orang pribumi
pertamaku.
Setelah klimaks
orgasmenya berlalu,
aku langsung merasa
lemas sehingga kakiku
tidak kuat lagi menjepit
pinggangnya dan
terjuntai lemas. Mas
Yanto menghentikan
pompaannya, kemudian
memelukku dan
menyandar kepalaku di
bahunya lalu aku
dibopongnya ke ranjang
dengan penisnya masih
ada di dalam vaginaku.
“Uuuuuuuuhhhhhhhhhhh
…..” aku melenguh
nikmat saat penis mas
Yanto terlepas dari
vaginaku setelah
membaringkanku di
tempat tidur.
Dengan telaten mas
Yanto melepas baju dan
BH yang tersisa,
kemudian dia
melepaskan juga
bajunya sendiri
sehingga sekarang kami
berdua sudah telanjang
bulat. Aku lihat penis
mas Yanto masih tegak
melengkung ke atas dan
berkilat-kilat terkena
cahaya dari layar TV.
Rupanya mas Yanto
masih belum ejakulasi,
padahal biasanya
cowok-cowokku
ejakulasi duluan
sebelum aku orgasme
atau paling tidak
bersamaan datangnya.
Kakiku direntangkannya
lebar-lebar dengan satu
tangannya sedangkan
tangannya yang lain
mengocok-ngocok
penisnya sambil
diarakan ke liang
senggamaku.
BLESSSSS ….. dengan
sekali genjotan pada
pinggulnya seluruh
batang penisnya
langsung masuk ke
dalam vaginaku sampai
kepangkalnya.
“Auuuuuhhhhhhhhhhhhh…..Masshh
…pelan-pelan” jeritku
karena merasa sedikit
ngilu pada vaginaku
akibat persetubuhan
kami yang sambil
berdiri tadi.
Dengan lembut mas
Yanto mulai
menggerakkan penisnya
maju mundur di dalam
liang senggamaku yang
belum terlalu basah
setelah tadi rehat untuk
mengulum penis itu
tadi. Walaupun begitu
bukan berarti
kenikmatannya
berkurang, apalagi mas
Yanto memang sangat
telaten mencari-cari area
di dalam rongga liang
senggamaku yang lebih
sensitif apabila disentuh
dengan penisnya.
“Aduh mas enak sekali
di situ ….ohhhh
….ohhhh….oohhhhhhh”
Reaksi spontanku
terhadap titik sensitif
yang disentuh penisnya
juga menjadi sangat
membantu mas Yanto
untuk mengerti
kebutuhanku.
Tanpa harus menunggu
lama vaginaku mulai
basah lagi …
CROK…. CROK …. CROK
…. CROK ….CROK
….mulai terdengar bunyi
nyaring dari cairan
vaginaku yang
terpompa keluar oleh
gerakan penis mas
Yanto.
“Ohhhhhh….enak
sekali…
ahhhh….ahh…..ahh….”
Aku terus mendesah
nikmat
Mas Yanto menaikkan
kakiku ke bahunya dan
merubah posisi
badannya menjadi
setengah berjongkok
sehingga pinggulku
otomatis agak terangkat
juga. Dalam posisi ini
tanpa ampun mas
Yanto memompakan
penisnya dengan sangat
cepat membuatku
tubuhku bergoyang-
goyang sesuai irama
pompaannya. Penisnya
terasa melesak sangat
dalam ke arah rahimku
membuatku ingin
meraung raung
kenikmatan kalau tidak
malu sama mas Yanto,
akhirnya aku meremas-
remas dan menggigit-
gigit bantal yang ada di
kepalaku sebagai
pengalihannya.
“Arrrrkkkhhhhh
….arrrkkkkkhhhh
….arrrkkkkhh …”
Akhirnya aku hanya
mengeluarkan erangan
tertahan dengan badan
yang melenting-lenting
di ranjang.
CROK…CROK …
CROK….CROK …CROK …
Bunyi becek dari
vaginaku semakin keras
terdengar
“AAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH……”
Aku melolong
kenikmatan saat aku
kembali mendapat
orgasme. Mataku yang
sipit membelalak
sejenak sebelum
berputar sampai hanya
kelihatan putih matanya
saja.
Pompaan penis mas
Yanto makin lama
makin pelan mengikuti
redanya puncak
orgasmeku, kakiku juga
diturunkan dari bahunya
lalu tubuhnya
direbahkan sambil
menindih tubuhku.
“Kamu bisa
menikmatinya sayang ?”
Bisik mas Yanto sambil
mencium bibirku dan
mengecup-ngecup pipi
serta leherku “Aku
belum keluar lhooo…”
“Enak sekali mas, benar-
benar merupakan
pengalaman yang sama
sekali baru” Jawabku
sambil membalas
ciuman dan
kecupannya.
“Mas mau minta Syeni
ngapain supaya mas
bisa keluar ?” Aku
menawarkan bantuan
agar mas Yanto bisa
ejakulasi.
Mas Yanto minta kami
merubah posisi dengan
aku ada di atasnya tanpa
melepaskan penis dari
vaginaku terlebih
dahulu. Akhirnya sambil
berciuman kami
berguling di ranjang
sampai posisi kami
berbalik di sisi lainnya.
Aku lihat bed cover
tempat kami bersetubuh
sebelumnya sudah
basah oleh cairan
vaginaku sehingga
meninggalkan noda
yang cukup lebar.
“Ahhhh ….” Aku
mendesah pelan saat
payudaraku dicium dan
diremas oleh mas
Yanto.
Dengan lahap putting
payudaraku di hisap-
hisapnya, sedangkan
payudaraku yang
lainnya di remas-remas
dengan tangannya.
Payudaraku sangat
besar, sehingga telapak
tangan mas Yanto yang
sudah lebarpun hanya
bisa meremas tidak
sampai setengah
bagiannya.
Sambil menikmati
permainan mas Yanto
pada payudaraku dalam
kondisi setengah
tengkurap aku mulai
bergerak memaju
mundurkan pinggulku
untuk menggesekan
penis Yanto dalam
lubang seggamaku.
“Ohhhhh….shhhhh…”
Aku kembali mendesah
menikmati hasil dari
pergerakanku sendiri.
Makin lama aku aku
bergerak makin cepat
dan diimbangi oleh mas
Yanto dengan gerakan
pinggulnya yang
menekan penisnya
makin kedalam saat
gerakan mundurku
membuatku menjerit-
jerit nikmat.
“AAAAHHHH
….AHHHHH…..AHHHHHH
….AAmmmpppphhhhhh”
Jeritanku kadang
disumpal mas Yanto
dengan ciumannya,
mungkin dia khawatir
jeritanku “mengganggu”
tamu-tamu lain.
Aku kemudian diminta
untuk mengambil posisi
dengan badan yang
lebih tegak seperti
sedang menaiki kuda
sehingga gerakanku
sekarang adalah naik
turun. Mas Yanto tetap
mengimbangiku dengan
menaikkan pinggulnya
untuk menyambut
setiap gerakan turunku
yang membuat seolah
penisnya menancap
dalam-dalam tembus
sampai jantungku.
Belum lagi aktivitas
tangannya yang
meremas payudaraku,
mempermainkan
putingnya atau
mempermainkan
kelentiku.
“Mass…enak mashhh….
Kontolnya enak
sekali….mashhh
kontolnyaaaahhh”
Aku meracau dengan
pilihan kata-kata yang
sudah tidak terkontrol
lagi. Maklum sebagai
orang yang berasal dari
keluarga cina totok, aku
hanya bergaul dengan
buruh pribumi level
bawah di toko atau
perusahaan kami yang
pilihan bahasanya sering
kali kasar.
“Ohhhh….ohhhhh…
ohhhhh….ohhhh…..”
Gelombang orgasme
terasa mulai muncul lagi
sehingga aku mulai
mempercepat
gerakanku. Butir-butir
keringat mulai muncul
di sekujur tubuhku
membuat tubuhku
menjadi kuning
berkilatan. Rambutku
yang asalnya panjang
terurai sampai ke
punggung mulai acak-
acakan menutupi
sebagian mukaku
sampai ke dadaku.
“Mass….aaakkkuuu
udaaah mau
dappaaatthhhh …..”
Teriakku dengan tubuh
mulai bergetar karena
diterjang gelombang
orgasme yang begitu
nikmat.
“Syeniii….saya juga akan
keluarrrr ….” Sambut
mas Yanto sambil
menahan pinggulku
dibawah dan dia sendiri
melentingkan tubuhnya
untuk membuat
penisnya tertancap
dalam-dalam.
“Ouuhhhhh …keluarkan
semua pejunya
masshhh
….untukkuu…..”
Keluarnya air mani di
dalam tubuhku seperti
bonus bagi kenikmatan
sebelumnya.
SROOOOTTT….SROOOTTT
….SROOOTTTT
….SROOOTTT….SROOOOTTT
…srrrt …srrttt…srttt
Lima semprotan air
mani yang kuat aku
rasakan membanjiri
rahimku diikuti beberapa
semprotan kecil
sesudahnya.
Untuk sejenak aku
seperti tidak sadarkan
diri, tidak ada yang bisa
aku ingat selain
kenikmatan puncak
yang sedang aku
rasakan sekarang.
Orgasme yang
dibarengi dengan
semprotan air mani
mas Yanto merupakan
orgasme pamungkas
yang sempurna bagiku.
Setelah berahiku mulai
reda badanku ambruk di
atas tubuh mas Yanto
yang segera
memelukku dengan
mesranya. Rambutku
yang acak-acakan
dirapikannya dan
kemudian menciumi
aku dengan hangat.
“Syeni, kamu sangat
luar biasa …. Saya
benar-benar dipuaskan
oleh kamu” Bisik mas
Yanto kepadaku dengan
suara yang mesra.
“Mas Yanto juga hebat
sekali…aku sangat
menikmati ijutannya
bikin ketagihan”
Jawabku malu-malu
dengan nafas masih
belum teratur.
“Apalagi semprotan
pejunya juga sangat
enak, nikmat sekali ….”
Lanjutku sambil
tersenyum manis.
“Kamu mau aku cariin
pil anti hamil untuk
berjaga-jaga ?” Mas
Yanto berbalik tanya
seperti teringat sesuatu
setelah aku bicara soal
semprotan air maninya
di dalam tubuhku tadi.
“Ga usah mas, malah
lebih baik kalau aku bisa
punya anak dari mas …”
Kataku manja hingga
jadi malu sendiri dan
membenamkan
mukaku di dadanya.
Mas Yanto kemudian
mengangkat mukaku
dan memandangku
dengan lembut tapi
terlihat serius “Syeni
kamu pikirkan baik-baik
dulu, jangan sampai
omongan kamu itu
hanya bawaan emosi
karena kita habis
bercinta”
“Tapi saya tidak
keberatan kalau Syeni
memang ingin dibuahi
dengan benihku “ Lanjut
mas Yanto
Aku hanya
mengangguk sebagai
jawabannya karena
tekadku sudah bulat,
bahkan sebelum pergi
ke sini aku memang
sudah bertekad untuk
punya anak dari mas
Yanto saja dari pada
dibilang tidak subur oleh
keluarga kokoku.
“Aaaahhhhhhhhhhhhhh
….” Aku kembali
mendesah saat mas
Yanto melepas penisnya
yang mulai lunak
kembali.
Dia kemudian
mengambil handuk kecil
dari kamar mandi yang
sudah di beri air hangat,
dengan lembut
dibasuhnya vaginaku
dengan handuk hangat
tadi sampai bersih baru
dia membersihkan
penisnya sendiri. Setelah
membuka bed cover
yang basah oleh
keringat kami dan cairan
vaginaku, kami
berbaring kembali di
ranjang dengan tetap
bertelanjang bulat. Saat
itu kami pergunakan
untuk “lebih mengenal”
perabotan masing-
masing yang
sebelumnya
dipergunakan.
Bulu vaginaku yang
hitam tipis dan
berbentuk pohon palm
merupakan favorit mas
Yanto selain kelentitku
yang panjang. Mas
Yanto juga bisa
menebak bahwa aku
udah pernah hamil lebih
dari dua bulan sebelum
digugurkan hanya dari
bentuk putingku yang
memang sudah
membesar dan
berwarna lebih gelap
saat aku masih
perawan. Aku hanya
bisa mengiyakan dan
minta maaf karena tidak
berterus terang
sebelumnya sambil
jantungku jadi berdebar
takut perasaan mas
Yanto jadi berubah
terhadapku. Mas Yanto
ternyata tidak marah,
hanya dia berpesan
kalau memang ingin
serius tentang dihamili
olehnya, maka dia tidak
ingin aku
menggugurkan
kandungannya lagi.
Saat aku bertanya
mengenai kenapa
penisnya berbeda
dengan penis-penis
yang pernah aku kenal
apakah ada hubungan
dengan ras. Dia bilang
perbedaan utama adalah
karena sebagai muslim
penisnya sudah disunat
sejak kecil sehingga
pertumbuhannya
berbeda dengan penis-
penis yang tidak disunat
atau disunat setelah
dewasa. Penis cowok-
cowokku memang
ujungnya tertutup kulit
saat sedang tidak
berereksi sedangkan
kepala penis mas Yanto
langsung terbuka
dengan lekukan miring
dilehernya sehingga
menjadi batas yang
jelas dengan batang
penisnya.
Aku coba kulum penis
mas Yanto sampai
berereksi lagi sehingga
sekarang aku bisa
melihat dari dekat benda
yang tadi membuatku
meraung-raung
kenikmatan. Tanpa
sadar aku terhanyut
untuk menghisap dan
menjilati kepala penis
mas Yanto sampai mas
Yanto akan mendapat
ejakulasi lagi. Dia minta
aku untuk menelan
seluruh air maninya dan
tentu saja aku mau
melakukannya dengan
senang hati walaupun
sebelumnya aku tidak
pernah mau kalau
disuruh melakukannya
oleh cowokku yang
pertama dan juga
Kokoku.
Mas Yanto bukan hanya
sekedar berbeda rasa
penisnya, tapi juga
berbeda dalam gaya
bercintanya yang selalu
mengutamakan
kepuasanku terlebih
dahulu. Dia juga
membuat aku tetap
punya harga diri
walaupun hanya
sebagai pacar gelapnya
atau wanita
simpanannya. Padahal
selama ini aku selalu
diperlakukan tak
lebihnya sebagai obyek
pemuas syahwat bagi
cowok-cowok yang
meniduriku. Pada saat
aku memang
membutuhkan hal itu
tidak terlalu terasa, tapi
sangat menyakitkan
pada saat mereka
membutuhkanku karena
umumnya mereka tidak
mau tahu apakah aku
sudah siap dipenetrasi
atau tidak.
Selama di Singapore
kami bercinta sebanyak
3 sampai 4 kali dalam
sehari, saat bercinta di
pagi hari kami sepakat
untuk mengeluarkan air
maninya di luar supaya
saat diperiksa di klinik
tidak masuk ke dalam
medical recordku. Tapi
untungnya metoda
terapi mereka tidak
melarang aku bercinta
selama menjalankan
pengobatan.
Beberapa teknik bercinta
kilat juga kami coba
praktekkan walaupun
sebenarnya tidak perlu
kalau melhat situasi
selama kami di sana,
tapi mas Yanto yakin
bahwa setelah kembali
ke Bandung kesempatan
untuk bercinta memang
akan sangat terbatas.
Bercinta di mobil atau di
motel-motel short time
akan menjadi sering
kami lakukan dan mas
Yanto ingin memastikan
bahwa aku bisa
mencapai orgasme
sedikitnya satu kali.
Sesaat setelah mendarat
di bandara Cengkareng,
mas Yanto kembali
mengajakku bercinta di
hotel Bandara sebanyak
dua kali untuk
memastikan
pembuahanku dengan
benihnya karena saat itu
aku memasuki fase
masa suburku sebelum
akhirnya kami pulang
dengan menumpang
travel yang berbeda.
Begitu aku sampai
rumah Koko langsung
menyetubuhiku tanpa
memperdulikan apakah
aku sedang kelelahan
atau tidak. Tiga malam
selanjutnya seperti
siksaan bagiku karena
Koko terus menerus
ingin menyetubuhiku,
katanya untuk
memanfaatkan masa
efektif terapi yang aku
jalani.
Akhirnya memang aku
hamil dan naluriku
meyakini bahwa benih
jabang bayiku adalah
mas Yanto bukan
suamiku. Aku dan mas
Yanto masih sering
bertemu untuk bercinta
sampai kandunganku
berusia 8 bulan,
pengelola motel sering
memandang kami
dengan heran melihat
ada wanita hamil besar
masih sewa short time
di motelnya dia.
Walaupun begitu
keluarga suamiku
menjadi sangat gembira
dan tidak ada kecurigaan
sama sekali bahwa
benih cucunya berasal
dari orang lain … mitra
bisnis suamiku sendiri.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Selingkuh Dengan Rekan Bisnis Suamiku"
Post a Comment