Nikmatnya Menjadi Seorang Dokter

Namaku Rendi, seorang
spesialis kandungan
dokter di rumah sakit
negeri di kota S*******G.
Umurku 35 tahun tapi aku
belum nikah, jangan salah
bukan karena aku tidak
ganteng tapi pacarku
sedang menyesaikan S3
nya di amrik, makanya
nungguin dia selesai dulu.
Tinggiku 180 cm karena
hobiku juga main basket,
kulit putih , dan wajah
yang bikin cewek pada
ngiler. Dengan punya
pacar bukan berarti aku
ngga “ngobyek” dengan
yang lain. Terus terang
aku punya beberapa affair
dengan dokter wanita di
sini atau anak kedokteran
yang masih koass. Tentu
yang aku pilih bukan
sembarangan, harus lebih
mudan dan cantik.
Sebenernya sudah banyak
yang mencoba menarik
atiku tapi sejauh ini aku
belum mau serius dan
kalau bisa aku manfaatin
selama jauh dengan
pacarku. Sudah banyak
yang aku banyak yang
aku perdaya tapi…ada satu
orang yang membuatku
sangat penasaran.
Namanya Novi, umurnya
sekitar 22 tahun, dia anak
koas dari perguruan tinggi
negeri dari kota yang
sama. Kebetulan aku jadi
residennya. Wajahnya
cantik dan tatapannya
teduh, dia juga berjilbab
lebar berbeda dengan
anak lainnya, walaupun
affairan aku pun
sebenernya ada juga yang
berjilbab, tapi tidak seperti
dia. Tinggi semampai
sekitar 165 cm, dengan
tubuh yang padat tidak
kurus dan tidak gemuk,
sesuai seleraku. Jilbabnya
pun tidak mampu
menutupi lekukan
dadanya, aku taksir kalau
tidak 36B mungkin 36C.
Tutur katanya yang
lembut dan halus benar-
benar membuatku
mabuk. Apalagi dia sangat
menjaga pergaulan.
Sesekali aku coba
berusaha bicara
dengannya tapi dia elalu
menundukkan wajahnya
setiap bicara denganku.
Dia pun tidak menyambut
tangaku ketika aku ajak
untuk bersalaman. Kulit
putihnya sangat halus
ketika aku coba perhatika
di pipi dan ujung
tangannya, tahi lalat di
atas bibir semakin
menambah kesan manis
darinya.
Nov…kita makan bareng
yuk, aku yang traktir.
ujarku berusaha
membujuk untuk bisa
pergi bareng. Terima
kasih Dok…saya dengan
teman-teman saja.
Ujarnya halus. Jangan
panggil Dok…panggil saja
kak. “baik Dok…eh…kak”.
“tapi terima kasih
tawarannya
aku bareng teman saja…”,
“kalau begitu sekalian ajak
saja teman kamu”
setengah berharap dia
mau menerima. “terima
kasih Dok..eh kak, nanti
merepotkan, teman-
temanku makannya
banyak lho” sahut dia
sambil tetap
menundukkan kepalanya.
Kadang gurauan ringan itu
yang tidak pernah aku
dapatkan dari pacarku
atau teman affair-ku. aku
tersenyum kecil
mendengar alasannya
yang sangat lucu…
humoris juga dia,
“baiklah…mungkin lain
kali”
kataku
“oh ya, jika ada apa-apa
masalah administrasi di
sini atau masalah kerjaan
jangan sungkan bicara aja
ya, nanti aku bantu” aku
masih berusaha mencari
celah.
“Terima kasi pak
ehh..kak…saya pamit”
sambil berlalu
AKu perhatikan dari
belakang, roknya yang
juga lebar tidak bisa
menutupi lekukan
pantatnya yang
bergoyang mengikuti
langkah kakinya..perfect…
aku menggeleng.
Dia berbeda sekali dengan
nita…anak koas 2 tahun
lalu yang pernah aku
perawani juga. Sama-
sama berjilbab walau tak
selebar dia. Nita pun
awalnya agak jual mahal…
walau aku tau dari cara
memandangnya dia suka
aku. Dengan beberapa
rayuan akhirnya aku bisa
memerawani dia di
sebuah hotel. Tidak
dengan paksaan dan
sangat mudah. Affair kita
berlalu dengan selesainya
masa koas dia, juga
karena dia tahu aku punya
affair juga dengan
temannya. Dia berbeda
sekali, sulit sekali
menaklukannya. Setiap
aku melihat dia selalu aku
lihat setiap geriknya,
senyumnya, tawanya,
selalu terbayang. Saat aku
sedang melamun tiba-tiba
dari arah belakangku ada
yang memeluk dan terus
menarikku.
“Ngelamun nih…” dengan
suara yang diparaukan
“Mhh…Rasya…kamu nih
ganggu saja” sambil
melepaskan pelukan dia.
“kamu sekarang jarang ke
ruangku lagi” rengeknya
Rasya ini sesama dokter di
sini, umurnya sekitar 27
tahun dan sudah
bersuami. Sayangnya
suaminya bekerja di lepas
pantai sehingga jarang
bertemu dan memberikan
nafkah bathin padanya.
Memang aku sering ke
ruangnya dulu…sekedar
bercumbu dengan
bumbu oral yang bisa
membuat dia melayang.
Tapi kami tidak pernah
sampai melakukan jauh
karena dia pun tidak mau,
ya akupun tidak
memaksa. Tidak semua
affairku selalu aku tiduri…
yang penting ada
penawaran rindu dan bisa
memuaskanku walau
tidak sampai melakukan
senggama.
“Aku sibuk Rasy…banyak
yang melahirkan juga jadi
residen” ujarku sambil
memegang pinggangnya
“tidak ada waktu untuk
aku?…sebentar saja…” lalu
dia memagut bibirku dan
selanjutnya kamupun
bercumbu
Satu persatu aku buka
kancing blousenya aku
temukan dua gunung
kembar yang jarang
dijamah pemiliknya. Aku
cumbu dan ciumi dengan
lembut. Tapi…sepintas aku
ingat Novi lagi dan akupun
menghentikan aktifitasku.
“Kok berhenti…” Rasya
pasti sedang mulai
terangsang. “Maaf Rasy…
aku ga konsen banyak
pekerjaan…”. “Ya sudah…”
ujarnay tersungut sambil
mengancing kembali
blousnya terus berlalu.
Sore itu aku sedang
membantu persalinan,
sengaja aku panggil Novi
untuk mendampingiku.
Wajahnya senang sekali
karena jarang mendapat
kesempatan untuk
mendampingi dokter saat
persalinan seperti ini.
Tidak mungkin kan semua
masuk, ya aku beralasan
yang lain tunggu giliran.
DIa berusaha menjadi
asistenku dengan baik,
saat memebrikan gunting
aku sengaja pura-pura
tidak tahu menyentuh
tangannya…tapi langsung
dia tarik. Gagal lagi
upayaku…tapi aku sudha
senang dengan melihat
wajahnya dari dekat
selama persalinan itu.
Sekeluar dari ruang
bersalin “Terima kasih ya
kak…jarang ada
kesempatan begitu…”.
“Kamu mau aku bikin
begitu…” sambilku melirik
seorang ibu hamil yang
kebetulan lewat. “yee…ga
lah, makanya cepet cari
istri sana…” sambil
tersenyum dan berlalu.
Aku kaget…kok dia tau
ya…
Sore itu langin mendung
dan gelap sekali. Hujan
mulai turun rintik-rintik,
aku memacu FORTUNER
ku ke luar ruang parkir.
Aku melihat Novi berlari
keluar sambil menutupi
kepalanya dengan tas agar
tidak terkena hujan.
“kesempatan”…tin..tin..aku
klakson dia. “Mau pulang?
bareng aja yuk…kayaknya
mau hujan besar nih”
selalu saja aku cari
kesempatan. “Terima
kasih kak…aku naik angkot
saja…sudah biasa kok”
katanya. hujanpun makin
deras
“bener lho…ga apa-apa
kok aku antar kamu
sampe kos”
“Terima kasih kak, ga enak
kalau dilihat orang bisa
jadi fitnah”
mhh…gilaa…ini semakin
membuatku jatuh cinta
sama dia, aku janji dalam
hati, kalau saja aku bisa
dapatkan dia aku akan
putuskan semua affairku,
aku benar-benar jatuh
cinta pada dia. Tidak
berapa lama hujan
semakin deras, bahkan
aku sulit melihat jalan
saking derasnya hujan.
Sampai aku tertidur jam
10 malam ini hujan masih
juga belum berhenti.
Keesokan harinya, aku
harus membantu
persalinan lagi dan aku
mencari Novi.
“Novi tidak masuk hari ini
dok” sahut Rinda teman
sekampusnya sambil
membedong bayi di
ruang bayi
“Dia sakit? aku mau minta
tolong bantu persalinan
lagi” kataku
“Tidak tau dok…saya tidak
dapat kabarnya” sahutnya
sambil melihatku dengan
sopan.
AKu lihat Rinda manis
juga, berjilbab lebar sama
dengan Novi, walau tidak
secantik Novi, Rinda bisa
juga dikatakan high
quality. Tingginya paling
hanya 155 atau 160 cm,
tapi tubuhnya
proporsional. Dadanya
tidak sampai terlihat betul
lekukannya seperti Novi,
kulitnya kuning bersih,
kacamata yang dia
kenakan semakin
membuatntya lebih
terlihat anggun. Aku
pandangi seluruh
tubuhnya, berbeda juga
dengan Novi, dia tidak
sungkan untuk berbicara
langsung dan melihatku,
walaupun dia juga sama-
sama menjaga pergaulan.
“Ya sudah kamu saja ya…
bantu saya persalinan…”
dia tersenyum senang
“Terima kasih dok…”
Keesokan harinya aku
masih belum menemukan
Novi. akhirnya aku di
bantu Rinda lagi “Kamu
tau nomor telepon atau
kos Novi Rin..”
“Tidak dok…kita beda
kos…kenapa gitu?”
“mhh..atau dokter…
hihihi…suka sama dia ya”
sahutnya sambil
tersenyum
“tidak…cuma dia itu
cekatan dan pintar…
makanya saya suka sekali
kalau diasisteni dia…lagian
juga dia ngga akan mau
sama aku ini”
“Iya dok…banyak yang
sudha mau khitbah
dia..tapi dia tidak mau…dia
mau selesaikan dulu
kuliahnya…dia itu baik dan
cantik lagi” sambil
mengikuti langkahku di
ruang persalinan
“Kamu juga cantik…” aku
mulai mengeluarkan
racunku, kalau ga dapet
yang poin 9 ya minimal 7
atau 8 juga tidak apa-apa.
Yang penting aku pengen
sekali bisa memerawani
wanita berjilbab lebar ini.
Karena setauku mereka
selalu menjaga diri dan
pergaulannya. Tantangan
tersendiri untuk aku.
Rinda tidak menjawab,
hanya tersenyum sambil
menunduk.
Hari keempat baru kulihat
Novi datang, namun tak
seperti biasanya. Biasanya
Novi selalu ceria, kali ini
tidak. Wajahnya murung
dan tatapannya kosong.
Kulihat teman-temannya
berusaha bertanya dan
berkumpul di sekitarnya.
Entah apa yang mereka
bicarakan terkadang Novi
tersenyum walau getir.
Saat istirahat ku coba
dekati. “Kamu sakit Nov?”
“Nggak kak” lemah sekali
bicaranya
“Kenapa kamu murung,
ada masalah?”
“ah nggak kok” Novi
mencoba tersenyum
walau aku lihat tidak bisa
menutupi
kemurungannya. “Ngga
ada masalah cuma agak
kurang sehat aja, maaf
saya mau makan dulu
kak” sambil berlalu
meninggalkanku.
“Ya sudah kalau kamu
ngga apa-apa, kalau kamu
butuh bantuan jangan
ragu minta tolong ke aku
ya”
“iya kak, terima kasih”
Esokan hari-nya hari
jum’at, aku berencana
pulang agak cepat.
Maksudku, aku mau tidur
dulu sebelum agak malam
nanti aku bangun dan
pergi clubbing di club
terkenal di kota ini. Ketika
aku sedang membereskan
buku dan berkas yang aku
masukkan ke tas, tiba-tiba
pintu kantorku di ketuk,
“Silahkan masuk”.
“Maaf, apa saya
mengganggu kakak…” aku
lihat sesosok wanita
dengan kemeja pink
berbalut blazer putik khas
dokter, jilbab pink dan rok
putih. Cantik sekali dia
terlihat. Wajahnya sambil
agak menunduk walau dia
coba beranikan diri
melihat wajahku.
“Ada apa Nov, tidak
menggnggu kok, saya
sedang membereskan
berkas” ujarku santai.
“Ada yang bisa saya
bantu?”
“Kakak besok ada acara?”
AKu tersentak, tumben
sekali dia bicara ini.
“Tidak…tidak…ada apa?
besok aku bebas kok” Aku
melupakan janjiku untuk
bertemu Dian, passienku
yang pernah aku tolong
persalinannya. Dia hamil
oleh pacarnya, tapi
kemudian pacarnya pergi
tidak bertanggung jawab.
Karena aku yang
menolongnya hubungan
kamipun dekat, dan tidak
perlu dijelaskan detail apa
yang kami lakukan, karena
bukan inti dari cerita ini,
yang pasti kami lakukan
dengan aman.
“Saya mau minta tolong,
besok aku mau pindah
kos, apa kakak bisa bantu
bawakan barang”
“Oh…tentu, jam berapa?”
“AKu tunggu di kos ku ya
kak, jam 9, sini alamatnya
saya tuliskan dulu”
Novipun menuliskan
alamat pada secarik kertas
di atas mejaku, aku terus
memandanginya tanpa
berkedip. perfect girl.
“Terima kasih kak, maaf
sekali saya sudah
merepotkan” sambi
memberikan kertas
kepadaku, sedikit nakal
aku pura-pura tidak
sengaja menyentuh
tangannya. lembut sekali
dan…tak seperti biasanya
dia menarik tangannya,
kali ini dia membiarkan
tanganku menyentuh
tangannya.
Novi pun berlalu sambil
meninggalkan gerak
pinggul yang sangat
menarik, “aku harus
memilikinya”. Aku segara
batalkan semua agenda
dan janjiku, aku segera
tidur dan tidak sabar
menunggu datangnya
esok. Saat pertama kali
berdua dengan dia.
Esokan harinya aku
datang tepat waktu di
alamat yang sudah
diberikannya. Sebuah
rumah kos yang cukup
besar walau agak tua,
bangunan inti pemilik
rumah ada di depan,
sedangkan bagian
depannya gedung baru
berlantai 2 dengan pola
bangunan khas tempat
kos. Aku lihat beberapa
orang berkumpul
dihalaman depan juga
Novi dengan mengenakan
jilbab putih, kemej biru
dan rok panjang biru
donker.
“Kenapa pindah nduk…
padahal ibu seneng kamu
di sini, kamu suka bantuin
ibu”
kata seorang wanita
berumur lebih dari
separuh baya.
“iya bu…aku mau cari
suasana lain aja, supaya
aku bisa tenang bikin
laporan”
“Kalau kak Novi ngga ada,
kalau diantara kita ada
yang sakit siapa yang
bantuin” seorang wanita
muda yang aku tebak
masih maha siswa juga
menimpali.
Novi tersenyum sambil
mengacak-acak rambut
teman kosnya itu “kamu
boleh kok main ke sana”.
“Bu, kenalkan ini dokter
Budi, yang bantuin saya
pindahan” sambil
mengenalkan aku, tanpa
sedikitpun mengenalkan
aku pada seorang pria tua
yang ada di sebelah ibu
kosnya itu. Sama sekali
wajahnya tidak
bersahabat.
“Oala aku kira bojo mu
nduk…gantenge…” ku
tersenyum dalam hati
mendengarkan ucapan
ibu kosnya itu
“ah ibu bisa aja…” Novi
tersipu. Aku berharap itu
menjadi nyata, dan tidak
hanya menjadi pacarnya
tapi aku bisa mengambil
semuanya dari dia.
Semua temannya
berusaha membantu
memasukkan kardus ke
dalam fortunerku, tidak
lama hanya 1 jam semua
barang sudah
dimasukkan.
Kami pun segera pamit,
pertama kali dia duduk
bersebelahan denganku.
AKu menancap gas stelah
sebelumnya melambaikan
tangan dulu pada ibu kos
itu dan teman-temannya,
wajah pria tua yang aku
kira adalah suami dari ibu
kos itu masih tetap tidak
bersahabat. Mataku coba
melirik nakal padanya,
tatapannya kosong
melihat pemandangan di
sekitar jendela. Lekukan
dadanya begitu nampak
dan close up di
hadapanku, napasnya naik
turun semakin
membusungkan dadanya
yang tertutup jilbab
putihnya. Rok biru
donkernya berbahan
lembut, sehingga
gampang jatuh, aku lihat
bagian tengah rok antara
kedua pahanya jatuh ke
paha sehingga
menampakkan bentuk
pahanya yang jenjang
dan penuh. Novi masih
menikmati pemandangan
sisi jalan dan tidak sadar
kalau aku memperhatikan
tubuhnya. Aku memacu
mobil menuju alamat
yang sudah dia
beritahukan sebelumnya.
Di perumahan itu, rumah
type 21 yang dia tempati.
Luas tanahnya masih
sangat luas belum
termaksimalkan. Sisi
kanan kiri rumah masih
kosong dan membuat
jarak dengan rumah
disampingnya. Aku pun
segera membantu
menurunkan barang dan
membereskan barang di
rumah tersebut, hanya
berdua. aku pandangi
wajahnya, perhatikan tiap
lekuk tubuhnya yang
membuat penisku tagang.
Sore itu aku mandi di
rumah kontrakannya, aku
tidak pernah lupa
membawa alat mandi di
mobilku. begitu juga Novi
yang mandi sebelum aku,
meninggalkan bau harus
menyengat di kamar
mandi.
“Kak, makan malam di sini
saja ya, sudah aku
masakkan” tawarnya
“Baik lah, pasti
masakannya enak sekali”
timpalku, padahal aku
masih ingin berlama-lama
dengan dia
Selepas makan malam
kami pun bercengkrama.
Semua barang telah kami
rapihkan bersama, hari itu
aku habiskan waktu
bersama. “Akhirnya
selesai juga ya Nov, capek
juga ya
” sahutku mencoba
mencairkan suasana,
sambil duduk di
sebelahnya yang sedang
mengupaskan mangga
untukku. Novi tersenyum
manis sekali, “Iya kak,
kakak capek ya, mau aku
suapin manggana?”
aku kaget dengan
tawarannya aku berusaha
tenang “boleh”
Dia pun memberikan
mangga yang ada
ditangannya, dengan
nakal aku coba melahap
mangga sampai ke
jarinya, sehingga bibirku
menyentuh jarinya. Dia
tarik jarinya dari mulutku
pelan sekali, sembil
tersenyum. “oh god…
sweet” ujarku dalam hati.
“Mangganya manis…
apalagi sambil lihat kamu”
aku memancing. Novi
hanya tersenyum, “mau
lagi?” tawarnya, akupun
mengangguk. Suapan
kedua ini jarinya lebih
lama berada di dalam
mulutku. Sengaja tidak
aku lepaskan dan si
empunya jari lentik itu
tidak keberatan, dia hanya
diam menunggu. Tangan
kiriku menyentuh tangan
kanannya itu lembut, dia
tidak menolak. aku
tempatkan telapak
tangannya yang lembut di
pipiku, sambil menatap
wajahnya. Wajahnya
bersemu merah. Mata
kami saling menatap,
wajah kami semakin
mendekat…dekat dan
dekat…sehingga aku
rasakan nafasnya
menentuh wajahku.
Tangan kananku meraih
dagunya yang lembut
seolah tidak ada tulang di
dagunya itu. sedikit aku
tarik dagunya sehingga
bibirnya terbuka, sengal
nafasnya bisa aku
rasakan. Ini mungkin
rasanya seorang wanita
yang pertama kali
melakukan kissing, wanita
yang selama ini berusaha
menjaga kehormatannya
dan tidak pernah disentuh
siapapun sebelumnya.
Matanya terkatup, cantik
sekali dia malam ini.
Akupun mendekatkan
bibirku dengan bibirnya,
aku pagut lembut…dia
tidak membalas juga tidak
menolak. Kembai aku
pagut bibirnya, lembut
dan manis kurasakan. ku
pagut bibir ats dan
bawahnya bergantian. Kali
ini dia mulai merespon,
dia membalas pagutantu
dengan memagut bibirku
juga, basah dan indah.
Pagutan kami semakin
liar, aku pindahkan kedua
tanganku disamping
wajahnya dengan posisi
jari jempol menempel ke
pipinya yang lembut.
Keempat jariku berada di
bawah telinganya yang
masih tertutup jilbab. aku
semakin menarik
wajahnya mendekatiku,
kecupanku semakin liar
yang aku yakin
membangkitkan
gairahnya. “mhh…
ummm….aummmmm…”
bergantian kami
mengecupi bibir kami. Kini
tangan kiriku melingkari
leher hingga kepundak
belakangnya, sedangkan
tangan kananku
menyusup melalui bawah
jilbab putihnya yang lebar
kemudian mencari
gundukan lembut tepat di
dadanya. Tangan kananku
menyentuh sebongkah
gundukan lembut yang
masih tertutup bra.
“Mhh…payudara yang
snagat indah” tangan
kananku pun mulai
meremas lembut
payudara itu.
“ehhhmmm…mhhmhh…
mmhhhhh” Novi kaget
dan mendesah sambil
tetap berpagutan dengan
bibirku. Sekiatr 2 menit
meremas remas dada
kirinya, tangan kananku
mencoba mencari kancing
kemejanya. Dan ku buka
satu demi satu hingga
meninggalkan beberapa
kancing bagian bawah
yang tetap terpasang.
Tangan kananku lebih aktif
lgi masuk ke dalam
kemejanya, benar saj,
gundukan itu sangat
lembut, ketika kulit
tanganku bersentuhan
dengan kulit payudaranya
yang halus sekali.
tanganku menyusup
diantar bra dan
payudaranya, meremas
lembut dan sesekali
memilin putingnya yang
kecil dan nampak sudah
mengeras. “mhhh…
ummmmm,….aahhh,…
mmhh…..mmmm….mmmmphh….”
mulutny atreus meracau
mencoba menikmati
setiap remasanku,
matanya masih saja
terpejam seolah dia tidak
mau melihat kejadian ini
atau dia sedang berusaha
benar-benar meresapi
rangsangan yang aku
buat.
AKu tarik pundaknya
sehingga tubuhnya
terbaring ke samping
kiriku, dan aku pun
menarik bibirku dari
bibirnya dengan sedikit
suara kecupan yang
menggambarkan dua
bibir yang sudah lengket
dan sulit dilepaskan.
“mhuachh…aahhh”
wajahnya memerah dan
matanya masih terpejam,
cantik sekali. Kini tangan
kananku mengangkat
jilbabnya ke atas,
memberikan ruang agar
kepalaku bisa masuk
kedalamnya. AKu
mencium bau harum dari
keringatnya yang mulai
mengalir. Dalam
keremangan aku milihat
leher jenjangnya yang
putih dan halus, tanpa
membiarkan waktu
berlalu aku segera
mengecupnya lembut dan
kecupanku semakin ganas
di lehernya
“aahhh….eengg…ehhhh…
aahhh….aaahhh….”
mulutnya tak berhenti
meracau. Tangan kananya
meraih belakang kepalaku
dan menekankan kepalaku
agar semakin menempel
di lehernya, sedangkan
tangan kirinya mendekap
punggungku. Untungnya
jarang rumah ini dengan
rumah sebelah lumayan
jauh, sehingga desahan
kami tidak terdengar oleh
rumah sebelah. Aku tidak
lupa meninggalkan
cupang di lehernya, lalu
ciumanku pun turun ke
dadanya. Tangan kananku
mencari sesuatu di balik
punggungnya, ya kait bra.
Setelah aku dapatkan
langsung aku lepaskan.
Terlepaslah bra yang
selama ini menutupi
keduap payudara indah itu
agar tidak meloncat
keluar. lalu tangan
kananku menarik bra agak
ke atas ke leher Novi,
sehingga terpampang dua
gunung kembar yang
sangat mengagumkan.
Benar saja 36C. Aku mulai
mencium payudara kanan
novi, aku lakukan masih di
dalam jilbabnya, dan
akupun tidak melepas
semua kancing
kemejanya, sehingga tidak
semua bagian tubuhnya
terlihat. Namun, itu
membuat sensasi
percintaan semakin terasa,
tangan kananku sibuk
meremas payudar
akananya yang saat ini
sudha tidak berpenutup
lagi. “aaahhhh…
kaaakk….ahhh…..mhhh…
kak…..aduuhh…..mhh….. ”
Novi tidak kuat menahan
rangsangan ini, kepalanya
menggeleng ke samping
kanan dan kiri, tangan
kanannya semakin kuat
membekap wajahku ke
arah dadanya. Kini tangan
kananku melepas
remasan di dadanya,
mulai turun ke bawah,
menyentuh kakinya yang
masih ber kaos kaki.
tangan kananku menarik
roknya menyusuri betis
yang tertutup kaos kaki
panjang hampir selutut,
setelah itu tanganku
menemukan kulit halus
yang putih. Tangan
kananku menyusuri paha
kirinya dan membuat
roknya terangkat sebatas
perut. tangan kananku
membelai-belai paha
kirinya dan ciumanku
sekarang sudah mendarat
di payudara kirinya.
“ahhh…
kaaaakkk….kakaaa….kk…
ahh…”, nafas Novi
semakin tersengal-sengal,
aku tidak lupa
meninggalkan cupang
juga di payudara kirinya
yang sangat lembut.
Penisku semakin tegang.
Lalu aku tarik wajahku dari
dadanya, aku duduk di
samping tubuhnya yang
terbaring. Bulir keringat
mulai membasahi
wajahnya yang putih,
nafasnya tersengal,
matany amasih terpejam,
bibirnya terbuka sedikit.
Rok bagian kiri sudah
terangkat sampai ke perut,
menyisakan
pemandangan paha putih
jenjang nan indah, namun
betisnya tertutup kaos kaki
yang cukup panjang.
Tangan kananku masuk
ke bawah kedua lututnya,
tangan kiriku masuk ke
dalam lehernya, aku pun
memagutnya lagi dan dia
faham apa yang aku
maksud. Dia kalungkan
kedua tangannya ke
belakang kepalaku.
“Jangan di sini ya
sayang…kita masuk saja
ke dalam…” ujarku sambil
mengangkatnya, birbir
kami tak henti berpagutan.
Lalu aku rbahkan
tubuhnya ke kasur busa
tanpa dipan khas milik
anak kos. nafasnya terus
tersengal, kedua
tangannya meremas kain
sprei kasurnya itu. Kini
aku berada di kedua
kakinya, aku coba tarik
roknya sampai sebatas
perut dan aku
kangkangkan kakinya.
Ciumanku mendarat di
bagian bawah perut,
“eenngg…ahhh…” aku tau
dia merasa geli dan
terangsang hebat, sambil
kedua tanganku mencoba
menurunkan celana
dalamnya. Gerak
tubuhnya pun tidak
menggambarkan
penolakan, bahkan dia
agak mengangkat
pantatnya ketika tangan ku
mencoba melepas celana
dalamnya sehingga
mudah melewati bagian
pantan dan tidak berapa
lama terlepas sudah
celana penutup itu. Vagina
muda berwarna pink
yang sangat indah,
ditumbuhi bulu halus
yang rapih tercukup.
Baunya pun sangat
wangi. Tapi aku tidak ingin
buru-buru, aku ingin Novi
membiasakan suasananya
dulu. ciumanku jatuh ke
pahanya, ke bagian
sensitif paha belakang
sambil mengangkat
kakinya ke atas. lalu pada
sat yang tepat aku mulai
turunkan ciumanku di
antara selangkangannya.
“kaakk…ahh…”, aku
mencoba menjilati bagian
luar vaginanya dari bawah
ke atas, vagina itu mulai
lembab dan basah. Lalu
aku renggangkan lebih
luas lagi kakinya, dan aku
sibak labia mayoda dan
labia minora vaginanya,
aku temukan lubang ke
wanitaan yang masih
sempit namun berwarna
merah seakan bekas luka
atau lecet. AKu tidak
mempedulukan, karena
aku melihat cairan bening
meleleh dari dalam lubang
kewanitaan Novi, lalu aku
jilati dan lidahku pun nakal
mencoba masuk ke dalam
lubang kewnitaan itu,
terus mencari dan
mencari…lalu kecupanku
pindah ke atas
menemukan benjolan
kecil tepat di bawah garis
vagina atas, aku gigit-gigit
kecil, aku cium aku sedot,
tidak ketinggalan tangan
kananku mencoba sedikit
demi sedikit masuk ke
vaginanya. “aahhhhh…
uuhhh….mhh….phhh…
ahhh…akakak…
aahh..kakak… aduuhh…
aaahhh…ahhh…”
kepalanya bergeleng tidak
teratur ke kanan dan
kekiri, kedua tangannya
semakin kuat
menggenggam sprei
yang dikenakan pada
kasur busa tersebut.
ciumanku semakin kuat
dan ganas, cairan
kewanitaan semakin deras
keluar dari lubang
kewanitaan Novi. secara
bergantian lidahku
merangsang lubang
vagina dan clitoris, dan
tangan kananku pun tidak
tinggal dia. Jika lidahku
sedang merangsang
klitoris maka jari tangan
kananku berusaha
meransang pubang
vagina, juga ketika lidahku
bermain-main dan
mencoba masuk lebih
dalam ke lubang vagina,
jempol tanganku
merangang dengan
menggesek dan
menekan-nekan clitoris
Novi. “aaahhh….aaaaa…
uuuu…enhhhh…
eeemmm…ahh…aaaa….”
Tangan kananya sekarang
meremas-remas
rambutku dan menekan
kepalaku agar lebih dalam
lagi mengeksplorasi
vaginanya.
sekitar 15 menit aku
mengekplor vaginanya,
dia menjambak rambutku
dan kemudian
mendorongku. Sekarang
posisi kami sama-sama
duduk, nafasnya
tersengal-sengal tapi
sekarang dia berana
membuka matanya
menatapku, keringat
mengucur dari tubh kami.
Tiba-tiba bibirnya
langsung menyerbu
bibirku, ciuman kali ini
amat liar terkadang gigi
kami beradu, lidah kami
saliang bertukar ludah,
lidahku coba masuk ke
rongga mulutnya,
menjilati dinding-dinding
mulutnya. AKu sangat
kaget ketika tangannya
menarik kaosku ke atas,
melewati mulut kami
yang tengah beradu,
kemudian ciumannya
turun ke leherku dan ke
dadaku. Tanganya tidak
berhenti sampai di situ,
dia mulai membuka ikat
pinggang celanaku, saat
bibirnya masih menciumi
dadaku, tangannya
menurunkan celanaku dan
kemudian celana dalamku.
Penisku yang diameternya
6 cm dan panjangnya
hampir 20 cm
mengacung tegak, kini
tangan kananya
menggengam penisku,
aku pun berdiri dan kini
wajah ayunya berada di
depan penisku hanya
beberapa senti saja. ku
lihat dia menelan ludah,
apa mungkin dia kaget
dengan ukuran ini atau
mungkin dia masih ragu
melakukan ini. Aku
pegang kepalanya yang
masih menggunakan
jilbab putih yang mulai
kusut. kudekatkan penisku
dengan bibirnya, bibirnya
masih terkatup ketika
ujung penisku menempel
pada bibirnya, mungkin
dia masih bingung apa
yang dilakukannya.
“Kulum sayang…ciumi
sayang…ayo…” lalu dia
buka bibirny
a sedikit dan mencium
ujung penisku, kaku, tapi
menimbulkan sensasi
yang dahsyat, selain
karena bibirnya yang
lembut, hangat dan basah
menyentuh ujung
penisku, melihat seorang
wanita yang masih
berpakaian lengkap
dengan jilbabnya itu hal
yang belum pernah aku
rasakan sebelumnya.
“cuup..mppuhmm..uhhmm…”
bibirnya berkali-kali
mengulum ujung
penisku, sedikit-demi
sedikit kulumannya
semakin masuk. AKu lihat
dia masih kaku dan belum
lihat melakukan itu, tapi
bagiku sensasi luar biasa.
“mhhh…aauuuummm…
uummhh”
akhirnya mulutnya berani
memasukkan penisku,
walau tidak sampai masuk
semua, karena penisku
terlalu panjang dan itu
akan menyakitkannya.
“shh…ahh…terus Vi…
keluar masukin…”
Novipun mengikuti
perintahku dia memaju
mundurkan kepalanya.
“aahh…sayang…
terus”…”mhh..uhmmhh..cuuupp..muuh”
Novi terus melakukan
aktifitasnya. hanya 5
menit lalu dia berhenti,
“Kak…Novi ngga tahan…”
diapun menarik tubuhku
dan aku kini sama-sama
duduk berhadapan. Aku
tahun, dia dalam kondisi
puncak, dia tidak dapat
lagi menahan libidonya,
akupun merebahkannya
dan menindihnya. AKu
regangkan kedua kakinya.
Novi tampak pasrah dia
memandangiku dan
memperhatikan penisku
yang tepat dihadapan
vaginanya. Aku lupa
sesuatu, segera ku raih
celanaku yang tercecer di
samping dan mengambil
sesuatu di dompet. Ya,
aku selalus edia kondom
di dompet setelah ku buka
dan akan kupasangkan,
Novi menampik tanganku
“ngga usah pake itu kak…
aku ingin jadi milik kakak
seutuhnya” aku tersentak
dengan ucapannya “Kamu
yakin Nov?” Novi
mengangguk.
Kini kuarahkan ujung
penisku mendekati lubang
kewanitaannya “Tahan ya
Vi…agak sakit…” Tangan
kananku menggenggam
batang penis dan digesek-
gesekkan pada clitoris dan
bibir kemaluan Novi,
hingga Novi merintih-
rintih kenikmatan dan
badannya tersentak-
sentak. Aku terus
berusaha menekan
senjataku ke dalam
kemaluan Novi yang
memang sudah sangat
basah itu.
Pelahan-lahan kepala
penisku menerobos
masuk membelah bibir
kemaluan Novi. “Tahan
kaak…sakii..t” dia merintih
sambi menggigit bibir
bawahnya. Aku pun
menghentikan kegiatanku
sementara, sambil
menunggu aku maju
mundurkan kepalpenisku
ke bibir kemaluannya
supaya bibir kemaluannya
mulai menyesuaikan.
Matanya masih terpejam
dan terus menggigit bibir
bawahnya, nafasnya
tersengal. Sedikit demi
sedikit aku masukkan
kembali, pelan tapi pasti.
Setiap penisku masuk
novi melengguh menahan
sakit. Vaginanya masih
sempit tapi tanpa
halangan penisku mulai
masuk ke dalam. Dengan
kasar Aku tiba-tiba
menekan pantatku kuat-
kuat ke depan sehingga
pinggulku menempel ketat
pada pinggul Novi.
Dengan tak kuasa
menahan diri dan
berteriak, mungkin sakit.
Dari mulut Novi terdengar
jeritan halus tertahan,
“Aduuuh!.., ooooooohh..,
aahh…sakii…t..kaak..”,
disertai badannya yang
tertekuk ke atas dan kedua
tangan Novi
mencengkeram dengan
kuat pinggangku.
Beberapa saat kemudian
aku mulai
menggoyangkan
pinggulku, mula-mula
perlahan, kemudian makin
lama semakin cepat dan
bergerak dengan
kecepatan tinggi diantara
kedua paha halus gadis
ayu tersebut. Novi
berusaha memegang
lenganku, sementara
tubuhnya bergetar dan
terlonjak dengan hebat
akibat dorongan dan
tarikan penisku pada
kemaluannya, giginya
bergemeletuk dan
kepalanya menggeleng-
geleng ke kiri kanan di atas
meja. Novi mencoba
memaksa kelopak
matanya yang terasa
berat untuk membukanya
sebentar dan melihat
wajahku, dengan takjub.
Novi berusaha bernafas
dan …:” “kaa..kk…, aahh…,
ooohh…, ssshh”,
sementara aku tersebut
terus menyetubuhinya
dengan ganas.
Novi sungguh tak kuasa
untuk tidak merintih setiap
kali Aku menggerakkan
tubuhku, gesekan demi
gesekan di dinding liang
vaginanya. Setiap kali aku
menarik penisnya keluar,
dan menekan masuk
penisku ke dalam vagina
Novi, maka klitoris Novi
terjepit pada batang
penisku dan terdorong
masuk kemudian
tergesek-gesek dengan
batang penisku yang
berurat itu. Hal ini
menimbulkan suatu
perasaan geli yang
dahsyat, yang
mengakibatkan seluruh
badan Novi menggeliat
dan terlonjak, sampai
badannya tertekuk ke atas
menahan sensasi
kenikmatan yang tidak
dapat dilukiskan dengan
kata-kata. Sementara
tanganku yang lain tidak
dibiarkan menganggur,
Tanganku merengkuh
punggungnya yang
melengkung menahan
nikmat, kemudia aku sibak
jilbabnya dan terlihat dua
payudara indahnya yang
masih sembunyi dibalik
kemeja yang sudha
terbuka kancing bagian
atasnya, branya pun
sudha tersingkap ke atas
menambah sensualitas
pemandangan saat itu.
Aku tarik punggungnya
sehingga maskin
melengkung ke atas, aku
pun terus bermain-main
pada bagian dada Novi
dan Mencium dan kanag
menggigit kedua
payudara Novi secara
bergantian. Ia berusaha
menggerakkan
pinggulnya, akan tetapi
paha, bokong dan kakinya
mati rasa. Tapi ia
mencoba berusaha
membuatku segera
mencapai klimaks dengan
memutar bokongnya,
menjepitkan pahanya,
akan tetapi aku terus
menyetubuhinya dan
tidak juga mencapai
klimaks.
Ia memiringkan
kepalanya, dan terdengar
erangan panjang keluar
dari mulutnya yang
mungil, “Ooooh…,
ooooooh…, aahhmm…,
ssstthh!”. Gadis ayu itu
Semakin erat mendekap
kepalaku agar semakin
rekat dengan
payudaranya, aku tahu
pelukan itu adalah
penyaluran dari rasa
nikmat dan klimaks yang
mungkin sebentar lagi dia
rasakan. Kedua pahanya
mengejang serta menjepit
dengan kencang,
menekuk ibu jari kakinya,
membiarkan bokongnya
naik-turun berkali-kali,
keseluruhan badannya
berkelonjotan, menjerit
serak dan…, akhirnya larut
dalam orgasme total yang
dengan dahsyat
melandanya, diikuti
dengan suatu kekosongan
melanda dirinya dan
keseluruhan tubuhnya
merasakan lemas seakan-
akan seluruh tulangnya
copot berantakan. Novi
terkulai lemas tak berdaya
di atas kasur dengan
kedua tangannya
terentang dan pahanya
terkangkang lebar-lebar
dimana penisku tetap
terjepit di dalam liang
vaginanya. Itu lah
pertama kali dia
merasakan indahnya
orgasme.
Selama proses orgasme
yang dialami Novi ini
berlangsung, memberikan
suatu kenikmatan yang
hebat yang dirasakan
olehku, dimana penisku
yang masih terbenam dan
terjepit di dalam liang
vagina Novi dan
merasakan suatu sensasi
luar biasa, batang penisku
serasa terbungkus dengan
keras oleh sesuatu yang
lembut licin yang terasa
mengurut-urut seluruha
penisku, terlebih-lebih
pada bagian kepala
penisku setiap terjadi
kontraksi pada dinding
vagina Novi, yang diakhiri
dengan siraman cairan
panas. Perasaanku
seakan-akan menggila
melihat Novi yang begitu
cantik dan ayu itu
tergelatak pasrah tak
berdaya di hadapannya
dengan kedua paha yang
halus mulus terkangkang
dan bibir kemaluan yang
kuning langsat mungil itu
menjepit dengan ketat
batang penisnku.
Tidak sampai di situ,
beberapa menit kemudian
Aku membalik tubuh Novi
yang telah lemas itu
hingga sekarang Novi
setengah berdiri
tertelungkup di dipan
dengan kaki terjurai ke
lantai, sehingga posisi
pantatnya menungging ke
arahku. Aku ingin
melakukan doggy style,
tanganku kini lebih leluasa
meremas-remas kedua
buah payudara Novi yang
kini menggantung ke
bawah, tangunku
menyusup lewat kemeja
bagian bawah. Dengan
kedua kaki setengah
tertekuk, secara perlahan-
lahan aku menggosok-
gosok kepala penisku
yang telah licin oleh cairan
pelumas yang keluar dari
dalam vagina Novi dan
menempatkan kepala
penisku pada bibir
kemaluan Novi dari
belakang.
Dengan sedikit dorongan,
kepala penisku tersebut
membelah dan terjepit
dengan kuat oleh bibir-
bibir kemaluan Novi, novi
melengguh agak
kencang..”aahhgg….”
ketika penisku mulai
menyeruak ke dalam
vaginanya lagi. Kedua
tanganku memegang
pinggul Novi dan
mengangkatnya sedikit ke
atas sehingga posisi
bagian bawah badan Novi
tidak terletak pada dipan
lagi, hanya kedua
tangannya yang masih
bertumpu pada kasur.
Kedua kaki Novi dikaitkan
pada pahaku. Kutarik
pinggul Novi ke arahku,
berbarengan dengan
mendorong pantatnya ke
depan, sehingga disertai
keluhan panjang yang
keluar dari mulut Iffa,
“Oooooooh…aahh…
shhh…ahh….!”, penisku
tersebut terus menerobos
masuk ke dalam liang
vaginanya dan Aku terus
menekan pantatnya
sehingga perutnyaku
menempel ketat pada
pantat Novi yang
setengah terangkat. Aku
memainkan pinggulnya
maju mundur dengan
cepat sambil mulutku
mendesis-desis keenakan
merasakan penisku
terjepit dan tergesek-
gesek di dalam lubang
vagina Novi yang ketat itu.
“Ahh…ahhh…aahh…
kak..a.duuu..hh…mhh…
teruss…” mulutnya terus
mengaduh, tanda nikmat
tiada tara yang dia
rasakan. Tubuhny amaju
mundur terdorong
desakan penisku. Karena
bagian pantat lebih tinggi
dari kepala sehingga
kemejanya turn ke bawah
memperlihatkan pungguh
mulus dan putih yang
sebelumnya tidak pernah
dilihat siapapun.
Tangannya sambil terus
meremas seprei dan
merebahkan kepanaya di
kasur. “shhh…ahh..kakk…
aahh..aduuhh…kak….”
semakin kencang
teriakannya semakin
menunjukkan kalau dia
akan merasakan klimaks
untuk kedua kalinya.
AKupun mempercepat
doronganku. “terus..kak…
ahh…jangan berhenti…
ahh…kak,…” Novi
meracau semakin tidak
karuan. dan….diapun
mendongakkan kepalanya
ke atas disertai lengguhan
panjang
“aaaaaaa……….hhhhhh….”
dia klimaks untuk kedua
kalinya. AKu cabut
penisku dari lubang
vaginanya, aku lihat cairan
bening semakin banyak
meleleh dari vaginanya.
Tubuhnya melemas dan
lunglai ketika aku lepaskan.
Navasnya tersengal,
pakaian dan jilbabnya
kusut tak karuan. Keringat
membuat pakaian dia
yang tidak dilepas sama-
sakeli menjadi basah.
Namun dia memang
wanita yang pandai
merawat tubuhnya,
bahkan keringatnya pun
harus sekali baunya.
Setelah aku biarkan dia
istirahat beberapa menit
sambil meresapi orgasme
untuk keduakalinya.
Kemudian Aku merubah
posisi permainan, dengan
duduk di sisi tempat tidur
dan Novi kutarik duduk
menghadap sambil
mengangkang pada
pangkuanku. Aku
menempatkan penisku
pada bibir kemaluan Novi
yang tampak pasrah
dengan perlakuanku, Lalu
aku mendorong sehingga
kepala penisku masuk
terjepit dalam liang
kewanitaan Novi,
sedangkan tangan kiriku
memeluk pinggul Novi
dan menariknya merapat
pada badanku, sehingga
secara perlahan-lahan tapi
pasti penisku menerobos
masuk ke dalam
kemaluan Novi. Tangan
kananku memeluk
punggung Novi dan
menekannya rapat-rapat
hingga kini badan Novi
melekat pada badanku.
Kepala Novi tertengadah
ke atas, pasrah dengan
matanya setengah
terkatup menahan
kenikmatan yang
melandanya sehingga
dengan bebasnya
mulutku bisa melumat
bibir Novi yang agak
basah terbuka itu.
Dengan sisa tenaganya
Novi mulai memacu dan
terus menggoyang
pinggulnya, memutar-
mutar ke kiri dan ke kanan
serta melingkar, sehingga
penisku seakan
mengaduk-aduk dalam
vaginanya sampai terasa
di perutnya. Karena
stamina yang sudha
terkuras dengan dua
klimaks yang didapatnya,
goyangan Novis emakin
melemah. Aku pindahkan
kedua tanganku ke arah
pinggannya dan tanganku
mulai membantu
mengangkat dan
mendorong pinggul Novi
agar terus bergooyang.
Aku ihat penisku timbul
tenggelam dibekap lubang
vaginanya yang hangat.
Rintihan tak pernah
berhenti keluar dari
mulutnya. “shh…ah…
sshhh…ahhh..”
Goyangannya teratur,
setelah sekian lama
dengan posisi itu, novi
mulai bangkit lagi
libidonya, dengan tenaga
sisa dia mulai membantu
tangaku dengan
menggerakkan
pinggulnya lebih cepat
lagi. Kedua tangannya kini
merangkul kepalaku dan
membenamkannya ke
kedua gunug kembarnya
yang besar dan halus.
Aku tahu dia akan
mengalami klimaksnya
yang ketiga. Aku kulum
dan lumat payudaranya,
kepala novi menengadah
merasakan nikmat yang
tiada tara atas rangsangan
pada dua titik
tersensitifnya. Tak
berselang kemudian, Novi
merasaka sesuatu yang
sebentar lagi akan kembali
melandanya. Terus…,
terus…, Novi tak peduli
lagi dengan gerakannya
yang agak brutal ataupun
suaranya yang kadang-
kadang memekik lirih
menahan rasa yang luar
biasa itu. Dan ketika
klimaks itu datang lagi,
Novi tak peduli lagi,
“Aaduuuh…,
eeeehm..ahh…kaa..kk…
aahhh…”, Novi memekik
lirih sambil menjambak
rambutku memeluknya
dengan kencang itu. Dunia
serasa berputar. Sekujur
tubuhnya mengejang,
terhentak-hentak di atas
pangkuanku.
Kemudian kembaliku
gendong dan meletakkan
Novi di atas meja dengan
pantat Novi terletak pada
tepi dipan dan kasur,
kedua kakinya terjulur ke
lantai. Aku mengambil
posisi diantara kedua paha
Novi yang kutarik
mengangkang, dan
dengan tangan kananku
menuntun penisku ke
dalam lubang vagina Novi
yang telah siap di
depannya. Aku
mendorong penisku
masuk ke dalam dan
menekan badannya.
Desah nafasnya
mendengus-dengus
seperti kuda liar,
sementara goyangan
pinggulnya pun semakin
cepat dan kasar. Peluhnya
sudah penuh membasahi
sekujur tubuhnya dan
tubuh Novi yang terkapar
lemas dan pasrah
terhadap apa yang akan
aku lakukan.
Badan gadis itu terlonjak-
lonjak mengikuti tekanan
dan tarikan penisku. Novi
benar-benar telah KO dan
dibuat benar-benar tidak
berdaya, hanya erangan-
erangan halus yang keluar
dari mulutnya disertai
pandangan memelas
sayu, kedua tangannya
mencengkeram Sprei.
Dan aku sekarang merasa
sesuatu dorongan yang
keras seakan-akan
mendesak dari dalam
penisku yang
menimbulkan perasaan
geli pada ujung penisku.
Aku mengeram panjang
dengan suara tertahan,
“Agh…, terus”, dan
pinggulku menekan habis
pada pinggul gadis yang
telah tidak berdaya itu,
sehingga buah pelirku
menempel ketat dan
batang penisku terbenam
seluruhnya di dalam liang
vagina Novi. Dengan
suatu lenguhan panjang,
“Sssh…, ooooh!”, sambil
membuat gerakan-
gerakan memutar
pantatnya, aku merasakan
denyutan-denyutan
kenikmatan yang
diakibatkan oleh
semprotan air maninya ke
dalam vagina Novi. Ada
kurang lebih lima detik aku
tertelungkup di atas badan
gadis ayu tersebut,
dengan seluruh tubuhku
bergetar hebat dilanda
kenikmatan orgasme
yang dahsyat itu. Dan
pada saat yang
bersamaan Novi yang
telah terkapar lemas tak
berdaya itu merasakan
suatu semprotan hangat
dari pancaran cairan kental
hangat ku yang
menyiram ke seluruh
rongga vaginanya.
Aku melihatnya lemas
dengan jilbab dan pakaian
yang sudah nggak keruan
bentuknya lagi. aku
melihatnya menunduk
sedih sambil menangis.
AKu faham, gadis seperti
dia tidak mungkin mudah
untuk melakukan hal ini,
tapi kali ini aku benar-
benar membuatnya tak
berdaya dan mengikuti
nafsu duniawi. “Kak…” dia
membuka perakapan
ditengah hening kami
menikmati pertempuran
yang baru saja selesai. “Ya
sayang…” sambil ku peluk
dia.
“Kakak mau tanggung
jawab kan?”
“Kakak mau menikahi
Novi kan?” parau
suaranya terdengar
Aku tersentak aku tak
menyangka kalau dia
langsungmengatakan itu.
Tapi aku benar-benar tidak
tega melihat kondisinya
yang sudah menyerahkan
semuanya kepadaku. Aku
pun ingin memilikinya dan
mengakhiri semua
kebiasan burukku. AKu
berjanji meninggalkan
pacarku kalau dia mau
menikah denganku,
kenyataannya sekarang itu
sudah di depan mata.
“i..iya..Nov…kakak akan
tanggung jawab…kakak
akan menikahi kamu”
sahutku. Dalam wajah
sedihnya kuliah bibirnya
menyunggingkan sedikit
senyum. Dan kamipun
tertidur dengan saling
memeluk seakan berharap
agar pagi tak segera hadir.

0 Response to "Nikmatnya Menjadi Seorang Dokter"

Post a Comment

Total Pageviews

findeen